
Raffa
Ternyata lucu juga melihat ekspresi Aline malu-malu begitu. Saya sepertinya punya hobi baru membuat kesal istri saya. Sebenarnya mau apa sih tuh istri, didekati kabur, di jauhi cari-cari perhatian.
Makin hari kenapa rasanya makin nggak mau jauh dari Aline, saya batalkan saja penghapusan laporan satu jam sekali. Hitung-hitung dia ada kesibukan setiap jam.
"Lin, ambilkan handuk ketinggalan di atas kasur!" teriak saya dari balik kamar mandi. Saya tahu Aline sedang bersiap di luar sana.
"Maaf Mas, disini nggak ada yang namanya Aline! Yang ada My Princess atau ayang Mbeb!"
Saya tepok jidat! Mau coba negosiasi ya, enggak semudah itu princess. "Handuk atau kamu mau suamimu keluar dengan polos. Oke dengan senang hati!"
"Raffa! Jangan keluar! Tunggu!" teriak Aline.
Saya tertawa, masih takut di unboxing aja udah mancing-mancing.
"Ini," Aline mengulurkan handuk dengan separuh tangannya
"Mas!" saya mengoda Aline dengan menarik tangan istri agar masuk ke kamar mandi.
"Aku udah mandi Mas, nanti basah lagi!" Aline masih berpegang teguh pada tiang pintu kamar mandi.
"Kamu kalau mau intip boleh kok! Kamu kan istri saya."
"Mas Raffa! Buruan siap-siap. Katanya mau pergi!" teriaknya lagi sambil menarik kuat tangannya.
Saya melepaskan Aline, pasti dia sudah sangat malu sekarang. Baiklah, saat ini masih di ampuni.
"Kamu udah siap?" tanya saya melihat Aline yang sudah rapi dengan dengan pakaian yang lengkap dengan kerudungnya ketika keluar dari kamar mandi.
"Udah, kamu cepat ganti baju. Aku penasaran mau di ajak suamiku kemana?" ucapnya semangat.
"Nanti juga tahu? tunggu di bawah." Aline cemberut dan menuruti keinginan saya keluar kamar.
...***************...
Diperjalanan rasanya saya bosan Aline terus bertanya mau di ajak kemana. Tentu saja saya akan mengajak ke jalan yang benar.
"Mas, sekali lagi aku tanya kita mau kemana? pakai rahasia-rahasiaan sih!" seru Aline dengan lembut kali ini mencoba merayu.
"Nanti aku juga tahu sendiri,"
"Penasaran ...." sambungnya lagi.
Saya diam saja, putar stereo keras-keras nanti juga diam sendiri.
"Mas ...."
__ADS_1
Saya melenggos.
"Bang ...."
"Sayang ...."
Saya bereaksi, "Ya udah cukup! Kita mau ke Mall."
"Kita nggak ke hutan kan," ocehnya sambil mengelus dada bernafas lega.
Akhirnya setelah beberapa menit Aline bisa juga diam.
"Mas."
Namanya saja Aline, mana tahan istri saya itu diam meskipun sebentar aja. Saya cukup berdehem saja.
"Kamu suka nggak misal punya anak kembar," tanyanya.
Pertanyaan apa ini? Bikin saja belum pernah udah ngomongin anak. Benih sudah matang nggak di tanam-tanam.
"Emang kenapa?"
"Kayaknya tuh bikin pusing tahu nggak!" ucapnya lagi manja menggelengkan kepala.
"Terserah saja mau kembar atau enggak, yang penting intinya, stop bahas masalah anak kalau buat aja nggak mau!"
"Lah kok gitu sih Mas!"
Krik ... krik ... krik ... Aline tercengang mencoba mencerna kata-kata saya.
Bukk , lagi-lagi tas lengkap dengan tali rantai mendarat di wajah saya.
"Sakit Lin!"
"Kamu mesum! Kamu mau ajak aku ke hotel berkedok kejutan kan."
"Kalo iya kenapa?" Aline mengigit ujung kukunya dengan wajah panik. Saya memasuki area parkir mall.
"Raf kenapa berhenti di tempat gelap dan sepi ini?" tanyanya lagi panik.
"Menurut kamu?"'
"Aaakhhh!" teriaknya yang buat telinga saya hampir tuli. "Mami Raffa mau per ...." Belum selesai bicara saya tutup mulut Aline dengan tangan saya. Gendang telinga saya hampir pecah karena mobil dilengkapi peradam suara.
"Saya nggak akan ngapain-ngapain kamu disini! Berhenti berisik istriku sayang,"
Aline meraih tangan saya menjauhkan dari mulutnya. "Bohong! kenapa kita berhenti di tempat gelap dan sepi kayak gini!"
__ADS_1
"Saya suka parkir disini! Sekarang cepat turun kita mau nonton!"
"Jadi kita nonton? Berdua?" jawab Aline langsung berbinar dengan gaya mata kerlip.
"Iya," jawab saya.
Kita pun turun dari mobil memasuki area mall untuk ke gedung bioskop. Aline kelihatan senang tak sepanik tadi. Tangannya merangkul erat di lengan saya.
"Mas, kamu booking Velvet class kan?" tanyanya.
"Nggak!"
"Pasti gold premium class? " tanyanya lagi.
Saya menggelengkan kepala. Aline langsung memonyongkan bibirnya.
"Jadi! Kamu booking separuh kursi regular? Biar kita bisa bedua sambil nonton layar besar?"
Saya mengeleng lagi, "Kita akan nonton seperti orang pada umumnya, duduk, makan pop corn, diam lihat layar!"
"Pelit banget sih Raf! Aku aduin ke kak Abel loh. Minimal Velvet class biar kita berdua bisa nyaman, rebahan sambil nonton!" keluh Aline langsung merubah raut wajahnya.
"Kalau mau rebahan, kita pulang. Nonton di rumah gimana?"
"Janganlah Raf! Ini kan kencan pertama kita jadi suami istri!"
"Tuh tahu! Sudah, ikuti aja apa kata suami. Ayo!" Saya menarik lengan Aline untuk berjalan kembali menuju pembelian tiket. Jika tidak ditarik seperti itu Aline berjalan seperti siput.
"Raf! Kita nonton film romantis kan?" tanya Aline lagi, dan tak pernah bisa diam walau semenit saja.
"Kita lihat saja nanti, saya yang atur kencan kita!"
"Awas kalau ada maksud terselubung!" ancam Aline.
Saya menaikkan bahu membuat istri saya makin penasaran. Selamat menikmati kejutan kencan kita nanti istriku.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....
Moga bisa up lagi, biar tahu apa kira-kira kejutan Raffa....😘😘😘