
Davin berada di ruangan Pak hendrawan. Ia memeriksa beberapa laporan perusahaan yang disodorkan padanya. Setelah memastikan semuanya tersusun dengan benar. Davin meyerahkan kembali pada Pak Hendrawan.
“Tidak ada masalah Pa, semuanya laporannya baik-baik saja,” ujar Davin.
“Oke, Oh ya Vin, ada sesuatu yang ingin Papa bicarakan dengan kamu.”
“Tentang apa pa?” tanya Davin mulai penasaran.
“Jadi begini, papa sudah meperlajari perusahaan milik istrmu. Wilson palm berkembang dengan sangat pesat. Tapi teryata perusahaannya masih berada dibawah naungan WPH."
"Lantas...," sambung Davin.
"Davin! kau bujuk istrimu agar perusahaannya berpindah naungan beralih ke Adiguna group. Perusahaan yang akan di pimpin suaminya. Itu akan sangat menguntungkan keduanya, karena kau tahu saham Adiguna jauh lebih besar daripada WPH." Tutur Pak Hendrawan dengan semangat.
Davin memijat keningnya yang tak pusing. Ia mendadak kecewa dengan penuturan sang ayah yang masih sempat - sempatnya memikirkan keuntungan.
"Pa, Abel menjadi menantu di rumah ini baru beberapa hari, tapi Papa sudah sibuk mengurusi pemindahan perusaahan dan yang lainnya," ujar Davin merasa kesal.
"Jangan salah paham dengan Papa, Papa hanya mengikuti pasar?"
"Pa, Davin tidak mau mencampuri urusan apapun tentang perusahaan Abel. Davin hanya akan menjalankan kewajiban Davin sebagai suami, membimbing, memberi nafkah dan juga membahagiakan Abel." Davin mengatakan dengan sedikit nada keras.
"Davin kenapa kau jadi emosi, tenanglah. Papa hanya memberikan saran," balas Pak Hendrawan santai.
"Saran? Davin lebih bahagia kalau Papa menyarankan berapa cucu yang Papa Mau."
"Kau pikirkan saja dulu," ucap Pak Hendrawan lagi.
Davin bangkit dari kursi. "Pa lebih baik aku kembali ke kamar, tidak ada lagi yang harus dibicarakan."
Davin keluar dari ruangan merasa kecewa.
******
Sementara di waktu yang sama dan ruangan yang berbeda.
Tok tok tok
Abel mngetuk pintu kamar dengan kuat, tapi tidak ada jawaban. Abel mengulangi hal yang sama dengan ketukan lebih keras sekarang.
__ADS_1
“No, buka pintunya aku mau ngomong sama kamu!” Abel berbicara dengan nada sedikit teriak.
Tapi tetep saja nihil. Abel mengulangi lagi, jika tidak berhasil juga, dia akan ke ruangan rekomendasi Davin berikutnya.
“No, cepat buka!”
“Heh! Kakak ipar di dalam nggak ada orang!” suara teriakan yang sangat dikenal Abel dari arah belakang. Abel langsung menoleh ke sumber suara.
“Ih, sebel banget No, kenapa nggak bilang. Buang-buang energiku tahu nggak.” Abel memukuli Nolan kesal. Akhirnya setelah sekian lama dalam ketegangan dirinya bisa berbicara lepas lagi pada Nolan.
“Abel cukup!” Nolan mengambil tangan Abel yang memukulinya. “Kamu tuh udah nikah, masih saja kayak anak-anak,” sambung Nolan. Ia juga rindu saat-saat bercanda bersama Abel yang sekarang menjadi kakak iparnya.
“No, kali ini aku serius, aku mau ngomong sama kamu!” Abel merubah raut wajah tegang.
“Ya udah ngomong!” balas Nolan.
Abel menengok ke kiri ke kanan. “Tapi nggak disini.”
“Kamu mau dimana! Aku mau disini! kalau nggak mau ya udah aku mau tidur,” Nolan membuka pintu kamar.
Abel sedikit kesal harusnya dia yang marah kenapa Nolan yang seenaknya.
“Nggak pantes kakak ipar berbicara berdua dengan adik iparnya di dalam kamar.”
“No, aku serius!” Abel menerobos saja masuk ke dalam kamar Nolan, Nolan tidak bisa mencegah kali ini.
Abel membuka selimut Nolan, tapi nihil. Ia tidak menemukan fotonya seperti tadi sore. Ya, pandailah sedikit Abel, tentu saja Nolan sudah menyimpan lagi semuanya.
“Kamu cari ini?” Nolan memamerkan tumpukan lembaran foto. Abel langsung menoleh mendapati apa yang dicari di pegang oleh Nolan.
“Iya! Apa maksudmu No, mencetak foto-fotoku dan menyimpannya di tempat tidurmu!”
“Tidak ada arti apa-apa, aku hanya mengambil dari bengkel akan membuangnya, kenapa kamu panik.”
“Kamu bohong No, kenapa kamu tidak buang saja di bengkelmu. Kenapa kamu bawa pulang. Bagaiamana jika kakakmu tahu. Bagaimana perasaaanya melihat adiknya menyimpan foto istrinya!” Abel berbicara keras kali ini.
“Abel! kau tidak perlu mengajariku semua itu, akulah orang yang paling terluka jika orang yang aku sayangi terluka.”
“Berhenti menyimpan apapun tentang aku No, itu tidak pantas! kau adik iparku dan sahabatku.”
__ADS_1
Nolan memegang lengan Abel. “Di suatu titik aku sadar kalau aku sudah memberikan yang terbaik untuk seseorang. Hingga yang bisa aku lakukan hanya berhenti. Bukan berarti aku menyerah dan tidak mau mencoba. Aku harus tahu bedanya menentukan dan keputusasaan. Apa yang jadi milikku pasti akan jadi milikku dan apa yang bukan bagaimanapun aku mencoba tidak akan jadi milikku.”
Abel terdiam memdengar perkataan Nolan yang panjang dan makna yang tak bisa dia mengerti. ”Apa maksudmu No,”
“Berhenti berpikir aku masih punya rasa sama kamu, aku tidak senekat itu. Terkadang melupakan orang dalam hidup kita akan membuat tempat baru untuk orang yang lebih baik!” kata Nolan dengan banyak nada penekanan.
Hal itu membuat Abel jadi tercengang mendengar penuturan Nolan yang terlihat tulus, ia jadi merasa bersalah berpikir buruk tentang Nolan.
“Baguslah kalau begitu No, aku pegang kata-katamu. Maaf aku sudah berpikir yang bukan-bukan.” Abel berucap sedikit lirih.
Abel pergi meninggalkan Nolan keluar kamar. Perasaannya lega sekarang sudah berbicara dengan Nolan.
Sementara Nolan tertunduk di atas tempat tidurnya sambil meremas lembaran foto. Ia lega berhasil menyingkirkan rasa panik Abel. Ia melihat lembaran lagi foto Abel yang memang tidak ingin ia buang.
Maaf Abel aku berbohong padamu. Apa kau pikir aku bisa melupakan perasaanku padamu, tidak semudah itu aku bisa menghilangkan perasaan ini. Sampai sekarang saja aku belum tahu bagaimana caranya bisa menghilangkanmu dari pikiranku. Aku tahu ini salah sangat salah. aku akan tetap terus berusaha sampai aku benar-benar melupakanmu. Apa aku harus berkonsultasi lagi pada psikolog? sungguh aku benci kembali ke tempat itu.
Di luar ruangan Abel berpas-pasan dengan suaminya saat keluar dari kamar Nolan.
"Sayang sudah selesai urusanmu dengan Nolan?" tanya Davin.
"Sudah, Bang Davin ayo kita ke kamar. Abel ingin lebih cepat istirahat." Balas Abel merasa panik dan mengandeng lengan suaminya.
.
.
.
.
.
.
NEXT........
,____________________________________________
Beri Semangat Author ya pencet LIKE tombol jempol ketik KOMENT sesuka hati kalian yang punya POIN bisa VOTE seikhlas kalian. Terima kasih loph U ❤️
__ADS_1