
Pagi ini Riri bersiap ikut dengan suami dan anaknya satu mobil hendak ke dokter memeriksa kandungannya ke dokter. Setelah mengantar Abel ke sekolah, Ervan dan Riri melanjutkan perjalanan ke rumah sakit yang tak jauh dari sekolah.
Sesekali Ervan mengelus perut istrinya yang mulai membuncit sambil tangannya memegang kemudi.
"Terima kasih ya sayang sudah mengandung anakku..." Kata Ervan.
"Ya Mas, Riri juga senang sebentar lagi ada keluarga baru dalam keluarga kita." Riri tersenyum pada suaminya.
"Kamu mau punya anak berapa lagi sayang...." Seru Ervan lagi.
"Mau berapa ya Mas, pasrahkan sama Allah aja Mas, pengen sih banyak hihihi...." canda Riri pada suaminya.
"Bikinnya enak sayang, ngerawatnya yang susah, anak kita nanti harus kita bekali dengan pondasi agama yang kuat..."
"Ya Mas, AUuu...." Riri memengangi perutnya.
"Kenapa sayang? kamu nggak apa-apa sebentar lagi sampai RS kok." Ervan panik.
"Nggak apa-apa Mas, adeknya nendang Riri, Akhir-akhir ini dia sering nendang-nendang." Kata Riri senang, mengarahkan tangan suaminya pada gerakan bayinya. Ervan juga ikut senang bisa merasa ada getaran pada tangannya yang memegang perut Riri.
Tak lama berselang keduanya sudah sampai dirumah sakit, mendapatkan giliran pertama pasien prioritas, menunggu di kursi tunggu bersama pasien lainnya.
Ervan terus mengelus perut Riri merasa lucu melihat badan istrinya berisi dan perutnya buncit tanpa memperdulikan beberapa mata melihatnya.
Tak lama Riri dipanggil masuk ke dalam ruangan menemui dokter.
"Pagi Bu, bagaimana kabarnya." Tanya dokter Rida selaku dokter kandungan Riri.
"Alhamdulillah sehat dok, bayinya nendang terus dok akhir-akhir ini." Jawab Riri.
"Ayo baring dulu di sana, bayinya berarti sehat aktif." seru dokter.
Riri ke ruang USG, perawat memberi jel bening di perut Riri. Dokter mulai meletakan alat USG di perut bawahnya.
Gambar bayi Mungil mulai terlihat di layar 32 inc di hadapan Riri. USG 4 dimensi membuat wajah dan gerakan bayi Riri dan Ervan terlihat meski masih samar-samar.
"Mirip Mas sayang, anak kita." Ujar Ervan senang melihat bayinya dilayar.
"Mirip Riri mas," Kata Riri nggak mau kalah.
"Mirip ibu bapaknya," kata dokter membuat keduanya selesai berdebat, "Oh ya, Pak Bu bayinya laki-laki sehat." Kata dokter melihat layar.
"Alhamdulilah...anak kita jagoan Sayang." Kata Ervan mencium tangan Riri.
Riri tersenyum senang, "Alhamdulillah Mas, Abel pasti seneng."
Usai menjalani pemeriksaan, Ervan dan Riri ke apotek menebus resep obat dari dokter. Dengan bahagia Ervan dan Riri melangkah ke tempat parkir.
Didalam mobil Ervan langsung menciumi perut Riri merasa senang.
"Mas dirumah aja, Nanti kita dikira mesum loh..." Kata Riri pada Ervan yang geli melihat sikap suaminya.
"Mas gemes sayang, Papa nggak sabar nih nunggu jagoan papa keluar." Kata Ervan bicara pada perut Riri.
"Sabar ya Pa... sekarang Papa kerja dulu nanti telat loh" Kata Riri meladeni suaminya mendadak manja.
"Ya sayang..." mencium pipi Riri.
__ADS_1
Ervan menyalakan mesin mobil, melajukan mobilnya keluar dari rumah sakit mengantar Riri pulang ke rumah sebelum kembali lagi ke tempat kerja.
"Mas jangan lupa nanti sore antar Riri ke kampus ketemu Pak Adrian." Kata Riri pada suaminya.
"Ya sayang, bilang Adrian malam kita ketemu, Mas kayaknya habis magrib baru dirumh."
"Ya Mas, udah Riri kasih tahu, mudahan nggak ada revisi lagi Mas dan segera sidang, biar Riri fokus pada kehamilan Riri."
"Ya sayang... biar kamu nggak mikir yang lain lagi, fokus ke anak kita aja, Mas nggak tega perut kamu makin gede masih bolak balik ke kampus." Ucap Ervan.
Beberapa menit, Riri sudah dirumahnya, melambaikan tangan ke arah suaminya yang berlahan mulai tak terlihat.
******
Riri sudah memberitahu Abel, ibu dan mertuanya kalau menurut hasil USG bayi mereka sehat dan berjenis kelamin laki-laki. Seluruh keluarga merasa senang mendapatkan kabar bahagia dari Riri.
Malam ini usai melaksanakan sholat Maghrib di rumahnya, Riri bersama suaminya menuju Universitas B menemui Adrian perihal hasil skripsinya.
Riri Bergegas menuju digedung fakultas, sedangkan suaminya memilih menunggu di kursi taman kampus.
Mengetuk pintu perlahan, nampak seseorang sudah menunggu menunjukkan tumpukan kertas.
"Assalamu'alaikum Pak.." Sapa Riri.
"Wa'alaikumusalam Ibu buncit." Jawab Adrian, Riri langsung merenggutkan wajahnya.
"Udah nggak usah cemberut, memang fakta kok, tapi kamu tetep bumil gendut cantik." sambung Adrian lagi.
"Terserah Bapak! kayaknya lagi seneng nih Pak..." Sindir Riri melihat Adrian yang kembali normal seperti biasanya.
"Masa sih, biasa aja kok...." Sela Adrian.
Riri melihat skripsinya yang diberi tanda dengan seksama sesekali menanyakan apa yang perlu di baikin. Ponsel Adrian berbunyi dengan sigap mengangkat telpon.
"Ya, sayang..."
Tiara : Inget ya..nggak usah ngenit sama mahasiswa.
"Nggak akan Sayang, aku genitnya sama kamu aja, kamu telpon cuma ngingetin itu aja ini udah telpon yang ke lima loh..."
Tiara : satu lagi, Jaga jarak minimal satu meter sama mahasiswi cewe, jangan tebar pesona disembarang tempat.
"Tempatku cuma dihati kamu sayang, nggak akan bertebaran kemana-mana,"
Tiara : ya udah. telepon terputus.
Adrian mengelengkan kepala, Riri tertawa melihat ekspresi Adrian seperti habis di tuduh jadi tersangka.
"Pasti Kak Tiara ya Pak...." Kata Riri masih tak bisa menahan tawa.
"Ya siapa lagi kalau bukan Komandan baru kasih titah...."
"Masih cemburuan Pak, kak Tiara...." Tanya Riri lagi.
"Masih, tapi saya suka kalau dia cemburu, marahnya bikin orang gemes pengen godain terus." Balas Adrian.
"Bapak memang cocok sama kak Tiara, pinter bikin kak Tiara jadi meleleh kayak mentega."
__ADS_1
"Kamu bisa aja Ri, udah selesai belum periksanya, saya mau kasih kamu sesuatu."
"Udah Pak, mau kasih apa...."Jawab Riri.
Adrian mengeluarkan amplop putih bertulis undangan, kemudian menyerahkannya paada Riri.
"Undangan, ..." Riri penasaran membuka isi amplop dengan cepat.
"Alhamdulillah ...bener Pak." Riri bangkit sangat bahagia memengangi kertasnya mencium beberapa kali.
"Gimana seneng, itu undangan kamu buat sidang akhir Minggu depan, kamu mahasiswa pertama di angkatan kamu yang ikut sidang akhir." ujar Adrian ikut senang melihat Riri.
"Seneng banget Pak, terima kasih banyak pak..." Riri kegirangan.
"Nggak usah peluk saya sebagai tanda terima kasih, nanti kamu dimarahi Tiara.." Goda Adrian.
"Bapak kePD-an siapa juga mau peluk..." ledek Riri.
"Belajar yang bener ya, jangan lupa Jaga kesehatan kamu sama ponakan saya." Ujar Adrian pada Riri, Riri mengangguk mengiyakan.
"Siap Pak......"
Riri membereskan kertas yang masih berserakan di atas meja bersiap pulang.
"Permisi Pak, mau kumpul kuis Pak..." Salah satu mahasiswi membawa tumpukan kertas hendak masuk ke ruangan Adrian.
"Masuk Serly...." Seru Adrian, mahasiswi itu menaruh kertas di atas meja.
"Serly kamu tahu beda kuis sama kamu...." kata Adrian.
"Nggak tahu Pak, bedanya apa..." balas mahasiswa itu menyahut
"Pak, ada Kak Tiara..." goda Riri menunjuk jendela karena tahu Adrian mengoda mahasiswi itu.
"Mana....!!!.."Adrian panik melihat arah jendela.
Riri tertawa puas melihat dosenya, Adrian melempari Riri dengan permen merasa dijahili. Riri menahan tawa menyatukan tangan meminta ampun.
"Serly kamu boleh keluar, kuis sama kamu nggak ada bedanya." balas Adrian batal mencandai mahasiswinya.
"Ya elah Bapak..." Mahasiswi itu pun berpaling keluar ruangan.
Riri pun keluar dari gedung fakultas, tidak sabar memberi tahu suaminya.
.
.
.
.
.
. Next....
Sorry Zen kmren nggak up, lagi ada keperluan....segini dulu ya up nya.
__ADS_1
Makasih sudah sabar nunggu Up dari author,
Jangan lupa Like Koment Vote mu😁😁😁 yang merubah langkahku...🙏🙏🙏🙏🙏