Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP55-S2// Restu


__ADS_3

"Davin dari mana saja kau! setelah memutuskan pertunangan dengan Kayla, apa kau juga lupa tanggung jawabmu dikantor!" kata Pak Hendrawan penuh emosi.


Davin menghela nafas mengambil langkah tenang, ia mencoba untuk tidak terpancing emosinya. Sedangkan tangan kanan Davin sudah menahan dada Nolan yang terlihat geram mulai terpancing emosinya.


"Pa, aku tidak pernah melupakan tanggung jawabku di kantor, aku sudah serahkan semuanya pada Amar dan juga yang lain. Aku juga memantau setiap hari meskipun di luar kota." Davin berkata pelan, berusaha menenangkan emosi sang ayah.


"Davin! Kenapa kau jadi seenaknya sekarang? kalau begini terus apa dewan akan memilihmu menjadi Presdir! kau adalah calon penerus perusahaan Adiguna!" bentak Pak Hendrawan lagi.


"Pa, kenapa Papa selalu menekan-nekan Bang Davin. Biarkanlah dia menyelesaikan urusannya dulu!" gertak Nolan geram.


"Diam kamu No, tahu apa kamu masalah Papa!" Bentak Pak Hendrawan sambil menunjuk Nolan.


Davin berdiri dan mencoba menenangkan ayahnya yang terbawa emosi.


"Pa, tenang Pa. Kalau memang ada yang lebih baik dari Davin untuk menjadi presdir dari keluarga besar kita, kenapa tidak."


Plaaakk. Tamparan keras mendarat di pipi kiri Davin. Pak Hendrawan menunjuk wajah putranya.


"Kamu sudah kehilangan pikiran sehat kamu, semua jadi berantakan semenjak kamu mengejar anak Ervan!" bentak Pak Hendrawan.


"Pa, tolong jangan libatkan Abel!" Davin menjadi marah mendengar nama kekasihnya.


"Memang kenapa? itulah kenyataannya. Sampai kapanpun Papa nggak akan merestui kamu dengan anak Ervan yang tak berguna untuk keluarga kita." Pak Hendrawan masih sangat kesal.


"Dan sampai kapanpun wanita yang akan Davin nikahi hanya Abel, dengan atau tanpa restu Papa!" seru Davin mulai geram.


"Davin! isi kepalamu sudah tak bisa berpikir jernih karena wanita itu!"


"Pa! cukup Pa! Papa tidak tahu siapa Abel sebenarnya!" Nolan juga ikut berdiri mulai geram tidak bisa menahan diri mendengar semua hinaaan pada Abel.


Pak Hendrawan dan Davin fokus melihat Nolan yang ikut berdiri. Pak Hendrawan dengan tatapan sinis menanti perkataan Nolan, sedangkan Davin menggelengkan kepala memberi isyarat memohon pada Nolan agar tidak memberi tahu Papanya kenyataan yang sebenarnya.


"Dia gadis yang baik dan Sholeha, dia wanita impian semua laki-laki untuk dijadikan istri." Kata Nolan yang terpaksa menutupi kebenarannya karena isyarat Kakaknya.

__ADS_1


"Papa tidak peduli, ya ampun! Kenapa sekarang kedua putraku jadi tidak berguna!" Kata Pak Hendrawan kesal dan memilih pergi karena lelah berdebat dengan putranya.


Nolan mencoba menenangkan Davin dengan merangkul pundak Kakaknya, begitu pula dengan Davin yang membalas menepuk tangan Nolan mengisyaratkan dirinya baik-baik saja.


"Bang, Kenapa kau tidak biarkan aku bilang pada Papa kalau Abel pemilik Wilson palm atau pemegang saham kepemilikannya di WPH." Nolan sedikit geram berusaha mencari tahu alasan Davin, Nolan mengetahui kebenaran Abel dari Kakaknya setelah mereka kembali akrab.


"No, dengar. Abang cuma mau keluarga kita atau keluarga besar kita menerima Abel sebagai istri Abang karena Abel wanita pilihan Abang yang luar biasa dan Abang cintai, bukan karena dia pemilik Wilson Palm atau pemegang saham kepemilikan di WPH." Davin mengutarakan alasannya pada Nolan.


Nolan terdiam merenungi perkataan Kakanya. "Kau juga luar bisa Bang, aku tidak akan ragu lagi sekarang kau memang yang terbaik untuk Abel." Kata Nolan diantara perasaan senang dan dukanya. Ia menunduk agar sesuatu yang akan keluar dari matanya tidak jatuh dihadapan Kakaknya.


"Kau juga luar biasa No, kaulah orang yang paling luar biasa diantara kami." Kata Davin memeluk adiknya. Davin merasa adiknya lah orang yang paling kuat di dalam perjalanan cintanya dan Abel.


"Bang aku boleh mandi? sejak kemarin aku belum mandi loh." Canda Nolan pada kakaknya yang memeluknya erat.


Dengan refleks Davin melepas tubuh Nolan dan mendorongnya. "Kau jorok No, cepat pergilah ke kamar mandi."


Nolan tertawa renyah. "Siapa suruh meluk adikmu terus." Nolan memberi candaan supaya suasana tegangnya mencair dan menutupi luka hatinya.


"Oh ya No, Abel suruh Abang belajar ngaji, ajari Abang ya," ujar Davin.


"Gampang Bang, yang penting ada niat dan keseriusan, ingin bisa Insha Allah lancar belajarnya."


"Amin, makasih No," ujar Davin senang.


Davin pun keluar dari kamar Nolan setelah percakapan kebahagiaan dengan adiknya, ia juga ingin beristirahat sejenak melepas lelah setelah perjalanan tadi.


*****


Keesokan malamnya, Abel yang yang berada di dalam kamarnya mondar-mandir melihat jendela. Ia menunggu kedatangan Davin yang berjanji malam ini akan menemui Papanya.


Terdengar dari balik jendela kamar, suara mobil yang berhenti didepan rumahnya. Abel seketika melihat ke arah bawah halaman rumahnya. Orang yang diharapkan Abel ternyata sudah perlahan berjalan menuju pintu rumahnya. Abel memegangi dadanya yang mulai berdebar. Dia berharap semuanya akan berjalan dengan baik meskipun tidak akan mudah meluluhkan Papanya.


Di sisi yang lain, keluarga Ervan menikmati waktu santai di hari libur di ruangan keluarga tanpa Abel. Keseruan mereka terhenti ketika Bi Mina memberitahukan ada tamu yang datang.

__ADS_1


Ervan langsung bangun dari sofa menuju ruang tamu ketika mendengar seseorang mencari dirinya. Matanya langsung terbelalak melihat siapa yang menemuinya. Emosi Kembali memuncak dalam kepala, rasanya dalam hati hanya ingin menyeret orang yang ada dihadapannya keluar dari rumahnya.


"Mau apa lagi Davin, tolong sekarang pergilah dari rumahku!" gertak Ervan yang masih berusaha menahan emosi.


"Mas, tenang dulu Mas, bisa kah kasih kesempatan untuk Davin berbicara," seru Angga yang kebetulan muncul dari balik pintu utama. Abel sengaja meminta pamannya untuk datang ke rumahnya untuk menjadi penengah Papanya dan Davin.


"Angga, kau tak tahu masalahnya, apa yang dilakukan orang ini pada Abel." Kata Ervan menunjuk ke arah Davin yang masih diam.


"Mas, aku tahu Mas, tidak ada salahnya kita dengarkan maksud Davin dulu." Angga berusaha menenangkan Ervan lagi dan berhasil.


Kini ketiga lelaki dewasa duduk di sofa dengan tenang. Angga memberikan isyarat pada Davin agar mulai bicara.


"Mas, aku tahu dan sadar, kata maaf ribuan kali yang aku katakan pada Mas Ervan dan keluarga nggak akan bisa cukup menembus semua kesalahan yang sudah aku lakukan pada Abel, aku kesini untuk memenuhi janji aku sama Abel. Mas aku ingin meminta restu Mas Ervan untuk bisa bersama Abel lagi memulai semuanya. Aku ingin Mas merestui aku untuk bisa menjadikan Abel wanita yang akan mendampingiku seumur hidupku Mas," ungkapan Davin.


Ervan malah semakin emosi dan berdiri menunjuk Davin, "Davin, simpan kata manismu itu, hebat sekali kau bermuka dua. Anakku tidak akan kuserahkan pada Lelaki serakah sepertimu!"


Davin ikut berdiri berhadapan dengan Ervan. "Mas, mungkin akan sulit membuat Mas percaya lagi padaku, tapi yang aku katakan benar Mas. Aku sangat mencintai Putrimu dan meminta izin untuk menjadikannya Istriku."


.


.


.


.


.


.


.


NEXT.......

__ADS_1


Thor lanjut kok sabar


Beri semangat author pencet LIKE tombol jempol ketik KOMENT yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas kalian.


__ADS_2