Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Season 3 - Bertemu calon Pilihan


__ADS_3

Raffa POV


Malam ini, tepat waktu bada' isya. Saya dan keluarga pergi ke rumah teman Papa yang katanya anaknya adalah calon istri pilihan mereka. Penasaran sih sama siapa yang mau dijodohkan sama saya. Apa juga sih yang menarik dari wanita itu sampai mama sama papa antusias menjodohkan saya.


Padahal calon pilihan saya udah baik dari segi lahir maupun batin. Tapi ya tetap saja bagi mereka, pilihan orang tua adalah terbaik untuk anaknya.


Saya cuma bisa pasrah karena tidak mau mengecewakan kedua orang tua. Repot nanti kalau mama murka dan saya di kutuk jadi patung selamat datang.


"Belok Raf, kita ke perumahan ratu kencana," kode dari Papa menunjuk gerbang 50 meter ke depan.


"Ya Pa," jawabku. Loh! kita ke ratu kencana? Seingat saya teman papa yang tinggal di perumahan ratu kencana hanya Om Adrian.


Papa pensiunan karyawan perusahaan migas terbesar di negeri ini. Pasti bukan cuma Om Adrian teman beliau yang punya rumah di sini. Mungkin saja teman Papa sesama pensiunan? Entahlah! Beberapa menit lagi juga sampai.


"Raf, kamu masih Inget rumah Adrian?" tanya Papa ketika mobil berbelok memasuki gerbang perumahan.


Omega! Jadi bener kita mau ke rumah Om Adrian. Setahu saya, Om Adrian cuma punya satu anak, dan saya sangat tahu siapa anaknya.


Apa mungkin?


"Tidak!"


"Raf! Kamu kenapa?" tanya Mama terkejut sama halnya dengan Papa yang melihat aneh ke arahku.


Saya tadi berteriak refleks membayangkan kalau benar jodoh pilihan papa mama adalah Aline.


"Nggak apa Ma, kita ke rumah Om Adrian?" tanya saya memastikan lagi. Saya berharap tadi terkena ganguan pendengaran.


"Ya Raf kita akan ke rumah Adrian! Aline baru beberapa bulan lalu selesai wisuda dan menetap disini," ucap Papa.


Please! Please! Kalian boleh jodohkan saya sama siapa saja! Tapi tolong jangan bilang kalau kalian mau jodohkan sama Aline. Dia cewek jadi-jadian yang berisik, kasar dan tak ada lembut-lembutnya.


Tunggu Raffa! Itu waktu dia masih SD, siapa tahu seiring berjalannya waktu di berubah jadi wanita yang polos dan lemah gemulai, maksudnya lemah lembut. Secara kami sudah tak pernah saling bertemu sekian purnama.g


"Sampai!" seru Mama yang kelihatan wajahnya ceria banget mau ketemu calon istri pilihan.

__ADS_1


"Raf, Aline adalah calon yang sudah Papa dan Mama pilih buat kamu! Papa sudah mengikat janji bersama Adrian sejak dulu. Papa harap kamu nggak akan kecewa kita!" Papa menepuk pundakku memberi semangat.


Sumpah! Rasanya saya mau di tenggelamkan saja ke Palung Mariana. Dua ratus juta penduduk negeri ini apa sudah tidak ada stok anak gadis tapi perawan. Kenapa pilihan Papa sama Mama jatuh sama Aline.


Tenang Raffa jangah seudzon siapa tahu Aline memang berubah? makanya Mama sama Papa kena sihirnya.


Dengan langkah gontai saya memaksa turun menemui calon istri. Aduh! Lidah saya saja mau keseleo sebut Aline calon istri.


Pintu terbuka! Mama lagi berpelukan sama Tante Tiara yang masih kelihatan glowing di usia senja. Tak lama Om Adrian juga muncul dengan wajah ceria memeluk Papa.


Kemudian melihat saya seperti terpanah. Jangankan kaum hawa. Kadang saya juga sering lihat kaum abu-abu terpanah melihat ketampanan saya.


"Raffa! Udah gede sekarang, mana ganteng lagi Mirip sama bapak kamu!" puji Om Adrian langsung ikut - ikut meluk saya juga.


Saya hanya tersenyum karena memang itu fakta. Ketampanan saya tak tersaingi sama Raydan.


"Masuk, masuk!" Tante Tiara mengajak masuk ke rumahnya.


Saya duduk di sofa bersama keluarga yang lain, Para orang tua entah sedang membahas apa! Yang jelas mereka cekikikan terus keasyikan satu sama lain. Saya hanya bisa berpura senyum karena bahasa beda generasi yang tak saya mengerti.


Masih menunggu yang katanya calon istri pilihan itu. Mata saya terus melihat ke arah tangga. Ya, biasanya kan begitu sob, wanita cantiknya turun dari tangga. Saya masih bersabar menunggu kemunculan Aline versi dewasa.


Jujur! melihat dari kejauhan Aline cantik, anggun, badannya proposional. Tapi sayang saya sudah bisa melihat kecantikan Aline tanpa kerudung yang menutupi auratnya.


Cantik! Jantung saya mendadak berdebar lebih cepat.


Semakin dekat, Aline makin senyum-senyum melihat saya. Kentara sekali dia bahagia. Jalannya yang malu-malu di belakang Tante Tiara langsung berubah jadi seperti preman yang nagih uang parkir pemotor yang kabur.


"Raffa! Kamu sekarang! Seganteng ini!"


Saya langsung mengusap wajah saya kasar. Bodoh amat! Wanita cantik nan anggun yang sempat mengalihkan dunia saya beberapa menit lalu. Saya pikir Aline sudah berubah jadi wanita yang anggun dan lemah lembut yang menjunjung tinggi nilai kesopanan.


Nyatanya! baru ketemu saya saja urat malunya sepertinya sudah di putus dengan gunting. Aline masih gadis berisik yang tidak tahu aturan.


"Mi, besok juga aku siap mau di bawa Ke KUA!"

__ADS_1


Astaghfirullahaladzim, saya mengelus dada, kenapa calon istri saya frontal begini. Entah! Papa sama Mama dapat ilham darimana memilih dia jadi calon istri untuk anak laki-lakinya yang Sholeh, ganteng, baik hati, rajin bersedekah pula. Maaf sob saya nggak ria ya!


"Aline! bisa tenang nggak, duduk yang baik!" sentak Om Adrian.


Aline langsung nyerobot duduk di sebelah saya!


"Heh! Bukan mahrom Lin!" Saya refleks mengeser posisi duduk ketika Aline ambil posisi duduk mendekati saya.


"Eh Ya Raf, maaf!" jawab Aline senyum - senyum sok manis. Tapi sumpah memang senyum dia manis. Apaan sih! Aneh tetap saja Aneh!


"Seperti yang kalian tahu. Keluarga kita sepakat untuk menjodohkan kalian," seru Papa nampak biasa saja melihat calon pilihannya yang di luar tipe saya.


Aline mengangguk kelihatan senang! Saya lagi-lagi menahan mual berpura bahagia dengan keputusan mereka.


"Saya harap acara pernikahan kalian segara di langsungkan tidak perlu di menunda-nunda." Om Adrian juga terlihat santai.


"Lebih baik kita makan dulu, setelah makan kita biarkan calon pengantin kita bisa ngobrol berdua untuk lebih mengenal lagi, kalian kan sudah lama tidak bertemu," sahut Tante Tiara.


"Betul Raf, kamu ngobrol dulu berdua Aline, kalian kan baru bertemu setelah sekian lama! Pasti banyak yang berubah di Antara kalian," seru Mama sambil menggenggam tangan saya.


Saya hanya tersenyum mengiyakan saja, sumpah apa kali ini Mama nggak peka dengan anaknya yang berpura-pura bahagia ini.


Semua orang kini di giring ke meja makan, ada banyak menu makanan yang mengiurkan terhidang di meja. Lebih baik saya makan saja dulu ikan gurami terbang yang sayapnya melambaikan minta di santap. Setelah itu saya mulai pikirkan strategi jitu untuk perjodohan ini.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.......


__ADS_2