Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP18-S2// Kakak Ipar


__ADS_3

Matahari siang yang sangat terik berganti dengan langit sore yang teduh dan hangat. Abel sudah rapi dengan blouse warna abu-abu dengan kulot coklat dan kerudung pasmina warna senada dengan kulotnya. Dia masih mondar-mandir di ruang tamu menunggu seseorang yang akan menjemputnya.


Dia berdiri lagi didepan kaca ruang tamu, memeriksa dengan teliti riasannya yang sangat niat kali ini, tidak asal dan acak-acak seperti biasa. Dia menepuk dengan spon lagi wajahnya yang dirasa kurang sempurna.


Dia meraih ponsel, memeriksa pesan dari papanya, memastikan sudah mendapatkan ijin untuk pergi berdua dengan Davin.


Selang beberapa menit, suara mobil terdengar dari luar pagar rumah. Abel langsung cepat keluar dari rumah menuju halaman. Melihat mobil warna hitam jenis jeep Wr*ngler yang berhenti di depan pagar rumahnya.



Hatinya Abel berbunga-bunga melihat seseorang yang turun dari mobil itu. Kekasihnya terlihat rapi dan pasti ganteng dengan kemeja putih garis biru. Senyum manis mengembang dari bibir manis Davin, Ia mendatangi Abel yang sudah menunggunya di teras rumah.


"Sudah siap," Kata Davin.


Abel mengangguk sambil tersenyum sipu malu-malu.


"Kata Papa kamu, adik - adik kamu masih di rumah Opah kamu ya, jadi tadi Abang dapat ijin jalan berdua sama kamu." Ujar Davin tersenyum penuh kemenangan.


"Ya Bang, tadi Abel juga udah ijin Papa." Seru Abel.


"Ayo!" ajak Davin. Abel mengangguk.


Abel pun berjalan beriringan dengan Davin. Davin membukakan pintu mobil untuk Abel. Kemudian ia bergegas naik ke kursi kemudi. Davin mulai menyalakan mesin mobil, perlahan bergerak meninggalkan rumah Abel.


Diperjalanan belum ada yang mengeluarkan suara dari Abel maupun Davin. Abel menikmati aroma wangi khas parfum Davin yang melegakan dan mengobati rasa kangennya, tapi dia tiba-tiba teringat seseorang dengan wangi yang sama.


Sial kenapa jadi teringat si songong, jangan sampai deh aku ketemu tuh orang dipertemuanku dengan adek bang Davin biasanya setiap ketemu dia aku selalu sial. Batin Abel.


Abel melihat ke arah jendela untuk meredakan degupan kencang detak jantungnya yang selalu saja hinggap ketika bertemu Davin.


Hingga dia tersadar ada sesuatu desiran yang menjalar di tubuh. Ternyata tangan kanannya digenggam seseorang disampingnya, Abel jadi serba salah sekarang. Pikirannya berontak antara melepaskan tangannya atau bertahan saja beberapa menit karena dia senang. Akhirnya setan yang mengoda dalam diri Abel menang. Dia tak kuasa sama sekali menolak keinginan Davin yang memegang tangannya. Tubuh dan lidahnya seolah kompak menjadi beku menuruti godaan setan hingga tidak bisa menolak ataupun berontak. Dia malah sekarang membiarkan Davin mencium punggung tangannya dan Abel malah merasa senang.


Setan memang semakin di depan, Ampuni aku Ya Allah. Batin Abel


Abel menarik tangannya dari genggaman Davin. "Bang Davin sedang menyetir, lebih baik berkonsentrasi dulu." Kata Abel menemukan alasan yang tepat.


"Ya cantik, kamu bener, maaf Abang khilaf lagi." Jawab Davin, sekarang kedua tangannya berada di atas setir.


"Bang Davin selalu khilaf...." Guman Abel.


"Oh Ya sayang, nanti kalau ketemu adek Abang kamu jangan tersinggung sama ucapan atau caranya bicara, memang kasar tapi sebenarnya kalau kita kenal aslinya adek abang baik banget, dia juga aktif dalam kegiatan sosial." cerita Davin.


"Ya, Abel jadi penasaran sama adek bang Davin." Seru Abel.


"Sabar ya cantik sebentar lagi kita sampai." Ujar Davin lagi.


Tak lama diperjalanan, mereka sudah sampai di salah satu resto makanan western terkenal di kota B. keduanya turun dari mobil dan berjalan beriringan menuju resto. Keduanya menempati tempat yang sudah dipesan.


Davin dan Abel memilih makanan dari buku menu yang di berikan pramusaji.

__ADS_1


"Adik bang Davin mana," tanya Abel.


"Sebentar lagi datang mungkin masih diperjalanan, dia udah janji kok." Ujar Davin.


Beberapa menit makanan yang dipesan dihidangkan oleh pramusaji, steak yang terhidang di meja nampak lezat. Tapi belum juga nampak tanda-tanda kemunculan adik Davin. Abel semakin penasaran, dia berpikir pasti adek Davin kurang lebih dengan Davin.


"Bang Davin Abel ke toilet sebentar," Seru Abel.


"Ditemani nggak." Goda Davin.


Abel memukul lengan Davin yang berada di sampingnya tanpa menjawab. Dia pun beranjak melangkah menuju toilet.


Setelah keluar dari toilet Abel melihat Davin kekasihnya yang ganteng sedang mengobrol dengan seorang laki-laki memakai kaos oblong hitam dan jeasn, laki-laki itu sangat tak asing untuk Abel. Kenapa harus bertemu si songong disini, kenapa juga ia akrab sekali dengan Davin dan berbicara dengan normal.



Perlahan Abel mendekati mejanya dan duduk disebelah Davin. Dugaannya memang benar itu adalah Nolan, Apa jangan-jangan si songong?


"Hai Abelia." Sapa Nolan tanpa ekspresi.


"Sayang, ini adik aku Nolan, Nolan bilang sudah kenal kamu..." Seru Davin.


"Hai No, iya Bang Davin, Nolan teman Abel magang dan juga kita partner ngajar di panti." Kata Abel masih 'syok' melihat kenyataan yang didepan matanya.


"Kebetulan sekali ya, ya udah kita makan dulu." Seru Davin.


Bagaimana bisa bang Davin yang perfeksionis dan melankolis punya adik yang 'nyebelenis', bengis atau apapun itu sikap-sikap aneh pada diri Nolan. Mereka benar-benar saudara kandung 'kan? Mereka sangat berbeda sekali dari segi apapun kecuali ketampanan dan tampilan fisik, memang tidak jauh berbeda tapi si songong lebih unggul, postur tubuhnya lebih tinggi. Begitu yang ada di isi kepala Abel berperang dengan argumentasi sendiri.


"Nolan kamu suka?" tanya Davin pada adiknya.


"Sebenarnya nggak, aku lebih suka sate di dekat jembatan itu, karena Bang Davin yang ngajak aku nggak bisa nolak." Balas Nolan apa adanya.


"Ya sudah kita teruskan makannya." Ujar Davin yang memaklumi adiknya.


Abel sudah tak heran lagi dengan jawaban si songong, Abel sudah mulai terbiasa dengan kata ceolas ceplos yang keluar dari mulutnya.


Tapi tunggu, ia bilang apapun perintah Bang Davin dia tidak bisa menolak. Ehm... ini kesempatan emas buat si songong hormat pada calon kakak iparnya. Batin Abel mencoba licik.


Sementara di sudut depan, Nolan terus memperhatikan kedekatan kakaknya dan Abel. Senyum selalu tak lepas dari kedua orang yang dihadapan. Terutama Davin, ia tidak pernah melihat kakaknya merasa sebahagia sekarang ketika bersama seorang wanita. Perih sih, tapi apa yang bisa Nolan lakukan, ia hanya hanya bisa membiasakan diri dengan keadaan ini dan melupakan segalanya tentang Abel dari pikirannya.


"Nolan, nanti ditempat magang tolong bantu awasi dan jaga calon kakak iparmu, ini sangat kebetulan Abang senang kalian saling mengenal." Ujar Davin.


"Itu pasti Bang, apapun permintaan bang Davin." Balas Nolan.


"Sayang, nanti selama magang Nolan akan awasi dan jaga kamu." Ujar Davin pada Abel.


"Makasih Nolan." Seru Abel dengan nada bercanda seolah awal mengerjai si songong di mulai.


Nolan hanya mengangguk tanpa ekspresi menyembunyikan rasa sakitnya akan berlanjut sampai kapan, tapi melihat senyum bahagia di wajah Abel bersama kakaknya membuat ia juga ikut bahagia meskipun perih.

__ADS_1


Inikah rasanya senang melihat orang yang kita cintai bahagia meskipun rasa sakit terus saja menikam. Batin Nolan.


Sore pun berubah menjadi langit yang mulai senja, samar-samar terdengar suara adzan magrib berkumandang.


"Bang, udah Magrib kita pulangan yuk," Usul Nolan.


"Ya, ayo kita pulang," Seru Davin bangkit dari kursi bersama Abel.


Ketiganya kini keluar resto, menuju mobil yang terparkir.


"Sampai ketemu di rumah," kata Davin pada Nolan.


"Ya, Abel sampai ketemu lagi." Kata Nolan datar.


Abel membisikan sesuatu pada Davin.


"Nolan, ulangi salam berpisah yang baik pada Abel, tersenyum dan berkata yang sopan," titah Davin.


"Tapi..." Kata Nolan kesal, tapi karena yang bilang adalah Davin, ia terpaksa menurut.


"Hati-hati Abel, sampai ketemu lagi." Ujar Nolan tersenyum memaksa.


Abel mengangguk tersenyum menahan tawa bahagia dalam hati berhasil membuat si songong jadi bersikap manis dan tersenyum padanya untuk pertama kali.


Abel dan Davin masuk kedalam mobil, keduanya melambaikan tangan pada Nolan ketika mobil sudah melaju. Nolan bersandar di pagar sambil menahan tetap memaksa tersenyum hingga mobil Kakaknya berangsur menjauhi dirinya.



Nolan memegang dadanya dan harus bisa mulai membiasakan diri dengan keadaan sulit ini. Ia pun mulai melangkah dengan berat menuju parkir motornya.


.


.


.


.


.


.


Next.....


sumber gambar @Rukanamirror @taosattaphong @Ponnawash


InsyaAlloh lanjutannya hari ini......


terima kasih udah sabar nunggu up dari author.

__ADS_1


Beri semangat author mu pencet LIKE ketik KOMMENT yang punya poin bisa bagi VOTE. loph u ❤️🙏


__ADS_2