
Di perumahan grand Citland. Malam ini usai makan siang seperti biasa, Riri membantu anak-anaknya untuk melakukan tugas sekolah. Semenjak kakaknya menikah dan pergi meninggalkan rumah untuk ke ibukota. Riri lah yang menjadi ibu sekaligus guru privat. Riri merasa bersyukur kedua anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang penurut dan mudah di atur.
Mungkin sesekali anak-anaknya bertengkar memperebutkan hal yang tidak penting. Namanya juga anak-anak, pasti nggak lengkap kalau tidak ada perang antar saudara. Hal itu yang mungkin akan dirindukan Riri ketika nanti anak-anaknya akan tumbuh dewasa dan pergi satu persatu dari rumahnya.
Tugas rumah pun selasai dikerjakan. Riri menyuruh anak-anaknya bubar ke kamar masing-masing. Begitu pula dengan Riri yang ingin merebahkan tubuh untuk berisitirahat.
Di dalam kamar.
"Hah! Papa serius!" seru Riri kaget.
"Ya Ma, itu refleks gitu aja!" jawab Ervan.
Riri meletakkan cream yang sudah di oles di wajahnya. Riri pun naik ke atas tempat tidur menyusul suaminya. Ia mengambil selimuti untuk menutupi tubuhnya.
"Tapi Pa, kenapa buru-buru sekali! Anak kita aja masih bocah-bocah. Mas malah udah mikirin jodoh-jodohan."
"Ya nggak apa-apa Sayang, lagipula Aline tuh udah kayak anak kita sendiri. Apa salahnya kalau kita jodohkan dengan anak kita," balas Ervan.
"Ya juga sih Pa. Tapi apa anak-anak mau nanti di jodoh-jodohkan gitu, jamannya udah beda Pa."
"Ya Ma, papa tahu. Tapi anak-anak kita kan penurut. Pasti mereka mau," balas Ervan.
"Sekarang sih penurut Pa, kalau nanti sepuluh tahun lagi apa masih sama?"
"InshaAllah Ma, kalau Mama yang didik anak kita. Papa yakin anak kita penurut sampai besar nanti,"
"Tapi apa nggak lebih baik kita biarkan saja anak-anak kita menentukan pilihannya sendiri," jawab Riri.
"Sayang, aku tuh janji sama Adrian. Lagipula kak enak, kita jelas tahu asal - usul keluarga calon besan kita," ucap Ervan.
"Ya Pa, iya. Seru juga kayaknya kita sama Pak Adrian dan Kak Tiara bisa besanan."
"Ya Sayang, apalagi Adrian percaya banget sama keluarga kita, kalo Aline bakal senang jadi bagian dari keluarga kita," seru Ervan lagi memeluk Riri.
"Nggak nyangka juga ya Pa, sekarang kita udah punya cucu, Pasti nggak lama lagi kita punya mantu. Anak kita masih delapan tahun aja udah ada jodohnya," canda Riri sambil terkekeh.
"Ya Sayang waktu memang cepat berlalu. Tapi sayangnya Papa kenapa makin hari makin cinta ya sama Mama!" goda Ervan.
"Itu namanya Papa lagi ngombal pasti ada maunya?"
"Kok tahu sih! malam Jumat ini Ma, gaspol yuk mumpung tuyul-tuyul kita mau tidur si kamarnya."
"Ih Papa, mama udah duga!" Riri mencubit lengan suaminya.
"Biar awet muda Ma," goda Ervan lagi tersenyum nakal.
__ADS_1
"Ya tapi sekali aja!" Riri pasrah.
"Dua kali lah biar genap!" rayu Ervan.
"Tapi, Mama suka ganji!" balas Riri.
"Kalau begitu tambahin satu jadi tiga!" balas Ervan.
"Papa! makin tua makin jadi deh!" teriak Riri.
Lampu kamar mereka pun mendadak gelap. Selanjutnya biar papa Ervan dan Mama Riri yang tahu.
...****************...
Sekarang kita menuju di kota yang sama dan rumah yang berbeda. Rumah bercat putih yang terletak di perumahan Ratu kencana tak jauh dari perumahan grand Citraland rumah Ervan.
"Hah! kenapa kamu nggak ngomong aku dulu Ndri!" ucap Tiara kaget menaruh cream malam usai yang di pakainya.
Adrian mendekat ke arah Tiara di meja riasnya. Ia duduk di stool bulat dekat istrinya.
"Aku langsung kepikiran aja lihat anak Ervan cowok anak kita cewek, ya kita jodohin aja lah. Lagi pula aku bisa tenang kalau anak kita, kita serahkan sama keluarga baik-baik seperti keluarga Ervan sama Riri."
"Kamu mikirnya kejauhan banget sih Ndri, anak kita aja masih bocah ingusan masa udah main Jodoh-jodohin gitu!"
"Tapi Ndri, aku malah maunya anak kita tuh berkarir dulu, biar dia bisa mandiri secara finansial tanpa harus minta bantuan siapa pun. Biarkan dia yang nentukan nasibnya sendiri mau nikah atau nggak. Kita nggak usah lah maksakan kehendak mereka,"
"Nggak bisa gitu sayang, zaman kita dengan anak kita itu berbeda, pasti akan semakin bebas. Kalau kita ikut-ikutan biarkan anak kita bebas dan mengikuti arus zaman! Anak kita mau jadi apa?"
"Tetap jadi anak kita lah Ndri!"
"Maksud aku, anak kita perempuan satu-satunya Sayang! Kalo pergaulan anak kita sudah salah nanti kita sebagai orang tua nyesel. Cukup kita aja lah punya masa lalu yang gelap segelap mataku yang di butakan cintamu," balas Adrian.
"Mulai kan! Ingat umur Ndri. Masih aja suka gombal. Udah nggak mempan tahu nggak!"
"Tapi memang benar sih sayang! Aku sekarang kayak nemu formula untuk tetap muda. Mau tahu nggak apa?"
"Males Ndri, pasti kamu ngacau," balas Tiara.
"Mau tahu dong Sayang, biar seru. Aku maksa nih!"
"Ya udah apa?" tanya Tiara.
"Vitamin C sayang, itu harus dimakan,"
"Itu aja?" Tiara memicingkan mata.
__ADS_1
"Makanya sambil lihat senyum kamu, itu aja udah cukup nyehatkan hati dan batin aku!"
"Lebay tahu nggak!"
Adrian menunduk melihat wajah istrinya. "Karena kamu nggak seperti lempeng bumi sayang. Kamu nggak akan pernah tergeser dari hati aku." Adrian mencium tangan istrinya.
"Apaan sih Adrian, udah kita kembali bahas masalah Aline aja! Kita kayak mahasiswa kamu yang baru pedekate aja,"
"Ya nggak apa-apa Sayang, biar kita selalu merasa muda, memang mereka aja yang bisa!"
"Makin ngacau kan, kita bahas masalah Aline aja ah!"
Tiara bangun dari kursi menuju tempat tidurnya. Adrian di belakangnya mengekor istrinya.
"Iya, iya. intinya kita sepakat mau jodohkan anak kita di masa depan." Adrian menarik selimut menutupi tubuh keduanya.
"Kalau begitu aku ngikut aja lah Ndri, kamu kan bapaknya yang berhak ambil keputusan."
"Aku pengen anak kita di nikahin orang dan keluarga yang tepat! Kan senang juga nanti anak kita yang ribut jadi alim dan Sholehah kalau sudah jadi menantu Riri," seru Adrian sambil terkekeh.
"Lucu juga bayangin Ndri, anak kita ribut, si Raffa kalem alim gitu, pasti seru juga kalau mereka beneran berjodoh di masa depan," jawab Tiara.
"Kita bahas lagi masalah ini nanti, sekarang kita ...." Adrian memberi kode menaikan alisnya.
"Sori Ndri aku lagi kedatangan kamu," Tiara menutup wajah suaminya dengan batal.
"Bilang dari tadi sayang!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1