
Di waktu senja mendekati malam, dalam lelapnya tidur tuan putri nan cantik yang kelelahan akibat nangis seharian mikirin kelakukan mas suami. Terdengar bisikan-bisikan halus di telinga princess. Tapi princess yang sedang lemah ini, malas buat buka mata yang pasti sembab.
Tapi kenapa, bisikkan-bisikan itu semakin menusuk tepat di gendang telinga princess. Sehingga mau tak mau princess harus buka mata dan balik badan dari posisi miring.
Pas buka mata, princess udah di melihat pistol yang di arahkan ke kening ini oleh dua makhluk kurcaci yang ada di tempat tidur. Princess dalam masalah kalau berurusan sama mereka.
"Agen Nathan kita selesaikan misi kita."
"Siap agen Natalie, kita bereskan ratu kegelapan ini."
Buset, Princess itu bidadari bukan ratu kegelapan.
"Cepat angkat tangan atau agen pembasmi kejahatan akan serang dengan jurus cakaran anak macan, Raung - Raung." Nih anak macan betina sudah mulai naik menindih tubuh princess.
"Aduh Natalie! ini sebenarnya ada apa. Kamu turun dulu dari tubuh kakak!" Princess meronta karena tangan udah di ikat sama dua anak ajaib yang masuk tiba-tiba ini.
"Tidak bisa ratu kegelapan, kita harus keluarkan dulu monster jahat dari tubuh gemuk ini!" Nih Tuyul jantan enak saja bilang tubuh princess yang langsing, spleding, slimming, bikin pening itu gendut.
Tubuh princess mulai di gelinding kayak galon untuk dibungkus menggunakan bedcover. Niat banget sih mereka bikin princess teraniaya.
"Kita beri monster jahat ini jurus gelitikan maut untuk mengeluarkan monster jahat."
Si kurcaci laki-laki komat-kamit entah apa yang sedang dibaca, princess enggak tahu. Ini tubuh mau bangun susah sekali karena di tindih keponakan aku, Natalie.
"Bukalah matamu atau kita buka mata hatimu." Serunya dengan tangan menyatu.
Bu-set ini anak siapa sih!
"Oke cukup! Kakak bangun!" Princess nyerah aja daripada terus dapat serangan-serangan dari dua monster ini.
"Natalie, Nathan! Udah belum bangunkan Kak Aline!" Terdengar suara aunty Nesya masuk ke dalam kamar.
Akhirnya pawang duo monster datang! Ini Princess mau minta lepaskan dari gulungan jeratan batin ini.
"Sersan datang! Kita laporkan misi selesai."
"Baik agen Natalie, kita pergi. Wiuh ... wiuh ... wiuh!" Mereka berlari - lari kecil meninggalkan Princess sambil menirukan suara sirene.
__ADS_1
"Lapor Sersan, target sudah dilumpuhkan." Natalie memberi hormat pada Aunty Nes, sambil cengar-cengir lihat princess yang di bebal dengan bedcover.
Begitulah turunan dari aunty Nes yang harus ngedrama dulu untuk bangunin orang tidur aja. Tapi lumayan menghibur princess yang lagi kesepian, gambut dan merana gara-gara kekurang ajaran Mas suami! Jadi kesel kan kalau ingat itu lagi!
"Kamu nggak apa-apa Lin," Aunty Nes bantu aku keluar dari aksi si kembar.
"Gak apa-apa Anty, dulu ngidam apa sih, garang-garang banget tuh bocah!" keluh princess.
"Kalau pasangan kembar pertama ngidam kasih makan buaya. Kalau yang kedua ngidam kasih makan singa cuma belum kesampaian." Celoteh aunty Nes.
"Idih pantesan! kenapa nggak sekalian nginep di kandangnya."
"Sudah, sudah ayo kita makan! Galau boleh makan harus! Nanti kalau kamu sakit aunty yang repot kalau masih nginep disini."
"Aunty tega! Aku beneran nggak nafsu makan, mandi, dandan dan nggak nafsu ngapa-ngapain."
"Pokoknya harus makan! Atau Anty suruh Nathan sama Natalie yang selesai misinya lagi!" ancam aunty Nes.
"Ya aku Makan!" Princess langsung bangkit, nggak mau deh kalau urusan dengan dua bocah itu lagi. Cukup jurus cakaran macan aja.
Ya, setelah dengar cerita dari Alesa, princess mutusin untuk pergi dulu dari rumah. Princess belum mau ketemu Raffa, hati aku sakit banget dengernya di bersama Alesa waktu itu.
Aku butuh waktu untuk sendiri, aku butuh waktu untuk bisa mencerna semuanya. Aku sengaja nggak pulang ke rumah mami, aku nggak mau mereka ikut terpancing emosi dan penyakit Darah tinggi Papi yang berpotensi ke jantung kambuh kalau tahu cerita tentang menantu kebanggaan mereka.
Disela waktu kita makan, Bel rumah anty Nes berbunyi. Karena hanya ada kita berempat di rumah ini, Natalie paling heboh ingin membuka pintu. Ia sudah berlari tanpa bisa dicegah sebelum Bi Asih membuka pintu.
"Kakak! Ada paman tampan cari Kak Aline!" teriaknya setelah kembali dari ruang tamu.
Aku langsung tersendak ekor ikan yang baru saja masuk ke mulut. Apa itu Raffa? Princess masih belum mau ketemu Mas suami.
"Natalie! Sekarang kamu temui lagi paman tampan dan bilang kalau Kaka nggak ada!"
"Ih ... Kakak, kata Ayah bohong itu dosa! Nanti nggak bisa masuk surga, Weh!" Si bocah berkuncir kuda menjulurkan lidah.
Nih bocah, malah ceramah lagi. "Kalau demi kebaikan enggak apa-apa Natalie cantik. Sana temui Paman lagi!"
"Kamu ngajarin anak enggak benar Sayang, anak kecil aja tahu, bohong itu dosa." Suara yang sangat aku kenal menerobos masuk ke rumah Anty.
__ADS_1
Aku enggan menoleh, meksipun aku tahu itu Raffa.
"Makasih Ya Natalie, Nathan, udah jaga Kakak kalian," aku lirik Raffa mengacak rambut Natalie.
"Alhamdulillah, paman mau jemput kak Aline, kakak Aline nangis terus, pasti paman sembunyikan mainannya." Oceh Natalie bocah tujuh tahun itu.
"Nggak wonder women, Paman cuma lagi di cuekin aja sama kakak kalian!"
"Hai kau Ratu kegelapan! Kenapa kau tega cuekin Paman tampan." Nathan kembali ngarahkan samurai ke arah princess. Anak siapa sih Nih! Begini banget punya sepupu.
"Natalie, Nathan. Kalian selesaikan makan malam kalian Kakak mau ke atas dulu." Aku bangkit dan tak melanjutkan makan karena selera makan mendadak hilang, semenjak kedatangan Raffa.
"Lin!" belum sempat masuk kamar, Raffa berhasil meraih tubuhku dan aku bisa merasakan eratnya dekapannya dari belakang. Hangat memang! Tapi hati ini malah semakin perih.
"Ayo pulang Lin, saya nggak sanggup harus jauh dari kamu."
"LEPAS RAF! Aku nggak mau pulang sama pembohong seperti kamu." Aku berusaha meronta karena aku benar-benar kesal dengan Raffa.
"Lin, saya ngerti kamu marah! Saya sudah akan bilang hal itu ke kamu, tapi kamu keburu tahu dari Alesa. Mas tahu Mas salah, makanya Mas mau minta maaf, kita mulai baru lembaran rumah tangga kita tanpa ada yang perlu kita sembunyikan lagi."
Raffa malah semakin eratin pelukannya, aku juga bisa merasakan hembusan Nafasnya yang mulai mengecupi bahuku. aku malah sudah terlalu lelah untuk meronta kekuatan kita tidak sebanding.
"Terlambat Raf! Kamu udah bikin semua kepercayaan aku ke kamu luntur! Aku nggak tahu apa bisa percaya kamu lagi atau Nggak!"
.
.
.
.
.
.
Bersambung .......
__ADS_1