Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Season 3 - Lelah


__ADS_3

Author POV


Raffa bergegas meninggalkan hotel usai mendapat kabar dari sekertarisnya kalau Alesa mengalami kecelakaan. Kabar terbaru Alesa mengalami kecelakaan tunggal yang meremukkan bagian depan mobilnya.


Pikirannya kacau dan langsung saja tidak bisa berkonsentrasi. Ia melupakan hasratnya yang seharusnya sekarang bersama Aline menikmati malam pertamanya sebagai suami istri.


Tapi hatinya tak bisa memungkiri mencemaskan keadaan Alesa. Untung saja semua anggota keluarganya sudah pulang. Kemungkinan tidak ada yang melihat dirinya keluar dari kamar hotel seorang diri meninggalkan Aline.


Memang Raffa merasa kejam meninggalkan Aline di malam pertama pernikahannya. Tapi sungguh ia juga tidak bisa tenang sebelum memastikan sendiri bagaimana keadaan Alesa.


Ia pun melajukan kendaraannya menuju rumah sakit tempat Alesa di rawat. Mudahan setelah tahu keadaan Alesa, ia bisa bergegas kembali ke hotel bersama Aline.


Raffa sempat mengurangi kecepatan kendaraannya ketika melewati lokasi kecelakaan Alesa. Ia melihat mobil yang kemungkinan di kendarai Alesa yang remuk di bagian depan menghantam bahu jalan. Dari kondisi mobilnya terlihat sangat parah. Bagaimana dengan Alesa?


Rasa cemas menyelimuti pikirannya, sebenarnya ia tidak ingin tahu lagi masalah apapun tentang Alesa, melupakan semuanya tentang Alesa dan memulai hidup yang baru bersama Aline yang sekarang menjadi istrinya.


Tapi melihat keadaan Alesa sekarang, ia tidak bisa diam begitu saja! Walau bagaimanapun Alesa pernah jadi orang yang paling berarti dalam hidupnya sebelum menikahi Aline.


Raffa tiba di rumah sakit tempat Alesa dirawat sesuai informasi yang ia dapat.


Raffa segera menunju ruang UGD, mencari tahu keadaan Alesa. Setelah mendapat informasi, ia langsung menuju bilik tempat Alesa menerima penanganan medis. Raffa kini melihat Alesa yang berbeda tanpa kerudung yang menutupi kepalanya. Ia melihat kepala Alesa yang dibalut perban yang mungkin terkena benturan saat kecelakaan. Sebagian tubuh dan tangannya lecet.


"Sa, bagaimana keadaan kamu?" Raffa menghampiri Alesa yang yang terbaring lemah di atas brankar.


"Mas, Mas Raffa disini," Alesa berbinar melihat kehadiran Raffa yang kini berada disebelahnya.


"Ya Sa, Mas langsung kesini setelah mendengar kamu kecelakaan," Raffa mendekati Alesa.


Dokter dan beberapa perawat sepertinya sudah mulai selesai memberikan penangangan pada Alesa.


"Anda keluarganya," tanya dokter.


"Ya Dok saya keluarganya," jawab Raffa asal saja.


"Bisa bicara sebentar," Dokter mengajak Raffa sedikit menjauh.


"Pasien mengalami benturan di kepala, tapi kami tidak menemukan luka dalam yang serius di kepala. Tangan kanan pasien mengalami patah tulang dan kami akan segera melakukan operas, jika setuju perawar akan membawakan surat persetujuan," penjelasan dokter.


"Lakukan apa saja yang terbaik untuk Alesa dok," jawab Raffa.


"Baiklah Pak, permisi. Pasien akan di pindah ke ruang perawatan setelah ini." Dokter pun pergi meninggalkan bilik Alesa.

__ADS_1


Raffa kembali mendekat ke brankar Alesa. Ia sedikit lega keadaan Alesa baik-baik saja meskipun terdapat luka berat.


"Astaghfirullahaladzim, maaf Mas. Mas lihat saya dengan keadaan seperti ini." Alesa tersadar kalau dirinya sedang tak mengenakan hijab dan lengan bahunya dirobek karena terdapat luka.


"Sa, kamu sedang sakit jadi tidak apa-apa." Raffa jadi iba melihat keadaan Alesa sekarang.


"Mas, bagaimana dengan Aline, bukan kah ini malam pernikahan kalian?" suara Alesa sambil terdengar Isak tangis.


Raffa langsung teringat Aline yang sekarang mungkin menunggunya di hotel.


"Sa, Aline pasti ngerti. Mas hanya mau mastikan keadaan kamu," balas Raffa.


"Kenapa ya Mas, rasa sakit luka akibat kecelakaan ini tidak ada apa-apa di bandingkan rasa sakit melihat Mas Raffa bersanding dengan Aline." Isak tangis Alesa pecah.


"Sa, kita tidak akan tahu, dengan siapa kita akan berjodoh. Sekarang jangan bahas masalah itu lagi, kamu harus fokus dengan kesembuhan kamu ya," Raffa jadi merasa bersalah pada Alesa. Kenapa dia masih saja belum bisa move on.


"Mas, bisakah malam ini saja, Mas temani Alesa di sini sampai paman datang. Alesa takut Mas, Alesa belum pernah sebelumnya ke rumah sakit. Cuma Mas Raffa orang yang Esa percaya di kota ini." Ucap Alesa dengan nada dramatis memohon.


Raffa jadi binggung sekarang, seperti yang ia tahu Alesa hanya seorang diri di kota ini. Keluarganya berada di luar kota yang kemungkinan menempuh perjalanan beberapa jam untuk tiba di rumah sakit.


Disisi lain ia tak mungkin kan membiarkan Aline menunggunya sepanjang malam. Tapi apa mungkin Aline menunggunya? Bisa saja dia bosan dan tertidur? Seperti tidak tahu saja Aline manusia seperti apa.


"Ya Sa, saya akan tunggu kamu di sini." Raffa memutuskan menunggu Alesa beberapa saat setelah Alesa tertidur, ia akan kembali ke hotel menemui istrinya.


...****************...


Sementara di kamar hotel Aline mondar-mandir mengitari lilin - lilin yang masih menyala.


Sumpah ini malam pertamanya? Kenapa ia jadi seperti penjaga lilin yang menunggu suaminya pulang ngepet.


Ia mengirim pesan ribuan kali pada Raffa, dan jawabannya selalu sama.


Aline.


Raf, siapa sih teman kamu? Masih lama?


Raffa


Baca lagi perjanjian pranikah, urusan pribadi suami tidak berhak libatkan istri. Kamu Sabar, sebentar lagi saya pulang


Aline

__ADS_1


Meninggoy aja lah aku! Raf, masih lama nggak? Aku iri sama angsa di atas ranjang kita Bisa ciuman sama pasangannya.


Raffa


Kamu sabar, sebentar lagi saya pulang


Aline,


Raf, aku udah kayak istri penunggu lilin pesugihan, kamu sudah belum ngepetnya, lilin udah mau mati loh!


Raffa,


Sabar, sebentar lagi saya pulang


...,dan banyak pesan lagi yang dikirim Aline dengan balasan yang sama.


Karena kesal dan bosan, Aline memutuskan tidak malas untuk mengirim pesan lagi. Sambil mengistirahatkan tubuhnya yang terbaring. Ia berpikir, apakah ada pengantin baru yang nasibnya lebih buruk dari dirinya? Bagaimana mungkin ia ditinggalkan bobo dengan guling di malam pertamanya.


Kenapa nasib pernikahannya begini banget ya, baru juga sehari, apa kabar satu Minggu, satu bulan apalagi satu tahun ke depan.


Aline hanya bisa menerima nasib yang sudah ia pilih, Ia berusaha untuk tidak menangis, untuk apa juga? Semua sudah terjadi, ia hanya bisa menjalankan semua yang sudah terjadi.


Di atas ranjang ia masih berguling-guling tak jelas. Jangankan untuk tidur, merebahkan tubuh dengan benar saja ia tidak bisa. Waktu nunjukkan pukul tiga dini hari, tapi Aline masih saja belum menemukan tanda-tanda Raffa kembali ke kamar.


Kali ini air matanya tak bisa ia bendung, buru-buru Aline tepis kembali. Ia mencoba untuk kembali memejamkan mata, kali ini tak berharap Raffa kembali atau tidak. Ia sudah lelah, ia tak mau lagi memikirkan tentang yang Raffa lakukan di luar sana. Ia tidak mau hatinya terlalu sakit.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung .......

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘


__ADS_2