Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Season 3 - Syarat Perjanjian


__ADS_3

Raffa


Ya, cumi asem manis yang katanya buatan Aline memang enak. Rasanya sama persis seperti buatan Mama.


Berarti hukuman yang saya berikan untuk Aline memasak kategori ringan karena dapat bantuan Mama. Gagal nih rencana saya membuat perhitungan sama Aline.


Saya yakin Aline tidak tahu cara masak memasak dengan benar. Its okelah, anggap dia lagi training untuk masalah dapur sama mama.


Aline malah banjir pujian dari mama dan papa karena berhasil buat masakan enak. Nggak tahu apa, kalau calon istri pilihan mereka pergi ninggalkan putranya dengan laki-laki lain. Pasti mereka murka, tapi murkanya sama saya! Kenapa nggak di cegah kalau tahu calon istrinya pergi dengan laki-laki lain.


Saya selesai makan terlebih dulu. Saya melirik ke arah piring Aline yang masih belum kosong. Ya, Saya ingin membicarakan sesuatu dengan Aline. Tapi melihat cara makan Aline yang sok cantik. Belum lagi kalau menanggapi pertanyaan mama sama Papa pasti saya akan lama menunggunya selesai. Lebih baik saya ke atas dulu, tak membuang waktu mengerjakan pekerjaan saya.


Saya izin dengan yang lain untuk pergi ke atas menuju ruangan saya. Aline melihat saya dengan muka melasnya yang selalu mengemaskan di mata saya.Dia seolah kayak anak kecil yang ditinggalkan di mal sama bapaknya.


"Nanti kamu susul saya, selesaikan dulu makannya nggak usah buru-buru," bisik saya di belakang Aline.


Wajah si Alien langsung cerah seperti habis di setrum 110 volt. Anak ini gampang sekali meluapkan perasaan kadang senang kadang sedih, dia bisa nggak sih nahan dikit.


...****************...


"Kak!" Seru si anak hutan masuk ruangan saya.


Ya, Raydan ikut UKM mahasiswa pencinta alam, makanya saya sering sebut dia anak hutan karena sering keluar masuk hutan dan menjelajahi gunung.


"Ya dek apa?" saya melepaskan kacamata dan mengalihkan pandangan dari layar komputer.


"Kakak seriusan mau nikah sama Aline?" tanya Ray.


"Mama sama Papa maunya gitu!" jawabku.


"Aline cantik banget sih, tapi dia bukan tipe kakak kan! Kenapa mau! Ngomong aja baik-baik sama Mama Papa!"


Jujur Aline memang cantik secars fisik. Enaklah di pandang mata pas lagi capek - capeknya. Tapi ya kadang keriwehnya bikin saya ilfil duluan.


"Kakak nggak mau ngecewakan Papa sama Mama."


"Tapi kalau Kakak memaksakan diri, jadinya pernikahan kalian pasti nggak akan tenang. Bukannya Kakak kan mau melamar Alisa untuk membina rumah tangga sakinah mawadah warahmah."


Saya berpikir sejenak, kenapa semenjak Aline memasuki hidup saya, kenapa saya jadi lupa visi dan misi saya menikah dengan wanita pilihan saya. Wanita berisik itu, banyak sedikit mengalihkan perhatian saya.


Tenang Raf, ini hanya pernikahan karena perjodohan. Akan lama tumbuh rasa cinta di antara kalian.


"Kakak udah buat perjanjian pranikah, dalam perjanjian kedua belah pihak tidak akan ada yang dirugikan," jawabku pada Ray, saya dan Ray selalu berbagi apapun.


"Kalau kakak lama-lama suka beneran sama Aline gimana?"


Saya tertawa geli mendengar ucapan Raydan, "Nggak mungkin Ray, kamu kan tahu selera kakak."

__ADS_1


"Jangan gitu, kena batunya baru tahu rasa!" Raydan lagi - lagi meledek saya.


Aline memang berisik, tidak ada lemah lembutya. Tapi ada waktunya nanti wanita yang berisik jadi diam sendiri. Misal saya suntik bius! Hush ...


Suara ketukan terdengar dari luar membuyar obrolan saya dengan Raydan.


"Raff, aku masuk ya!" suara teriakan yang akhir-akhir ini cukup bersahabat di gendang telinga saya.


"Ya, masuk!" teriak saya balik.


Aline muncul membawa cangkir di tangannya. Sumpah tumben nih cewek kaleman dikit. Pasti ini intruksi dari Mama.


"Raf aku bikinkan kopi buat kamu," dia meletakkan kopi yang aromanya mengoda di meja saya.


"Lin, aku mana?" celetuk Ray.


"Ini khusus untuk calon suami, kalau kamu mau sana ke dapur buat sendiri," ucap Aline galak pada Raydan.


"Idih, Sombong banget nih calon ipar, baru juga calon!" seru Raydan


"Cari sana calon istri sendiri!" gertak Aline.


"Ray, Ray ..." Saya memberi kode pada Raydan untuk pergi. Telinga saya berisik mendengar perdebatan mereka yang tidak penting.


Kini saya dan si Alien hanya berdua dalam ruang kerja. Aline berjalan berkeliling menyusuri ruang kerja saya karena mungkin wanita jadi-jadian itu jenuh, melihat saya yang masih fokus di depan layar komputer.


Saya mendekat ke arah Aline, "Oh itu, papi kamu yang bagi, katanya sayang daripada numpuk dirumah," ucap Saya jujur meskipun seketika wajah Aline berubah nggak seheboh tadi.


"Kamu jujur banget sih Raf, padahal ini gambar yang aku buat dengan teliti untuk rancangan rumah - rumah di mas depan."


Saya sahut buku yang di pegang Aline daripada dia menampakkan wajah melas yang membuat saraf saya lemah.


"Ya, nanti saya baca! Saya panggil kamu kesini, mau bicara sesuatu." Saya to the poin saja.


"Ya udah, kamu mau ngomong apa Raff,"


"Kamu udah pikirankan syarat kamu untuk perjanjian pranikah kita."


Suasana jadi hening, Aline langsung duduk di sofa tanpa di suruh.


"Harus sekarang ya Raf," tanya Aline.


"Tahun depan! Ya secepatnya, nanti setelah mendapat syarat dari kamu saya akan resmikan suratnya."


Lagi - lagi Aline diam, tumben dia kelihatan tenang kalau lagi mikir begitu.


"Raff, aku boleh minta waktu nggak," tanyanya lagi.

__ADS_1


"Berapa lama?" jawab saya.


"Nggak tahu Raf, aku harus pikirkan baik-baik masalah ini demi kebaikan kita bersama," ucap Aline keliatan serius.


Ya ampun! Buat satu syarat saja dia butuh waktu mikir. Gimana dia bisa mikirinkan masa depan saya.


"Oke! Sehari!" jawab saya.


"Dua hari Raf, besok aku lagi gambar rumah orang," pintanya lagi.


"Oke dua hari! Sekarang kamu boleh pulang!"


Aline berdiri, "Ayo Raff, aku tunggu di bawah."


"Siapa yang mau antar kamu pulang, kamu pulang sendiri naik ojol," jawab saya.


"Ih ... nggak bisa gitu dong Raff, kamu yang bawa aku buat perang sama cumi-cumi. Masa aku disuruh naik ojol, aku mau aduhin Mama Riri." Ancam Aline, tidak mempan sob.


"Aduhin sana! Mama lagi pengajian di tetangga sebelah sama Papa, dirumah cuma ada Ray sama Bi Lastri," saya melipat tangan di dada mengerjai Aline lagi.


"Kalau gitu aku mau telpon Farel suruh jemput aku!" Aline pergi meninggalkan saya keluar ruangan.


Tango! Paling bisa Aline membuat saya ketar-ketir.


"Lin!"


Aline berhenti dan menoleh ke arah saya dengan tatapan sok sinis.


"Ingat kesepakatan kita!"


"Aku mau amnesia aja Raff, kamu tega biarkan aku pulang sendiri!"


"Tunggu di teras, saya mau keluarkan mobil!"


Saya menyerah mengoda Aline, kalau dia sudah libatkan orang ketiga. Ini nggak baik untuk kesehatan jantung saya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ......


__ADS_2