
Usai menyantap menu makan malam, Davin berdiri mengajak Abel untuk kembali ke kamar.
“Kakak mau belajar sama kakak,” seru Raffa menghentikan langkah Abel.
“Ray, juja … Ray kangen kakak.” Raydan malah langsung memeluk Abel.
Abel melirik ke arah Davin, Davin mengangguk terpaksa mengiyakan. “Ayo, kakak juga kangen sama adik-adik kakak yang pinter ini.”
Abel mengiring adik-adiknya ke ruangan tengah. Abel seperti biasa mengajari adik-adiknya setelah beberapa waktu tak bertemu. Beda sekarang Abel ditemani oleh suaminya.
"Abang, tebak huruf Alif Ba," celoteh Raydan yang langsung duduk di pangkuan Davin. Raydan menyerahkan puzzle huruf Hijaiyah.
Davin memang kurang interaktif dengan anak-anak beda dengan adiknya. Tapi ia menurut saja keinginan Raydan memasang puzzle - puzzle. Abel hanya tersenyum melihat keakraban adiknya, membayangkan nanti kalau ada anak-anaknya pasti semakin ramai.
Setelah semua adik-adiknya selesai dengan tugas sekolahnya, keduanya naik ke lantai atas. Davin juga berdiri mengajak Abel, hendak menyusul adik-adiknya.
"Mau kemana?" tanya Ervan.
"Mau ke kamar Pa," jawab Davin kembali duduk, ternyata tidak bisa pergi dengan semudah itu.
"Kalian ini maunya di kamar terus, ini baru jam berapa. Kita ngaji dulu, baca Al-Qur'an dulu minimal satu lembar setiap malam untuk kita jadikan amalan rutin," ujar Ervan lagi.
"Ya Pa, iya ...." Abel menurut untuk tetap tinggal mengikuti, kegiatan rutin keluarganya.
Beberapa menit melantunkan bacaan ayat-ayat suci. keduanya pamit menuju ke kamar. Kali ini Ervan mengijinkan keduanya pergi.
Abel dan Davin memasuki kamar lama Abel. Kamar tidak terlalu luas, tapi terlihat hangat dengan banyak kenangan foto masa kecil istrinya. Davin langsung memeluk tubuh Abel dari belakang ketika sudah di balik pintu. Akhirnya bisa bermesraan lagi dengan istrinya.
"Keluarga kamu rame Sayang," ujar Davin.
"Gresek ya Bang," balas Abel. Davin tertawa renyah.
"Tapi seru Sayang. Lanjutin yang tertunda yuk," goda Davin sambil mencium pundak istrinya.
"Tapi Abel mau ke kamar mandi dulu,"
"Ikut ...." Balas Davin.
"Ih ... Bang Davin, Abel sakit perut. Yakin mau ikut!"
"Kamu jorok Sayang kebanyakan makan sambal." Davin melepas pelukannya. "Jangan lama-lama ya Sayang, Abang udah ngilu nahan."
"Ya ... iya!" balas Abel langsung bergegas ke kamar mandi. Sedangkan suaminya memilih menunggu di tempat tidur sambil memainkan ponsel.
Abel mulai sedikit memoles wajahnya di depan kaca kamar mandi usai menuntaskan hajatnya. Dia ingin terlihat cantik malam ini di depan suaminya. Abel melihat bayangannya kembali di depan cermin menggunakan lingerie warna merah pemberian mama Riri, lingerie ini hampir mengekpsos lekuk tubuhnya. Meskipun dia sangat malu melihat bayangannya, apa salahnya membuat suaminya senang. Abel juga menyemprotkan tubuhnya dengan parfum pemberian suaminya.
__ADS_1
Abel keluar dari kamar mandi, tapi kenapa dia jadi deg degan seperti saat malam pertamanya. Davin yang menyadari aroma wangi yang mendekat langsung gagal fokus, istrinya sudah dihadapannya. Ia langsung beralih fokus, menelan saliva melihat pemandangan yang jauh lebih indah sekarang.
"Kamu cantik banget Sayang," Davin langsung meraih tubuh istrinya dalam pangkuannya. Abel refleks mengalungkan tangan di leher suaminya. Ia sangat tergoda sekarang, ia langsung menyambar bibir Abel yang mereka, mel*mat dan meny*sap hingga terdengar eluhan Abel.
Tubuh keduanya kini sudah terbaring di tempat tidur.
Tok ... tok ... tok.
Suara ketukan pintu dengan keras, menghentikan aktivitas keduanya. Abel yakin yang mengetuk lebih dari satu orang.
"Bang Davin buka pintu dulu, Abel mau pakai baju yang layak dulu." Kata Abel. Ia tidak mungkin keluar hanya memakai baju yang menodai mata suci anggota keluarganya.
"Siapa lagi sih Sayang," keluh Davin kesal kepalanya mendadak menjadi pening.
Ia terpaksa menurut karena ini di rumah mertua. Seandainya ini dirumahnya pasti akan memecat jika itu pelayan.
Davin membuka pintu, nampak adik-adik Abel yang muncul dengan wajah imut tanpa dosa.
"Abang, Ray mau bobo sama Kakak ya," oceh Ray yang melihat Davin.
Davin mengerutkan dahinya mendengar ucapan adik ipar kecilnya.
"Raffa juga mau bobo sama Kakak," oceh Raffa juga.
"Hmm ... kalian tidur sama Papa Mama aja ya, besok malam tidur sama Kakak," jawab Abel.
Dengan merengek-rengek kedua adiknya tetep ingin tidur bersama Abel. keributan ini membangunkan Mama Riri dan Papa Ervan.
"Kenapa anak-anak disini," tanya Ervan.
"Papa mau tidur sama Kakak," kata Raffa.
"Ih ... nggak boleh, Kakak Sekaran tidur sama Abang, kalian tidur sama Mama aja Yuk," kata Riri.
"Ray mau bobo sama Kakak," Ray memeluk erat kaki Abel.
"Ya udah biar aja Ma, lagian adik-adiknya mungkin masih kangen sama Kakaknya," ujar Ervan yang membuat Riri melotot.
Mas Ervan ini kayak nggak pernah jadi penganten baru aja pasti ada maunya nih nanti malam. Guman Riri.
Sedangan Abel dan Davin memilih pasrah kalau sudah Papanya yang angkat bicara.
"Ya udah Ray sama Raffa boleh tidur sama Kakak, tapi besok tidur sama Mama ya. Nanti Adek Kakak nggak jadi-jadi," kata Riri.
"Ya ma," balas Raydan dan Raffa bersamaan.
__ADS_1
"Titip ya Vin, maaf loh ganggu," ujar Riri lagi pada Davin.
"Nggak apa-apa Ma," balas Davin berpura baik-baik saja.
Drama pun berakhir, kini semuanya masuk ke dalam kamar dengan Raydan dan Raffa tidur bersama Abel di tempat tidur. Karena berdesakan Davin memutuskan bmengalah tidur di sofa kamar Abel.
"Bang Davin, maaf ya adek Abel." kata Abel menahan tangan suaminya yang akan ke sofa.
"Nggak apa-apa Sayang, mau gimana lagi. Kita masih banyak waktu 'kan." Davin berusaha bersikap tenang agar Abel tidak merasa bersalah. Padahal kepalanya kini rasanya sudah mau pecah.
Davin mencium kening Abel, kemudian ia merebahkan dirinya di sofa. Ia bertekad setelah ini, ia tidak akan menginap lebih dari satu hari di rumah mertuanya. Davin berusaha memejamkan matanya menahan sesuatu yang belum tersalurkan.
Sementara Abel hanya senyum-senyum merasa lucu melihat kelakuan adiknya dan merasa kasihan kepada suaminya.
Sedangkan di kamar sebelah pintu sudah di kunci dengan rapat. Pasangan tua tak mau kalah dengan pengantin baru.
"Bisa lama sayang, nggak ada anak-anak," kata Ervan memeluk Riri dari belakang.
"Mas curang, kasian pengantin baru kita," balas Riri.
.
.
.
.
.
.
.
.
Next.......
Thor : Malam tak usahakan up lagi🤧🤧
Zen : Ngebut ya Thor
Thor : Ho'oh 🤭🤭
Beri semangat author pencet LIKE tombol jempol ketik KOMENT sesuka hati kalian yang punya POIN bisa bagi VOTE seikhlas kalian. loph ❤️ selalu
__ADS_1