Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
BAB 42 Akad Nikah


__ADS_3

Setelah seminggu menyelesaikan UTS tinggal Beberapa hari lagi Riri akan melaksanakan pernikahannya. Pernikahan tinggal menghitung hari Riri masih tidak percaya bahwa ia akan menikah dengan orang yang dia cintai meskipun selama ini dia tidak pernah berpikir untuk jatuh cinta pada siapapun sebelum bertemu Ervan. Riri memang sudah pasrah dengan keluarganya pasti menjodohkannya ketika lulus kuliah. Tapi takdir Allah berkata lain lewat tangan gadis remaja yang tak lain adalah muridnya sendiri disekolah Riri bertemu dengan seseorang yang akan menjadi imamnya nanti terlebih lagi sekarang calon imamnya sudah berubah sama-sama mau belajar menuju lebih baik kejalan Allah.


Merasa lapar hari terakhir UTS Riri dan Rika memilih menghabiskan waktu dikantin untuk mengisi perut.


"Jadi tinggal berapa hari lagi." Kata Rika ikut senang karena minggu-minggu ini Riri ceria.


Riri mengangkat jarinya yang menunjukkan kurang 5 hari lagi sambil tersenyum.


"Kamu udah siap begitu belum Ri." Kata Rika.


"Begitu Apa? yang jelas." balas Riri sambil menyantap siomay.


"Ya begitu Ri, bikin Ade nya Abel." balas Rika menyenggol Riri.


Uhukkk. Riri langsung tersedak mendengar omongan Rika dan merasa malu dengan pertanyaan.


"Rika apaan sih," balas Riri malu. "Tapi aku juga binggung nanti harus ngapain ya." sambung Riri.


"Kamu nikmati aja sentuhan suami kamu, kamu nurut sama mas ervan, kan dia udah pengalaman.hahaha." goda Rika lagi.


"Udah Rika stop nggak," kata Riri mengempalkan tangan ke arah Rika karena merasa geli.


setelah menghabiskan makanan Riri beranjak dari duduknya menuju markas UKM cinta Islam organisasi dulu. Dia ingin mengundang kepengurusan UKM untuk hadir di akad nikahnya. Banyak temannya organisasi yang kaget mendengar berita pernikahan Riri. Setalah beberapa menit bereuni Riri meminta ijin untuk pulang.


******


Merasa sangat lelah Riri membaringkan tubuhnya di kasur sambil mengingat beberapa hari lagi dia akan menikahi dia melihat cincinnya tersenyum-senyum sendiri.


Ponsel berdering Riri cepat mengangkat teleponnya yang ternyata video call.


"Sayang, belum tidur." suara Ervan dari layar ponsel.


"Belum mas, mas lagi apa." sapa Riri .


"Lagi mikirin kamu lah sayang apalagi, rasanya gak sabar pengen cepat kamu disini sama mas."


"Sabar ya mas kan nggak lama lagi kita sah."


"Sebel banget kenapa pakai acara nggak boleh ketemu segala seminggu, mas nggak liat kamu sehari aja nggak betah sayang."


"Mulai ngombalnya, yaudah nanti telpon lagi Riri mau sholat isya dulu. assalamu'alaikum." Riri menutup telepon calon suaminya.


Riri berharap waktu segera berlalu dan Riri bisa ketemu Ervan nanti pas acara akad nikahnya.


***********

__ADS_1


Hari demi hari berganti jam yang berdetak mengikuti putarannya. Tibalah hari bahagia yang ditunggu Riri dan Ervan. Matahari mulai akan tenggelam dengan berganti suasana sore yang teduh, Riri melihat pantulan wajahnya dicermin setelah dirias oleh MUA dengan tema natural glam. Beberapa orang membantu memakaikan baju pengantinnya berwarna putih yang cukup indah dengan banyak manik-manik disana. Dilengkapi menggunakan hijab putih di kepala dengan hanya memakai mahkota kecil karena bajunya yang terlalu berkilau ia memilih hiasan sederhana untuk kepalanya. Dia tidak percaya beberapa jam lagi akan berganti status menjadi istri dan ibu pastinya.


"Cantik banget anak ibu," Kata Bu Sinta yang melihat Riri sudah siap dengan gaun pengantinnya.


Riri hanya tersenyum kali ini jantungnya berdegup sangat kencang daripada menunggu dia dilamar beberapa Minggu lalu.


"Riri deg deg kan Bu," Kata Riri pada ibunya.


"Itu wajar namanya juga mau nikah, ayo naik mobil nanti bisa terlambat ditunggu calon suamimu." kata Bu Sinta membantu Riri berjalan karena gaunnya yang sedikit merepotkan seperti menyapu lantai.


Riri dan rombongan keluarganya masuk kedalam beberapa mobil yang sudah disiapkan keluarga Ervan. Riri memasuki mobil mewah jenis sedan Roll R**ce yang memang disiapkan untuk pengantin dari keluarga calon suaminya.


Beberapa mobil sudah terpajang di pelataran masjid, undangan kerabat dan keluarga dekat kedua calon pengantin sudah berada didalam masjid.


Riri dibantu ibu dan bibinya menaiki tangga untuk masuk kedalam masjid termegah dikota B ini. Riri memang ingin menikah dimasjid tapi dia tidak pernah menyangka akad nikahnya akan dilaksanakan di masjid ini. Memasuki masjid sudah terdengar bacaan merdu lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an sebelum dimulai acara ijab Qabul. Riri duduk dibarisan perempuan disebelah kanan yang bertulis akhwat dan laki-laki disebelah kiri dibagian Ikhwan yang nanti akan menjadi tempat pembacaan ijab kabul. Sudah banyak keluarga yang hadir dari pihak Ervan yang memang Riri tidak terlalu mengenal dengan baik. Beberapa menit setelah kedatangan Riri. Ervan memasuki masjid bersama keluarga inti.


Abel yang melihat Riri sudah ada di dalam masjid bersama puluhan wanita lainnya, Abel langsung memilih duduk disamping calon ibunya. "Mama cantik banget ma, kayak Barbie."


"Kamu juga sayang, selalu cantik." balas Riri memengangi tangan Abel.


Tak jauh beda dengan Riri Ervan juga merasa sangat gugup tanpa menoleh kearah yang lain hingga belum menyadari keberadaan calon istrinya. Memang bukan yang pertama untuknya tapi kali ini dia akan menikah dengan wanita yang memang sangat dicintainya berbeda dengan pernikahan pertamanya.


Riri yang melihat calon suaminya yang begitu tampan dengan jas warna putih dengan peci warna senada akan duduk didepan penghulu dan pak Saiful. Dia merasa sangat gugup dan debaran jantungnya lebih kencang lagi dari sebelumnya.


Pak Saiful menghentakkan tangan Ervan. "Saya terima nikah dan kawinnya Rinjani Ana Lita binti Saiful Halim dengan mas kawin tersebut. Tunai." Dengan satu tarikan nafas.


"Saksi sah."


"SAH!" Kata ustadz Anan yang diminta sebagai salah satu saksi.


"SAH" teriakan para manusia yang ada di dalam masjid.


" Alhamdulillah"


"Barrakallahulaka wabaaraka alaika wa jama'a bainakuma fii khoir…....." Penghulu memanjatkan doa.


Mendengar teriakan itu Riri merasa lega entah kenapa air mata bahagia menetes di ujung matanya dan langsung memeluk Abel anaknya sekarang. begitu pula Bu sinta yang langsung mencium pipi Riri.


"Silahkan bawa kedepan mempelai perempuannya tanda tangan." Kata penghulu.


Riri dibantu berdiri ibu Niah dan Bu Sinta di antar di samping suaminya didepan meja penghulu. Ervan tak bisa berkedip melihat istrinya yang terlihat cantik. Sekarang istrinya sudah bersanding disampingnya. Penghulu menyuruh menanda tangani beberapa dokumen dan buku nikah masing-masing. Kemudian penyerahan kotak mahar berupa seperangkat alat sholat dari suami ke istrinya.


Riri dipersilakan mencium tangan suaminya, dengan debaran jantungnya yang tidak karuan, Riri meraih punggung tangan suaminya. Tangan laki-lakinya pertama yang dia cium selain keluarga intinya. Disusul Ervan yang meraih kepala Riri mendaratkan ciuman lembut dikening istrinya yang sedikit terlapis kerudung, terasa sangat hangat untuk Riri. Ciuman pertama dikening yang dia dapat dari laki-laki yang tak lain adalah suaminya. Hal yang membuat debaran dadanya semakin kencang. Sekilas Ervan tersenyum memandang wajah Riri begitu pula dengan Riri yang wajahnya merona merah berhadapan dengan suaminya. Gemuruh suara keluarga dan kerabat di dalam masjid menyoraki keduanya merasa ikut bahagia.


Riri sekarang menyandang status istri, masih merasa haru dan bahagia dia tidak menyangka menikah diusia sekarang yang bahkan belum lulus kuliah dengan bapak dari muridnya sendiri disekolah.

__ADS_1


Acara dilanjutkan dengan bertukar cincin pernikahan, Ervan menyematkan cincin di jari Riri, begitu pula Riri yang menyematkan Cincin berbahan titanium Kejari suaminya. Disusul suara sahutan sindiran dari kerabat dan keluarganya.


"Cincinnya mas dempeti pegang tangan mbak nya," intruksi fotografer. Dengan malu Riri mengikuti instruksi fotografer.


Dilanjutkan dengan berfoto dengan buku nikah kini keduanya di minta berdiri dengan background mimbar masjid. "Dekat lagi mbak jangan jauh-jauh sama suaminya." Kata fotografer yang melihat Riri masih rengang dengan suaminya karena masih merasa malu. Dengan cepat Ervan menarik pinggang Riri agar merapat kepadanya. Hal itu juga yang membuat Riri tersentak kaget pertama kalinya laki-laki merangkul dirinya.


"Suamimu ini udah jinak sayang Jangan takut." Bisik Ervan pelan ditelinga Riri yang membuat Riri tersenyum. Ia memukul tangan suaminya yang melingkar punggungnya.


Ervan merasa sangat bahagia mendapatkan istri seperti Riri, wanita yang sangat menjaga kehormatannya. Selama ini bahkan dengan dirinya yang menginjikan untuk menyentuhnya setelah ijab qobul.


Acara dilanjutkan dengan sungkeman kepada kedua orangtua dan pengambilan gambar keluarga dan kerabat disertai pemberian selamat kepada kedua mempelai. Setelah melewati beberapa seremonial kedua mempelai dengan bergandeng tangan keluar Masjid untuk mengambil beberapa foto dimasjid.


"Kamu cantik banget Ri," kata Rika yang menghampiri Riri yang akan pergi meninggalkannya Masjid.


''Makasih udah datang," Riri memeluk erat sahabatnya.


Disusul beberapa kerabat yang lain memberi ucapan selamatnya. Seluruh keluarga dan kerabat yang datang berfoto ditangga mesjid sebelum meninggalkan masjid menuju hotel As**n untuk acara private gala dinner keluarga besar dan kerabat saja.


Ervan tak pernah melepaskan tangan Riri setelah sah jadi suami-istri, ia mengandeng terus tangan istrinya untuk memasuki mobil menuju hotel. Berbeda dengan sebelum akad yang memakai mobil berbeda. Kali ini mereka akan memakai mobil yang sama yang dipakai Riri ke masjid


Ervan membuka pintu untuk Riri. "Abel!" serilu Ervan kaget melihat anaknya yang sudah didalam bagian kursi belakang mobil.


Ervan masuk disusul Riri di sisi yang lain karena Abel sudah menempati tempanya didalam mobil.


"Kamu nggak sama omah atau om Ervin ada Kayla sama bang Devan turun sekarang ya tuh mereka belum pergi." kata Ervan sambil menunjuk mobil didepannya. Ervan agak kesal anaknya duduk diantara Riri dan dirinya sekarang.


"Abel nggak mau pa. Abel mau sama mama." langsung memeluk tangan Riri dan bersadar dibahunya.


"Kan gantian sayang, papa juga mau peluk mama." kata Ervan lagi memelas.


"Mas kayak anak kecil, coba ngalah sama Abel biar aja dia sama kita." Balas Riri tersenyum-senyum, dia mengerti maksud suaminya ingin berdua dengannya tapi gagal.


Huh. Ervan mendengus akhirnya mengalah menyuruh sopir jalan menuju hotel. Tadinya Ervan ingin mencium Riri didalam mobil karena sudah gemas dari tadi melihat istrinya yang cantik hari ini saat akan menuju hotel tapi gagal karena sudah didahului anaknya yang sekarang mendominasi Riri.


Bisa nggak ya nanti sampai hotel anak ini disekap dulu dimana gitu. Ervan melirik kearah Abel.


NEXT,..........



**Terimakasih Pembaca, Masih butuh saran dan kritik dari kalian.☺️☺️☺️


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen ya


Apalagi vote vote vote yang bikin greget author buat update tiap hari🙏🙏🙏🙏🙏 sekali lagi terimakasih**.

__ADS_1


__ADS_2