
Aline POV
Aku enggak nyangka, ternyata Raffa gantengnya melebihi ekspektasi. Ya jelas, Raffa masuk lah dalam list calon suami princess. Kayaknya aku juga mulai suka pada pandangan pertama. Duh bisa aja ibu suri sama papi pilihkan calon suami untuk princess, nggak sia-sia selama ini aku jomblo sampai sekarang.
Setelah acara makan malam selesai, aku sama calon suami, eh .... maksud princess Raffa, pindah tempat ke taman belakang dekat kolam renang. Kita ikuti tuh saran dari mami dan calon mama mertua, eh ... maksud aku Tante Riri.
Di kolam renang rumahku ada kursi kayu gitu yang dibatasi meja ditengahnya. Jadi masih aman ya Bun, kita udah jaga jarak aman. Secara calon suamiku calom imam banget. Dia alim. Dari tadi aja kalau lihat princess, dia nunduk sambil baca istighfar. Kan aku jadi binggung, dia lagi sama calon istri atau sama mbak Kunti sih.
Memang aku belum siap sepenuhnya memakai hijab, maklum ya Bun, di Prancis langka banget yang pakai hijab gitu. Jadinya aku belum termotivasi gitu. Tapi aku berani sumpah deh, aku nggak pernah yang namanya ninggalkan 5 waktu sholat. Kecuali kalau ketiduran, namanya juga manusia ya Bun, pasti ada aja khilafnya.
Kembali ke Raffa yang jadi diam banget sejak acara makan malam. Raffa tuh sekarang sok cool gitu sama princess, beda banget kayak waktu SD. Kita cuma duduk-duduk aja, sambil lihatin kodok yang kecebur di kolam renang.
Aku pengen ngomong duluan ngerocos karena mulut manis ini udah gatel, tapi aku takut nanti malah dibacakan ayat kursi sama calon suami di kira lagi kesurupan. Jadinya kita berdua ya duduk, diam dan bernafas.
"Lin,"
"Ya," jawabku spontan di panggil calon suami.
"Kamu setuju sama perjodohan ini?" tanya Raffa yang membuat jantung princess Jedag jedug nggak karuan.
"Setuju dong Raf, kamu kan pilihan Mami papi aku," jawabku jujur.
"Kamu pasrah aja gitu! Kamu nggak mau protes atau nggak punya niat buat batalin perjodohan ini!"
Aku menatap ke arah Raffa, kenapa aku merasa ada sinyal jelek dari Raffa tentang perjodohan ini.
"Untuk saat ini nggak sih Raf." Kayaknya aku kelewat jujur atau nggak tahu malu sih.
"Kamu seirus mau nikah sama saya? kamu nggak punya pacar atau apa yang membuat kamu bisa membatalkan perjodohan ini!"
Loh ... loh kita kan berdua mau mengenal lagi lebih dekat. Kenapa Raffa malah ngegas kayak bujuk princess buat batalin perjodohan ini. Tidak semudah itu sahabat! Princess sudah jatuh cinta padamu pada pandangan pertama. enggak ada alasan buat nolak perjodohan ini.
"Nggak Raf, aku nggak punya pacar dan nggak pernah pacaran. Aku nggak punya alasan buat mundur, lagipula aku anak berbakti Raf, aku nggak bisa nolak keinginan Papi."
Raffa makin natap tajam ke arah princess. Sumpah nih Raffa bikin aku makin Jedag jedug, aku nggak bakalan nyerah Raffa meskipun tatapan kamu mematikan kayak siluman ular.
"Lin, saya udah punya calon. Wanita yang memenuhi kriteria saya sebelum tahu kalau kita dijodohkan!"
__ADS_1
Aku balik menatap Raffa, "Mulai sekarang nggak bisa gitu Raf, kamu harus tinggalkan wanita manapun. Yang kamu harus pikir dan tatap hanya aku calon istri masa depan kamu!"
Princess ikut ngegas denger Raffa udah punya cewek lain.
Raffa meraup wajah, dia kayak nahan kesel gitu sama aku.
"Setelah kamu tahu saya punya calon istri sendiri, kamu masih mau nikah sama saya!"
"Ya kenapa nggak Raff, kalau jodoh aku memang kamu."
Raffa geleng-geleng kepala. Dia belum tahu kalau princess orangnya suka nekat.
"LIN!" bentak Raffa yang buat princess hampir loncat ke kolam.
"Kamu dengar ya Lin, saya nggak bisa nikah sama kamu. Saya nggak mau pernikahan ini terjadi, saya akan pakai berbagai macam cara untuk menggagalkan rencana perjodohan ini!" Raffa kayak ngeluarin uneg-uneg yang mengganjal di kerongkongannya.
Mata aku langsung melotot mendengar ungkapan Raffa. Kenapa dia tega banget ngomong begitu sama aku yang berhati salju ini.
Aku memasang wajah lesu. "Kamu jujur banget sih Raf, kalau begitu aku nggak surprise dong saat kamu kenalin calon pilihan kamu di depan keluarga kita."
"Itu nggak akan terjadi Lin, karena masalahnya aku juga nggak bisa batalin perjodohan ini." Raffa lagi-lagi menunduk dengan wajah serius kali ini.
Aku cuma duduk sambil silangkan tangan ke dada. Aku lagi nunggu Raffa yang masih asyik menunduk. Entah apa yang dipikirkan Raffa, yang jelas dia kelihatan serius tanpa lihat wajah jelita aku sama sekali.
"Oke Lin, kita berdua memang tak bisa batalkan perjodohan ini!"
"Itu benar Raff," sahutku. Sepertinya Raffa udah menyerah nih buat gagalkan perjodohan.
"Saya punya rencana untuk perjodohan ini Lin."
Lagi-lagi hati ini dibuat ambyar oleh Raffa, dia punya rencana apa lagi sih! Coba terima nasib saja kayak aku. Aku manusia langkah yang nggak bisa di cetak ulang loh.
Apa? Raffa punya rencana Mau poligami diam-diam setelah kita nikah! Kamu nggak akan bisa Raff, aku akan aduin ke Mama mertua sama Komnas perlindungan perempuan. Biar di demo sama emak-emak satu kecamatan.
"Kita buat perjanjian pranikah!" kata Raffa yang bawaaannya ngegas kalau ngomong sama princess.
"Perjanjian gimana sih Raf?" tanyaku nggak paham.
__ADS_1
Raffa mendadak jadi segar, tambah ganteng nih Raffa kalau lagi semangat gitu.
"Oke, jadi gini Lin, kita bikin persyaratan apapun tentang pernikahan kita. Kamu boleh kasih syarat apapun. Begitu pula dengan saya."
"Dengan begitu, kita berdua merasa tidak ada yang dirugikan dengan perjodohan ini," ucap Raffa.
Aku mencerna semua perkataan Raffa. Ya ampun, nasib aku buruk banget sih, jadi jomblo aja drama, mau punya suami aja ikutan drama.
"Ya udah Raff, terserah aja deh!" jawabku pasrah. Daripada ya bun, nanti pas hari pernikahan Raffa kabur terus mempelai laki-lakinya digantikan sopir seperti di novel-novel.
"Bagus! Deal?" balas Raffa.
"Deal!" jawabku sambil mengulurkan tangan.
Tentu aja enggak disambut sama Raffa karena kita bukan muhrim Bun. Jadi Princess dadah aja buat buang malu.
"Oke Lin, kita akan bicarakan lagi masalah perjanjian kita setelah orangtua kita resmi bicarakan masalah pernikahan."
"Oke setuju!" jawabku, princess pasrah aja lah yang penting bisa keluar dari kastil ibu suri.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ......
__ADS_1