
Pagi ini Riri dan Ervan sudah bersiap ke bandara, mereka memang harus segera kembali ke kota B karena pekerjaan Ervan yang tidak bisa ditinggalkan. Meskipun mereka belum sempat menikmati indahnya pulau Dewata tapi mereka cukup bahagia bisa hadir di hari bahagia kedua sahabatnya.
Ervan ingin pamit kepada pengantin baru, tapi tidak ada tanda-tanda mereka keluar dari kamar. Takut menganggu Ervan memilih berpamitan lewat pesan.
Pukul 05.30 WIB
Beberapa menit dari resort menggunakan taksi mereka sudah tiba di Bandara ngurai Rai, mereka segera bergegas menaiki pesawat pertama pagi ini ke kota B karena mendengar beberapa menit pesawat akan boerding.
"Maaf ya sayang, kita pulang harus buru-buru, nggak sempat jalan-jalan atau sekedar beli oleh-oleh, karena Mas banyak kerjaan..." Kata Ervan sambil mengelus perut Riri.
"Nggak apa-apa Mas, pekerjaan Mas juga penting. Itu amanah dari Kak Tiara..."
"Makasih ya sayang, Mas janji InsyAllah kita balik ke sini lagi sama anak-anak kita nanti..."
"Ya Mas InsyaAlloh...."
Pesawat mengudara menempuh perjalanan satu jam dari pulau Dewata, kini sudah mendarat ke kota B. Mereka segera bergegas keluar dari bandara menunggu taksi.
"Ervan...!!!" Suara perempuan berteriak menyapa. Ervan dan Riri refleks menoleh ke sumber suaranya.
Riri seperti pernah melihat wanita cantik wajahnya seperti keturki-turkian di depannya ini, wajahnya sangat tidak asing.
Ya Allah wanita ini sangat mirip dengan ibunya Abel Amanda. Riri sangat terkejut seperti dialiri listrik.
Entah kenapa rasa ketakutan langsung muncul menghilangkan kebahagiaan tadi pagi, tubuhnya terasa dingin dia langsung meraih lengan suaminya dan mengengamnya erat seolah dia akan kehilangan sesuatu.
"Miranda...." Ervan melepas tangan Riri yang merangkulnya dan menghampiri wanita yang menyapanya.
"Ervan! ternyata benar itu kau, kebetulan sekali...." Kata wanita bernama Miranda itu hendak memeluk Ervan, tapi Ervan melangkah mundur.
"Maaf Miranda setelah Amanda meninggal, ikatan mahram di antara kita terputus..." Kata Ervan menangkupkan tangannya.
"Jadi seperti itu, kau banyak berubah Van..."
"Kenapa tidak memberi kabar kalau kau akan kesini..." Tanya Ervan.
"Riri..." Ervan menoleh ke belakang mencari Riri tapi ia lupa tadi refleks meninggalkannya hendak menemui Miranda.
"Mira ayo ikutlah aku, itu istriku..." Kata Ervan Menunjuk Riri yang memegang koper tak berpinjak dari tempatnya.
Ervan membawa Miranda menemui Riri yang masih tercengang dengan kejadian tadi. Riri menutupi semuanya dengan tersenyum ketika suaminya menghampirinya merangkul pundaknya.
"Sayang, Maaf ya tadi aku terkejut melihat Miranda makanya aku langsung refleks datangi dia...."
"Miranda ini istriku, Riri ..." Riri mengulurkan tangannya kepada Miranda.
"Hai, cantik istrimu Van, masih muda sekali sepertinya, dia hamil...." Kata Miranda menyambut tangan Riri.
"Ya...Hai Kak." Balas Riri memaksa senyumnya di kegundahan hatinya.
"Sayang, ini Miranda dia adik dari Amanda ibunya Abel dia tinggal di kota T..."
"Maaf, aku mendengar berita pernikahan Kalian tapi aku terlalu sibuk, jadi aku tidak bisa hadir..." Kata Miranda.
"Oh ya Miranda, kenapa kau datang ke kota ini, apa ada perlu..."
"Ya, pertama aku ingin bertemu keponakannya karena sudah lama sekali kita tidak bertemu, kedua aku sedikit ada keperluan dengan perusahaan..." Jawab Miranda.
__ADS_1
"Berapa lama kau akan disini, dimana kau akan tinggal..." Tanya Ervan lagi.
"Bisa seminggu bisa lebih cepat tergantung keperluan, aku akan menginap di hotel..."
"Miranda kenapa di hotel, menginaplah dirumah kami,"
"Tidak Van, tidak perlu aku tidak mau merepotkan kalian...."
"Abel pasti senang dan Riri tidak keberatan, ya kan sayang..." Ervan menoleh ke arah Riri.
"Ya Kak, Mas Ervan benar..." Jawaban Riri ragu dengan keputusannya.
"Baiklah...." Jawab Miranda.
Kini ketiganya pergi keluar bandara menuju lobby menaiki taksi bandara bergegas menuju rumah.
"Kalian dari mana, berlibur?" tanya Amanda dari kursi belakang.
"Kita menghadiri pernikahan sahabat kita di pulau Dewata..." Jawab Ervan dari kursi penumpang depan.
"Oh ya Miranda, dimana suamimu? kenapa kau sendirian disini..." Tanya Ervan.
"Kita sudah lama berpisah Van..." Jawab Amanda.
Hati Riri tiba-tiba semakin gusar, tapi dia terus menyakinkan hatinya harus berpikir positif.
"Sorry Miranda, aku tidak tahu..." Balas Ervan terkejut.
"Tidak masalah...."
Ervan membawa kopernya dan koper Amanda masuk kedalam rumah.
"Kau pindah rumah kesini,..." tanya Miranda.
"Ya Miranda, maaf rumah kami tidak sebesar rumahmu atau rumah keluarga Wijaya..." Ujar Ervan.
"Tapi rumahmu sepertinya sangat nyaman..." Ucap Miranda.
"Terima kasih Miranda, Maaf aku harus bergegas ke kantor, Miranda biar Riri yang akan menemanimu..."
"Ya tidak masalah..." Jawab Miranda.
Ervan menuju lantai atas, mengambil perlengkapan kerjanya. Sementara Riri mengantar Miranda ke kamar tamu di lantai bawah.
"Kak, sebaiknya istirahat dulu, kalau kakak butuh sesuatu, kakak bisa panggil saya." Kata Riri.
"Ya, terima kasih, oh ya jam berapa Abel pulang dari sekolah..." Balas Miranda.
"Biasanya jam tiga Kak..." Balas Riri.
"Berapa usia kehamilamu..." Tanya Miranda.
"Hampir delapan bulan Kak..."
Miranda menganguk, Riri berpamitan keluar menyusul suaminya. Ervan turun dari tangga bersamaan dengan Riri yang akan naik ke atas.
"Sayang, Mas pergi dulu...." Ervan mencium kening Riri dan perutnya. Dibalas Riri mencium punggung tangan suaminya.
__ADS_1
"Oh ya Sayang, bantulah Miranda jika dia butuh sesuatu..."
"Ya Mas....." Balas Riri entah kenapa merasa gusar setelah tahu Miranda ada di rumahnya.
Ervan pergi berlalu meninggalkan rumah. Riri mencoba beristirahat menenangkan pikirannya yang tiba-tiba berubah cemas. Dia berguling-guling di kasurnya. Dia berusaha berpikir positif. Tapi tidak bisa di begitu gusar bagaimanapun rasanya tinggal seatap dengan perempuan yang tidak Mahram untuk suaminya terlebih lagi status perempuan itu sigle, dia seorang janda.
Tenang Ri, dia cuma beberapa hari. Riri
*****
Mendengar suara motor dari halaman, Riri bergegas turun, menyambut Abel yang pulang dari sekolah, Riri sudah menyambut didepan rumah. Abel mencium punggung tangan ibunya.
"Abel ada tamu yang mau ketemu kamu...." Kata Riri menuntun Abel ke kamar tamu.
"Siapa sih Ma, Tante Vira atau Paman Angga ya..." Kata Abel antusias mengira itu adalah Ervira dan Angga.
"Lihat saja nanti...." Riri mengetuk pintu kamar, beberapa menit, Miranda muncul dari balik pintu.
"Abel...kamu gede sekarang, Tante kangen..." Miranda refleks memeluk Abel.
"Hai Tante Mira..." Kata Abel terlihat tidak terlalu bahagia seperti mendengar kata Ervira.
"Abel Tante mau ngobrol banyak sama kamu...." Miranda memegangi pipi Abel gemas.
"Maaf Tante, bisa nanti aja nggak ngobrolnya, Abel mau ganti baju, mandi, sholat ashar, makan habis itu mengaji ke masjid...."
Riri melirik ke arah Abel, kenapa Abel bersikap biasa saja pada Miranda yang sudah jauh-jauh datang menemui dia.
"Abel kan bisa ditunda, Tante Miranda datang mau ketemu kamu loh ..." Seru Riri.
"Ma, Abel mau setor hapalan sama Ustadz, kalau besok besok nanti lupa, nggak apa-apa kan Tante..." Jawab Abel dengan wajah manis.
"Nggak apa-apa kita nanti punya banyak waktu...." Balas Miranda memaksakan senyumnya.
Kenapa anak Amanda masih menyebalkan sepeti dulu. Miranda.
Abel pun meminta ijin naik ke kamarnya. Riri jadi merasa bersalah pada Miranda sebagai bibinya dengan sikap Abel.
.
.
.
.
.
.
Next.........
Zen InsyaAllah tinggal beberapa Bab lagi.....
Makasih sudah sabar nunggu Up dari author...
Jangan lupa tinggalkan jejak like koment vote biar semangat up nya🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1