
Hari ini tiba saatnya Abel dan Davin berangkat ke ibukota. Meskipun keluarga Abel, terutama Papa Ervan sangat tidak setuju Abel pindah kota. Tapi setelah perdebatan dan penjelasan dari Davin, Sang Papa mulai mengerti. Abel sekarang adalah seorang istri yang menjadi tanggung jawab suaminya dan harus mengikuti kemana langkah suaminya.
Suasana haru menyelimuti bandara sekarang. Bagaimana tidak seluruh anggota keluarga Abel ikut mengantar ke bandara. Sedikit norak memang bagi Davin, tapi ia mengerti kecamasan Ervan yang seolah anaknya akan di bawa kabur ke mars saja. Sebelumnya Abel sudah berpamit dan berpeluk-pelukan dengan Bu Mitha dan Papa Hendrawan di rumah. Davin dan Abel hanya di antar oleh Nolan dan sopir.
“Kakak hati-hati ya, jaga diri baik-baik disana. Nurut sama suami, kalau ada apa-apa langsung hubungi Papa Mama.” Riri memberi petuah sambil memeluk Abel, tak lupa juga mata berkaca-kaca.
Sekarang giliran Abel dan Davin berpamit pada Ervan. Ervan memeluk Abel erat seolah tak sanggup jauh dari Abel. Ervan memeluk Abel lama, Abel menyenggol Papanya agar melepaskan pelukannya. Kini Ervan menangkap wajah anak gadisnya.
“Kamu hati-hati sayang, jangan pernah ragu hubungi papa kalau kamu ada masalah atau apapun. Minggu depan setelah papa libur Papa akan langsung tengok kamu ke ibukota,” ujar Ervan.
Abel mengganguk, Papanya masih juga tidak berubah. Abel jadi teringat awal masa dia kuliah. Papanya sangat cemas berlebihan sampai harus bolak-balik ke kota Y seminggu sekali.
“Papa tenang, ada Aku Pa. Aku akan selalu jaga Abel dan buat hari-harinya selalu bahagia bersamaku.” Davin menepuk pundak Ervan.
"Titip Vin, jaga dia baik-baik. Jangan biarkan dia keluar rumah sendiri disana tingkat kriminalitas tinggi," ujar Ervan.
"Ya Pa," balas Davin.
"Vin, Abel memang wanita kuat tapi sebenarnya dia gampang rapuh dan sangat pencemburu, kamu jaga sikap dengan wanita lain. Kamu harus hibur dia dan jangan selalu sibuk dengan pekerjaan." Ervan memberi wejangan lagi.
"Pasti Pa ...."
"Satu lagi Vin, sesekali larang dia makan pedas itu nggak baik untuk ususnya."
"Ya Pa ...." Davin menyambung lagi peringatan bertubi tubi mertuanya.
"Vin ...." Sebelum menyelesaikan kalimatnya Riri menarik tangan Ervan untuk tidak melanjutkan.
"Mas, lama kelamaan Davin akan tahu dan memahami Abel begitu pula sebaliknya dengan Abel. Mas tenang ya, kita harus percaya Davin, suami yang bisa menjaga Abel dengan baik." Riri memberi pengertian untuk menenangkan suaminya.
"Ya Pa, Mama bener. Enjoy Pa." Kata Abel pada Papanya.
Ervan kembali memeluk Abel sambil mencium keningnya.
"Jaga diri gadis kecilku," ujar Ervan melow. Abel jadi ikut melow melihat Papanya seperti anak kecil yang kehilangan bonekanya.
Setelah acara pamit dengan keluarga Abel berakhir dengan pelukan hangat adik-adiknya. Kini Davin berpamit juga pada adik semata wayangnya.
__ADS_1
Davin memeluk Nolan, ia merasakan pasti sakit sekarang. Tapi ia yakin seiring berjalannya waktu dan terpisahnya jarak Nolan akan perlahan-lahan melupakan istrinya.
Nolan melepaskan pelukannya, "Jaga Abel Bang, jangan pernah buat dia menetes air mata. Kuatkan dia disaat dia lemah. Jadilah sandaran terhangatnya ketika dia letih." Pesan Nolan.
"Pasti No. Kau juga, cepatlah lulus kuliah tahun ini tidak ada alasan lagi. Jangan sering ikut mimpin demo lagi." Peringatan Davin dengan nada bercanda.
"Mudahan Bang," balas Nolan.
"Semoga kau segera membuka hati dan mendapatkan wanita impianmu No, dan Abang akan langsung pulang melamarkan gadis itu untukmu." Davin mencoba menguatkan Nolan.
"InsyaAllah Bang," balas Nolan tak ingin mengecewakan kakaknya.
"No...." Abek memanggil ingin bergantian berpamitan.
Giliran Abel berpamitan dengan adik iparnya. Dengan cepat tanpa perintah siapa pun Nolan meraih tubuh Abel. Ia memeluk kakak iparnya karena setelah ini ia tidak akan bisa melihat wajahnya ataupun sekedar mendengar tawanya. Meskipun terlihat nekat dihadapan keluarga Abel dan Kakaknya. Ia merasa tidak peduli, ia hanya ingin meluapkan kesedihannya dengan memeluk seorang yang membuatnya terluka dan bahagia ini.
Disisi lain Abel memang sedikit kaget dengan cara berpamitan adik iparnya. Tapi ia menganggap ini hal yang wajar sajalah. Nolan adalah adik ipar dan sahabatnya, mungkin Nolan juga ingin dirinya berpamitan sepertinya yang lain tadi saling berpelukan.
Sedangkan Davin merasa tidak nyaman dengan sikap adik dan istrinya. Davin mencoba saja bersikap normal dan mencoba berpikir positif menganggap sewajarnya seperti layaknya Kakak ipar dan adiknya.
"Ya No, kamu juga!" balas Abel meninju dada Nolan.
Nolan tersenyum, entah ia akan merindukan atau melupakan senyum dari wanita yang ada di hadapannya ini.
Seseorang yang tak lain adalah asisten pribadi Davin memberi isyarat dari depan pintu ruang tunggu keberangkatan.
Keduanya harus segera naik ke pesawat yang akan berangkat. keduanya mengakhiri acara peluk-pelukan dan berpamitan untuk pergi ke ruang tunggu.
Davin mengandeng tangan Abel menyematkan jari-jari Keduanya. Mereka saling memandangakan bersiap menuju ke tempat tinggal baru mereka. Abel berhenti sejenak dan berbalik. Dia melambaikan tangan pada keluarganya yang masih menunggunya.
Perlahan pesawat mulai lepas landas meninggalkan bandara. Davin terus mengengam tangan Abel. Abel melihat dari ketinggian kota kelahiran yang penuh kenangan yang akan ditinggalkannya. Dia mengikuti langkah suaminya akan hidup di kota yang baru, harapan yang baru dan semua kenangan baru yang akan dilewati dengan suaminya.
Abel berharap rumah tangganya kelak bisa sakinah, tidak ada rasa curiga, tidak ada kesalahpahaman. Dia dan suaminya bisa memulai semuanya berdua, melewati suka dan duka berdua. Berjuang berdua jika nanti suatu saat ada goncangan yang menghantam bahtera rumah tangganya.
Abel mengalihkan pandangan sekarang ke arah suaminya karena kota yang akan ia tinggalkan sudah tertutup dengan awan.
"Bang Davin, I Love You." Ungkapan Abel yang membuat suaminya tersenyum manis melihat dirinya.
__ADS_1
"I love you more, more and more," balas Davin mencium tangan Abel. Meskipun ia ingin sekali mencium bibir istrinya tapi banyak mata di dalam pesawat ini meskipun kelas bisnis.
Davin mendekatkan bibirnya ke telinga Abel. "Beri Abang anak yang banyak Sayang," bisiknya yang membuat Abel tersenyum dan mencubit lengan suaminya.
"Kucing kali beranak banyak!" canda Abel. Disusul cubitan di hidung suaminya merasa gemas.
Mendengar ucapan Davin, Abel teringat semenjak dia menikah sampai sekarang ia belum juga datang bulan. Kalo menghitung dari siklusnya dia sudah hampir telat satu minggu. Abel refleks memegangi perutnya dan berharap apa yang dia citakan bersama suaminya segera terwujud.
.
.
.
.
.
.
.
.
☘️☘️☘️☘️ ENDING ☘️☘️☘️☘️
______________________________________________
Akhirnya Thor nyasar bisa selesaikan istri untuk papa season 2 genap 80 episode. Makasih buat semua yang udah ngikutin karya remahan rengginang Thor Ampe part ini.
Maafkan Thor amatir ini jika dalam selama penulisan banyak banget kekurangan. Alur yang berbelit, kelilit, melilit . Typo berserakan kayak jerawat Thor dan sebagainya.
Jika kalian masih punya pertanyaan, saran, kesan, pesan, cacian, hujatan silahkan tuliskan di kolom komentar. Thor sudah menyiapkan hati , jantung dan segenap organ tubuh Thor menerima masukan.
Nggak bisa ngomong panjang lebar lagi, intinya lega udah bisa namatin ini. Tunggu ya pengumuman dan bonus chapter selanjutnya dari Author. selalu cinta kalian para reader setia salam loph loph selalu dari author yang nggak ada bakat ini.
yang mau vote juga boleh 😍😍😍
__ADS_1