
Abel begitu menikmati menu sarapan tambahannya dari Nolan. Abel yakin sekarang cacing perutnya akan bertahan hingga makan siang.
"Alhamdulillah, makasih No." Abel menyimpan di tempat sampah mobil bekas makannya.
"Kenyang?" tanya Nolan. Abel mengangguk mengiyakan.
"No, kamu tahu Fani staf keuangan?" tanya Abel.
"Nggak!"
"Kalau Sarah tahu dong yang pakai hijab juga, anak magang dari ITK," ujar Abel.
"Nggak!" balas Nolan.
Abel menghembuskan nafas kesal. "Aku mau kasih tahu kalau mereka kayaknya naksir sama kamu...."
"Abel! bisa nggak kamu diam!" bentak Nolan yang pusing mendengar Abel membicarakan wanita.
"Maaf... Maaf," sahut Abel kesal. Harapannya tak semudah itu terwujud.
"Aku mau konsentrasi nyetir!" bentak Nolan. Terciptalah keheningan selama menuju kantor.
Sesampai di halaman kantor, Abel langsung bergegas menuju ruangan. Dia harus bersemangat memulai magang lagi memanfaatkan waktu sebelum masa -masa magangnya berakhir. Tentu saja mata semua pegawai kantor terfokus pada kedatangan Abel dan Nolan, mereka mendadak bersikap ramah. Tapi Abel berusaha bersikap seperti biasa, begitu pula dengan Nolan yang malah tak peduli sama sekali. Orang kantor pasti sudah tahu sekarang Abel adalah istri dari salah satu petinggi Adiguna group. Meskipun pernikahan mereka di laksanakan di dalam hutan, tetap saja ada media local yang mencuri-curi untuk meliput. Pernikahan Abel dan Davin masuk ke dalam koran hingga TV local. Terlebih lagi ada satu halaman koran yang khusus memberi ucapan selamat.
Untung saja tidak di sebut juga Abel pemilik perusahaan naungan WPH, pasti semua kantor akan lebih heboh. Beruntung untuk Abel, tidak beruntung untuk Nolan. Kini satu kantor tahu kalau Nolan juga anak dari keluarga terpandang di kota ini. Tadinya Nolan sudah punya beberapa pengemar di kantor karena fisiknya yang ganteng dan rupawan. Abel yakin sekarang pengemarnya di kantor ini semakin bertambah, karena semua pegawai wanita yang mereka berdua lewati menuju ruangan mendadak memasang wajah manis dan mencari perhatian.
Abel segera melenggang ke ruangannya dengan Nolan sebelum tatapan semua orang semakin membuatnya salah tingkah.
“Cieh … pengantin baru tambah cantik, rukun lagi sama adik ipar,” kata pertama yang keluar dari mulut Sony melihat Abel.
“Ya, Kak Sony aku doain cepat nyusul,” balas Abel sembari duduk di kursinya.
“Ya Bel. Amiin!” balas Sony semangat.
Mendengar ucapan Abel, Sony mendadak kebelet nikah dan bertekad tak ingin jomblo lagi besok.
“Assalamualaikum Pak Adiguna. Selamat pagi,” sindir Sony pada Nolan.
“Wa'alaikumsalam. Kak Sony biasa aja, nggak usah lebay kayak yang lain!” balas Nolan.
Setelah saling bercanda mengoda Abel. Ketiganya kini mulai melakukan aktifitas perkerjaan masing-masing. Jam yang terus berputar hingga tiba waktu makan siang. Abel yang pasti akan pergi bersama Nolan makan siang di kantin.
Abel memilih menu makan kesukaannya dan segera menempati kursi yang di pilih oleh Timnya. Abel memilih duduk di dekat Nolan.
__ADS_1
Keduanya menikmati makan siang dengan nikmat tanpa obrolan dan candaan seperti di meja lain. Ya, Nolan orang yang sangat irit bicara jika tidak ada yang penting. Disela waktu makan semua karyawan nampak hormat dengan wanita cantik yang berjalan memasuki kantin, dia seperti akan berjalan menuju kearah Abel.
“Bu Jessi,” sapa Sony dengan sopan. “Ini semua anak magang Bu. Oh ya ini semua, perkenalkan Bu Jessi anak Pak Dirut di sini sekaligus wakilnya.”
Dengan serentak semuanya menghentikan aktifitas makan menyapa wanita itu. Setelah membalas sapaan, kemudian dia mendekat ke arah Abel.
“Kamu istrinya Davin Adiguna ya, Aku kesini hanya ingin tahu istri Davin yang ternyata magang disini.” Kata wanita yang bernama jessi itu.
“Betul Bu,” jawab Abel langsung berdiri berhadapan dengan wanita itu.
“Sekarang aku sudah tidak penasaran lagi, Davin tidak membuat pesta besar untuk pernikahannya. Tentu saja aku tidak bisa menghadirinya, selamat atas pernikahan kalian,” balas Jessi lagi dengan nada menyindir.
“Terima kasih Bu, kita memang hanya mengadakan pesta sederhana.” Abel berusaha bersikap sopan pada atasannya sekarang.
Jessi mendekatkan wajahnya ke telinga Abel akan berbisik. “Aku pernah bersama Davin. Hanya memberi saran, ketika kita bermain dia lebih suka aku di atas.”
Setelah berbisik kalimat yang membuat Abel tercenggang, Jessi pergi disusul agukan sopan semua orang yang satu meja dengan Abel. Abel berusaha memahami kata -kata dari Jessi. Tapi sekarang pikirannya gagal berpikir positif tentang ucapanya yang membuatnya kaku. Ya, Abel pernah mendengar dari Sony anak petinggi perusahaan ini pernah menjalin hubungan dengan suaminya.
Apa maksud Jessi berkata seperti padanya? jika itu memang berhubungan dengan hal yang sen-sual, kenapa dia merendahkan dirinya sendiri?Apa dia masih menyimpan rasa sakit hati dengan Bang Davin yang ia lampiaskan padanya?
Abel mendadak tidak nafsu makan, dia berpamit pada teamnya yang tidak tahu apa perkataan Jessi padanya. Abel berusaha berpikir positif tapi pikirannya terus mengarah ke hal yang bersifat sen-sual dan membuatnya sedih. Abel mulai mengembangkan pikirannya dengan beberapa spekulasi-spekulasi yang muncul begitu saja.
Apa memang aku istrinya bukan satu-satunya wanita yang tidur bersama Bang Davin. Sungguh aku merasa sangat jijik dan hina. Pasti itu tidak mungkin, aku harus percaya pada suamiku. Tapi kenapa sulit… Aku harus meminta penjelasan pada Bang Davin agar pikiranku tenang.
Abel masih terisak di toilet, kata Jessi mengiang di kepalanya. Ia menumpahkan semuanya sebelum kembali bekerja. Karena hanya di sini orang tidak tahu kegundahannya untuk saat ini.
“Abel, apa kamu baik-baik aja?” tanya Nolan penuh curiga.
“Tentu …,” jawab Abel menunjukkan wajah ceria. Nolan bernafas lega mendengar jawaban Abel.
*****
Sore hari, Abel menunggu di lobi kantor jemputan suaminya sesuai janji. Meskipun dia masih kesal dan rasanya ingin mengeluarkan lahar panas dari mulutnya ketika bertemu suaminya.
Mobil merah berhenti di depan Abel. Suaminya turun dari kursi penumpang belakang dan membuka pintu untuk Abel. Dengan memasang wajah kesal Abel duduk di paling ujung. Davin mengerutkan dahinya melihat bukan senyum bahagia di wajah istrinya ketika ia datang.
Abel menahan amarahnya karena dia tidak berdua dengan suaminya dalam mobil.
Davin langsung menarik tangan Abel mendekat ke tubuhnya. Ia masih bertanya-tanya ada apa dengan Abel mendadak jutek?
"Bang Davin, Abel hari ini mau nginap tempat Papa!" kata Abel datar. Ia merasa lebih tenang jika berada dirumahnya.
"Ya sayang, tapi kita pulang dulu ambil perlengkapan kita," ujar Davin mencoba bersikap tenang memahami Abel.
__ADS_1
"Nggak usah Bang, sekarang aja!"
"Tapi sayang, Abang kan belum bawa pakaian ganti untuk kerja besok." Davin masih mencoba bersikap tenang menghadapi Abel.
"Bang Davin suruh sopir antar aja kan bisa!" kata Abel lagi.
Davin mulai kesal dengan Abel yang bersikap jutek dan memaksa tanpa ia tahu apa penyebabnya.
"Sayang kamu kenapa sih!" Davin mulai kesal, tapi ia mencoba meredam kembali karena tak ingin ada perdebatan. Abel hanya diam dan tak ingin membahas masalah ini di mobil.
"Sayang, Abang nggak tau kenapa kamu jadi aneh begini, tapi kalau kamu ada masalah atau ada yang salah dengan Bang Davin kamu harus cerita."
Abel masih bisu dan berusaha menahan air matanya. Davin merangkul pundak Abel dan menyandarkan kepala di dadanya, ia kemudian menciumi kepala istrinya.
"Ya sayang, kita langsung ke rumah Papa sesuai keinginan kamu."
Abel hanya menurut kali ini tak ingin berdebat disini. Ia meringkuk di dada suaminya tapi matanya langsung membulat.
Kemarahan Abel semakin bertambah memuncak. Dia memang sedang kalut tapi hidungnya masih sangat normal untuk mengenali parfum suaminya dan parfum wangi lain dengan aroma lavender yang menempel di kemeja suaminya.
.
.
.
.
.
.
.
Next....
____________________________________________
Zen : Thor katanya mau udahan, jangan bilang ada velakor😡😡
Thor : 😳😳😳 kagak
Zen : Kalau ada velakor buang ke Antartika biar dia temenan sama beruang kutub 🔪🔪
__ADS_1
Thor : 🤔🤔🤔
Beri semangat author pencet LIKE tombol jempol ketik KOMENT yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas kalian. selalu loph U ❤️