
Raffa
Kita berdua sudah di bandara menuju ke Ibiza. Seperti anak SMA yang mau pergi study tour. Saya dan Aline di antar seluruh anggota keluarga di bandara. Norak ya! Tapi enggak apalah, honeymoon ke Ibiza adalah hadiah dari mereka.
Aline lagi sibuk berpamitan dengan Mama dan mami. Saya dengan sabar menunggu mereka kini saling peluk-pelukan, cipika-cipikin ala makhluk hawa ini.
"Raf, jaga Aline baik-baik, jangan sampai hilang!" ancam Mama dengan nada menyindir.
"Ya Ma, tangan Aline nggak akan Raffa lepaskan kalau sampai sana."
Enggak ke balik! Yang ada saya yang takut nyasar, karena nggak terlalu hapal daerah Eropa jika di bandingkan dengan Aline.
"Mama nggak usah kuatir udah aku pasang alarm cinta pasti nggak bakalan hilang lagi," canda Aline dengan cekikikan.
Mama cubit tuh pipi Aline gemas.
"Manfaatkan waktu yang singkat ini dengan baik ya, terutama kamu Raf sebelum kembali ke aktifitas sibuk disini." Pesan Papa yang saya balas dengan anggukan.
"Raf! Pesanan Papi jangan lupa habiskan!" ancam Papi mertua.
"Aman Pi!" saya tunjukkan pesanan Papi di tangan yang terkemas dalam paperbag.
"Bagus Raf," sahutnya.
Entah apa isi dalam botol yang di berikan Papi, yang jelas katanya ini akan membuat pria menjadi perkasa. Papi kira saya pria yang gampang lo-yo apa! Meskipun tubuh saya nggak seberotot Papa, tapi saya berani jamin Aline nggak akan mau turun dari kasur saat bulan madu ... eh. Maksudnya Aline masih tidur ya, makanya nggak turun ranjang.
Kita melambaikan tangan pada keluarga kita yang masih setia menunggu kita masuk ke pintu keberangkatan. Bahagianya akhirnya bisa berbulan madu tanpa beban bersama istri.
Saya menyuruh Aline masuk lebih dulu untuk duduk di kursi dekat jendela.
"Mas! Memang tadi papi kasih apa?" tanya Aline memecah keheningan.
"Kayaknya jamu Sayang?"
"Jamu apa?" Aline mengeryitkan dahinya.
"Katanya buat Mas jadi perkasa!"
Aline tertawa geli. "Papi aneh-aneh aja."
"Bukannya apa Sayang, Mas takut mabuk kalau kebanyakan. Kata Papi kamu dosisnya tiga kali sehari."
Aline tertawa lagi, "Mas, kamu nggak akan mabok minum jamu, lagipula itu demi kita kan." Aline mengerlipkan matanya genit.
__ADS_1
Saya raih tubuh istri saya, mendekapnya gemas melihat wajah lucunya itu.
"Ya udah sekarang kamu tidur, perjalanan ke Ibiza masih panjang, kita harus menyimpan banyak tenaga."
Lagi - lagi buku menu makanan pesawat mendarat ke wajah saya. Kapan Aline bisa menghilangkan kebiasaannya melempari orang di sekitarnya ketika malu.
Aline merebahkan kepalanya di pundak saya, dia pasti masih lelah karena packing mendadak. Ya, sayalah penganggu Aline hingga terlambat packing. Biasalah, kita lakukan pemanasan sebelum projects besar.
...****************...
Hampir 20 jam lebih berada di atas udara. Tanpa terasa pesawat yang Saya dan Aline tumpangi sudah mendarat di Barcelona pagi hari waktu setempat. Suasana sangat cerah di sini karena pada bulan ini sedang mengalami musim peralihan dari semi ke musim panas. Perjalanan selama itu tidak terasa karena saya lewati dengan Aline, makan berdua, tidur berdua, tapi kita tidak ke kamar mandi berdua, intinya semuanya kita lakukan berdua.
Belum sempat sampai tujuan kita, saya sudah seperti hanya berdua di belahan bumi lain bersama Aline. Disini saya baru menyadari pentingnya berbulan madu untuk pasangan yang baru menikah.
"Nggak nyangka, aku kembali lagi ke Eropa tapi sekarang gandeng suami tercinta," seru Aline bergelayut manja di lengan saya.
"Sekarang kita ke pemeriksaan imigrasi dulu ambil barang setelah itu kita lanjutkan perjalanan."
Aline hanya mengangguk menurut. Kita melakukan pemeriksaan dan segera keluar dari bandara. Kita masih harus menempuh lagi perjalanan menggunakan kapal yang mirip kapal pesiar untuk menuju ke pulau Ibiza.
Tadinya saya ingin menawari Aline agar menginap satu hari di Barcelona untuk berisitirahat. Tapi Aline menolak dan ingin segera melanjutkan perjalanan kita untuk menikmati waktu berdua di tempat tujuan kita.
Seperti berada di atas hotel apung, saya ingin berisitirahat melepas lelah di kamar yang berada di dalam kapal.
Saya tak bisa tenang jika tidur sendiri meskipun tubuh saya rasanya lelah. Saya menghampiri Aline yang berdiri di dekat jendela, saya mengagetkannya dengan memeluk Aline dari belakang. Saya nikmati hangat tubuh dan wangi khas istri saya ini.
"Kita tidur yuk sayang, kamu pasti lelah menempuh perjalanan jauh."
"Aku udah biasa Mas, ini sama aja kayak perjalanan ke Prancis. Aku masih mau lihat pemandangan laut di luar."
"Masih lama nggak Sayang," saya menyadarkan dagu di pundak Aline.
"Kalau kamu ngantuk, tidur duluan aja Mas,"
"Saya nggak bisa tidur kalau nggak di boboin." Saya mengeratkan pelukan di pinggang Aline.
"Ya ampun, manja banget suamiku, baru juga di tinggal beberapa menit."
"Makanya temani tidur dulu suamimu!"
Aline berbalik arah menghadap ke arahku.
"Ayo, masih ada waktu empat jam sebelum kapal berlabuh," ucapnya lirih dengan wajah Aline yang sudah merona merah.
__ADS_1
Saya langsung mendaratkan kecupan di bibir Aline. Perjalanan yang panjang tak menyurutkan naluri alami seperti alarm pengingat ketika bersama Aline. Saya menjadi sangat bergantung pada Aline, apapun yang ada dalam diri Aline adalah candu untuk saya.
Saya angkat tubuh Aline seperti mengendong anak koala, saya tidak mau lama-lama melakukan pemanasan di balik jendela.
Aline menunjukkan senyum termanis selama kita bersama. Tapi bagi saya, Aline tetaplah cantik dari semua yang tercantik.
Saya merebahkan tubuhnya di atas ranjang berseprei putih. Saya tatap dengan intens wajahnya yang merona merah itu, lucu melihat Aline yang diam seperti kucing kehilangan induknya.
Saya mendekat diri ke arah istri saya, mencuri semuanya rasa yang ada di bibirnya. Saling mengebu dan mendamba di antara tautan kita berdua.
Hingga Aline tak menyadari seluruh kain yang melekat saya rogohkan ke lantai.
Aline tipe istri yang juga penurut dalam urusan ranjang. Ia tak pernah menolak ataupun keberatan dengan gaya dan sentuhan-sentuhan yang saya berikan.
Si*l! Suara berat yang keluar dari mulut Aline, membuat saya ingin semakin dalam menikamnya.
Saya sudah di kuasai hasrat sehingga tak lagi merasakan lelah, saya semakin mendorong kuat memasuki tubuh Aline hingga mulutnya tak berhenti mengeluarkan suara eluhan merdu penuh kepasrahan.
"Raf ...!" eluhan Aline menarik kuat rambut saya saat menyercap area dadanya.
"Masih sanggup?" tanyaku pada Aline yang sedang menikmati juga kehangatan cinta dari saya. istriku tercinta hanya mengangguk karena mulutnya tak sanggup berkata karena sibuk mende-sah.
Kami berdua menikmati saat intim sebelum Kapal berlabuh ke Ibiza. Saya juga akan buktikan saya bisa tahan hingga beberapa jam, tanpa harus minum jamu dari papi yang masih saya ragukan kualitas dan keasliannya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ....
Sori! Ei Hiatus beberapa hari untuk kembalikan mood nulis yang sempat down Karena level karya yang di turunkan dratis oleh NT😭
Tunggu part selanjutnya ya, kita masih intip yang lagi honeymoon 😁😁
__ADS_1