
Riri dan Ervan keluar kamar hendak berpamitan dengan orang tuanya untuk kembali ke rumah.
"Pak Bu, kita mau pulang dulu." Kata Ervan berpamitan pada kedua mertuanya.
"Ya, tolong jaga Riri ya, kalau orang hamil itu begitu pasti gampang ngambek Mulu, nak Ervan yang sabar ya..." Seru Bu Sinta.
"Ih... Ibu!" Keluh Riri malu.
"Ya Bu," Balas Ervan.
Kini keduanya bersalaman kepada kedua orang tuanya untuk berpamitan, Bu Sinta dan Pak Saiful mengantarkan kepergian Putri dan menantunya hingga mobil mereka mulai menjauh dan tak terlihat lagi.
Diperjalanan Ervan memperhatikan dari kaca spion depan mata Riri yang mulai sembab karena mungkin dia menangis seharian hari ini, Ervan meraih tangan Riri dan mencium punggung tangan Riri digenggamanya.
"Maaf ya sayang, hari ini Mas bikin kamu susah..." Kata Ervan sambil terus mencium tangan istrinya.
"Ya Mas, Riri juga minta maaf kalau Riri Akhir-akhir ini gampang ngambek..."
"Mas nggak mau lihat air mata kamu lagi sayang, Mas ingin lihat kamu selalu bahagia..."
"Ya Mas, jadi kapan rencana Mas akan suruh Miranda pergi..."
Ervan berpikir, sampai sekarang Ia belum menemukan cara untuk menyuruh Miranda pergi dari rumahnya. Disisi lain ada perasaan tidak sopan pada Miranda yang harus tiba-tiba menyuruhnya pergi dari rumah sedangkan masalahnya belum selesai. Sedangkan di sisi lain, istrinya yang selalu cemas bila dirinya dekat dengan Miranda.
"Mas, kenapa diam..." Kata Riri sedikit kecewa melihat suaminya yang masih keberatan dengan keinginannya
Ervan terbangun dari lamunannya. "Nggak sayang, soal Miranda nanti Mas akan urus, kamu nggak perlu kuatir ya..."
Riri merasa sedikit lega dengan jawaban suaminya meskipun dia tidak terlalu yakin dengan keputusan suaminya yang tidak memberi kepastian.
Beberapa menit menempuh perjalanan Riri dan Ervan sudah sampai di depan halaman rumahnya. Ervan mengandeng tangan Riri seolah takut akan pergi lagi. Abel membuka pintu utama dan langsung berlari memeluk Riri.
"Ma, Mama darimana, Abel takut Mama sama adek bayi kenapa-kenapa..." Abel mengerat pelukannya.
"Ya Cantik, maafin Mama ya telat pulang malam ini jadi buat kamu kuatir...." Jawab Riri.
"Dek, jangan ajak Mama kabur lagi ya, kalau pergi ajak kakak biar ada yang jaga..." Kata Abel berbicara pada perut Riri sambil mengelusnya. Riri tersenyum lebar melihat tingkah Abel.
"Ya udah, ayo masuk rumah dulu. Papa mau mandi...." Ajak Ervan.
Kini ketiganya masuk kedalam rumah.
"Ri, kamu dari mana aja, semua orang cemas nyariin kamu...." Kata Miranda yang berada diruang tengah.
"Miranda, Riri hanya ingin mengunjungi ibunya, aku mau ke kamar dulu lagipula juga Riri lelah..." Balas Ervan sebelum Riri menjawab, karena wajah Riri terlihat tidak senang. Miranda mengangguk dan kini semuanya membubarkan diri ke kamar masing-masing.
*****
__ADS_1
Didalam kamar.
Usai membersihkan diri, Ervan menyusul istrinya diatas ranjang. Riri segera memeluk suaminya yang terlihat segar setelah mandi.
"Mas..." kata Riri sambil memainkan jarinya di dada bidang suaminya.
"Hmmmm.." Balas Ervan sambil membelai dan mencium puncak kepala istrinya.
"Maafin Riri ya Mas, Riri ngelarang niat baik Mas mengajak Miranda tinggal sementara dirumah kita..."
"Nggak apa-apa sayang, Mas juga nggak mau, kamu jadi kepikiran yang bukan-bukan tentang Mas sama Miranda, itu ngaruh ke kesehatan kamu..."
"Lagi pula, membiarkan Miranda lama dirumah kita juga nggak baik sayang, cukuplah tiga hari sesuai hadis Rasulullah, Mas juga pernah dengar dari kajian, waktu Rasulullah ditanya sahabat mengenai Ipar, jawabannya kalau hamwu (ipar) adalah maut," sambung Ervan.
"Itu artinya bisa saja menjadi bahaya untuk kita bila dekat-dekat dengan yang bukan mahram Mas...." Ujar Riri dengan wajah cemberut.
"Ya..Ya sayang, semenjak hamil rasa cemburu kamu jadi meningkatkan berkali-kali lipat..." Kata Ervan sambil gemas sekarang menciumi perut buncit istrinya.
"Sebenarnya apa urusan Miranda ke kota ini Mas, kenapa dia sering ketemu Mas dan juga Mas Ervin..." Tanya Riri membelai kepala suaminya yang berada diatas perutnya.
"Besok kamu akan tahu Sayang, jam makan siang Mas jemput kamu ya, ada hal penting yang harus kita dan Miranda bicarakan di kantor Mas Ervin...."
"Apa hubungannya sama Riri Mas..."
"Kamu adalah istri Mas dan Ibu dari Abel sekarang, Mas nggak bisa ambil keputusan sendiri lagi, kita harus putuskan bersama apapun untuk kita dan masa depan anak-anak kita...."
"Sayang, pengen...." Seru Ervan memelas pada istrinya.
Riri tersenyum manja kepada suaminya menandakan setuju, malam ini pun keduanya berolahraga malam dulu sebelum tidur.
*****
Riri selesai membantu Bi Mina menyiapkan sarapan pagi untuk penghuni rumahnya. Setelah itu dia juga membuatkan kopi untuk suaminya sebelum ada yang mendahului. Tak lama semua penghuni rumah Ervan sudah berada di meja makan akan memulai sarapan. Suara ketukan sendok menyentuh piring mulai terdengar diruang makan.
"Abel, nanti ke sekolah di antar Pak Amin ya, Papa ada perlu sebentar sama Tante Miranda..." Ujar Ervan disela sarapan memecah keheningan.
"Ya Pa..." Balas Abel singkat.
Riri tersenyum senang berpikir suaminya akan berbicara dengan Miranda menyuruhnya untuk segera pergi dari rumah.
Setelah selesai sarapan Abel pergi bersama Pak Amin. Riri membantu Bi Mina membereskan sisa sarapan mereka, sedangkan Ervan mengajak Miranda naik ke lantai atas di meja kerjanya.
"Miranda, nanti siang kita akan bicara lagi masalah perusahaanmu dengan Mas Ervin, Aku juga akan mengajak Riri."
"Apa!! istrimu tidak ada hubungannya Van kenapa dia harus terlibat...." Kata Miranda terkejut mendengar penjelasan Ervan.
"Miranda, Dia bukan hanya istriku tapi dia adalah ibu Abel sekarang dia harus tahu, Aku tidak bisa memutuskan sendiri, aku harus mengambil keputusan bersama dengan Riri."
__ADS_1
"Van, dia hanya ibu tiri sedangkan itu semua peninggalan kakakku, bagaimana kalau dia membuat keputusan yang membuat aku semakin buruk..." Kata Miranda.
"Miranda, kau tidak perlu kuatir, Riri orang yang baik dan bijak dia tidak seceroboh itu..."
"Baiklah Van, kita liat saja nanti, untuk saat ini aku hanya berharap pada kalian..."
"Mudahan semua segera selesai Miranda, aku akan senang jika perusahaanmu kembali normal...." Balas Ervan.
"Terimakasih Van, Amanda sangat beruntung dulu pernah bersamamu..."
"Dan sekarang aku beruntung bisa bersama Riri menemani hidupku..." Balas Ervan. Miranda hanya tersenyum tanpa menanggapi.
Sebenarnya Ervan ingin mengatakan pada Miranda kalau dia tidak bisa lagi tinggal dirumahnya, tapi lidahnya seolah tak sampai hati mengatakan itu.
Bagaimana ini, kenapa aku tidak tega harus menyuruh Miranda pergi, tapi Bagaimana kalau Riri bertanya pasti dia akan marah lagi, baiklah kita bicarakan saja nanti setelah membahas nasib perusahaannya. Ervan
"Apa ada hal lain..." Tanya Miranda.
"Aku rasa tidak ada, ayo kita turun..." Kata Ervan bangkit dari tempat duduknya.
Kini keduanya turun dari tangga di sambut Riri yang sudah membawa tas dan safety helmet suaminya. Riri merasa senang langsung merangkul tangan suaminya tanpa memperdulikan Miranda.
"Mas gimana, jadi kapan dia pergi..." Bisik Riri pelan pada suaminya.
Ervan melihat jam Tangannya menghindari pertanyaan Riri. "Sayang, Mas udah telat, nanti siang siap-siap Mas jemput kita ke kantor Mas Ervin." Sela Ervan mengantungkan pertanyaan Riri yang membuat istrinya binggung menyimpulkan.
Ervan mengecup kening Riri dan bergegas menaiki mobil. Kini mobilnya menjauh dan berlahan tak terlihat dipandangan Riri.
Jadi kapan dia pergi. Riri
.
.
.
.
.
.
. Next.....
terima kasih udah setia dan sabar menunggu up dari author.
Jangan lupa selalu author tunggu biar semangat Like komen VOTe nya 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1