Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP7-S2// Peralihan


__ADS_3

Matahari mulai terik disiang ini, Siang ini Abel bersiap ke perusahaan milik keluarga Wijaya untuk menandatangani peralihan perusahaan yang dikelola Miranda berserta aset-asetnya kepada pemilik seharusnya.


Abel menenguk jus buah apel segar untuk mengobatinya kekeringan di tenggorokannya. Sambil menunggu Papanya datang, dia menyempatkan diri membaca pesan yang dikirim oleh Davin yang memberitahukan kalau mobilnya sudah bisa di ambil nanti sore.


Tak lama menunggu, suara klakson mobil terdengar dari dalam rumah, Abel mengambil tasnya dan merapikan sedikit jilbabnya yang mulai kusut. Dia beranjak dari meja makan bergegas keluar, tak lupa dia pamit pada Mama tercinta dan Bi Mina yang sibuk di dapur.


Abel masuk kedalam bangku penumpang depan disebelah Papanya.


"Sudah siap?" Tanya Ervan. Abel mengangguk sambil memasang seat belt.


Ervan melaju mobilnya menuju Wijaya Palm hills.


"Sayang, nanti setelah kamu tanda tangan peralihan, segala urusan akan dilaporkan ke kamu dan segala kebijakan yang akan diambil perusahaan harus atas persetujuan kamu." Jelas Ervan.


Abel bukannya senang malah mengeryitkan dahinya. "Kayak berat banget Pa tanggung jawab Abel," protes Abel.


"Papa kan sudah pernah bilang, diperusahaan itu ada orang-orang ahli yang bekerja, nanti kamu tinggal setuju apa nggak dengan kebijakan-kebijakan mereka."


"Ya Pa..." Balas Abel.


"Angga juga kerja diperusahaan kamu sayang, sekarang dia kota T." kata Ervan memberi info.


"Beneran Pa, Paman Angga kerja diperusahaan Abel." Jawab Abel senang, Abel memang dekat dengan Angga dibandingkan dengan paman-pamannya yang lain dari keluarga kandung.


"Ya Sayang, dia bantu Miranda di perkebunan." Balas Ervan.


"Oh ya Pa, nanti pulang dari kantor Om Ervin kita ke bengkel ambil mobil hitam, kata orang bengkelnya udah siap." Cerita Abel.


"Oke, gimana cowok yang kemarin bantuin kamu, kamu udah kabarin dan bilang terima kasih." Tanya Ervan.


"Udah Pa, malahan nawarin mau jemput Abel buat ke bengkel bareng." Ujar Abel senang.


"Bilang sama cowok itu nggak perlu, kamu akan ambil mobil sama Papa." Tungkas Ervan.


Abel langsung cemberut menoleh kearah Papanya. "Tapi Pa.."


"Nggak ada tapi-tapi...." Balas Ervan lagi.


Abel langsung cemberut mengucek-ucek tangannya, dia kesal dengan Papanya. Angannya kembali bertemu Davin menguap seketika. Dandan secantik mungkin pun sia-sia.


Mobil Ervan kini memasuki area Wijaya palm hills, kedua turun memasuki area perkantoran. Keduanya berjalan menyusuri lorong menuju ruang meeting yang diarahkan oleh Ervin. Tapi sebelum sampai di ruang meeting, Abel dikejutkan dengan keberadaan sahabatnya yang nampak sedang memfotokopi sebuah lembaran-lembaran kertas.


"Pa, Abel mau temui Rena, Papa duluan aja...." Kata Abel menunjuk Rena di sebuah ruang mesin fotocopy. Ervan melirik ke arah Rena dan mengangguk.

__ADS_1


"Rena, kamu kerja disini!" Abel memeluk sahabatnya dari belakang.


Rena pun tersentak kaget bahagia, langsung menoleh ke arah Abel. "Abelong, aku kangen banget sama kamu..." Balas Rena.


"Ah lebay, kita kan nggak ketemu baru enam bulan." Seru Abel.


"Ngomong-ngomong kamu nggak kuliah, kenapa kamu kerja." Tanya Abel lagi.


"Aku kuliahnya sore Abelong, siang aku kerja disini buat tambahan uang jajan sama bayar SKS, aku senang banget om Ervan mau kasih kerjaan ini sama aku yang masih kuliah...."


"Ya keluarga aku memang dari keturunan orang yang baik hati dan tidak sombong." Seru Abel membanggakan diri.


"Kamu ngapain disini, kangen juga sama Om kamu..." Tanya Rena.


"Bukan...." Abel membisiki Rena tentang perihal kedatangan. Rena langsung terkejut mendengar penjelasan Abel.


"Abelong tolong kasih aku pekerjaan yang lebih layak calon ibu direktur, kita kan sabahatan dari bayi...." Ujar Rena senang.


"Rena, Kantor aku bukan disini tapi di kota T, Mau, lagian pekerjaan seseorang itu ditentukan dari kemampuan bukan dari persahabatan." Seru Abel lagi.


"Abelong aku nggak peduli mau si kota T atau di Papua sekalian aku nggak peduli, yang penting aku nggak jadi asisten sekretaris judes itu lagi bawaannya makan daging,"


"Makan hati kali, ya nanti ku pikirkan, ya udah aku ditunggu Papa, nanti kita ngobrol lagi aku juga mau curhat banyak." Tungkas Abel.


Memang judes sih, dia langsung membentak Rena yang hanya berbicara beberapa menit dengan Abel. Abel jadi iba dengan Rena, ingin menunjukkan kekuasaannya diperusahaan ini. Tapi dia urungkan niatnya karena mendapat pesan dari Papanya suruh segera menuju ruang meeting. Nanti lah Abel pikirkan nasib sahabatnya itu.


Abel memasuki ruang rapat yang sudah dipenuhi puluhan orang. Dari puluhan orang ada sebagain yang dia kenal, salah satunya Tantenya sendiri, Miranda. Opahnya, Pak Toni Wijaya dan wajah-wajah tak asing lainnya.


Dia memilih duduk disebelah Papanya yang berjarak dua kursi dari layar monitor. Ervin mulai membuka rapat. Layar monitor mulai berisi tentang pembahasan isi rapat.


Dari halaman pertama, Ervin menjelaskan asal usul anak perusahaan WPH (Wijaya Palm hills) yang bernama Wilson Palm (WP) yang sekarang berkantor di kota T atas kepemimpinan Presiden direktur, Miranda Wilson.


Lanjut ke halaman kedua, pendanaan yang menopang majunya perusahaan hingga seperti ini. Hingga slide berikutnya tentang ribuan hektar lahan yang sudah dimiliki perusahaan. Kemajuan perusahaan yang sangat mumpuni dari tahun ke tahun dibawah naungan WPH. Selanjutnya keuntungan perusahaan dan aset-aset yang dimiliki perusahaan. Terakhir total pendapatan tersimpan yang dimiliki perusahaan.


Tubuh Abel bergetar melihat banyaknya nominal uang yang disebut Omnya, Ervin. Apa ini semua yang akan menjadi miliknya sebentar lagi. Pantas saja dulu Almarhum Mamanya bekerja keras, siang dan malam. Apakah dia akan seperti itu nanti setelah mendapatkan semua ini. Tapi mengingat omongan Papanya tentang perusahaan yang sudah ditangani orang-orang tertentu dan dia tinggal tanda tangan saja membuatnya lega kembali.


Dia melihat kembali nominal angka dilayar, tubuhnya merinding lagi membayangkan sebanyak apa uang itu kalau diwujudkan dalam bentuk fisik. Langsung juga seketika Abel membayangkan ingin membeli ini itu dengan uangnya, tapi dia menekan jiwa kayanya untuk tidak sombong dan belagu. Karena semua yang dimiliki dunia hanya titipan kita bawa ke akhirat hanya amal ibadah, tiba-tiba wajah ibu tiri kesayangan muncul soalah memberi nasehat.


Seluruh dewan direksi menanda tangani peralihan perusahaan bergiliran. Sampai pada Abel yang menanda tangani namanya yang kosong. Ervin menjelaskan lagi, kalau sekarang Abel resmi menjadi pemilik perusahaan WP yang dipimpin Miranda.


"Cukup disini rapat kita, terima kasih." Ervin menutup rapat.


Rapat selesai seluruh anggota dewan memberi selamat pada Abel dan mulai keluar satu persatu meninggalkan ruang rapat.

__ADS_1


Kini hanya tersisa Miranda, Ervin beserta asistennya, Abel dan Ervan.


"Abel, besok atau lusa kita akan ke kota T melihat perusahaan kamu disana." Kata Ervin pada Abel.


"Ya, Om...." Balas Abel.


"Sekarang seluruh pendapatan perusahaan milikmu, jika kau ingin sesuatu minta lah Mas Ervin." Seru Miranda terlihat tidak senang.


"Ya Tante, terima kasih...." Jawab Abel yang tidak menyangka dapat warisan sebanyak itu dari Mamanya. Ini bahkan ribuan kali lipat dari pendapatannya endorse produk dari Instagram.


"Terima kasih Miranda selama ini sudah mengelola dengan baik dana Abel." Kata Ervan pada Miranda.


"Tentu saja Van, aku akan berusaha yang terbaik." Balas Miranda tersenyum manis pada Ervan.


"Pa, pulang yuk, kita mau kebengkel loh." Sela Abel tidak suka melihat tatapan tantenya seorang janda kembang umur 40 tahun pada Papanya.


Dengan seketika Abel pamit dan menyeret Papanya keluar dari ruang rapat berjalan menyusuri koridor kantor.


Abel meraih ponselnya mengirim pesan pada Davin ketika berada didalam mobil.


Abel : Mas, Abel kesana sama Papa, Mas Davin nggak usah jemput Abel.


Davin : Ya udah cantik, aku tunggu disini. sampai ketemu.


Abel tersenyum-senyum sendiri membaca beberapa pesan lagi dari Davin.


"Kenapa...." Tanya Ervan penuh curiga sambil terus melajukan mobilnya.


"Nggak apa-apa Pa." Abel menggelengkan kepalanya langsung merubah wajah bahagianya menjadi datar sebelum Papanya curiga.


Kini keduanya menyusuri jalanan menuju bengkel yang akan sampai beberapa menit lagi.


.


.


.


**NEXT....


Perlu visual Miranda nggak???


Terimakasih udah sabar nunggu up dari author.

__ADS_1


Beri semangat author LiKE KOMMENT yang punya poin bisa berbagi VOTe.🙏🙏🙏 Loph ❤️U**


__ADS_2