
Raffa
Aline masih berwajah tegang setelah keluar dari pintu bioskop. Saya sekilas melihat tangannya yang tak berhenti meremas ujung bajunya. Puas sekali rasanya hari ini tahu apa kelemahan istri. Jadi kan saya yang bisa untung banyak ketika di dalam bioskop.
"Filmnya bagus kan?" Saya membuka pembicaraan. Bukannya jawab malah mendapat hadiah pukulan di lengan.
"Seru dari mana! Tadi di dalam aku cuma sembunyi di ketek kamu Mas!"
"Ya, saya nggak tahu kalau kamu nggak suka film horor!" cubit hidung Aline, gemas saya.
"Lain kali aku nggak mau nonton lagi sama kamu!" Aline melipat tangannya ke dada.
"Tapi saya kok senang ya, bisa pelukin kamu terus! Buruan pulang, mau nagih janji kamu tadi di dalam."
"Ih Mas ..." Muka Aline terlihat memerah berpaling dari saya. Bilang aja nolak-nolak mau juga. Saya langsung mengandeng lengan Aline menuju tempat parkir.
Diperjalanan pulang di antara kami tidak ada yang bersuara. Aline bungkam seperti sedang mengheningkan cipta.
Saya juga mendadak menjadi deg-degan melihat Aline yang berubah menjadi lebih pendiam. Pandangannya terus saja melihat ke arah jendela tanpa memperdulikan suaminya yang sudah mirip sopir taksi online karena di cuekin.
"Lin!"
"Ya!"
"Saya kira kamu kesambet mbak Kunti karena nggak ada suara."
"Ih Mas, udah deh. Gara-gara kamu nih, aku belum bisa move on dari suara aneh-aneh tadi!" Aline akhirnya bersuara seperti biasanya.
"Ya maaf, tapi dada saya selalu ada untuk istri kan."
"Kamu aja tuh Mas, yang cari kesempatan diatas penderitaanku."
Saya langsung meraih tangan Aline, sesekali beradegan romantis sama Aline.
"Oke, nanti kalau nonton lagi, kamu yang pilih filmnya."
"Udah nggak mood mau nonton Lagi," balasnya sambil menarik tangannya dari genggaman saya. Nggak sopan! Ini mau dicium tangannya romantis - romantisan main tarik aja.
"Kenapa ngambek!"
"Biarin!"
"Ya udah kalau gitu malam ini saya tidur di luar, biar kamu di temenin tidur sama mbak Kunti."
"AHHKkk!!" Teriak Aline yang membuat gendang telinga saya hampir pecah.
"Raf jangan," rengeknya dengan wajah sok imut andalannya.
"Panggil suami dengan baik dan benar."
"Mas Raffa, jangan. Kita tidur berdua ya, kamu harus ada di samping aku, nggak boleh jauh dari aku." Pintanya, entah kenapa si wanita berisik ini jadi mengemaskan.
"Sambil pegang-pegang boleh nggak?" saya goda sekalian kali aja beneran bisa masuk jurang malam ini.
"Ih... Ya boleh!" balasnya.
Yes! Akhirnya menjelajah dan mendaki gunung juga, itung-itung untuk simulasi.
__ADS_1
"Kalau berlanjut ke babak berikutnya juga boleh? Kamu udah janji loh!"
"YA! Puas!" balas Aline.
"Memang kamu sudah siap?"
"Siap nggak siap Mas, memang sudah kewajiban aku sebagai seorang istri kamu kan, udah nggak mau nambah dosa ah nolak kamu terus!"
"Kamu nggak pernah nolak kok Lin, saya aja yang selalu godain kamu."
"Ya udah lah, intinya kita impas! Oke, kita akan jalani rumah tangga ini sebagaimana mestinya aja Raf!"
"Tapi perjanjian tetap berlaku, itu kesepakatan awal kita loh."
"Iya!"
"Makasih Lin, nggak ada unsur paksaan ya."
Aline geleng-geleng kepala.
Dejavu! Conglast thor yang di bawah sana, penantianmu terjawab, sebentar lagi menerobos hutan menembus jurang.
"Good wife", saya acak-acak kepalanya yang tertutup kerudung. Jadi lucu aja lihat Aline jinak begini.
"Mas, sakit nggak sih? Kata temanku sakit sampai nggak bisa jalan."
Saya nggak tahu harus jawab apa pertanyaan dari Aline. Mau jujur, takut dia semakin kejer mau unboxing. Kalau bohong nanti dia trauma nggak mau unboxing.
"Saya juga nggak tahu Lin, pokoknya saya buat jadi spesial dengan sosis dan dua telor seperti nasi goreng."
"Pulang aja ya, suamimu udah nggak sabar nih, mau sampe rumah."'
"Ih Mas lapar," rengeknya lagi.
...****************...
"Nasi goreng spesial bang satu."
Saya berhenti di salah satu warung nasi goreng tenda di depan ruko. Meskipun tadi Aline ngajak makan di kafe, saya menolak. Bukannya apa, makan di kafe akan membutuhkan waktu lama. Lebih banyak ngobrol dibandingkan waktu makan. Lagipula warung nasi goreng ini recommended dari teman-teman. Warungnya bersih dan rasanya juga enak.
Hanya butuh beberapa menit, nasi goreng dalam sterofon sudah ada di tangan saya.
"Makan," saya memberikan pada Aline yang menunggu di dalam mobil.
"Nanti dirumah aja, baunya enak!"
"Sekarang aja makan, untuk isi tenaga. Sampai rumah kita langsung eksekusi."
Aline pun jadi malu-malu, ia menurut membuka bungkus nasi goreng. Aline mulai menyantap isi Bungkusan dan saya hanya menelan ludah menyium aroma yang kayaknya enak.
"Mas, kamu makan juga. Aku suapin deh, kamu juga butuh tenaga kan," Aline menyodorkan sendok pada saya yang sedang menyetir.
Entah kenapa jantung saya jadi berdebar begini dengan sikap Aline, belum juga begituan. Bisa mati gaya saya.
"Kamu makan aja sendiri, saya masih kenyang."
"Ih ... biar adil." Aline kekeh dan terpaksa saya meraup sendok disamping saya.
__ADS_1
Kenapa hal sederhana ini bisa membuat saya lebih bahagia bersama Aline. Selama ini, apa saya saja yang kurang perhatian pada Aline dan tak ingin tahu dia lebih jauh. Mulai sekarang saya harus lebih bersikap layaknya suami pada Aline. Ya, meskipun saya belum bisa mengartikan bagaimana perasaan saya sekarang padanya.
Kita berdua sudah tiba di rumah, entah kenapa saya jadi nggak sesemangat tadi untuk buru-buru unboxing setelah perjalanan pulang tadi kita berdua bersikap manis layaknya suami-istri.
"Mas, ngapain disini?" Aline sukses membuat saya kaget. Saya masih belum masuk kamar karena tiba-tiba saya jadi gugup ingin menenangkan diri di ruang tengah.
"Cek email masuk," jawab saya bohong.
"Aku nggak berani di kamar sendirian lewat waktu malam, masih lama?" tanyanya lagi.
Jantung saya sekarang tidak baik saja saudara-saudara, begitu pula dengan si thor yang seolah bersorak bahagia karena sebentar lagi akan menjalani tugas.
"Udah selesai kok, kita ke kamar." Saya bangkit dan Aline langsung mengandeng lengan saya.
Aline sudah menganti baju dengan baju tidur, meskipun bukan baju tidur seksi, tetap saja istri saya terlihat menggoda karena pikiran saya awal memang sudah tercemar tujuannya ingin mengarah kesitu. Saya laki-laki normal.
Saya binggung harus mulai dari mana, saya mendadak mati gaya dan gugup. Aline sudah berbaring.
"Mas, sini!"
Omega, kenapa Aline jadi agresif dan saya jadi pasif. Saya mendekat membaringkan diri di sisi Aline. Aline berbalik membelakangi saya. Mungkin dia malu.
"Mas, peluk," ucapnya lirih membuat saya membulatkan tekad malam ini harus memiliki Aline seutuhnya.
Naluri kelelakian ini tidak bisa di bendung, saya mendekap erat Aline dari belakang. Saya mencium aroma tubuh Aline dari lekukan lehernya. Sama sekali tidak ada penolakan dari Aline. Apa Aline benar-benar sudah pasrah akan menyerah untuk malam ini. Bahkan saat tangan saya mulai gatal mau pegang kiri kanan dari balik piyama, tidak ada penolakan atau teriakan seperti biasanya.
"Lin saya ijin buka ya," tangan ini sudah masuk kancing piyama ketiga.
"Ya ...," jawabnya pelan menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
Saya balik saja tubuh Aline yang membelakangi saya. Saya ingin melihat sesuatu yang baru saja saya buka bungkusnya.
Saya melihat Aline dengan wajahnya yang memerah, lucu sekali kalau di diam begini. Aline seperti kehilangan jiwanya.
"Lin, kamu siap malam ini kita ...." nggak sanggup saya lanjutin mau langsung praktek aja.
Ia langsung mengangguk sambil memejamkan mata. Yes! Akhirnya sesuatu akan indah pada saatnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ....
Ei comeback, sori lama up ya ... Mudahan Ei bisa sambung secepatnya 😘😘😘 Makasih yang masih nunggu kisah Raffa dan Aline.
__ADS_1