
Setiap hari Sabtu perkuliahan libur, dan hari setiap Sabtu juga aku yang giliran menjaga toko.
Biasanya papa hari sabtu pergi ke pasar induk di kota, berbelanja kebutuhan toko dan juga kebutuhan rumah.
Pergi dari toko naik mobil pick up terbuka sekitar jam 8 pagi dan biasanya kembali ke toko sekitar jam 2 siang.
Saat pergi mobil kosong tapi saat kembali mobil penuh barang dagangan.
Pagi ini aku tidak melihat ibu Retno, biasanya beliau setiap hari aku perhatikan selalu membeli roti untuk sarapan paginya.
Tapi hari ini tidak ada sama sekali padahal dari pagi aku yang jaga toko bersama Wawan.
Aku sibuk melayani pelanggan yang berbelanja, begini-begini juga aku lumayan mahir melayani bahkan menghitung belanjaan pembeli.
Selain papa menempelkan stiker harga di barang dagangannya, aku juga lumayan ingat beberapa harga.
Hanya kalau ada perubahan papa selalu mengingatkan untuk lihat di catatan di atas meja.
Karena memang beberapa barang kebutuhan terkadang ada yang naik tapi ada juga yang turun.
Biasanya seperti minyak goreng, telur dan gula yang sering naik turun harganya.
Akhirnya jam hampir menunjukkan jam 3 sore, dan aku baru saja beres membantu merapihkan belanjaan papa.
Sekarang tinggal ke atas merapihkan belanjaan buat rumah. Untung tidak terlalu banyak jadi segera beres.
Setelah merapihkan rumah, aku turun dan pamit ke papa untuk menemui ibu Retno.
"Nan, kamu jangan ganggu orang kost, engga enak loh. Siapa tahu orang sedang beres-beres atau sedang istirahat. lagipula ibu itu dosen di kampusmu, jangan terlalu dekatlah. Nanti kamu salah ngomong jadi engga enak, bisa-bisa penilaian beasiswa batal gimana," panjang lebar papa bicara.
"Papa..Ibu itu kan beda jurusan dan engga ngajar Nanan. Jadi Nanan engga masalah dong kalo berteman sama beliau," sanggahku sambil tersenyum pada papa.
"Iya paham, tapi menurut papa engga sudahlah, papa khawatir nanti jadi ada masalah nanti jadi tidak enak" papa mencoba menjelaskan padaku tentang kekhawatirannya.
"Pa... sekali inilah pa, masalahnya aku yang engga enak juga, siapa tahu beliau butuh bantuan beres-beres atau apa, kan beliau masih baru di kota ini. Lagipula kalau aku baik sama dia kan siapa ada nilai tambah buat aku, boleh kan pa?" aku merajuk.
"Yah terserahlah, jangan lama-lama saja di sana, kalau misal terlihat ibunya tidak mau diganggu, segera kamu kembali yah".
"Siap komandan," sambil kutempelkan tangan kananku di atas alis.
-----
Tok tok tok !!! ku ketuk pintu kamar Ibu Retno.
"Ya siapa yah?" tanyanya dari dalam.
"Nanan bu," jawabku.
"Eh iya tunggu sebentar!" katanya setengah berteriak.
Lalu pintu terbuka dan aku dipersilakan masuk olehnya.
"Ibu lagi apa bu? Apa sedang beres-beres dan yang bisa Nanan bantu?"tanyaku padanya.
"Hahaha...engga lagi apa-apa Nan, sabtu adalah drakor time..Hahaha," jawabnya sambil tertawa.
Sontak mataku membulat kaget, orang yang katanya galak, jutek, keras, dingin dan killer ternyata pecinta drakor. (Drama Korea)
__ADS_1
"Waduh bu, Nanan aja ga suka loh nonton drakor... Hahaha.. Ibu ternyata pecinta drakor...luar biasa," ujarku tertawa sambil sedikit terkejut.
"Iyalah Nan... hiburan dong biar engga stress," katanya lagi sambil tertawa.
Rupanya kamar Ibu Retno sudah rapih, tidak tampak banyak barang, mungkin belum banyak.
Ibu Retno juga titip mencuci setrika ke Ibu Yayah sesuai rekomendasi papa.
Kami juga mempergunakan jasa setrika ke Ibu Yayah, kalau mencuci pakaian sendiri begitu bersih-bersih rumah, aku dan papa suka bergantian.
Diatas toko adalah rumah kami, isinya cuma 2 kamar tidur, ruang keluarga, dapur merangkap ruang makan dan kamar mandi.
Lanjut kami mengobrol saling tukar cerita, tentang mamaku yang sudah tiada juga tentang ibu Retno yang ternyata benar belum menikah. Tapi aku belum berani bertanya apa sebabnya beliau belum menikah.
Tak terasa waktu sudah menjelang malam perut terasa lapar.
" Nan..Makan yuk dimana yang enak, suwer saya dari pagi belum ketemu nasi cuma diganjal roti saja. Semalam saya pulang kebetulan toko papa mu masih buka, jadi beli roti buat tadi pagi saya makan".
"Nah ibu mau makan apa? dekat sini ada nasi goreng lumayan enak bu," kataku memberitahunya.
"Wah oke juga tuh, kita makan disana saja yuk Nan," ajaknya padaku.
" Hayuk bu, sebentar Nanan pamit ke papa dulu sambil ambil motor yah".
" Waduh papa nya nanti marah lagi engga tuh yah," katanya lagi.
"Tenang bu, serahkan sama Nanan," sambil aku berjalan menuju rumah.
Aku bergegas masuk ke rumah untuk pamit ke papa sekalian mengambil motor.
Tampak papa bersama Wawan sedang berbenah akan menutup toko, seperti biasa toko kami akan tutup jam 7 malam setiap harinya.
" Hmmm, cari makan kemana? ini malam minggu jalan ramai loh. Banyak orang di jalan, nanti ada yang ngebut atau mabok segala gimana coba," Papa seakan tidak memberi ijin.
"Cuma ke Nasi Goreng Sapri aja kok, ga jauh-jauh juga pa.. kesian bu Retno belum tahu tempat cari makan dan dari pagi cuma makan roti yang dibeli dari toko semalam saja katanya," aku coba memberi penjelasan pada Papa.
" Ya terserah, cuma aneh saja kamu tampaknya dekat sekali dengan ibu itu. Bukan apa-apa cuma khawatir saja papa ini. Karena ibu itu dosen di kampusmu, khawatir kamu salah ucap atau salah berlaku kepadanya. Karena kamu sedang dalam proses penerimaan beasiswa itu nak," Papa kembali mengungkapkan rasa khawatirnya.
Wajar sih karena mungkin Papa juga tidak mau aku sampai gagal mendapatkan apa yang aku cita-citakan.
Aku rangkul bahu papa sambil tersenyum," Papa ku sayang, percaya sama Nanan kan.. Nanan akan berusaha menjaga bicara dan sikap. Papa jangan terlalu khawatir yah karena ibu itu bukan dosennya Nanan".
Papa kemudian menghela nafas sambil mengacak rambutku. "Iya papa percaya, ya sudah sana. Jangan terlalu malam pulangnya yah".
" Siap boss," jawabku.
Kemudian aku menyalakan motor dan ketika akan menjemput ibu Retno ke belakang ternyata orangnya sudah ada di depan toko.
"Wah ibu sudah di sini saja rupanya," kataku sambil tertawa.
"Iya, biar Nanan gampang engga usah jemput ke belakang lagi," katanya sambil tersenyum lebar.
Lalu beliau melihat papa dan menganggukan kepalanya tanda minta ijin sambil masih tersenyum.
Dan papa juga tampak membalas anggukan kepalanya sambil membalas senyuman ibu Retno.
Dalam hatiku tumben sekali pria itu bisa senyum tulus seperti sama perempuan, biasanya orang senyum cuma dibalas anggukan saja sambil wajahnya tetap flat.
__ADS_1
Jangan-jangan si pria tua ini ada hati nih sama ibu Retno.
Hihihihi...Aku tertawa kecil dalam hati, sambil berharap ada secercah kecil sinar yang bisa meluluhkan hati es nya papa ku.
Tak lama kami sampai di Nasi goreng Sapri, itu tempat jualan favorit kami. Karena enak rasanya dan juga kalau kami yang beli selalu banyak imbuhan ayamnya.
Aku dan papa pelanggan setia. Selain nasi goreng, biasanya papa pesan kwetiaw goreng. Dan Mang Sapri sudah hafal betul selera papaku, kwetiaw goreng telornya 2 , yang 1 diaduk dengan kwetiaw dan 1 lagi diceplok mata sapi.
Seperti biasa selalu ramai pengunjung, aku tanya Ibu Retno mau pesan apa? Mie goreng atau nasi goreng atau kwetiaw goreng atau bihun goreng, seakan aku asisten mang Sapri yah..hihihi..
Dan Ibu Retno pesan nasi goreng sama seperti aku, aku bilang ke mang Sapri 2 nasgor kemudian kami mencari tempat duduk di dekat trotoar jalan.
"Ibu tidak apa-apa makan di pinggir jalan begini?" tanyaku takut beliau risih malu karena makan di pinggir jalan.
"Saya nanti habis makan bayar loh, kalau saya habis makan kabur baru saya malu," jawabnya padaku sambil tertawa ringan.
Akupun tertawa membenarkan apa kata ibu Retno.
Sejauh ini aku ngobrol sama beliau asik sekali, tidak ada penghalang misal sok jaim atau sombong bagaimana gitu.
Sungguh orangnya rendah hati dan enjoy sekali.
Sambil menunggu nasi goreng, aku iseng bertanya kepadanya
" Bu.. maaf nih aku mau nanya tapi jangan marah yah".
"Mau nanya apa sih Nan masa saya marah kan belum tahu kamu mau nanya apaan," jawabnya.
"Gini Bu, kata teman-teman anak Teknik dan juga gosip yang beredar di anak tingkat satu matematika, konon ibu terkenal galak dan jutek abis. Bahkan dipanggil ibu Tiri, aku engga tahu kan tidak diajar sama ibu," kataku mencoba klarifikasi sambil deg-degan takut beliau marah bubar deh acara.
Tapi ibu Retno malah tergelak.
" Emang iya saya ibu Tiri..hahahahha, nama saya kan Tri Retno Handayani... Hahahaha".
Aku juga jadi ikut tertawa.
" Nan...saya tanya nih kalau di jurusanmu pasti ada dosen galaknya kan? Kalau tidak salah Ibu Nuraini yang mengajar English Pronunciation, betul tidak?" berbalik tanya padaku.
"Hmm iya sih.... Wah ibu Nuraini sih luar biasa, salah ucap panjang deh urusan... Bahkan ke angkatan atas seperti kami sih lebih keras bu," jawabku menguraikan tentang ibu Nuraini
"Nah itu dia, sama saja saya dengan beliau, kami berusaha menjadikan mahasiwa menjadi sarjana yang benar dan berkualitas setelah lulus nanti".
Iya juga sih, aku jadi membandingkan mungkin Ibu Retno ini mirip dengan singa betina di jurusan kami yaitu ibu Nuraini.
Beliau sangat fasih berbahasa Inggris, juga dengan ucapan dan ejaannya. Kalau istilah bahasa Indonesia sih EYD lah..(Ejaan Yang Disempurnakan).
"Cuma bedanya, ibu Nuraini sudah menikah, sementara saya belum menikah. Kata orang sih perawan tua... hahahah...biasalah perawan tua kan selalu istimewa," lanjutnya lagi sambil tertawa renyah.
Sementara aku jadi tidak enak hati mendengarnya, khawatir ibu Retno akan tersinggung olehku.
Tak lama nasi goreng kami tiba, dan kami sambil makan lanjut cerita seputar kampus.
Triiiit..triiit..!! ada chat masuk..dari papa rupanya.
P: Nan, masih lama ga?
N: Bentar lagi, napa sih pa?
__ADS_1
P: Lapar nih, papa juga mau Kwetiaw yah biasa ðŸ¤
N: Wew...oke deh...