
Flashback On
Menempuh perjalanan 10 menit dari rumah sakit, mobil merah Adrian sudah sampai di gedung parkir apartemen PM. Dia turun membukakan pintu untuk Tiara.
"Makasih Adrian, aku jadi buat kamu repot ngurusin aku." Kata Tiara.
"Aku yang harusnya berterima kasih, dikasih kesempatan ngurus wanita boros kayak kamu."
"Apa! aku boros?" Tiara yang kaget berbicara agak kasar.
"Ya, buktinya cantik kamu berlebihan gitu." Celetuk Adrian.
Tiara tersenyum, "Nggak lucu." lagi - lagi senyum mengembang dibibirnya.
Tiara mulai melangkahkan kakinya pelan memengangi tangannya yang dibantu alat penyangga.
"Boleh aku bantu jalan?" tanya Adrian, Tiara mengangguk mengiyakan.
Adrian merangkul lengan Tiara karena melihat tubuh Tiara masih lemah. Dia melangkah pelan menuju lift menuju lantai 8. Beberapa menit mereka tiba di depan pintu apartemennya.
"Tekan Pin nya, 2205**." Kata Tiara memberi arahan pada Adrian yang memencet tombol, pintu terbuka.
"Tanggal lahir kamu," tanya Adrian.
"Bukan, tanggal lahir Ervan, aku belum sempat ganti udah bertahun-tahun pakai kode itu, aku takut lupa." Kata Tiara.
Adrian pun mengerti. Tidak semudah itu melupakan orang yang sempat bersarang di hati Tiara.
Keduanya kini masuk kedalam apartemen di sambut ART yang tinggal di apartemen Tiara. Mereka mehempaskan diri duduk disofa.
"Tiara sebaiknya kamu istirahat aja biar cepat pulih, aku akan pulang." Kata Adrian.
"Ya, kamu benar aku akan ke kamar." Kata tiara berdiri masih sempoyongan sebab sebagian kakinya juga terdapat lecet.
Adrian bangkit membantu Tiara. "Apa perlu aku gendong." Celetuk Adrian lagi.
"Tidak perlu, lagipula aku ini berat." Balas Tiara.
"Aku kira rinduku aja yang berat, ternyata kamu juga."
"Adrian garing tahu!" Balas Tiara sambil tertawa kecil.
Adrian merangkul lagi lengan Tiara membantu berjalan menuju kamarnya. Memasuki kamar Tiara yang luas bernuansa minimalis, Adrian hanya terfokus pada bingkai foto seperti pasangan kekasih yang terpajang di atas tempat tidur Tiara.
"Masih dipajang, belum bisa move on." Kata Adrian sedikit kecewa.
"Oh itu, tidak seperti itu Adrian, hanya aku belum sempat menganti. Bulan-bulan ini aku sangat sibuk dengan urusan kantor harus bolak balik ke luar kota."
"Oohh...." Balas Adrian.
"Lagi pula sekarang dia suami orang lain, aku harus bangkit bukan......" Kata Tiara lagi, Adrian menganguk tersenyum penuh kemenangan.
Kenapa aku, kenapa aku jadi tertarik sama Bu bos galak ini. Adrian.
"Susi!!!" Teriak Tiara pada ART. Susi langsung datang dengan cepat dan mengangguk.
"Angkat foto itu, ganti dengan pajangan yang lain." Kata Tiara menunjuk foto dirinya dan Ervan.
__ADS_1
"Baik Bu," Kata ART itu, bergegas melakukan pekerjaan yang diperintah atasannya.
"Susi!" Adrian mencegah langkah Susi.
"Iya Pak," Balas Susi si ART sambil membawa bingkai foto.
"Biarkan aja kosong, aku yakin sebentar lagi pasti ada penggantinya kok." Goda Adrian lagi. Susi tersenyum ikut senang melihat majikannya yang juga terus saja tersenyum.
Terdengar suara deringan ponsel Adrian, Adrian meminta ijin mengangkat telponnya. Beberapa menit Adrian kembali ke kamar Tiara dengan sedikit rasa kesal.
"Tiara, aku balik sekarang, Riri mahasiswa aku minta bimbingan skripsi, lagipula ini sudah menjelang Magrib." Ujar Adrian.
"Ya Pak dosen, bimbing dengan baik ya." Balas Tiara yang sekarang ikut mengoda Adrian terbawa suasana.
"Pasti, kadang aku berpikir kamu yang lebih cocok jadi dosen." Ucap Adrian.
"Masa sih,??" balas Tiara binggung bertanya-tanya.
"Ya, soalnya setiap dekat kamu, aku bisa belajar bagaimana caranya mencintai." Celetuk Adrian menutup wajahnya sambil tertawa kecil.
Tiara tersenyum sambil megelengkan kepalanya seolah sudah terbiasa dengan candaan Adrian.
"Adrian, thanks for everything, you always make me smile." Kata Tiara merasa jauh lebih baik dari bulan-bulan yang lalu.
"Ya, Aku balik sekarang nanti pasti kembali lagi." Adrian mengoda Tiara.
Ervan sama Riri nggak bisa lihat orang lagi usaha, ganggu aja. Adrian
Adrian pergi meninggalkan apartemen Tiara ke masjid dekat apartemen sejenak sebelum menemui Ervan dan Riri di cafe Bo*dy seberang jalan Apartemen.
*******
Hari-hari berlalu, siang ini Riri akan menjalani sidang pertama skripsinya. Dia sudah berada di depan ruang sidang di gedung fakultas keguruan sejam sebelum acara dimulai. Dia bersama 4 mahasiswa lain yang menunggu antrian untuk memasuki ruangan yang menentukan nasib sepenggal skripsinya. Teman satu angkatannya hanya 2 orang yang berhasil masuk ke sidang pertama bahkan Rika belum masuk tahap ini.
Riri masih mondar-mandir di depan pintu mempelajari lagi rencana penelitiannya itu. Sesekali membuka laptop mempelajari power point presentasinya.
Riri membaca beberapa pesan yang masuk.
Ervan : Sukses ya sayang, berdoa, tenang dan jangan gugup.😘😘😘😘 love you more more more.
Riri tersenyum. ah manis love you to seribu much suamiku.
Abel : Semoga berhasil Mama cantik, I love you. Riri tersenyum manis lagi.
Adrian : PERSIAPKAN DIRI ANDA UNTUK KAMI BANTAI !!! HAHAHAHA😈😈👿.
Muka Riri berubah pucat. PAK ADRIAN!!! AWAS AJA NANTI. Teriak Riri dalam hati.
Antrian ketiga namanya dipanggil menjadi mahasiswa berikutnya yang akan mempresentasi rancangan penelitian. Jantungnya berdegup kencang karena rasa takut. Gugup menyelimuti. Riri merapikan kerudung dan almamaternya.
"Bismillahirrahmanirrahim.. doakan Mama ya nak, saatnya masuk ruang pesakitan." Riri mengelus perutnya, melangkah memasuki ruang sidang.
Didalam ruang sidang nampak 6 audience yang terdiri mahasiswa senior yang siap ikut menghardik, 3 dosen penguji yang bermuka serius, 2 dosen pembimbingnya yaitu Adrian yang berubah jadi tak kalah garang dan Bu Dwi yang tiba-tiba juga berwajah serius. Bahan presentasi Riri sudah terpasang di layar proyektor. Dengan gugup Riri membuka salam, selanjutnya akan menjelaskan poin-poin di layar.
" .....Yang jadi latar belakang saya, Pembelajaran matematika di sekolah dasar perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak yaitu lembaga pendidikan pemerintah, orang tua maupun masyarakat. Kebijakan pembelajaran matematika di sekolah dasar merupakan peletakan konsep yang dijadikan landasan ke jenjang pendidikan berikutnya........" Terang Riri mempresentasikan poin dilayar.
Usai mempresentasikan rancangan penelitiannya, Riri menutup presentasinya. Diiringi tepukan tangan dari audience.
__ADS_1
"Baik, kita sudah mendengarkan rancangan penelitian dari saudari Rinjani, silahkan terlebih dulu audiens memberi pertanyaan." Kata Adrian yang ditunjuk sebagai moderator.
Beberapa audience langsung bertanya pada Riri tentang presentasinya, dengan lancar Riri menjawab pertanyaan menjatuhkan dari beberapa audience.
Setelah audience, tibalah para penguji memberi sanggahan dan pertanyaan mematikan yang menjebak untuk tersidang.
"Silakan penguji memberi sanggahan." Kata Adrian.
Pertanyaan sulit Mulai keluar dari mulut para dosen penguji, terkadang Riri kesulitan menjawab pernyataan penguji. Saat-saat mendapati pertanyaan sulit, Riri melirik ke arah Adrian berharap jadi malaikat penolong dengan memasang wajah melas. Adrian juga sesekali membantu membela Riri pada pertanyaan menjebak yang membuat Riri mati gaya kehabisan kata.
Hampir dua jam berada di ruang sidang, Riri pun diperkenankan keluar. Riri menghela nafas lega sambil menunggu pengumuman kelanjutan nasib skripsinya. Tiga jam menunggu ke empat mahasiswa di panggil masuk kembali ruang sidang.
Semua nama di umumkan dari yang pertama, Perserta pertama gagal melanjutkan skripsinya. Dada Riri semakin berdegup kencang berharap dia lulus tahap pertama ini.
"Rinjani Ana Lita, dengan judul skripsinya lulus sidang pertama dan bisa melanjutkan penelitian untuk menyelesaikan sidang Akhir ..." Kata Adrian sebagai moderator membaca hasil setiap mahasiswa.
Riri bernafas lega rasanya ingin berteriak, sedikit berkaca-kaca. Setelah sidang selesai Riri menemui semua dosen memberi paper bag berisi pajangan dinding sebagai tanda terima kasih.
Riri menemui Adrian. "Pak, makasih banyak bapak pahlawanku ....." Kata Riri manja merasa bahagia.
"Tunggu Ri, jangan peluk aku, nanti aku bisa gantung sama suami kamu," goda Adrian.
"Bapak kePD-an siapa juga mau peluk-pelukan." Balas Riri.
"Bercanda Ri, selamat ya, sidang akhir nanti belajar lebih lagi karena saya nggak bisa bantu kayak tadi." Seru Adrian.
Riri menganguk, berpamitan akan pulang mengingat hari semakin malam sejak siang dia berada di kampus. Keluar dari gedung fakultas, Riri melihat suaminya yang sudah menunggu.
Ervan dengan cepat mendatangi istrinya, ingin memeluk tapi Riri melangkah mundur.
"Mas, ini di kampus nanti aja di mobil mau ngapain aja boleh." Gerutu Riri pelan.
Ervan tertawa, "Maaf sayang." Riri menceritakan tentang sidangnya sambil berjalan menuju ke tempat parkir.
Sesampai di mobil, Riri memeluk erat suaminya merasa senang karena kerja kerasnya terbayar. Ervan mencium lembut bibir istrinya ikut merasa senang melihat istrinya.
.
.
.
.
.
..
.
NEXT.......
Zen tebak berapa bab lagi novel ini akan Tamat????😁😁
Terimakasih sudah sabar menunggu up dr author.
Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE sangat senang, KOMENT paling ditunggu dan VOTE bikin bahagiaaaaaa untuk mengubah langkah author lebih semangat untuk up lagi.🙏🙏🙏
__ADS_1