
Lima tahun kemudian
Abelia Amvan Wijaya anak dari Ahmad Ervan Wijaya dan mendiang Amanda Rachel Willson. Sekarang memiliki ibu sambung bernama Rinjani Ana lita alias Riri gurunya semasa SMP yang dia comblangkan plus jodohkan sendiri dengan Papanya. Pernikahannya berbuah buntut yang manis lengkap dengan adik-adik laki-laki yang mengemaskan.
Abel sebutannya dari bayi hingga sekarang tumbuh menjadi anak gadis cantik dan ceria.
Dia sedang berkuliah di salah satu Universitas Negeri Terbaik di negeri ini di kota Y sama seperti Papanya karena dia tidak boleh berkuliah diluar negeri yang jauh dari orang tuanya.
Di usianya yang ke 19,5 tahun Abel masih menduduki semester 4 di Fakultas teknik dengan jurusan teknik geologi, karena kecintaan Abel pada dunia perhitungan dan rasa penasaran pada sumber daya alam.
Awal liburan semester kali ini Abel pulang ke kota B karena paksaan Mama Papa serta adik-adik tercintanya. Selain itu, Papanya juga ingin membicarakan sesuatu yang penting pada Abel sehingga Abel tidak bisa menolak sama sekali keinginan bulat orang tuanya. Rencana liburannya kali ini menguap seketika, padahal dia ingin sekali mengunjungi tempat wisata bersejarah maupun tempat wahana kegiatan ektrim di kota Y yang belum pernah dia datangi selama masa kuliah disana.
Abel sudah tiba di bandara setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam mengudara dari kota Y. Dia memesan taksi bandara yang sudah terparkir didepan pintu kedatangan, dia sengaja tidak memberitahukan keluarga sebab ingin memberi kejutan.
Beberapa menit dari bandara, Siang ini Abel sudah tiba didepan rumah cat hitam putih abu-abu yang tak pernah berubah warna dari sepuluh tahun yang lalu. Menurunkan barang dari bagasi dan menyeret masuk koper ditangannya.
Sebelum mengentuk pintu, sudah keluar dari balik pintu bocah kecil berlari berhambur memeluk kakaknya. Pelukan bergantian kakak adik yang berujung pertengkaran karena sang adik paling bontot yang terus memeluk kakak perempuannya tidak mau bergantian dengan kakaknya, membuat sang kakak kesal terus berceloteh tanpa koma.
Pemandangan ini yang selalu Abel rindukan ketika berada didalam kostnya dikota Y. Perdebatan sengit adik-adik karena hal kecil yang selalu saja terjadi yang kadang membuatnya kesal dan gendang telinganya bergetar tapi selalu membuat kangen.
"Ray, gantian sama kakak Raffa ya..." Abel berbicara sebijak mungkin agar pertengkaran dua bocah yang mulai tenang tidak terjadi lagi. Dengan cepat Ray melepaskan pelukannya dan sekarang Raffa bergantian memeluk Abel.
Riri muncul dengan wajah terkejut penuh tanya melihat Abel yang sudah diteras.
"Kenapa nggak bilang kalau pulang sekarang, Mama sama Papa bisa jemput di bandara." Kata Riri ikut berhambur memeluk anaknya.
"Bikin suprise." Jawab Abel singkat melepaskan pelukannya.
"Kakak beliin kita apa." Tanya Raffa heboh.
"Ada banyak, tapi masuk dulu bisa nggak, kakak lapar nih kangen masakan Mama." Keluh Abel.
"Sorry Sayang, ayo masuk kita makan dulu," seru Riri.
Usai makan siang, Abel melakukan ritual wajib pulang dari kota Y, membagikan oleh-oleh pada adik-adiknya serta seluruh penghuni rumah. Abel masuk kedalam kamarnya melepaskan lelah dan rindu pada kamarnya yang dia tinggal selama beberapa bulan. Berleyeh-leyeh merenggangkan kaki diatas tempat tidur sambil memposting di sosmed kalau dirinya kini sudah berada di kota B.
"Abel...." Sapa Riri tanpa mengetuk pintu yang membuat Abel tersentak kaget.
"Mama, bikin kaget." Kata Abel langsung bangkit dari tidurnya, berposisi duduk sekarang.
__ADS_1
Riri langsung duduk ditepi ranjang. "Gimana kuliah kamu." Tanya Riri.
"Alhamdulillah lancar aja Ma." Ujar Abel.
"Sayang, kayaknya Papa mau ada rencana untuk magang kamu semester depan."
"Rencana apa Ma, Abel udah milih perusahaan dikota kita kok buat magang." Balas Abel.
"Kayaknya Papa mau kamu magangnya diperusahaan tempat Papa kerja deh biar gampang ngawasinnya." Jelas Riri.
"Papa pasti deh berlebihan kuatirnya." Keluh Abel menggelengkan kepala.
"Sayang, Papa kuatir kamu sering sakit-sakitan kalau di kos, lagipula kamu anak perempuan." Balas Riri.
"Ya Mama, nanti Abel pikirin lagi, ini mau tidur dulu Abel capek." Rengek Abel.
Obrolan anak ibu ini pun berakhir, Riri keluar dari kamarnya.
*******
Siang yang ceria berganti malam yang dingin karena kebetulan cuaca diluar sana sedang hujan rintik berujung deras mulai membasahi kaca jendela dari luar. Ervan, Riri dan abel menikmati waktu bersantai ditemani acara lawak TV karena bocah laki-laki nya semua sudah tertidur.
Ervan mengambil remote TV dan tiba-tiba mematikannya.
"Abel, ada yang Papa mau bicarakan sama kamu." Tungkas Ervan dengan wajah tegang.
"Mau ngomong apa sih Pa, serius amat."
"Sayang, kemarin Om Ervin sudah bilang berkas pengalihan perusahaan sudah siap, kamu tinggal tanda tangan aja." Ucap Ervan.
Abel berusaha mencerna perkataan Papanya dengan otaknya yang pintar berhitung, tapi sia-sia, dia masih juga tidak bisa mengerti.
"Maksud Papa, pengalihan perusahaan bagaimana ya." Tanya Abel yang binggung suguhan kali ini.
"Sayang, Almarhum Mama kamu meninggalkan warisan untuk kamu dua puluh persen kepimilikan Wijaya Palm hills, yang sekarang dirubah menjadi perusahaan anak perusahaan WPH yang dikelola Miranda dikota T." Terang Ervan lagi.
Abel membuka mulutnya beberapa detik terperangah. "Abel punya perusahaan yang dikelola Tante Mira."
"Ya Sayang, perusahaan di bidang yang sama dengan punya Opah, kepala sawit." Balas Ervan lagi.
__ADS_1
Raganya mulai tak percaya, jiwa kaya dan sombongnya yang terkubur bertahun-tahun silam kembali bangkit, mata Abel tiba-tiba menghijau seperti dihujani uang selain hujan air diluar rumah. Tapi dengan cepat dia menepis hayalan bod*h itu mengingat nasehat ibu tiri kesayangan 'Kalau segala sesuatu yang kita miliki didunia akan dipertanggungjawabkan di akhirat' jiwa yang tadi mendadak luntur berganti jiwa sederhananya kembali pulih. Dia memberanikan diri membuka mulut.
"Tapi Pa, bagaimana bisa Abel mengambil alih dan mengelola perusahaan yang sama sekali bukan keahlian Abel." Keluh Abel galau.
"Sayang, kamu kan pemilik perusahaan nggak harus ahli di bidangnya, lagi pula diperusahaan sudah banyak orang ahli yang bekerja, kamu tinggal tanda tangan laporan memeriksakan kinerja selesai." Ujar Ervan.
"Tapi setidaknya Pa, Abel tahu sedikit sedikit gitu tentang persawitan! jauh banget sama jurusan aku geologi ke perkebunan." Ungkap Abel.
"Sayang, yang penting kamu tahu dulu apa yang kamu miliki sekarang supaya papa sama Om Ervin lega udah nyerahkan hak kamu, untuk kedepannya terserah kamu, lagipula apa salahnya mencoba mengelola milik kita sendiri."
"Ya Ma, tetep aja ada tanggung jawab, mikirin nasib karyawan dan lain-lainnya, Abel aja kadang nggak pernah mikir diri sendiri." Seru Abel.
"Ya udah kita bahas lagi masalah ini nanti, sekalian ke kantor Om Ervin biar kami tahu sayang berapa Lahan, aset, dan yang lainnya yang kamu punya." Kata Ervan.
"Nanggung setengah-setengah Abel masih penasaran." Keluh Abel lagi.
"Udah kita tidur aja besok kita bahas lagi, ini udah malam." Seru Ervan.
"Ya cantik, Papa bener kita tidur dulu, nanti kita bahas lagi, kamu juga masih lama disini." Kata Riri bangkit sambil menguap.
Ervan pun ikut bangun mengikuti istrinya dari belakang. Sementara Abel masih terduduk memikirkan perkataan Papanya nyata atau tidak. Selama ini dia hidup mengandalkan uang bulanan yang dikirim orang tuanya dan hasil endorse dari IG, syukur-syukur ada sisa, dia sisihkan untuk ditabung, sekarang Papanya bilang dia pemilik perusahaan berserta aset-asetnya.
Kenapa Papa nggak bilang dari dulu sih, Papa aku the best banget sih bahkan dia nggak mau sepeserpun harta benda peninggalan Mama. Batin Abel.
.
.
.
. Next...
ABEL udah gede....
Sumber : @ruksanamirror
Terima kasih udah sabar nunggu up dari author...
__ADS_1
Beri semangat author LIKE KOMENT
kalo punya POIN bisa sumbang VOTE 🤗🤗🤗 ❤️ U