
Untuk apa Bang Davin mencetak foto sebanyak ini, dari mana Bang Davin bisa dapat gambarku berbagai sudut ini?
Seorang pelayan perempuan masuk dalam kamar yang pintunya terbuka. “Maaf Nona, ada sepertinya salah Kamar. Ini kamar Tuan Nolan, kamar Tuan Davin disebelahnya.”
Abel membulat matanya merasa kaku seluruh tubuhnya. Bagaimana bisa Nolan melakukan semua ini?
ini kamar Nolan, Ada apa ini No. Apa kau masih belum bisa melupakan Aku. Ini salah No, Ini tidak benar! Kita harus bicara.
Abel masih duduk di tepi ranjang, dia masih berperang dengan pikiran yang penuh tanda tanya di kepalanya. Satu-satunya cara melegakan rasa gundahnya kali ini adalah berbicara dan menanyakan langsung dengan Nolan.
“Sayang!” Davin terlihat dari balik ambang pintu yang terbuka.
Dengan cepat Abel menutup foto-fotonya dengan selimut. Dia langsung memasang wajah senyum melihat suaminya mendekat menghampirinya.
“Kamu salah kamar Sayang, ini kamar Nolan.” Davin kini ikut duduk di tepi ranjang merangkul Abel.
“Ya Bang Davin Abel salah kamar, disini pintu yang bercat putih banyak. Abel ikuti feling aja.”
“Ya udah, sekarang ayo ke kamar kita.” Davin bangkit mengandeng tangan Abel.
Ketiganya kini keluar dari kamar Nolan, pelayan membersihkan area depan kamar. Sedangakan pasangan suami istri ini masuk ke dalam kamarnya.
Abel memasuki kamarnya yang sebenarnya sekarang. Kamar Davin memiliki perpaduan cat biru dan abu-abu. Kamar yang besar dengan desing rapi dan manly banget. Penataan isi kamar yang tersusun sempurna, ada banyak piala, rak buku mini dan banyak aksesoris khas pria. Eh! Tunggu Ada meja rias juga dengan tulisan di kacanya My beuty Abelia.
Usai mengagumi kamar barunya yang jauh lebih besar dari kamarnya dulu, Abel teringat lagi dengan kelakuan Nolan yang mencetak banyak sekali fotonya. Dan yang lebih parah! Kenapa dia taruh di tempat tidurnya. Apakah dia memandangi foto kakak iparnya sebelum tidur. Bukankah itu sangat tidak pantas! Nolan sudah berkata tidak akan lagi mengingat perasaanya pada dirinya, tapi kenyataaanya? yang dilakukan Nolan pasti akan menimbulkan rasa cemburu di hati suaminya. Abel mencoba menghembuskan nafasnya pelan. Dia mencoba berpikir positif tentang itu sebelum mendengar penuturan langsung dari Nolan.
__ADS_1
Tangan hangat memeluk pinggannya erat dari belakang membuyarkan semua lamunan Abel. Abel reflex membelai pipi suaminya yang sekarang di tepi pundak menciumi bahunya.
“Ini kamar kita Sayang, maaf Abang belum sempat renovasi catnya, nanti ubalah kamar ini sesuai keinginanmu.” Kata Davin yang kali ini menyingkap kerudung Abel.
“Nggak apa-apa Bang Davin, begini saja Abel suka,” balas Abel sambil merapikan rambutnya yang tak tertutup kerudung lagi.
“Mau coba ranjangnya nggak Sayang sambil nunggu magrib.” Davin lagi-lagi mengoda Abel sambil mencium leher putih istrinya, sedangkan tangannya juga sudah mulai mere-mas bagian tubuh kesukaanya.
Abel pun tersenyum menyiku perut suaminya. Dia tidak bisa menolak ajakan suaminya yang selalu saja mesum. Dia langsung di gendong Davin untuk menghangatkan ranjang untuk pertama kali di kamar suaminya.
*******
Usai bersuci dan menjalankan sholat magrib berjamaah di kamar, keduanya kini turun ke bawah untuk makan malam. Pertama kalinya makan malam bersama keluaraga suaminya, dia mendadak merindukan saat makan malam bersama bersama keluarganya di rumah. Mungkin sekarang mereka sedang melakukan hal yang sama di rumah. Bedanya Mama Riri yang memasak untuk keluarganya dan Abel membantu menyiapkan. Kalau di rumah ini Abel benar-benar tidak melakukan apapun selayaknya istri dan menantu karena seluruh urusan rumah sudah diserahkan pada para pelayan.
Kedua mertuanya sudah berada di meja makan, Abel dan Davin kini juga ikut bergabung. Tak lama Nolan juga terlihat menuruni tangga, hati Abel menjadi kesal melihat Nolan.
“Enggak masalah No,” balas Davin.
“Harusnya kau utamakan dulu Kakakmu No,” tegas Pak Hendrawan.
“Sudahlah Pa. Semua sudah berkumpul ayo kita makan.” Davin memulai makan malam dengan mengambil makanan yang terhidang terlebih dulu.
Nolan berusaha bersikap santai dengan sususan baru anggota keluarganya sekarang saat di meja makan. Kenapa ia masih saja tidak bisa meredam debaran dadanya melihat anggota baru keluarganya yang sekarang menjadi istri kakaknya.
Semua sudah fokus dengan piring dan sendok garpu masing-masing. Abel sesekali memperhatikan Nolan. Perasaanya mendadak kesal dan mengurangi nafsu makanannya meskipun perutnya lapar dan masakan yang dihidangakan sangat mengiurkan. Tidak ada obrolan yang serius selama makan hingga makam malam keluarga Adiguna pun berakhir.
__ADS_1
Abel mencari cara, bagaimana akan berbicara dengan Nolan? Karena dia sudah tidak sabar menunggu sampai besok pagi di tempat magang. Dia ingin mendengar penjelasan dari Nolan malam ini juga agar tidurnya nyenyak.
“Aku duluan,” Nolan bangkit terlebih dahulu.
Davin ikut menyusul mulai bangkit dari kursi akan mengandeng tangan Abel.
“Davin tunggu, bisakah kau ke ruang kerja Papa. Ada yang ingin Papa bicarakan tentang kantor.” Pinta Pak hendrawan.
Davin menoleh kearah Abel mengisyaratkan meminta ijin, Abel tentu saja mengangguk dengan semangat berharap ini adalah kesempatannya untuk berbicara dengan Nolan.
“Sayang, tunggulah Abang di kamar ya. Abang akan segera menyusul.”
“Bang Davin, apa Abel bisa menemui Nolan. Abel ingin tanya tugas dari Kak Sony selama Abel cuti.” Abel akhirnya menemukan alasan.
“Temui saja dia, kalau tidak di kamarnya mungkin dia di ruang music,” balas Davin tanpa rasa curiga sama sekali.
Davin mencium kening Abel, kemudian meninggalkannya menuju ke ruangannya yang tak jauh dari ruang makan. Bersamaan dengan Davin yang melangkah, Abel langsung menaiki tangga menuju kamar yang di masukinya pertama di rumah ini.
.
.
.
.
__ADS_1
Next...