
Kemarin sore Nancy dari kamar mandi mendengar ada yang saling sebut dengan panggilan berbeda antara papanya dan ibu Retno.
Nancy juga melihat banyak sekali perubahan dahsyat pada papanya.
Semalam ketika mereka makan bersama bertiga di lantai atas rumahnya, terlihat papanya sangat ceria.
Biasanya kalau Nancy bercerita sesuatu selalu hanya dijawab dengan "hmm", "O ya" atau "Oh"
Tapi semalam papanya dengan penuh keceriaan menanggapi dan anehnya juga papanya bercerita tentang masa kecil dan sekolahnya dulu.
Sesekali papanya membalas ledekan yang diajukan Nancy kepadanya.
Retno sekarang memanggil papanya dengan sebutan mas Yo dan cara memanggilnya terasa mesra sekali, begitu juga papa yang sekarang memanggilnya dengan panggilan Neno.
Ingin rasanya Nancy kepo atau bertanya tentang panggilan-panggilan mesra itu, tapi dipikirnya nanti dulu lagi.
Biarkan nanti juga papanya akan cerita sendiri kepadanya.
Dia juga ingin papanya dan ibu Retno menikmati kedekatan diantara mereka.
Nancy tidak ingin kedekatan ini jadi hancur, saat pembangunan baru dimulai.
Pura-pura tidak tahu akan rahasia mereka tampaknya lebih baik.
Pagi ini Nancy seperti biasa hendak berangkat ke kampus, motor sudah ada di depan toko.
Saat sedang memanaskan mesin motor, papanya datang mendekati dan membawakan dua potong roti panggang.
Kemudian papanya berjalan ke belakang, rupanya hendak memberi roti panggang untuk ibu Retno.
"Ehm.. cie.cie...cie ..Yang Pedekate..!!!" seru Nancy pada papanya.
Dan Papanya hanya tersenyum sambil meneruskan langkahnya ke belakang.
Sungguh Nancy bersyukur dan berharap semoga papanya segera diberikan kebahagiaan lagi setelah lama sekali beliau menutup diri.
Suasana kampus masih belum banyak orang, memang masih cukup pagi.
Dan Nancy berencana pagi ini akan ke gedung perpustakaan untuk mencari bahan sastra Inggris kuno.
Letak gedung perpustakaan itu dekat kantin belakang dan berdekatan dengan gedung matematika.
Karena Nancy sudah semester 5 sehingga jadwal kuliah tidak sepadat saat 4 semester sebelumnya.
Paling 1 atau 2 mata kuliah tiap harinya namun berat muatan perkuliahannya.
Jadwal kuliah hari ini dimulai jam 1 siang nanti, sehingga Nancy punya waktu beberapa jam untuk mempelajari beberapa literatur prosa Inggris kuno.
Sekitar pukul 10 an dia mulai merasakan lapar, lalu dia mengirim chat kepada Lena menanyakan ada dimana sahabatnya itu.
Ternyata Lena dan beberapa teman lainnya sedang di kantin belakang. Mereka berencana akan ke perpustakaan untuk membuat tugas yang sama.
Namun panggilan kantin jauh lebih menggoda.
Dan memang Lena termasuk cuek dan santai urusan kuliah, kalau urusan pacaran selalu paling utama.
Nancy lalu menuju petugas penjaga perpustakaan untuk meminjam buku yang sedang dipelajarinya.
" Nanan...woii...sini !!!" teriak Lena sambil melambaikan tangannya dari arah kantin saat Nancy keluar dari pintu perpustakaan.
Di sana tampak Lena dan juga beberapa teman dekat mereka seperti Alona, Sandra dan Meta.
Nama terakhir disebut adalah gadis yang paling gemuk dan lucu orangnya.
Setiap ketemu pasti mulutnya sedang sibuk mengunyah.
Nancy lantas duduk diantara mereka, dan langsung saja Meta berseloroh," Beda yah juara umum sih, kita disini eh... dia di perpustakaan".
Lalu Nancy melihat di hadapan Meta ada sepiring nasi goreng dan semangkuk siomay kuah, tanpa banyak kata langsung di tusuknya pakai garpu satu siomay.
"Wah..elu yah parah... datang-datang langsung ngerampok," pekik Meta tak terima salah satu siomaynya raib.
"Laper gue woi!!!" kata Nancy sambil tertawa.
"Pesan sendiri kek sana, malah maling siomay gue...huh dasar," Meta ngomel.
Tapi semua malah semakin tertawa melihat Meta yang tampak sebel makanannya diambil.
Kemudian Nancy memesan nasi dan siomay + baso kuah tambah sayuran.
Dan benar saja saat pesanan tiba, langsung Meta mengambil balik 1 buah siomay dari mangkuknya Nancy.
Hahahahha ternyata memang tidak ikhlas dia kehilangan makanannya.
"Ada hukumnya kok, mata ganti mata, siomay ganti siomay," kata Meta sambil tertawa lebar diiringi kami semua.
Di seberang meja kami, tampak ada beberapa anak jurusan Matematika semester 1, dimata kami semua mereka anak-anak culun.
Salah satu dari mahasiswa tersebut ada yang bernama Nico yang sedang menanti sahabatnya Randi.
Tapi kami tidak mengetahui hal tersebut karena kami sama sekali tidak kenal mereka.
Saat kami makan sambil bergurau, tampak dari kejauhan ada seorang mahasiswa yang berjalan seperti orang sedang mabuk dan menuju kemari.
Jalannya sempoyongan ke kanan dan kiri tidak jelas.
Melihat itu segera salah satu mahasiswa yang sedang duduk di meja depan kami tadi berlari menghampiri orang yang jalan sempoyongan itu.
__ADS_1
Sementara yang lainnya ikut berdiri tapi tidak menghampiri.
Mahasiswa tadi lalu memapah temannya yang sempoyongan menuju ke kantin ke meja mereka.
Teman lainnya turut memapah dan mendudukan orang tadi ke kursi kantin.
"Ran..sadar bro..sadar bro...ini air putih minum dulu bro".
Tapi orang itu menepis gelas yang diberikan temannya dan dia lalu menelungkupkan kepalanya ke atas meja.
"Napa dia Nico..?" tanya salah satu temannya kepada yang tadi memapahnya.
"Entahlah bro, lagi ada masalah dia nih," jawabnya.
"Ketahuan bu Retno gawat bro, bisa masalah dia. Nanti kita terseret gawat deh" yang lain menimpali.
Kami berlima melihat kejadian tersebut dan memperlihatkan wajah tidak suka atas tingkah mahasiswa semester 1 itu.
Mabuk parah dan tercium bau minuman keras dari mulut dan tubuh yang sempoyongan tadi.
Saat mereka sedang panik atas kejadian ini, dari arah gedung matematika muncul sosok ibu Retno alias Ibu "Tiri" bagi mahasiswa yang diajarnya.
Beliau berjalan menuju kantin bersama ibu Husna yang sama body nya seperti Meta, dan ibu ini juga sama orangnya kocak dia adalah bagian administrasi jurusan matematika.
Tampaknya ibu Retno dan ibu Husna akan makan siang bersama di kantin.
Sontak semua mahasiwa semester 1 yang ada di kantin itu bertambah panik dan mulai pucat pasti wajahnya.
Karena jelas sekali mereka akan berurusan dengan siapa.
Ketika mulai dekat ke kantin dan seperti ada sinyal ibu Retno langsung menuju meja mereka.
"Ada apa ini?" tanyanya pelan namun aura nya mematikan.
Semua diam tercekat tak ada yang bersuara termasuk kami.
Lalu beliau melihat orang yang sedang menelungkup di meja, dan bertanya lagi," kenapa dia? sakit kah?"
Lalu ibu Retno mendekati orang itu, dan tercium bau minuman beralkohol keras menyengat.
" Dia mabuk yah!!!" tanyanya lagi dengan nada keras.
Lalu orang tadi bangun dan menengok ke arah ibu Retno dan berkata," iya gue mabok, napa lu? masalah buat elu?
eh lu Retno kan nenek sihir ga laku...hahahaha"
Sambil sempoyongan orang mabuk itu berdiri dan mengambil sesuatu dari dalam tas nya.
Terlihat dia mengeluarkan kertas dan melempar kertas tadi ke wajah bu Retno sambil berkata,
" Nih buat elu, kertas ginian engga penting yang musti di tanda tangan bapakgue !!! Nih ambil ... puas elu!!!"
Lalu ibu Retno terlihat wajahnya memerah marah, diambilnya kertas tadi dan diremasnya.
Dengan lantang dan dengan wajah garangnya dia berkata,
" Pergi kamu dari kampus ini, dan jangan pernah datang lagi kemari!!!"
Lalu beliau berbalik kembali ke kantornya dengan langkah yang cepat.
Sementara orang tadi dibawa oleh teman-temannya entah kemana dan masih tetap berteriak-teriak tidak karuan.
Sore hari biasanya toko sepi dan terlihat papanya sedang duduk di meja kasir sambil sesekali menatap layar Handphonenya.
Segera Nancy menceritakan kepada papanya tentang kejadian tadi siang.
Namun selanjutnya bagaimana orang mabuk tadi atau bagaimana Retno dia tidak tahu lagi karena setelah itu harus masuk kelas.
"Oh...pantesan...papa chat dari tadi engga dibaca dan dibalas," kata papa setelah mendengar cerita ku.
"Haaa!!!!" sontak Nancy terkejut dan langsung nyengir.
"Yaelah..papa ..orang serius cerita ini malah curhat beneran cinta yah," goda Nancy.
"Hus..sembarangan ngomong, nanti kedengaran orang malu tahu...engga Enak tahu..," kata papanya menahan malu.
Nancypun jadi tertawa, dia merasa geli melihat orang tuanya jatuh cinta lagi.
Tadinya dia pikir kalau seusia papanya jatuh cinta akan serius atau bahkan seperti di cerita-cerita kisah cinta klasik yang bagaimanaaaaa eh..engga tahunya malah sama seperti remaja lagi jatuh cinta...O EM JI...
Waktu sudah menunjukkan jam 8 malam, toko juga sudah tutup sejam yang lalu.
Tapi Nancy melihat ada pria yang tampak resah menanti sesorang yang belum pulang.
Tergelitik hati ingin menggoda pria itu, dia adalah papanya tercinta sedang menanti dik Neno yang belum kembali.
"Pa..biar enak nunggunya mending duduk di pos kamling depan sambil ngobrol sama mang Dadang daripada di sini lihat TV tapi engga tenang," kata Nancy menggodanya.
"Ah kamu dasar, sok tahu, emang papa lagi nunggu siapa," papanya sok menahan gengsi.
" Ya kali papa lagi nunggu orang, siapanya sih Nanan kan engga tahu, entar Nan salah sebut nama repot deh," kata Nancy lagi sambil dalam hatinya tertawa.
" Hmm ya sudah lah, bener juga papa mending ke pos kamling, sudah lama tidak ngobrol disana sambil cari angin," papa berkata sambil turun ke bawah.
Dan Nancy menutup mukanya pakai bantal sofa sambil tertawa geli melihat papanya yang salah tingkah.
Sementara di ruangan Dekan atau Ketua Jurusan Matematika Terapan tampak ada Ibu Retno dan Ibu Husna sedang duduk di kursi dalam ruangan itu.
__ADS_1
Dihadapan mereka ada 4 orang mahasiswa semester 1 jurusan Matematika Terapan duduk sambil menunduk.
Mereka adalah Nico, Anwar, Anton dan Sapta.
Keempat orang ini adalah yang tadi siang tampak bersama dengan Randi yang diketahui sedang mabuk berat.
Keempat mahasiswa tadi sudah ditunggu sedari jam 5 sore tadi oleh ibu Retno.
Namun baru muncul satu per satu sekitar sejam kemudian.
Retno sambil menatap tajam keempatnya mulai berkata,
"Saya sudah menunggu satu jam dan kalian baru muncul, bagus sekali kalian!"
"Coba jelaskan siapa diantara kalian berempat yang paling mengetahui sebenarnya ada masalah apa dengan Randi".
"Awas jangan sampai ada yang menutupi, karena saat ini kalian semua terancam di out dari kampus ini"
Ibu Retno berkata tenang tapi tajam mencekam.
Suasana ruangan itu serasa sesak bagi 4 orang mahasiswa tadi.
Keempatnya terdiam sambil menunduk, tidak ada satupun yang berani mengangkat wajahnya.
"Ayo jawab!!!!" Atau saya langsung out kalian semua!" lanjut bu Retno sambil menggebrak meja.
Sontak keempatnya terkejut dan tambah menciut nyalinya.
"Be...be...begini bu, saya yang memang tahu kalau Randi sedang ada masalah keluarga," Nico mencoba menjelaskan.
"Lalu...?" tanya ibu Retno lagi.
"Masalah pastinya saya tidak paham, cuma memang dia sedang ada masalah, begitu bu," lanjut Nico sambil gemetar.
"Nah, apakah diantara kalian ada yang tahu dimana dia mabuk dan bagaimana bisa masuk ke kampus dalam keadaan begitu?" Lanjut ibu Retno lagi.
Keempatnya menggelengkan kepala.
"Masa kalian tidak ada yang tahu sama sekali dimana Randi mabuknya?" tanyanya lagi dengan nada menekan.
"Baiklah, siang tadi saya periksa CCTV kampus dan saya panggil sekuriti, dan tim sekuriti menemukan ada pecahan botol minuman keras di belakang laboratorium biologi," Retno coba menjelaskan kepada keempat mahasiswanya.
Menurut tim sekuriti yang mengenali Randi, memastikan saat Randi datang ke kampus naik motor, dan tidak tampak mabuk.
" Ayo jujur, apakah diantara kalian ada yang menemani Randi minum?" tanyanya kembali.
Serentak keempat mahasiswa itu menggelengkan kepala.
Lalu Anwar berkata," Kami berempat sedang di kantin bu tadi siang, dan tak lama muncul Randi sudah kondisi mabuk".
"Ya bu..benar bu," kompak yang lain mengiyakan.
"Berarti kamu yah Nico yang menemani Randi?" Retno menatap tajam ke arah Nico.
"Sungguh bu, saya tidak tahu Randi mabuk sama siapa, saya ada di kantin juga bu," jawab Nico sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada.
Lalu dengan masih memasang tampang menyeramkan, Retno menatap lagi satu per satu.
"Besok pagi jam 7 tepat kalian harus sudah di sini. Saya akan tanya kalian satu per satu. Dan ingat tidak ada yang terlambat bila sampai salah satu terlambat semua langsung saya skors. Paham ?!," Ibu Retno berkata dengan nada dingin nan mengancam.
Jarum pendek berada diantara angka 9 dan 10 malam, berarti saat ini sudah jam 21.30.
Dan Retno belum kembali juga.
Sementara di pos kamling yang letaknya tepat di seberang toko masih ada beberapa bapak-bapak yang ngobrol sambil ngopi.
Memang pos kamling itu tempat kumpul paling menyenangkan buat bapak-bapak.
Yohan juga malam itu sedang mengobrol santai sambil minum teh hangat. Iya Yohan bukan penggemar kopi tapi teh hangat yang pekat.
Selagi mengobrol tiba-tiba tampak mobil minibus warna abu-abu imut berbelok ke arah samping rumahnya.
Lalu dia pamit dengan alasan mengantuk. Dan bergegas menyeberang masuk ke pekarangan belakang mengejar mobil tadi.
Sebelum sang empunya mobil turun dari mobilnya. Dia sudah berdiri di depan mobil itu.
Lalu mendekat dan membuka pintu sisi pengemudi.
Turunlah wanita yang sedari tadi ditunggunya, dia tampak lelah.
" Mas.. Makasih yah... sorry aku capek sekali...," kata Retno pada Yohan.
"Kamu udah makan belum?" tanya Yohan.
"Belum...tapi aku sedang tidak selera," jawabnya.
"Mau aku temani makan?" tanya Yohan lagi.
Sambil senyum kecil si wanita bilang,
"Sorry banget, aku benar-benar lelah sekali, butuh istirahat capek sekali... maaf yah".
Lalu sang wanita pujaan yang sedari tadi ditunggunya berjalan menuju kamar kostnya tanpa memandang lagi ke belakang.
Sementara sang pria hanya bisa melongo tanpa bisa berkata-kata lagi.
Dia hanya memandang sang wanita dengan perasaan sedih karena yang ditunggu tak mempedulikannya.
__ADS_1
Dari jendela atas tampak seorang gadis sedang tertawa geli sambil memeluk bantal, melihat sang ayah ditolak mentah-mentah oleh pujaan hatinya.