Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP68-S2// Masih Honeymoon


__ADS_3

Sinar matahari mulai menerobos masuk ke sela-sela jendela meskipun tertutup rapat dengan tirai. Cahaya yang menyilaukan mata menusuk menembus mata meskipun keadaan masih terpejam. Kedua pasangan pengantin baru ini masih meringkuk di atas tempat tidur usai sholat subuh.


Abel mencoba membuka matanya meskipun matanya sangat lengket. Ya, suaminya memang menepati janjinya tak membuatnya tidur semalaman hingga adzan subuh. Abel berpikir apa semua pengantin baru melakukan ehem-ehem sampai berkali-kali. Apa hanya suaminya saja yang terlalu over hingga membuat sendi-sendinya terasa sakit semua bahkan untuk bangun dari tempat tidurnya sekarang.


Tangan Davin masih melingkar erat di perut Abel dari belakang. Sedangkan Abel sudah sangat ingin bermain keluar ruangan. Ombak laut seperti memanggil-manggil dirinya untuk berlari-lari disana bersama dengan suaminya. Ya sedikit norak memang, tinggal diputarkan saja lagu india. Abel hanya merasa sia-sia dan mubazir menyewa pulau pribadi ini kalau waktunya hanya di manfaatkan di tempat tidur saja.


Abel berbalik menghadap suaminya yang masih mendengkur halus, tidurnya nyenyak seperti sangat kelelahan. sedikit ia mengelus pipi suaminya. Setelah menghadapi beberapa ujian yang mereka lalui, wajah ini lah yang akan selalu menemani tidurnya nanti.


“Bang Davin!” Abel berusaha membangunkan suaminya. Sepertinya berhasil karena suaminya mulai mengendurkan pelukannya.


“hmm … kenapa Sayang, mau lagi.” Davin dengan mata terpejam mengoda Abel sambil mengeratkan pelukanya lagi.


“Bang Davin please, jangan hanya itu saja di pikiran Bang Davin. Apa belum puas semalaman kita nggak tidur.” Gerutu Abel yang membuat suaminya membuka mata.


“Kalau untuk itu nggak akan pernah puas Sayang, maunya lagi, lagi dan lagi,” jawab Davin mengoda lagi. Abel meninju perut suaminya.


Abel langsung memutar otak bagaimana caranya bisa keluar kamar karena dia tahu arah pembicaraan suaminya akan berujung kemana.


“Bang Davin, Abel lapar. Abel pingin makan di luar sambil menikmati pantai,” tanya Abel dengan polos, berharap keinginannya di kabulkan.


“Ya ampun Sayang, Abang terlalu semangat memakanmu sampai lupa kasih kamu makan,” kata Davin terkekeh lanjut mengecup bibir Abel.


“Kita keluar sekarang,” Abel langusng bangun begitu bersemangat bisa keluar dari kamar.


Davin bangkit dari tempat tidur kemudian mengangkat dengan gaya bridal tubuh mungil istrinya, “Sebaiknya kita mandi dulu.”


Abel hanya pasrah, tetap saja ujungnya akan begitu. Kedua pasangan pengantin baru ini menghabiskan waktu dikamar mandi yang hanya bukan sekedar mandi tentunya.


******


Meskipun siang sangat terik. Pemandagan pantai yang indah di tambah terpaan angin sepoi-sepoi yang mengoyangkan pohon di sekitar pantai, cukup membuat suaasana hati siapapun menjadi tenang.


Diluar villa kedua pasangan ini menikmati makan siang yang sudah tersusun di meja dengan berbagai makanan hasil laut dan juga yang pasti buah kelapa. Abel kali ini makan dengan sangat lahap hidangan yang mengiurkan ini. Bukan karena enak, tapi kali ini memang dia sungguh sangat lapar usai olahraga bersama suaminya.


Suasana makan siang yang menyenangkan ditemani suasana pantai yang hangat dan sejuk.


Usai makan siang kedua pasangan di mabuk cinta ini merebahkan diri di kursi khusus untuk menikmati pemandangan pantai. Abel merebakan kepalanya dipundak suaminya, sedangkan tanganya bermain -main di dada suaminya dengan kancing kemejanya yang terbuka. Keduanya menikmati kesunyian berdua di pulau kecil ini, di temani gemuruh air ombak yang menyentuh bibir pantai.


Davin melarang Abel bermain dengan air karena panas matahari yang masih menyengat. Padahal dia sudah sangat ingin sekali menyeburkan diri dalam air asin yang biru itu. Terpaksa Abel menurut dan menunggu hingga matahari sedikit teduh.


“Bang Davin, Abel boleh tanya sesuatu?” tanya Abel disela waktu santainya.


“Tanya apa sayang,”


“Yang pasti bukan soal matematika fisika apalagi kimia, Abel udah jago,” canda Abel.


“Gemes deh Sayang sama kamu, sini Bang Davin mau cium.” Davin langsung saja menghujani Abel dengan ciuman di wajahnya.

__ADS_1


Ya, karena tidak ada orang lain disini, hanya mereka berdua dan empat pelayan di villa. Setelah beberapa menit melakukan cium-mencium, Abel meronta melepaskannya.


“Sudah boleh tanya, Pak Adiguna?” kata Abel bangkit dari pelukan Davin. Davin mengangguk tertawa renyah.


“Bang Davin sebelum kita menikah. Kenapa bang Davin terkenal di kalangan pengusaha suka mempermainkan perasaan wanita dan bergonta-ganti pasangan? Apa itu benar? Apa itu artiya Abel bukan satu-satunya untuk bang Davin.” Ungkapan hati Abel daripada ia terus memikirkan hal itu.


Davin bangkit dan ikut duduk bersama Abel. “Sayang kamu ingin Bang Davin jawab jujur.”


Abel mengangguk semakin penasaran, dia hanya tahu dari Nolan kalau semua tidak benar adanya, Davin melakukan semuanya karena kesempakatan bisnis.


“Sayang, bagi Abang keluarga itu yang terpenting, Abang selalu berusaha agar bisa membahagiakan semua keluarga meskipun karena itu Abang pernah menyakiti wanita yang Abang cintai. Bagi keluarga Abang kesusksesan dalam bisnis adalah tolak ukurnya kebahagiaan. Dalam bisnis wanita juga bisa menjadi umpan. Abang hanya berusaha menyenangkan Papa dengan menuruti semua keinginannya termasuk berkencan bersama wanita -wanita itu. Hanya Abang harapan mereka.”


Raut wajah Abel menjadi berubah, apa mereka hanya berkencan? Tidak ada perasaan? Atau melakukan hal yang lain sebagai laki-laki dan perempuanya yang normal.


“Sayang tapi Abang bersumpah, Abang sama sekali tidak ada rasa ataupun perasaan suka. Abang hanya teman kencan tidak pernah mengungkapkan rasa suka pada mereka. Bang Davin tidak pernah tertarik dengan semuanya, sampai akhirnya Abang bertemu dengan kamu untuk mengenal jatuh cinta pertama kalinya. Dan sekarang menjadi milik Abang sepenuhnya.”


“Jika nanti Papa Hendra meminta hal sama lagi untuk kesepakatan bisnis, apa Bang Davin mau?"


“Hmmm.... “ jawab Davin nampak berpikir mengoda Abel. Abel memalingkan wajahnya tidak mendengar jawaban dari Davin.


Davin langsung melingkarkan tangan di perut Abel. “Tidak akan pernah mau Sayang, Abang hanya untukmu seorang, Istriku yang Sholihah."


Abel tersenyum, dia berjanji dalam hati tidak akan lagi mengungkit masa lalu suaminya. Yang ingin ia tatap sekarang hanya masa depan rumah tangganya kelak bersamanya dan berusaha lebih baik menuju jalan Allah.


"Abang mau gantian tanya sekarang,"


"Kamu pengen punya anak berapa Sayang,"


Muka Abel memerah, "Berapa ya, satu dulu mungkin dua juga boleh lah."


"Kurang Sayang, Abang maunya minimal lima,"


"Ih ... Bang Davin, kita fokus bikin satu aja dulu. Syukur-syukur langsung jadi." Balas Abel.


"Siang malam dong Sayang prosesnya biar cepat."


"Bang Davin selalu saja mengarah ke situ, kata Mama Riri malah tidak boleh terlalu sering nanti ada yang encer." Abel menutup mulutnya malu keceplosan.


"Abang nggak percaya kalau belum praktek." Lagi-lagi Davin mengoda istrinya.


"Ada keong Bang, Abel mau punggut." Abel menunjuk ke arah pasir, ia mencari alasan mengalihkan perhatian suaminya yang mulai berpikir mesum.


Abel langsung berlari menuju pasir pantai yang putih. Ia berlari lagi menghadang ombak yang akan menyentuh bibir pantai. Entah kenapa rasanya begitu bahagia bermain air sekarang.


Davin dari kejauhan hanya tersenyum saja melihat istrinya begitu bahagia bermain dengan air tanpa memperdulikan terik nya matahari.


__ADS_1


Melihat keseruan istrinya, Davin berlari menyusul Abel.


"Bang Davin!" teriak Abel.


Ia memeluk dari belakang sambil mengangkatnya dan membawanya berputar dan menjatuhkan di air hingga keduanya mulai basah dengan air asin. Senyum ceria terus mengembang di bibir Abel sambil bermain air bersama suaminya.


"Kamu senang sayang? besok kita menyelam ya dan berkeliling pulau." Kata Davin disusul anggukan bahagia Abel.


Kini keduanya menikmati waktu yang hanya berdua saja di pantai yang serasa milik mereka berdua. Abel dan Davin bergandengan tangan menyusuri bibir pantai usia puas bermain-main dengan air. Keduanya sangat menikmati waktu berdua di kesunyian ini sebelum kembali lagi ke kota dengan aktivitas normal.


"I love you My beauty," Kata Davin kini dalam posisi memeluk Abel.


"I love you too my husband," Jawab Abel berinisiatif mengecup bibir suaminya.


Wajah bahagia tak pernah luput dari pasangan halal ini yang membuat iri siapapun yang melihat. Hal ini membuat tiga pelayan perempuan dan satu sekuriti di villa ingin cepat ketemu suami dan istrinya masing-masing.


.


.


.


.


.


.


.


.


NEXT.......



sumber gambar @taosattapongphiangphor @ruksmamirror (akan di hapus sewaktu waktu soalnya gambar copyright)


_____________________________________________


Thor : Hola yang jomblo jangan Wafer ya, kuatkan ginjal dan jantungmu yang meronta😂😂😂


Zen : Tahu aja Thor gue bacanya sambil nyandar tembok🤧


Thor : 😳😳😳


Beri semangat author pencet LIKE tombol jempol ketik KOMENT sesuka hati kalian yang punya POIN bisa VOTE seikhlas kalian. Loph U ❤️ selalu.

__ADS_1


__ADS_2