
Pagi ini seperti biasa Riri membantu bi Mina menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya.
"Mbak duren siapa dikulkas," tanya Bi Mina.
"Riri beli tadi malam Bi." Jawab Riri.
Kini mereka sudah berkumpul untuk sarapan pagi. Sebelum ke meja makan Ervan pergi ke dapur mengambil gelas dan kotak kemasan susu hamil, ia ingin membuatkan susu untuk Riri.
"Mas, biar Bibi aja Mas, Mas sarapan dulu." Kata Bi Mina yang sungkan melihat Ervan membuat minuman sendiri.
"Nggak usah Bi, Aku mau bikin untuk istriku susu setiap hari."
Riri yang mendengar perkataan suaminya, langsung bangkit dari kursi menghampiri suaminya di dapur memeluknya dari belakang.
"Ma, disini ada anak dibawah umur, nanti aja mesra-mesraannya masih pagi!" Teriak Abel dari meja makan melihat orang tuanya.
Riri yang mendengar perkataan Abel langsung melepaskan pelukannya merasa malu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ervan hanya tersenyum lucu melihat Riri.
"Minum Sayang, setelah itu sarapan baru minum obatnya." Ervan menyerahkan susu rasa coklat pada Riri.
Riri mengambil gelas susu dari Ervan meminumnya habis. "Enak Mas, kalau Mas yang buat."
Kini keduanya menikmati sarapan dengan tenang, usai sarapan Ervan berlari ke kamar mandi dilantai bawah. Ia memuntahkan lagi isi perutnya. Riri bergegas menyusul suaminya.
"Mas, Mas mual lagi." Tanya Riri.
"Ya, sayang tiap pagi begini." Jawab Ervan yang sudah merasa lebih baik.
"Tapi kata Nathan itu bisa saja terjadi, suami yang mengalami mual, untung Mas yang mual muntah begini bukan kamu, Mas bisa kepikiran kamu terus."
"Mas manis banget, Mas nanti minum obat biar gak muntah lagi." Riri memeluk lagi suaminya. Selama kehamilan, Riri merasa terus ingin memeluk suaminya seolah menjadi candu.
Ervan dan Riri kembali ke meja makan, meminum beberapa obat untuk meredakan rasa mualnya. Merasa lebih baik, dia bangkit menuju halaman akan berangkat bekerja.
"Sayang, kamu jangan terlalu capek, Papa kerja dulu ya dek baik-baik sama mama." Ervan memegang perut istrinya, mencium kening Riri seperti biasannya disambung Riri mencium punggung tangan suaminya.
"Oh ya Mas, nanti sore Riri mau ketemu dosen buat setor skripsi untuk direvisi." Ujar Riri.
"Kamu nggak apa-apa sayang pergi sendiri, nanti pulangnya Mas jemput." Balas Ervan, Riri mengangguk tidak keberatan.
Mobil Ervan pun sudah berlahan menjauh dari rumahnya. Riri masuk kedalam rumah memeriksa lagi persiapan berkas untuk nanti sore bertemu dengan Adrian.
*****
Sore menjelang senja, Riri sudah berada di kampus menggunakan taksi online. Meraih ponsel membaca beberapa pesan dari Adrian.
Dia memilih menunggu ditaman depan gedung fakultas sembari melihat-lihat sekitaran kampus yang tak lama lagi akan dia tinggalkan usai memakai toga. Tak lama orang yang ditunggu Riri terlihat masuk ke gedung fakultas. Riri yang sejak tadi duduk ditaman langsung melangkah ke gedung fakultas.
Riri dengan sopan mengetuk pintu ruangan Adrian.
"Ri! ayo masuk." Ucap Adrian.
"Ini bab satu sampai tiga buat sidang pertama Pak." Kata Riri tanpa ada kata candaan atau sekedar senyuman manis.
Masa iya sih??, Pak Adrian suka sama aku. kayak nggak ada mahasiswa lain aja yang lebih layak. Batin Riri dalam hati yang sesekali memperhatikan Adrian serius membolak-balik setiap lembar.
Suasana ceria yang Riri bawa ketika bertemu Adrian berubah dratis menjadi kecanggungan seperti dua orang asing yang baru saling mengenal.
Riri terus saja menundukan kepala tanpa melontarkan kata candaan sama sekali seperti biasanya. Adrian menatap Riri sekilas di sela-sela membaca tumpukan kertas dihadapannya.
Habis kesambet apa Riri tiba-tiba jadi kayak manekin, kaku banget. Adrian
"Ri, kamu lagi sakit." Tanya Adrian membuka kacamata berhenti Membaca.
"Nggak Pak,"
__ADS_1
"Oh ya Ri, Udah liat berita, kamu setuju nggak harga gula makin mahal dipasaran." Tanya Adrian tiba-tiba.
Riri melonggo mendengar pertanyaan Adrian yang tidak ada hubungan sama sekali dengan skripsinya.
"Nggak setuju sih Pak." Jawab Riri binggung.
"Kalau saya setuju aja, asalkan senyum kamu itu masih murah." Balas Adrian.
Pertahanan Riri pun runtuh, dia menyungingkan bibirnya tersenyum. "Bapak paling bisa deh bikin mahasiswa senyum-senyum sendiri." Riri melunakkan wajahnya, mencairkan suasana lagi.
Melihat Riri mulai tersenyum. "Tuh kan ada yang lebih manis, gitu dong dari tadi kusut terus." Seru Adrian.
"Udah belum Pak koreksinya, jenuh juga satu jam lihat Bapak terus." Tungkas Riri mulai bertingkah akrab lagi.
"Cuma kamu loh Ri yang minta cepat dikoreksi, biasanya yang lain malah mau lama-lama."
"Terserah Bapak lah."
Adrian menyerahkan kertas pada Riri. "Revisi yang saya corat-coret."
Riri memperhatikan masih banyak yang harus dia perbaiki. "Masih revisi? Banyak banget yang mau direvisi pak."
"Oh ya Ri, gimana ceritanya kamu bisa ketemu Ervan." Tanya Adrian.
"Saya guru dari Abel disekolah Pak, ngajar les private juga dirumahnya." Jawab Riri.
"Abel di sekolah umum tempat kamu ngajar, bukan si sekolah perusahaan Bapaknya." Tanya Adrian lagi Riri menggangguk mengiyakan.
"Berati kalau di bikin sinetron judulnya, aku menghantar jodoh untuk sahabatku."
Lebih tepatnya aku yang kalah cepat, keduluan sahabatku. Batin Adrian.
"Bapak bisa aja." Balas Riri tertawa
Ditengah tanya jawab yang diajukan Riri kepada Adrian masalah skripsi yang akan di revisi, Ponselnya berdering.
"Permisi Pak, mau angkat telepon." Riri keluar ruangan.
Ervan : Sayang Mas di Rumah Sakit, Mas binggung, Tiara kecelakaan nggak ada yang jaga dia, dia nggak punya siapa-siapa dikota ini.
"Bu Tiara kecelakaan Mas! Riri bisa nyusul Mas kesana, Bagaimana keadaan Bu Tiara." Riri terkejut.
Ervan : Tangannya retak sayang, kamu lagi hamil, harus banyak istirahat.
"Tapi Mas, Riri pengen tahu keadaan Bu Tiara." Riri yang merasa kuatir.
Ervan : Ya udah nanti Mas suruh Udin jemput kamu ya.
"Ya Mas," Telepon terputus.
Riri bergegas masuk kembali keruangan Adrian mengambil barang yang tertinggal disana.
"Maaf Pak, saya permisi dulu, saya harus ke rumah sakit." Seru Riri.
"Siapa yang sakit Ri," tanya Adrian melihat Riri panik.
"Teman suami saya Pak, Bu Tiara kecelakaan."
"Tiara kecelakaann! ya udah kita bareng kesana, saya juga mau jenguk dia."
"Tapi Pak, saya dijemput supir." Balas Riri yang tidak mau ceroboh lagi membuat marah suaminya.
Setelah menjalankan sholat Maghrib, Riri dan Adrian pergi ke rumah sakit bersama dengan kendaraan yang berbeda.
*****
__ADS_1
Ervan yang sejak pulang bekerja masih berada di kamar rawat inap VVIP bersama Tiara yang sudah sadar terbaring lemah di atas ranjang.
"Tiara lain kali berhati-hati kalau mengendarai mobil baru jenis sport itu." Kata Ervan.
"Ya, Van. Makasih ya kamu udah mau jaga aku, tolong tetaplah bersamaku sampai asistenku datang."
"Ya, Tiara apa sebaiknya kau menghubungi keluargamu, agar mereka tahu keadaanmu sekarang." Kata Ervan.
"Tidak Van, aku nggak mau mereka cemas dan berpikir aku wanita lemah." Balas Tiara.
Ervan yang sudah mengenal Tiara cukup lama mengerti sikap tegas Tiara yang tidak ingin terlihat lemah di depan siapapun. Setelah perawatan memberi beberapa obat lewat suntikan infus, Tiara terlelap karena efek obat.
Tiara semoga ditempat yang baru nanti ada seseorang yang membuka hatimu dan kamu cepat melupakan perasaanmu sama aku. Ervan
Tak lama berselang suara hadle pintu terbuka nampak istri dan sabahatnya masuk ke dalam ruangan yang membangunkan kediamannya.
"Sayang, kamu pergi sama Adrian!." Tanya Ervan yang selalu saja berpikir buruk.
"Nggak Mas, Riri dijemput Udin, Pak Adrian bawa kendaraan sendiri kita ketemu disini." Jawab Riri.
"Bro, curigaan terus, masih aja cemburuan kayak dulu." Ujar Adrian sambil meninju dada Ervan, yang memang dia sudah menerima Kenyataan
"Mas, gimana keadaan Bu Tiara." Tanya Riri melihat Tiara yang terbaring diranjang.
"Alhamdulillah udah membaik, tangannya retak, sekarang dia lagi tidur." Jawab Ervan.
Salut aku sama Riri sikapnya dewasa, nggak ada rasa curiga sama sekali sama Ervan padahal Tiara itu mantannya. Adrian
"Adrian, tolong tetap disini jaga Tiara, aku akan pulang dengan Riri, dia harus banyak istirahat." Kata Ervan yang mengandeng tangan Riri.
"Bro, kita baru datang kamu pulang, ini gimana ceritanya aku yang jaga Tiara." Tungkas Adrian protes dengan keputusan sepihak Ervan.
"Bro, Riri lagi hamil aku nggak mungkin kan ninggalin dia untuk jaga wanita lain. kamu kan teman Tiara juga." Balas Ervan.
"Jadi Riri hamil bro pantesan kamar ini terang ada pancaran calon ibu, selamat ya bro." Kata Adrian ikut senang. "Hmmmm" balas Ervan.
"Bapak bisa aja." Balas Riri.
"Adrian, maka nya tolong jaga Tiara sampai asistennya datang, lagian kamu tuh jomblo, tinggal juga sendiri punya banyak waktu." Ucap Ervan.
"Baiklah kisanak! silahkan anda pergi bersama wanita hamil ini, biarlah jomblo ini meratapi nasibnya disini." celetuk Adrian mengalah.
"Hahahaha, Bapak lucu." tungkas Riri.
"Makasih ya bro, tolong jaga Tiara." Kata Ervan.
Kini Ervan dan Riri bergandengan tangan melangkah menjauh dari kamar menyusuri lorong rumah sakit.
.
.
.
. Next..........
Adrian. #Khayalan Author
**Terima kasih Zen udah sabar nunggu up Maaf kemaren nggak Up, lagi ikutan monggok Up.😁😁
Jangan lupakan tinggalkan Like Koment apalagi Vote, bahagia author.🙏🙏🙏🙏🙏**
__ADS_1