
Raffa
Setelah puas bermain air dengan istri di kamar mandi. Malam ini kita berdua menghabiskan waktu di ruang keluarga. Saya menyamankan posisi tidur terlentang dalam pangkuan Aline. Saya begitu menikmati belaian tangan Aline yang mengelus kepala ini. Ya ampun rasanya masih seperti mimpi merasakan sentuhan dari istri saya lagi, saya sangat merindukan saat seperti ini bersama Aline. Kemarin, bahkan tidur saja saya tidak bisa tenang, di kepala saya hanya dipenuhi Aline, Aline dan Aline.
Aline mendekatkan wajahnya ke arah saya, dia dengan manja menggesekkan hidungnya ke hidung saya. Saya kecup sekalian bibirnya yang hanya berjarak beberapa centimeter dari wajah saya.
"Ih Mas," keluhnya dengan suara manja.
Saya sangat bersyukur Aline akhirnya kembali ke rumah. Jika tidak, entah saya bisa atau tidak bertahan sendiri tanpa Aline.
Saya berbalik menghadap perut Aline. Saya cium dan menggesekkan kepala disana.
"Mas geli ih," Aline berusaha menjauhkan perutnya.
Saya bangun menatap istri saya. "Makasih Lin, sudah memaafkan suamimu ini."
"Aku juga nggak bisa jauh-jauh dari kamu lagi Mas." Aline memeluk saya dengan posesif, ternyata kita berdua sama - sama saling merindukan.
"Kita nggak akan berjauhan lagi," balasku. Saya mendekap Aline, mengecupi lekuk lehernya, mengendus aroma tubuhnya yang membuat saya candu.
"Mas, udah ih ...." keluh Aline, ia mendorong wajah Saya. Saya tahu dia takut kita akan mengulangi pagelaran budaya tadi.
"Sekali lagi Sayang, Mas masih kangen sama kamu,"' goda saya menyadarkan kepala di pundak Aline.
"Mas, ih ... tadi udah lama loh. Mas nggak lapar apa."
"Nggak sayang, Mas bercanda kok," balasku mencubit hidungnya.
Aksi manja-manjaan ini terhenti ketika menyadari suara banyak langkah kaki yang masuk dari pintu utama.
Saya dan Aline berdiri memastikan ada apa di luar sana.
"Surprise!" Tenyata muncul Mami Tiara dan Papi Adrian dengan ceria.
Saya dan Aline tersenyum canggung. Saya menghembuskan Nafas lega, untung Aline sudah pulang ke rumah, kalau tidak! habis riwayat saya.
"Senang deh kita lihat kalian bahagia gini," Papi Adrian menepuk pundak saya.
"Aline," Mama juga muncul menyerobot Mami dan papi. Mama langsung memeluk Aline dengan cemasnya. Setelah itu saya lihat mata Mama nampak berbinar bahagia.
"Mama kenapa sih, bahagia begitu lihat Aline, kayak Aline habis hilang saja." Papa juga ada! kini merangkul Mama. Dan ucapan Papa benar. Sekali lagi, saya masih beruntung Aline pulang malam ini.
"Ma, Pa, Mi, Pi. Kenapa nggak kasih kabar mau kesini." Aline berhambur memeluk orang tua kita.
"Kalo di kasih tahu namanya bukan kejutan dong," Mami nampak bahagia.
Andai mereka datang beberapa menit yang lalu, pasti wajah saya habis di hajar lengan berotot Papa karena menantu kesayangannya pergi dari rumah.
"Kita mau kasih sesuatu untuk kalian. Ayo kita masuk, jangan di luar gini kayak mau grebek pasangan mesum aja," ucap Papi menyerobot masuk ke dalam rumah.
Sebenernya ada apa ini? Tidak biasa-biasanya orang tua kita ngumpul malam-malam begini.
__ADS_1
"Jadi ... Kita kesini mau kasih ini buat kalian!" Mami menyerahkan lembaran voucher untuk kita.
Saya meraih voucher itu. Membaca sepintas ada tulisan Ibiza.
"Papa lega, tenyata perjodohan kalian berjalan dengan harmonis dan kalian kelihatan bahagia."
Saya hanya tersenyum merangkul Aline menanggapi ucapan Papa. Tidak tahu saja mereka beberapa menit lalu, hubungan kita antara ada dan tiada.
"Selama kalian menikah, kalian belum sempat honeymoon, ini hadiah dari kami untuk kalian," sambung Papa dengan semangat.
"Pa, kenapa harus mikirkan honeymoon kita, bagaimana dengan omah? Apa pantas kita melancong ke luar negeri sedangkan omah sakit."
Jujur! Saya sampai tidak terpikir untuk acara yang bernama honeymoon. Di awal menikah, bisa hidup dengan Aline dengan tenang saja sudah sangat bersyukur. Tapi siapa yang sangka saya sekarang jadi tergantung dengan Aline, bahkan tidak mendengar suara berisiknya sehari saja saya mulai panik.
"Itulah Raf, kalian bisa menikmati bulan madu sekaligus menjenguk omah di Amsterdam," balas Papa lagi.
"Ya, anggap saja kalian sambil menyelam minum air. Kalian berdua masih hangat-hangatnya, butuh waktu beberapa saat untuk berdua untuk menghasilkan bibit-bibit unggulan," ucap Papi Adrian sambil cekikikan.
Antara senang dan binggung sih sebenarnya kenapa honeymoon ini sangat mendadak sekali.
"Pa, Pi, Mas Raffa kan punya tanggung jawab di kantor. Itu tidak bisa dong di tinggalkan begitu saja." Usul Aline.
"Itu nggak usah kalian pikir, masalah cuti sudah papa bicarakan dengan Bu Bos kita," sambung Papa.
"Benar Raf, Lin, kalian butuh waktu berdua untuk saling dekat satu sama lain. Syukur-syukur nanti pulang honeymoon kalian bisa bawa oleh-oleh kabar baik untuk kita." Mama Riri memegangi perut Aline.
"Itu maksudnya, uji kejantanan Raf!" sahut siapa lagi kalau bukan papi.
"Gimana Sayang, kita berangkat lusa," saya menoleh ke arah Aline. Aline mengangguk malu-malu, kenapa istri saya jadi pendiam begini.
Kedua orang tua kita tertawa bahagia, mereka ini, bahkan untuk urusan bulan madu saja mereka ikut turun gunung.
"Selamat bersenang-senang ya Sayang, kalau Raffa macem-macem sama kamu tinggal lapor sama Papa." Papa merangkul menantu kesayangannya.
"Iya Pa, Raffa suami terbaik untuk Aline." Aline mengerlipkan mata pada saya.
Papa dan yang lainnya tersenyum bahagia melihat keharmonisan kita.
Saya tahu Aline menutupi semuanya. Tapi saya berjanji akan selalu menjaga Aline, bukan demi mama atau papa lagi. Tapi karena keinginan saya sendiri yang mencintai Aline, saya akan selalu ada untuk membuat dia dan tak akan pernah lagi buat dia meneteskan air mata.
"Aline buatkan minum dulu Pa, tenggorokan kalian pasti kering." Aline berdiri menuju dapur.
"Mas bantu Sayang."
Saya mengekor di belakang Aline, saya langsung peluk dia dari belakang karena tak terlihat dari ruang tamu.
"Kita dapat hadiah ke Ibiza Sayang. Kamu senang nggak."
"Ya Mas seneng, coba sekali-kaki ke benua Afrika pasti seru tuh kita honeymoon di rumah pohon sambil dijagain singa di depan kamar." Aline terkekeh.
"Kamu pasti nih mikirnya aneh-aneh."
__ADS_1
Aline berbalik menghadap ke arah saya.
"Aku siap honeymoon kemanapun asalkan sama kamu Mas," balas Aline
"Sekali lagi terimakasih Lin, kamu masih di samping Mas sampai saat ini." Saya mengecup kening Aline.
"Ehem, kalian lagi mesra-mesraan disini. Kita kehausan loh." Mama tersenyum - senyum mengagetkan kami. Dengan sigap Aline melepaskan diri dari pelukan saya.
"Maaf Ma, udah siap kok."
"Tunggu Lin," Mama mencegah tangan Aline yang meraih nampan.
Mama memegangi kedua pipi Aline. Kenapa lagi ini dengan Mama. Mama orang paling terpukul dengan kekhilafan yang saya lakukan pada Aline.
"Terimakasih Lin, kamu sudah berbesar hati mau memaafkan Raffa. Mama yakin kamu istri yang baik untuk Raffa. Dengan begini mama akhirnya bisa tenang."
"Ya Ma, Aline juga nggak bisa terlalu lama jauh dari Mas Raffa, terlanjur bucin."
Begitulah istri saya, ia terlalu jujur mengumbar perasaan.
"Raffa janji nggak makan sakiti Aline lagi Ma." Saya merangkul pundak dua wanita berharga dalam hidup saya.
"Awas saja kalau sampai kamu sakiti Aline lagi, mama jewer sampai telinga kamu putus," ancam Mama.
"Bagus Ma,"
"Sayang! Suaminya bukannya di bela."
"Udah, ayo kita gabung dengan yang lain." Mama dengan semangat mengandeng Aline menuju ruang tamu.
Begitu bahagia rasanya melihat dua wanita yang saya sayangi kembali bahagia. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, termasuk saya. Saya harus segera luruskan masalah dengan Alesa. Saya tak ingin lagi ada kesalahan pahaman di antara kami.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung .........
Sori Ei baru bisa up😘😘😘
__ADS_1