
Pukul 06.30
Mata Abel terbelalak dari mimpi indahnya ketika tubuhnya terguncang seperti ada gempa diatas kasurnya. Tubuhnya diternaik turun dengan sangat kuat seperti ada gempa bumi didalam kamarnya.
Dia memang sengaja mengistirahatkan tubuhnya lagi usai sholat subuh karena tidak ada kegiatan yang harus dilakukannya di Minggu pagi ini.
Selimut yang menutupi tubuhnya ditarik oleh dua bocah kecil yang kompak, mereka tak lain adalah adik-adiknya yanh membuang selimut hingga ke lantai.
"RAFFA RAYDAN! bisa nggak jangan jangan ganggu kakak, Kakak istrirahat dulu, ini masih pagi." Teriak Abel kesal.
"Kak, gowes kak gowes..." Jerit Raffa menggoyangkan tubuh mungil Kakaknya yang akan kembali lagi ke alam mimpi.
"Kakak bangun, Jalan kak, ayo bangun." Ocehan Raydan tidak kalah heboh dengan Raffa.
"Sama Papa aja keliling kompleks." Jerit Abel dari balik bantal
"Nggak mau Kak, mau CFD sama Kakak." Oceh Raffa lagi.
Karena adeknya merengek terus disertasi tangisan dari Raydan yang menyayat gendang telinga, Abel bangkit dan membuang batal yang menutupi wajahnya.
"Tunggu di bawah, Kakak mandi sebentar." Tungkas Abel.
Dua bocah keluar kamar merasa senang. Beberapa menit didalam kamar mandi dan berdandan setipis mungkin agar tidak menutupi wajah manisnya. Abel sudah turun menuruni tangga disambut adik-adiknya.
"Nggak sarapan dulu?" tanya Riri dari balik pantry.
"Sarapan disana aja Ma," balas Abel.
"Disana itu olahraga Sayang, bukan cari sarapan." Ujar Ervan dari kursi meja makan.
"Ya Pa, tapi lebih seru sarapan disana." Balas Abel menghampiri Papanya dan mencium punggung tangannya.
Riri dan Ervan mengantar anak- anaknya ke halaman rumah. Pak Amin sudah memasukkan 2 sepeda kedalam mobil hitam jenis Sporty jenis Paj*ro Spot yang dibeli Ervan 8 tahun lalu.
"Kenapa nggak pakai mobil yang baru?" tanya Riri menunjuk mobil warna putih jenis R*nge rov*r keluaran terbaru disamping mobil hitam.
"Ini aja lah Ma, mobil bersejarah..." Balas Abel yang memasuk dalam kursi kemudi.
"Jaga adik-adik ya..." Patuah Riri melambaikan tangan.
ketiganya membuka kaca jendela mobil melambaikan tangan ke arah orang tuanya. Mobil hitam yang dikemudikan Abel pun berlahan-lahan meninggalkan rumah mereka.
"Sayang kita olahraga juga yuk kaya mereka," Kata Ervan merangkul Riri.
"Mas kan udah treadmill tadi pagi, masa mau olahraga lagi." Balas Riri.
"Olahraga yang lain sayang didalam kamar tadi malam kita diganggu Raydan." Kata Ervan langsung mengendong Riri gaya bridal memasuki rumah.
__ADS_1
"Mas malu sama Bi Mina, turunin Riri Mas." Protes Riri meronta, tapi Ervan terus berjalan akan menaiki tangga.
"Biar aja, Mumpung anak-anak pergi..."
"Mas masih pagi masa udah mesum, Inget umur Mas..." Balas Riri yang memilih diam digendongan suaminya.
"Makin tua harus makin sering sayang biar awet muda..." Oceh Ervan menggunakan teori ngawur tanpa sumber.
"Dapat ilmu dari mana, Mas ngarang." bantah Riri. Ervan hanya tersenyum mesum.
Pintu kamar langsung dikunci dan mereka berolahraga di pagi hari tak melewatkan kesempatan anak-anaknya pergi.
******
Usai menempuh perjalanan selama 15 menit dari rumah, mereka sudah tiba di area Car free day yang sudah ramai dengan berbagai macam manusia yang melakukan banyak kegiatan. Berlari, bersepeda, skate dan banyak lagi. Area kuliner juga sudah dipenuhi booth makanan yang menggiurkan.
Abel menurunkan sepeda bergantian dari mobil, Raydan tidak diberi sepeda sendiri karena terlalu mini untuk tempat seramai Car free Day ini. Abel membonceng Raydan si belakang dan Raffa sudah bersiap dengam sepedanya.
"Raffa jangan jauh-jauh dari kakak, Ayo kamu jalan duluan Kakak dibelakang," perintah Abel.
"Siap Kak..." seru Raffa mulai memutar pedal sepedanya.
Raffa mulai melajukan sepeda disusul Abel yang membututi dari belakang bersama Raydan diboncengan. Mata laki-laki yang dilewati ketika gowes tak berhenti memperhatikannya, Abel hanya pura pura bodoh saja karena merasa geli. Bahkan ada yang mengejar disampingnya, tentunya saja dia langsung bersikap jutek sama cowok yang ngumbar kenalan dijalan sok sok akrab.
"Cantik boleh kenalan nggak..." Kata cowok sok akrab yang langsung mengayuh sepeda disamping Abel.
"Enyah nggak!" Gerutu Abel yang kesal dibuntuti. Dengan langkah seribu dan kesal juga cowok yang kesekian kalinya itu pun pergi.
Puas berkeliling, Raffa juga mengeluh haus dan minta jajan. Abel tahu tujuan adik-adiknya kesini hanya main sepeda 10 menit sisanya jajan dan mainan.
"Kakak mau icu..." Kata Raydan yang belum fasih dengan huruf 't' Raydan menunjuk booth es cream.
"Ya, ya kita makan dulu baru beli itu, kita beli bakso aja..." Kata Abel mengiring adiknya ke booth bakso karena perutnya sudah bergendang ria.
Abel memesan ke Abang bakso, tiga mangkok bakso. Tak lama menunggu, pesanan datang, ketiganya menyantap bakso dengan lahap.
"Tunggu sini sebentar Kakak mau beli minum disitu," kata Abel menunjuk stan minuman berjarak hanya beberapa jengkal.
"Raffa jaga adek ya, jangan kemana-mana," sambung Abel lagi.
Abel Kembali dengan tiga cup minuman cheese tea, dia terkejut bangku yang diduduki Raydan disebelah Raffa kosong, sedangkan Raffa sibuk bermain ponsel setelah makan.
"Raffa! Mana Raydan!" bentak Abel panik.
"Di-si..." Raffa juga terkejut Raydan tidak disebelahnya.
"Ya ampun Raffa, kamu suruh jaga sebentar, Raydan kemana..." Abel panik.
__ADS_1
"Tadi disini Kak." Raffa ikut panik melihat Kakaknya.
"Ya udah ayo kita cari..." Keluh Abel.
Abel teringat Raydan ingin membeli es cream, dengan cepat dia menuju booth es cream. Tapi nihil, Raydan tidak ada di booth es cream. Abel melangkah lagi mencari Raydan yang diam-diam menghanyutkan tidak seperti Raffa anak yang aktif. Dia mencari diantar kurumunan ribuan manusia. Abel terus menyusuri area CFD dengan tangannya tak lepas mengandeng Raffa takut dia juga ikut hilang akan samakin repot hidupnya.
Abel mulai frustasi, tidak ada tanda-tanda wajah Raydan diantara anak kecil-kecil yang bermain. Dia meraih ponsel ingin menghubungi orang tuanya, tapi dia urungkan niatnya, dia ingin mencari dulu beberapa menit. Dia tidak ingin orang tuanya panik.
"Raffa kamu dimana," keluh Abel meraup wajahnya putus asa. Kini isi kepalanya mulai di hampiri pikiran buruk, Raydan diculik, dibawa keluar negeri, dihipnotis dan berbagai macam pikiran buruk lainnya seperti berita di internet.
Astagfirullahaladzim, tidak Abelia itu tidak mungkin, apa sih yang ada di otakku, Raydan pasti masih disekitar sini, Raydan pasti baik-baik aja, aku akan cari 10 menit lagi, kalau nggak ketemu aku akan telepon papa atau Opah. Batin Abel.
Abel mulai menyisir area sekali lagi kembali yakin, kalau dia menghubungi Papa dan mamanya, mereka pasti panik, apalagi kalau menghubungi Omah Opahnya bisa satu batalyon anggota polisi dikerahkan menyisir area CFD. Begitu kiranya di pikiran Abel.
******
Ditempat berbeda waktu yang sama, Riri dan Ervan masih terbaring di atas tempat tidurnya merasa letih.
"Mas, kenapa tiba-tiba perasaan Riri nggak enak ya. Apa terjadi sesuatu sama anak-anak Mas," ujar Riri sambil memainkan jari di dada suaminya.
"Itu perasaan kamu aja Sayang, mereka lagi senang-senang kayak kita, paling sebentar lagi juga pulang." Balas Ervan.
Riri bangkit dari tidurnya,"Tapi Mas, kayak ada perasaan aneh gitu, Riri jadi nggak tenang." keluh Riri merasakan ada sesuatu naluri keibuannya seperti rasa cemas aneh yang tidak bisa diungkapkan.
"Sayang, kamu terlalu berlebihan, nanti kamu telepon aja Abel." Saran Ervan melihat kepanikan Riri.
.
.
.
Nex
Raffa udah jalan 7 tahun
Raydan masih 5 tahun
**terimakasih udah sabar nunggu Up dari Thor..
Jangan lupa kasih semangat Like, Komment, balik ke depan kasih rate 5.
Yang punya banyak POIN bisa sumbang VOTE 🤗🤗🤗**
__ADS_1