
Raffa
Saya berjalan di lobby kantor dengan perasaan bahagia. Semangat saya jadi tambah hari ini padahal kemarin saya sudah bolos kerja.
"Pagi Bos, kayaknya cerah sekali hari ini," sapa Dido salah satu karyawan dan juga teman saya.
"Pagi juga," jawab saya. Gimana enggak bahagia, semalam dapat full servis dari istri.
Kita berdua berjalan bersama menuju lift untuk ke lantai ruang kantor.
"Memang enak ya kalau udah punya istri, pagi-pagi ke kantor muka langsung cerah, dapat full servis nih pasti," sambung Dido.
Lah, ini Dido kenapa jadi bisa baca pikiran orang.
"Makanya nikah biar muka nggak lecek dan tahu!"
"Gaji aja cukup buat bayar cicilan Bos, gimana mau nikah."
"Ya makanya, jangan kebanyakan hutang. Nabung!" Meskipun pria tulen, Dido memang terkenal dengan kebiasaan shoppingholic.
Dido hanya terkekeh sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Pintu lift terbuka, saat saya akan masuk lift bersama Dido.
"Pagi Bos," sapa Farel.
"Pagi! Mau ngapain pagi - pagi ke kantor orang, kerja!" balas saya.
"Kemarin aku denger kamu lagi bolos," seru Farel
Hedeh! kenapa harus bertemu Farel di pagi saya yang cerah ceria ini. Saya hanya mengangguk menanggapi.
"Kamu atau Aline lagi sakit?" tanyanya lagi.
"Nggak ada yang sakit, aku sama Aline ada keperluan, kenapa? Ada masalah?"
"Nggak Raf, aku heran aja, dari kemarin Aline nggak bisa dihubungi. Aku kira dia sakit. Makanya aku mau tanya langsung sama suaminya," seru Farel menekan kata 'suaminya' dengan gaya selengeannya.
Gimana mau lihat ponsel. Aline bangun saja nggak bisa klepek-klepek dengan cara main pendaki hampir profesional.
"Kamu nggak perlu panik! Saya suami selalu ada untuk dia!"
__ADS_1
"Kurang yakin sih, tapi titip Aline ya. Awas jangan lega, takutnya ada yang nyambar tiba-tiba," balas Farel menepuk bahu saya dan akhirnya enyah dari pandangan saya.
Kenapa Farel sekarang jadi menyebalkan, jadi pria yang nggak bisa move on dari istri orang. Saya jadi kesal sama Farel yang terlalu frontal umbar perhatian pada Aline. Apa ini hanya perasaan saya saja yang terlalu cemburu padanya. Sudahlah! buat mood baik saya jadi buruk pagi-pagi.
...****************...
Pintu lift terbuka, saya keluar dan ingin segera masuk ruangan saya untuk meredamkan kekesalan. Fix, Farel merusak semangat pagi saya yang kerkobar dari rumah karena Aline.
Saya heran, nada suara yang keluar dari mulut Farel sama seperti ancaman. Hal itu membuat beban dipikiran saya.
"Pagi Mas," sapa suara halus yang dulu selalu saya rindukan setiap ke kantor.
"Sa!" kali ini saya terkejut melihat Alesa berdiri utuh di hadapan saya. Tangannya masih memakai alat bantu penyangga antara bahu dan lengan tangan.
"Mas, apa kabar?" tanyanya lagi.
"Saya yang harusnya tanya, kamu apa kabar, sudah sehat?" tanya saya balik.
Semenjak saya meninggalkan Alesa di rumah sakit. Saya belum sempat lagi menanyakan kabarnya secara langsung atau menjenguknya. Saya sibuk membenahi urusan rumah tangga saya dengan Aline yang sempat merenggang karena Alesa juga.
"Alhamdulillah Mas, sudah lebih baik."
Saya membuka handle pintu dengan facelock.
Saya menyuruh Alesa duduk di sofa. Saya pun ikut bergabung dengan Alesa. Kenapa rasanya sangat canggung sekali seperti ini. Padahal dulu saya selalu cari waktu luang untuk bisa mengenal Alesa lebih dekat.
"Sa, kamu sudah benar-benar sehat dan bisa bekerja? Kamu bisa ambil cuti kalau keadaan kamu masih belum memungkinkan untuk bekerja." Saya membuka pembicaraan.
"Alhamdulillah, sudah bisa aktifitas Mas. Hanya tinggal pemulihan. Insyaallah Esa siap bekerja kembali," balasnya dengan suara lembutnya yang khas. Semoga hati saya enggak lumer lagi dengar suara itu.
"Mulai kapan kamu masuk kerja lagi?"
"Kemarin Mas, Esa mau nemuin Mas Raffa. Tapi Mas Raffa nggak masuk kerja."
"Ya, Mas ada urusan dengan istri." Saya harus membiasakan diri tidak bersikap manis pada Alesa.
"Esa cuma mau ngucapin terima kasih dan meminta maaf sama Mas Raffa karena malam itu, Mas datang menemui Esa di rumah sakit."
Malam itu, tepat malam yang membuat hubungan saya dan Aline jadi renggang.
"Sa, sudah. Kamu nggak perlu berterima kasih atau minta maaf."
__ADS_1
"Esa nyesal Mas, enggak seharusnya Esa bersikap seperti itu pada Mas Raffa. Mas Raffa kan baru saja menikah dengan Aline. Esa terlalu sedih berlebihan karena kehilangan Mas Raffa. Harusnya Esa bisa mengerti dan tak menekan Mas Raffa seperti waktu itu. Harus Esa percaya jodoh semua hamba hanya ada di tangan Allah."
"Sudah sah, kamu nggak perlu merasa bersalah. Saya melakukannya bukan karena tekanan kamu atau siapapun. Semua atas keinginan saya sendiri, saya panik terjadi sesuatu sama kamu." saya tidak mau membuat Alesa merasa bersalah. Saya yakin rasa kecewa sudah cukup membuatnya sakit.
"Saya juga akan melakukan hal yang sama jika ada teman yang keadaanya seperti kamu Sa."
"Esa jadi merasa bersalah pada Aline, malam itu Esa benar-benar hilang kendali. Yang ada di pikiran Esa hanya ingin Mas Raffa ada bersama Esa."
Lah, si Esa jadi mewek, kan jadi tambah merasa bersalah kan. Saya menyerahkan selembar tisu yang saya ambil dari meja.
"Saya mengerti Sa. Please, kamu nggak usah nangis. Aline pasti juga mengerti." Saya hanya berusaha menenangkan Esa, padahal saya tidak yakin reaksi Aline baik. Aline pasti sangat marah jika tahu saya menemui Alesa saat malam pertama kita.
"Ya, Mas. Kalau begitu Esa permisi." Esa berdiri sambil mengusap air matanya.
"Satu lagi Sa," Saya membuat langkah Esa terhenti.
"Apa Mas,"
"Ketika di kantor, meskipun kamu di ruangan saya. Tolong panggil saya dengan sebutan yang benar. Saya hanya tidak ingin ada kesalahan pahaman karyawan lain. Saya sekarang sudah beristri. Saya harap kamu bisa mengerti."
Saya ingin bersikap biasa seperti atasan pada bawahannya. Saya tak ingin lagi membuat Alesa sakit hati dan berharap dia melupakan semua yang pernah terjadi di antara kita.
"Baik Mas, maksud saya Pak Raffa," jawab Alesa yang membuat saya jadi aneh mendengarnya. Alesa berjalan menuju pintu dan perlahan menghilang dari pandangan saya.
Tidak adil untuk Alesa terus mengharapkan saya yang sudah menjadi suami Aline. Meskipun dalam agama kita memperbolehkan saya juga memiliki Alesa.
Tapi entah kenapa saya tidak tertarik lagi, bukan karena sanksi g*la perjanjian pranikah yang saya sepakati dengan Aline. Tapi saya merasa memiliki Aline lebih dari cukup.
Ya ampun! Saya jadi merindukan Aline, padahal baru beberapa jam kita tidak bertemu. Dia saja belum mengirimkan laporan perjam. Saya jadi tak sabar menunggu waktu makan siang, karena Aline akan datang sendiri ke kantor.
.
.
.
.
.
Bersambung ........
__ADS_1