Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Kisah


__ADS_3

Sore itu Nancy pulang kuliah, motornya diparkir di depan toko karena biasanya tiap sore suka dipakai Wawan antar barang.


Lalu saat masuk ke toko dilihatnya ada oom Yanes adiknya papa.


"Wah Oom kapan datang?" tanyanya lalu merangkul Oomnya.


"Belum lama, baru setengah jam," jawabnya oom Yanes.


"Kapan kamu lulus Nan? cepetan lulus nanti Oom jodohin kamu sama boss," kata Oom Yanes seraya menggodanya.


"Ih.. amit- amit...Oom tuh suka sembarangan ih.. tau ah sebel..rusuh," kata Nancy sambil naik ke atas dan oom Yanes menertawakannya.


"Yan...koko Sekarang ada teman baru perempuan," kata papa ke oom Yanes.


"Wah serius ko, orang mana?" tanya Oom Yanes.


"Aslinya sih orang Semarang tapi sudah lama tinggal di Jakarta. Dia sewa kost di belakang, dosen di kampusnya Nanan," papa menjelaskan.


"APA!!! Dosen ???" tanya Oom Yanes dan papa mengiyakan.


"Hahaha.. hebat deh Koko dapet perempuan kelas tinggi selalu deh" kata Oom Yanes.


"Mana orangnya kenalin dong ke Yanes,"sambil oom Yanes celingukan melihat ke kost- kost an di belakang.


"Belum pulang dong jam segini sih, nanti paling sebentar lagi", Kata papa.


"Ko.. cantik engga orangnya?" tanyanya lagi.


Dan papa hanya mendelik sebel ditanya begitu, sementara oom Yanes cekikikan.


" Oh ada adikmu?" tanya Retno.


Papa mengangguk, dan berkata," Nanti malam makan bersama di atas yah, nanti sebentar saya keluar dulu beli makanan".


Retno malah mencegah dan mengajak makan malam di luar saja, makan di resto Chinesse Food.


Papa tampak tidak enak hati karena pasti mau tak mau pakai mobilnya Retno.


Lalu Retno mengacungkan telunjuk seraya berkata ," Tuh kan mulai.. sebel deh aku kalau mas begitu".


Papa tersenyum dan minta maaf, dan akhirnya setuju nanti malam makan di bersama di luar.


Sementara di atas rumah, Oom dan Ponakan mulai berantem, Oomnya pura-pura ngintip di jendela sambil mengguncang kepala ponakannya.


Ponakannya tidak terima lalu berusaha menggigit tangan Oomnya tapi tidak kena.


Kemudian oomnya meledeknya, lantas ponakannya mengejar.


Oomnya tersudut ke tembok dan pura-pura jatuh, langsung seketika ponakannya mencubit perut Oomnya sekuat tenaga.


Oomnya mengerang kesakitan, ponakannya tertawa puas sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Kenalin saya Yanes, adiknya Ko Yohan yang paling ganteng," Oom Yanes mengulurkan tangannya kepada Retno.


Lalu Retno menyambut uluran tangannya," Retno, panggil saja Neno, temannya ko Yohan yang paling manis".


Lalu keduanya tertawa, karena ternyata Retno bisa membalas gurauan Yanes.


Oom Yanes lalu berdiri disamping papa," Ganteng mana saya sama Ko Yohan?".


Retno hanya tertawa tidak menjawabnya.


"Idih sok ganteng yah...amit-amit Oom," ujar Nancy sambil menjulurkan lidah ke Oom Yanes.


Kemudian mereka masuk ke mobil, Retno dan Yohan di depan, Oom Yanes dan Nancy di belakang.


Sudah pasti sepanjang jalan penuh gelak tawa, karena Oom Yanes orangnya gokil dan jahil.


Tiba-tiba Oom Yanes berkata,


"Neno udah tahu belum pacarnya Ko Yohan dulu?".


Neno menengok ke belakang "Wah siapa pacarnya? katanya selama ini engga pernah pacaran".


Oom Yanes tertawa sambil setengah berteriak


" Namanya Ci Aling".


Mendengar itu Nancy langsung tertawa.


"Oom...hahahahha.. amit-amit idiiiihh... hahahahahah", Nancy tertawa mendengarnya.


"Neno jangan dengerin Yanes, sinting dia tuh," kata Yohan cemberut.


Lalu Retno mencubit manja lengan Yohan," Mas hutang cerita yah sama aku soal Aling, buktinya sampai seheboh itu yang di belakang".


Yohan menghela nafas lalu memandang Retno sambil geleng-geleng kepala.


"Yanes sinting, engga usah dengerin.. Sarap kamu Yanes," kata Yohan tampak sebel.


Dan itu membuat Nancy sama Oom Yanes tertawa semakin kencang.


*Misteri Aling (Author)


Masakan yang dihidangkan di Resto Chinese Food ini enak sekali, kami pesan beberapa masakan udang, ikan dan kepiting.


Oom Yanes dan Nancy seperti biasa penuh drama, entah rebutan nasi, rebutan udang dan apapun selalu rebutan.


Oom Yanes itu orangnya jahil sekali, selalu menggoda orang lain. Apalagi keponakan, sudah pasti diisengin.


Semakin keponakannya kesal semakin menjadi isengnya.


Tapi Nancy sangat menikmati kelakuan kacau oom Yanes. Walaupun jahil tapi Oom Yanes sangat sayang padanya dan dia tahu hal itu.


Tanpa mereka sadari dari meja ujung ada dua orang yang memperhatikan mereka.


Dan terlihat tidak senang dengan kegembiraan kami.


Selesai makan kami masih ngobrol, dan sedari tadi Retno tidak pernah absen tertawa ketika Yanes menceritakan masa kecilnya dengan kakaknya. Yanes menceritakan kenakalan dan kekonyolan dia dan kakaknya. Sudah pasti sang kakak yang malam itu menjadi objek penderita.


Sedang kami tertawa gembira tiba-tiba Retno terkejut dengan kehadiran Sanjaya dan Mayang.


"Pada makan disini juga No, banyak banget pesanannya. Mahal loh makanan disini. Abis dong uang mu No," Sanjaya dengan sombongnya melihat meja dan berkata seperti itu.


Retno diam saja, Yanes mau berdiri tapi ditahan Yohan.


"Mas Sanjaya, maaf ya mas, ini tempat umum tidak enak dilihat atau didengar orang," kata Retno sambil menghampiri Sanjaya dan Mayang.


"Loh emang kami ngapain orang cuma kaget saja lihat makanan banyak banget. Kasihan kamu dimanfaatin orang," Mayang dengan spontan dan lantang berbicara.


Retno tambah geram kepada keduanya, sementara Yohan menghela nafas sambil memejamkan mata.


Nancy dan oom Yanes ingin sekali menghardik mereka tapi papa menggeleng kepalanya pertanda minta kami diam.


"Mbak Mayang, Mas Sanjaya sudah tidak usah pusing masalah Neno, karena Neno ikhlas kok dimanfaatin jadi mas dan mbak tidak perlu repot-repot ngurusin Neno," dengan ketus Retno berkata demikian kepada keduanya.


Lalu Sanjaya dan Mayang melihat mereka berempat dengan kesal sambil berlalu.


"Aduh Ko.. jangan mau dong dihina kayak gitu, " Yanes kesal tadi kakaknya hanya diam saja.


"Itu tadi siapa nya Neno sih? sombong sekali orangnya," katanya lagi dengan sangat sebal.


Lalu Nancy menjawab," Tadi itu pak Sanjaya Oom, saudaranya tante Neno. Orang kaya yang punya kampus Oom. Emang sombong orangnya,"


" Nanan jangan begitu, tidak baik," tukas Papa kepadanya.


"Lalu mengapa mereka begitu kepada kita, memang kita bukan orang kaya tapi makan segitu saja sih mampu bayar lah," kata Oom Yanes.


"Memangnya koko sering di bayarin sama Neno?"tanyanya lagi.


Dengan cepat Nancy menampik perkataan oom Yanes kepada papa," Weeewww Enak aja...!!! Orang tiap makan bareng juga papa yang bayar wew.. bensin mobil juga papa gantiin kok".


"Nanan jangan begitu! Tidak baik berkata seperti itu," kata Papa cukup keras padanya.


Kemudian menatap oom Yanes dan berkata," Jadi begini Yan, itu saudara sepupunya tuh mengira kita memanfaatkan Neno. Karena kita cuma pedagang kecil dimata mereka".

__ADS_1


Oom Yanes mendecak kesal lalu dia menatap papa," Koko begini yah, Yanes kan kesini buat minta tanda tangan Koko untuk penjualan tanah di bukit milik papa kita dulu yang terbengkalai, nanti koko harus beli mobil baru tunjukkan ke mereka kalau kita tuh mampu".


Papa terdiam, dan berkata,


" Engga gitu juga Yan, koko juga ada rencana sendiri".


"Nanti hasil penjualan dibagi buat kamu, Mila lalu tiga orang anak paman. Kasihan mereka tidak seberuntung kita. Lalu nanti bagian koko setengahnya berikan ke keluarga Yasinta. Siapa tahu keluarga mamanya Nanan juga ada keperluan".


Begitulah papa selalu bijak dan rendah hati, orangnya selalu ingat saudara atau siapapun yang membutuhkan.


Memang kakek adalah orang kampung, dan jaman dahulu orang tua menabung dengan membeli tanah untuk anak cucunya.


Saat ini ada tanah kakek di dekat bukit yang terbengkalai karena Oom Yanes juga sibuk meneruskan toko kakek jadi tidak sempat menggarap tanah tersebut.


Kebetulan ada peminat untuk dijadikan kebun strawberry, maka hasil kesepakatan bersama semua kakak beradik akhirnya tanah itu dijual.


"Tapi Ko jangan sampai kita dihina terus seperti begitu. bagaimana kalau sampai kalian jadi menikah. Masa koko akan terus dihina seperti itu," Oom Yanes masih tidak terima.


"Sudahlah Yan, Koko tahu harus bagaimana kok, kamu percaya saja sama koko. Sudah kalian istirahat sana. Nanan tidur di kamar papa, nanti Oom Yanes di kamar kamu," Kata papa menyudahi pembicaraan.


" Ogah ah.. Oom bau masa tidur dikamar aku," kata Nancy sambil nyengir ke Oom Yanes.


" Enak aja...nih cium wangi gini," Oom Yanes sambil mengangkat tangannya mencoba mendekatkan ketiaknya padanya.


Sontak Nancypun menghindar sambil menutup hidung.


Akhirnya seperti biasa drama terjadi antara paman dan keponakan.


Hingga terjadi kesepakatan terakhir yaitu sang paman tidur di sofa depan TV dan sebagai bayarannya besok pagi jam 6 sang keponakan harus sudah mengantarnya ke terminal bis.


Waktu sudah beranjak tengah malam, Retno gelisah di kasurnya.


Sedari tadi dia chat ke Yohan tidak ada jawaban sama sekali.


Hatinya sedih dan malu mengingat perbuatan dan perkataan mas Sanjaya dan mbak Mayang yang sombong sekali.


Tidak menyangka bagaimana mereka bisa seperti itu, padahal selama Retno kenal mereka adalah sosok yang baik, murah hati dan ramah terhadap siapapun.


Apakah karena harta dan jabatan bisa mengubah pribadi seseorang, bahkan mengubah sikap hidup suatu keluarga.


Entahlah Retno sangat sedih sekali, tak terbayangkan olehnya bagaimana nanti penilaian keluarga Yohan terhadapnya.


Apalagi kejadian itu terjadi saat ada adiknya Yohan sedang berkunjung kemari. Dan tadi itu adalah memang kesepakatan Retno dan Yohan menjamu adiknya makan malam bersama.


R: Mas Yo


R: Mas Yo, udah tidur?


R: Mas Yo jangan marah, maafkan Neno.


Retno beberapa kali mengirimkan chat namun tidak ada tanda dibaca oleh Yohan.


Padahal tanpa diketahui Retno, di atas sedang terjadi pembicaraan serius antara adik kakak dan keponakan.


Sejam kemudian ketika Retno mulai mengantuk terdengar notifikasi chat dari Handphonenya.


Segera dia mengambil dan membacanya. Benar saja dari Yohan.


Y : Neno sayang...aku tidak marah kok. Barusan sedang ngobrol dengan Yanes dan HP nya di kamar. Belum tidur sayang?


Retno hatinya berbunga-bunga, sekarang sudah pakai tambahan kata sayang.


R: Aih..pake sayang segala nih... gombal deh mulai....


Y: Masa gombal emang bener sayang kok.


R: Mas.. maafin aku yah... aku malu... sedih...


Y : Kamu ga salah ngapain minta maaf.


R: Mas pasti sakit hati kan disebut seperti itu.


Y: Sakit itu kalau dicubit kamu sayang.


Y: Sampai besok yah sayang, sekarang kita bobo bareng.


R: hahahah...iya deh mas gombal met bobo


Y: Met bobo juga


Y : Aku nanti mimpi Aling yah


R: tonjok


Y : Aawww


Akhirnya Nancy mengetahui kalau namanya sudah dicoret dari daftar salah satu penerima beasiswa ke Surrey University di London.


Dan dia tahu itu atas perintah siapa dan diapun ikhlas dengan kenyataan itu.


Hanya aku belum memberitahu papa, sebab papa pasti akan sedih, juga dia takut hubungan papa dan Tante Neno menjadi bermasalah karena hal ini.


Padahal ini hanya ulah seseorang yang menilai orang lain dengan sangat dangkal.


Retno tetap menyemangatinya dan mereka berjanji akan tetap merahasiakan kepada papa sambil sekarang berusaha mencari jalan lain.


Siang itu Nancy ada di ruangan Retno , kebetulan beliau juga sedang kosong dan sementara Nancy menunggu jam masuk kuliah sekitar 2 jam ke depan.


Dia iseng browsing internet menggunakan komputer Retno mencari daftar universitas yang memberikan kesempatan S2 secara test pribadi.


Ketika sedang mencari-cari tak sengaja dia menemukan situs salah satu Universitas terkenal di Selandia Baru.


Pada situs itu ada Kuesioner untuk calon pendaftar S2, iseng-iseng dia mengisi setiap halaman pertanyaan.


Lalu ada Mini Quiz sekitar 20 soal, tampak mudah tapi sesungguhnya penuh jebakan dan dia berusaha mengisinya.


"Nothing to loose" pikirnya.


Kalau rejeki yah siapa tahu bisa masuk nominasi, kalau bukan rejeki yah sudahlah.


Toh di Indonesia juga banyak universitas yang memiliki Standar S 2 yang mumpuni.


Tante Neno juga lulusan dalam negeri juga handal.


Tak lama Retno mengajaknya makan siang diluar kampus.


Mereka melaju ke tempat fast food "M" salah satu rumah makan cepat saji yang terkenal.


Serelah memesan 2 paket makanan, kemudian Retno membayar.


Siang itu semua kursi tampak penuh, tidak ada yang kosong tersisa.


Tiba-tiba ada yang melambai kepada kami, dua orang pria muda melambai-lambaikan tangannya memanggil kami.


Lalu salah satunya berlari menghampiri," Bu ayo di meja kami saja masih ada buat 2 orang".


Dan kamipun mengikutinya. Kami duduk berhadapan dengan kedua pria itu, dan Nancy mulai mengenali mereka adalah mahasiswa yang kemarin ini kena kasus mabuk di kampus.


" Bu..apa kabar bu?" sapa yang tadi menunggu di meja.


" Baik, kalian gimana? sebentar lagi ujian loh. Ingat pesan saya kan," Retno keluar aura dosennya.


"Siap bu, pasti kami bisa," kata keduanya kepada Retno.


"Bu ini siapa bu? sepertinya sering lihat di kampus," tanyanya lagi.


" Kenalan dong, tanya siapa?" kata Retno.


"Halo, saya Randi dan ini Nico," katanya sambil mengulurkan tangan.


"Halo, saya Nico dan ini Randi," kata yang tadi menjemput kami. Sambil menjabat tangan mereka satu persatu Nancy juga berkata," Halo saya Nancy, dan ini Ibu Retno".


Kami semua jadi tertawa terbahak.


Sambil makan kami berbincang, tapi kadang ego itu muncul dan Nancy menyatakan kepada mereka kalau dia sudah semester 5 sehinga dia menunjukkan diri sebagai senior mereka.

__ADS_1


Tapi Randi tidak bisa menutup rasa ketertarikannya kepada kakak kelasnya itu, dia dari tadi berusaha terus mencuri pandang kepada Nancy.


Dan akhirnya Randi juga tahu kalau Nancy dipanggil Nanan oleh ibu Retno. Cuma untuk bertanya apa hubungan Nancy dengan ibu Retno, dirasakannya belum tepat.


Nicopun paham, dia diam-diam mengetahui sahabatnya tampak tertarik kepada kakak kelasnya itu. Gadis yang santai, cuek tapi cerdas menjawab setiap gurauan.


Banyak gadis yang mencoba mencari perhatian Randi, bukan hanya yang seangkatan bahkan beberapa kakak kelas jurusan lainpun ada yang berusaha mengejar cintanya.


Tapi gadis ini berbeda, di bilang dingin tidak, dibilang ramah juga tidak tapi setiap bicara tampak berkualitas.


Lama-lama Nancy merasa jengah dipanggil kak oleh mereka, akhirnya dia bilang panggil nama saja.


Dan mereka juga mengiyakan


"Nanan rumahnya dimana?" tanya Randi saat kami akan kembali ke kampus.


:Oh aku serumah sama bu Retno, napa emang?".


Mereka tampak bingung.


"Kok bingung, kalau bingung pegang tembok".


Lalu Nancypun berlalu mengikuti langkah Retno.


Sementara Randi tersenyum memandangi gadis yang berjalan dibelakang dosennya.


Malam harinya papa dan Retno duduk di teras depan kamarnya Retno.


Mereka ngobrol santai sambil minum teh hangat.


Karena ada tugas maka Nancy harus pamit untuk belajar.


Sebelum pamit ke atas timbul isengnya mengerjai papanya,


"Pa.. jendela kamar Nanan menghadap belakang sini yah... Awas kalo berdua ngilang masuk ke kamar".


Papa berdiri sambil tangannya mengacungkan tinju dan Nancy terbirit-birit masuk rumah sambil cekikikan.


Retno hanya senyum- senyum saja melihat tingkah ayah dan anaknya.


Kemudian mereka berdua berbincang santai lagi, entah apa yang dibahas.


Namanya orang pacaran, tidak tua tidak muda pasti selalu berusaha merebut perhatian masing-masing saling mencurahkan perasaan dengan semesra mungkin.


Saat bercerita tentang masa lalu, tiba-tiba terlintas kisah Aling dibenak Retno.


Sehingga dia langsung bertanya kepada Yohan.


"Ayo cerita siapa Aling yang waktu itu dibahas di mobil. Kamu bohong yah mas sama aku," Retno merajuk manja.


Papa menghirup teh nya lalu menatap Retno ," Kamu tuh yah sudah termakan candaan basinya Yanes. Mau saja dikerjai Yanes".


Retno mencibir ,"Bohong mas itu sama aku yah, masa sampai Nanan dan Yanes tertawa terpingkal begitu waktu menyebut Aling, Hayo jawab!!!".


Dengan sebal Yohanpun bercerita, karena dibawah ancaman cubitan tidak mesra dari sang kekasih di lengannya.


Kisah umum:


Jadi sosok Ci Aling itu adalah mertuanya Mila adik bungsu Yohan. Tepatnya ibu tirinya suaminya Mila.


Ci Aling itu dulunya menikah di usia sangat muda 16 tahun, lalu setelah lima tahun menikah dan punya anak lelaki 1 yang mengidap autisme dia diceraikan suaminya.


Hidupnya sengsara berjualan kue keliling untuk biaya hidup dia dan anaknya.


Suatu ketika dia bertemu dengan tuan tanah bernama ko Afat seorang duda beranak tiga. Dan salah satunya yang bernama Ridwan yang menjadi suaminya Mila.


Hidup bersama ko Afat bertahun-tahun bahagia, hingga suatu hari ko Afat sakit keras dan meninggal dunia menyusul istrinya terdahulu.


Namun karena keluarga ko Afat baik hati, maka ketiga anak ko Afat masih berlaku baik kepada ibu tirinya itu bahkan diberikan tempat usaha untuk dagang kue di pasar.


Sementara anaknya yang autisme dipekerjakan di tempat usahanya Ridwan. Kebetulan Ridwan punya usaha furniture maka dia diberi tugas untuk bersih-bersih dan membantu hal-hal kecil.


Usia Ci Aling itu sesungguhnya hampir sama dengan Yanes dan Retno, tapi karena besan maka dipanggilnya Ci Aling.


Saat Mila dan Ridwan dulu menikah, rupanya Ci Aling tertarik kepada Yohan dan sejak saat itu selalu berusaha memikat hati Yohan


" Cantik kah dia?" tanya Retno.


"Waduh dandannya menor, masih pake rok mini atau celana pendek sekali. Selalu merasa seksi, dan selalu berusaha menarik perhatian orang. Malah jadi terkesan seperti orang stress," Yohan menjelaskan tentang figur Ci Aling.


"Tapi mas aku curiga, apa sih yang bikin kalian tertawa sampai segitunya tuh?" tanya Retno.


"Malu aku ceritanya Neno," kata Yohan sambil mengusap wajahnya.


Retno terus memaksa Yohan untuk cerita ada apa sebenarnya kisah Aling tersebut.


Kisah Yohan dan Aling:


Suatu hari Ridwan dan Mila ada acara undangan salah satu kerabatnya menikah di kota ini.


Mereka mengajak salah satu keponakan Ridwan yang seumur dengan Nancy dan juga ibu tirinya.


Kebetulan saat itu di tempat kost ada dua kamar kosong sehingga bisa dipakai mereka menginap.


Mereka tiba siang hari, dan sore harinya bersama-sama menghadiri undangan.


Pada saat di undangan Ci Aling terus memepet Yohan, kemana Yohan bergerak dia mengikuti.


Yohan merasa malu dan risih, karena selain dandannya yang norak juga tingkahnya seakan Yohan ini kekasihnya.


Selesai resepsi semua kembali ke rumah, karena sudah mulai malam maka mereka mengatur kamar tidur.


Dan entah mengapa kebetulan juga ada keponakan lain tiba-tiba ikut, ingin menginap bersama Nanan juga.


Karena kamar atas tidak cukup, maka Nancy dan kedua sepupu jauhnya itu tidur di salah satu kamar kost yang kosong.


Mila dan Ridwan di kamar satunya lagi, maka otomatis Ci Aling menempati kamar Nancy. Dan celakanya tentu saja sebelah kamar Nancy adalah kamar Yohan.


Yohan tentu saja merasa malas sekali ke atas, sehingga dia membuat alasan mengobrol dengan Ridwan dan Mila sampai tengah malam.


Ketika waktu sudah semakin malam dan Ridwan juga Mila sudah lelah dan mengantuk maka merekapun pamit tidur.


Yohan masih duduk di bawah, sambil sesekali mengintip lampu kamar Nancy. Tak lama kamar itu tampak gelap. Maka dipikirnya Ci Aling sudah tidur, lalu dia naik ke atas pelan-pelan.


Ternyata dugaannya salah besar, Ci Aling sedang duduk di ruang TV dan memakai gaun malam yang menerawang menunggunya.


Dibalik gaun malamnya terlihat tanpa pakaian dalam sama sekali.


Ketika dia melihat Yohan, maka dia segera menghambur berusaha memeluknya.


Karena ketakutan Yohan lari ke kamar, dengan maksud mengunci pintu tetapi ternyata kunci kamarnya sudah disembunyikan oleh Aling.


Dia lalu mencoba lari lagi bermaksud bersembunyi di kamar mandi tapi Aling loncat menghadang dan siap menerkamnya.


Yohan betul-betul tersudut dan sangat ketakutan bak gadis yang mau diperkosa.


Ketika Aling lengah, maka seketika dia mendorong Aling dan kabur ke bawah.


Yohan terus berlari, membuka pagar dan bersembunyi di balik tembok pos kamling.


Sontak saat itu hansip yang menjaga keheranan melihatnya.


Alingpun yang sudah terbelenggu hasrat kepada Yohan, diapun berusaha mencari dan mengejarnya.


Sampai dikira ada kuntilanak di halaman rumah Yohan karena wanita berbaju daster panjang putih menerawang dan rambut tergerai.


Retno tertawa terpingkal-pingkal sampai mau jatuh dari kursi saat mendengar cerita Yohan. Dia tidak bisa menghentikan tawa sampai perutnya kesakitan.


Rupanya kisah Ci Aling sungguh seru dan melegenda di keluarganya Yohan.


"Mas, kalau waktu itu aku yang pake daster menerawang bagaimana?" pancing Retno iseng kepada Yohan setelah tawanya reda.


"Duh Neno, jangan memancing fantasiku yah, aku sudah 17 tahun sendiri, nanti aku terkam kamu. Bahaya tahu," jawab papa sambil menatap gemas pada Retno.


* Mohon maaf apabila viewer tidak nyaman karena author sedang merevisi besar-besaran dari awal.

__ADS_1


__ADS_2