Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP53-S2// Keputusan


__ADS_3

Pagi yang cerah, sinar matahari mulai menerangi rumah-rumah di kota ini. Abel sudah di meja makan menunggu tantenya untuk sarapan. Dia menenguk segelas susu, sambil meraih roti untuk diolesi selai kacang kesukaannya. Sejak semalam memang dia kurang tidur dan perutnya terasa lapar karena pikiran dan tenaga-nya terkuras memikirkan sesuatu.


“Pagi ponakanku yang cantik,” sapa Miranda dengan wajah bahagianya.


“Pagi Tante,” jawab Abel heran melihat tantenya yang semeringah.


“Gimana tadi malam, kamu diantar pulang sama Pak Karel kan,” seru Miranda masih dengan wajah Bahagia.


Abel melirik aneh ke arah Miranda, “Tante, Abel pulang sama Bang Davin semalam bukan Pak Karel.”


Miranda hampir tersedak teh hangat yang masuk ke mulutnya. “Pak Adiguna, bagaimana bisa kau pulang dengan dia.”


“Ketemu gitu aja di tempat kita makan malam, Abel lebih milih pulang sama Bang Davin yang Abel kenal.”


Miranda sedikit kecewa rencananya gagal gara-gara Davin, kenapa lelaki itu selalu muncul. Tapi dia tidak bisa berbuat banyak dan memilih melanjutkan makannya.


“Tante, hari ini Abel mau ke kantor yang ada di perkebunan. Abel mau ketemu Paman Angga.”


“Kalau kamu mau ketemu Angga, biar dia yang datang kesini kamu nggak perlu repot – repot kesana,”


“Enggak apa-apa tante sekalian Abel pengen lihat perkebunan,” jawab Abel.


“Padahal hari ini Tante punya rencana mau ketemu Pak Karel sebelum dia kembali ke Ibukota,” jawab Miranda. Abel hanya tersenyum mengiyakan sambil meneruskan sarapan paginya.


Mengingat Karel, jiwa menjadi biro jodoh Abel bergejolak. Dia teringat seseorang yang cocok untuk Karel berdasarkan tipenya. Tapi setelah kejadian kegagalan pertunanangan, rasanya kurang tepat jika membicarakan masalah laki-laki lagi. Abel membuang dulu angannya itu, lain kali dia akan memikirkan jodoh orang lain. Jodoh dirinya sendiri saja masih abu-abu dan simpang siur kejelasannya.


*******


Menempuh perjalanan hampir 2 jam dari kota T, Abel sudah tiba di lokasi perkebunan kelapa sawit miliknya. Sopir membukakan pintu untuk Abel, dia di sambut Angga dan beberapa asisten afdeling perkebunan. Angga langsung mengajak Abel ke ruangannya karena akan membicarakan masalah pribadi bukan masalah perkebunan.


Keduanya kini duduk di sofa, Abel melepas lelah sejenak setelah menempuh perjalanan Panjang.


“Gimana Bel, mau cerita apa sama Paman sampai kamu jauh-jauh kesini,” ujar Angga sambil menyodorkan minuman jeruk kemasan pada Abel.


Abel meneguk botol yang disodorkan Angga, “Paman, sebelumnya Abel udah cerita kan tentang Bang Davin.”


“Ya, jadi gimana keputusan kamu, udah dapat kemantapan hati dengan pilihan kamu,” tanya Angga yang sudah mengetahui dari Abel keiginan Davin untuk kembali padanya.


“Insha Allah Udah Paman, Abel memilih memberi kesempatan lagi untuk Bang Davin. Mudahan pilihan Abel ini adalah jalan yang terbaik untuk Abel.” Jawab Abel.

__ADS_1


“Kamu sudah yakin dengan pilihan kamu,” tanya Angga lagi. Abel mengangguk malu, berharap ini keputusan yang terbaik untuknya.


“Mudahan Davin lelaki yang kamu pilih itu, calon suami yang sholeh, yang akan mencintai, memuliakan, menjaga dan membimbing kamu hingga ke surga. Karena hanya lelaki sholeh yang akan bisa memuliakan dan menghormati wanita. Dia tidak akan menyakiti, mentelantarkan atau menyia-nyiakan istrinya nanti.” Petuah Angga pada Abel.


“InsyaAllah Paman, tapi Abel dan bang Davin nggak se-alim itu seperti Paman, tapi Abel dan Bang Davin akan berusaha untuk jadi lebih baik lagi dalam berumah tangga jika kami berjodoh. Abel akan bersama-sama belajar mendalami agama dan mejalani peran masing-masing jadi suami istri,” ujar Abel.


"Ya, kalau memang pilihan kamu mantap, kamu sudah istikharah, mencoba tawakal, tinggal kita musyawarahkan lagi dengan keluarga bagaimana baiknya," ucap Angga.


"Tapi Abel ragu sama Papa," Abel kembali murung.


“Abel kenapa harus ragu dengan Papa kamu, kalau memang kamu yakin pilihan kamu adalah pemuda yang sholeh, baik akhlaqnya, tertib sholat lima waktunya. Dia datang baik-baik sama orang tua-nya untuk meminta kamu, tidak ada alasan untuk orang tua menunda-nunda pernikahan putrinya. Bahkan kalau seperti itu segera diberi izin untuk menikahkannya. Terlebih lagi kalian saling mencintai.” Nasehat Angga.


“Tapi kan paman tahu, apa yang terjadi. Abel ragu Papa bisa nerima kebenaran dan masih belum rela menerima Bang Davin lagi.”


“Memang, sebagai manusia terkadang kita sulit memaafkan kesalahan orang lain terutama kesalahan yang besar. Tapi, sebagai manusia sudah menjadi kewajiban kita untuk memaafkan sesama muslim. Paman yakin, Papa kamu pasti mengerti itu.” Ceramah Angga lagi.


“Abel ragu Paman, Papa masih sakit hati dengan sikap Bang Davin.”


“Abel, kenapa Papa kamu harus mempersulit orang lain untuk mendapatkan maaf, padahal Allah begitu mudah memberikan ampunan-Nya kepada hambanya. Paman yakin Papa kamu pasti ngerti,” nasehat Angga lagi.


“Terima kasih Paman, Abel juga berusaha ikhlas memaafkan kesalahan Bang Davin, mudah-mudahan dengan begitu Abel bisa melupakan kesalahan Bang Davin. Bagaimana pun Bang Davin juga manusia yang tak lepas dari kesalahan."


"Terima kasih Paman, Abel selalu repotin Paman. Padahal Paman juga lagi pusing mempersiapkan pernikahan Paman." Abel berkata sambil menyindir menyenggol sang Paman.


"Ya, kamu 'kan ponakan Paman yang paling lucu. Kalau bisa nanti nikahnya barengan aja biar rame," canda Angga mencubit hidung Abel.


Abel tersenyum, kini dia mengeluarkan ponselnya, dia mengirim pesan pada Davin untuk segera menemuinya di perkebunan kelapa sawit. Memang butuh perjalanan lama dari kota ke perkebunan. Abel sengaja supaya bisa sedikit meredakan rasa gugupnya setelah nanti bertemu Davin selama perjalanan panjang itu.


******


Waktu menjelang sore, sekretaris Angga masuk menemui Angga yang sedang bersantai di ruangan bersama Abel.


"Pak, ada tamu, namanya Pak Davin," seru sekertaris yang membuat dada Abel berdebar seketika.


Angga mengangguk, "Suruh masuk."


Sang sekretaris perempuan mengangguk, dan melenggang keluar. Abel mengantur nafas karena debaran jantungnya mulai tak karuan. Dia berharap apapun yang terjadi adalah yang terbaik untuknya dan berharap langkah yang dia ambil tidaklah salah.


Suara jejak kaki mulai terdengar memasuki ruangan, Abel tak berani menoleh ke sumber suara. Kini dirinya dihinggapi malu seperti seperti saat pertama jatuh cinta seolah melunturkan sedikit demi sedikit rasa sakit hatinya.

__ADS_1


"Masuklah Pak Adiguna, duduk disini," Angga berdiri menyambut Davin dan mengarahkannya duduk di sofa Ruangan dan duduk tak jauh dari Abel.


"Panggil saja Davin Pak Angga, kita tidak sedang membicarakan bisnis kan," seru Davin yang juga dihinggapi perasaan tengang.


Abel memberanikan diri menoleh ke arah Davin, Abel melihat wajah Davin yang nampak lelah mungkin karena perjalanan jauh dan berjam-jam. Di kota B Bang Davin terbiasa menggunakan jalur udara untuk menempuh perjalanan panjang untuk bisnis. Meskipun begitu ia tetap tampan dimata Abel. Wangi parfum di tubuhnya pun tak terlalu menyeruak seperti biasanya. Abel sempat berpikir mungkin Davin terburu-buru menuju perkebunan hingga lupa memakai Parfum.


Davin melirik sekilas kearah Abel terus mengalihkan lagi pandangan ke arah lain. Abel, wanita pertama yang meluluhkan hatinya, senyumnya yang selalu membuat jatuh cinta terlepas dari masalah yang mereka hadapi. Hatinya kini berdebar sebentar lagi akan mendengarnya keputusan Abel. Betapa senangnya ia jika diberi kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya atau malah sebaliknya. Hatinya pasti sangat hancur jika Abel tak memberi harapan untuk bisa bersama. Apakah ia akan sanggup menerima semuanya dengan tegar? debaran jantungnya dan rasa takut kehilangan menyelimuti Davin sekarang.


"Davin, tidak ada manusia yang tak pernah melakukan kesalahan, semua pasti pernah khilaf baik sengaja maupun tidak. Apapun keputusan Abel, kamu harus bisa terima. Mungkin dengan keputusan Abel adalah jalan yang terbaik untuk kalian berdua." Angga membuka pembicaraan. Davin hanya mengangguk mengiyakan.


Perkataan Angga membuat Davin semakin menciut, apakah keputusan Abel tidak sesuai dengan keinginannya. Sedangkan Abel diam dan menyerahkan semuanya pada Angga.


"Davin, Abel akan memberikan kamu kesempatan lagi untuk kembali padanya tapi dengan satu syarat," seru Angga.


Senyum langsung mengembang dibibir Davin, perasaan lega meskipun dia belum mendengar syarat yang dimaksud Angga.


.


.


.


.


.


.


Next.....


Thor : hola reader terloph kalo kalian punya pertanyaan, tentang keputusan Abel ketik aja dikolom komentar.


Zen : Kalo hujatan boleh Thor, gua pedukung bang Nolan nih


Thor : Ya Zen gua paham ketik di kolom komentar ntar gua jawab atu-atu. Asal jangan makian Thor mu punya mental rengginang di kaleng engkong huan yang gampang renyah.


Zen : 😒😒😒 sok lemah Luh Thor


terimakasih udah sabar nunggu up dari author🙏🙏🙏

__ADS_1


Beri semangat author pencet LIKE ketik KOMENT yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas kalian.


__ADS_2