
"*Davin Adiguna, Dirut muda yang suka mempermainkan wanita seperti kamu ini, setelah di tidurin kamu akan di tinggal seperti sampah, itu bukan rahasia lagi di kalangan pengusaha." Jelas Miranda.
Deg. Tubuh Abel rasanya terbujur lemas mendengar kata menyakitkan yang keluar dari mulut Miranda*.
Dia duduk di tepi ranjang berpikir dengan jernih, mencoba menelaah satu persatu perkataan Tantenya. Hampir tidak mungkin tuduhan yang sangat jahat itu diberikan kepada Davin.
Apa benar semua yang di bilang Tante Miranda, apa mungkin Bang Davin sebejat itu. Apa iya, Papa tahu semua itu. Apa mungkin seorang Papa bisa mengizinkan anaknya dekat dengan laki-laki seperti itu? Apa semuanya hanya rumor di kalangan pengusahaan demi persaingan bisnis. Jangan seudzon, tetap berpikir positif jika memang belum tahu kebenarannya tanpa bukti. Begitu yang ada di dalam isi kepala Abel.
"Tante Mira tolong, menyakitkan banget tunduhan Tante Mira pada bang Davin." Bantah Abel.
"Tante cuma bicara sesuai dengan yang Tante dengar, Tante udah ingatkan dari awal ya, kamu harus hati-hati." Balas Miranda.
"Tante, Tante baru denger aja 'kan, kalau menuduh yang belum terbukti kebenaran itu namanya fitnah, fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan." Balas Abel yang masih kesal dengan ucapan Miranda.
"Kok malah kamu yang nasehatin Tante, Tante Ingetin kamu karena Tante sayang sama Kamu" ujar Miranda lagi kesal.
"Ya Tante, terima kasih peringatannya ini...." Jawab Abel.
Beruntung banget sih nasib keponakanku, warisanya banyak, yang dekatin anak pengusaha kaya. Batin Miranda
Suara klakson mobil yang akan mengantarkan ke bandara terdengar dari luar. Hal itu membuyarkan obrolan Abel dan Miranda. Abel segera bertolak ke Bandara menuju kota B.
********
Abel menyapu matanya mencari seseorang usai tiba di ruang kedatangan Bandara diwaktu pagi menjelang siang ini. Seseorang yang dicarinya nampak perlahan mendekatinya. Abel pun melempar senyum padanya seolah lupa kecemasannya selama di perjalanan. Abel berusaha berpikir positif dan tidak terlalu memusingkan tuduhan Tantenya tanpa bukti.
"Ayo pulang," sapa Davin. Membuat tengkuk leher Abel mendadak dingin.
Abel mengangguk karena jantungnya selalu saja berdebar tanpa permisi saat didekat Davin. Abel berjalan beriringan mengikuti langkah Davin menuju gedung parkir.
Kini keduanya sudah keluar dari bandara menyusuri jalan menuju ke cit*aland. Terjadi kecanggungan di dalam mobil, belum ada yang melontarkan pertanyaan satu sama lain. Abel memilih mengalihkan pandangannya ke arah jendela untuk meredakan rasa panas dinginnya ketika didekat Davin.
Sama halnya dengan Davin yang dari tadi memilih diam, merasakan jantungnya yang terus saja bergemuruh ketika dekat Abel. Sekilas dia menoleh melihat wanita cantik yang berada disampingnya yang selalu ia rindukan setiap saat.
"Jadi selesai urusannya di kota T." Tanya Davin memecah keheningan.
"Udah Bang, Abel cuma survei ke perkebunan sawit." Jawab Abel.
"Kamu punya perkebunan sawit disana atau perusahaan pengelola." Tanya Davin lagi.
"Perusahaan yang dikelola sama Tante Abel." Jawan Abel lagi merendah.
"Oh, pasti anak perusahaan kakek kamu, ngomong-ngomong kapan mulai magang." Ujar Davin.
"Mungkin Minggu depan Bang, Abel masih nunggu kabar." Balas Abel.
"Mudahan secepatnya, kantor kita 'kan dekat. Jadi Abang bisa ngajak kamu makan siang bareng tiap hari." Ucap Davin keceplosan.
Abel menoleh kearah Davin, dia jadi tersipu tersenyum sendiri mendengar perkataan Davin. Tanpa terasa mereka sudah memasuki gerbang Citral*nd dan kini sudah tiba di depan pagar rumah Abel.
"Terima kasih Bang Davin, Abel jadi ngerepotin Bang Davin." Seru Abel membuka seat belt.
__ADS_1
"Abang malah senang," Balas Davin. Abel bersiap keluar dari mobil.
"Abel tunggu, jangan bergerak!" Kata Davin mencegah Abel membuka pintu. Abel langsung diam mematung mengikuti instruksi.
Davin mendekatkan wajahnya ke arah Abel, membuat jantung Abel semakin berdebar kencang, semakin dekat hingga dia bisa merasakan aroma parfum Davin dengan jarak hanya beberapa centi saja. Abel mengepalkan tangan kanan ke tasnya sebagai senjata, bersiap akan menimpuk sekeras-kerasnya jika terjadi hal yang tidak diinginkan.
Hupp. Tangan Davin menangkap sesuatu di atas kerudung abel dan berlahan-lahan mulai duduk di kursinya dan membuang hewan kecil ke jendela mobil.
Huhhh. Bikin jantungan, Abel bernafas lega.
Bagaimana dia bisa berpikir mesum pada Davin, di siang bolong di depan pagar rumah sendiri lagi. Isi pikiran Abel.
"Kok bisa ada Lalat sih di dalam mobil, kamu tadi mandi nggak tadi." Goda Davin pada Abel.
"Bang Davin sembarangan." Abel memukul lengan Davin.
"Bercanda cantik...." Kata Davin terkekeh.
"Ya udah Abel balik dulu, Bang Davin hati-hati." Seru Abel dengan malu-malu dan wajah memerah. Dia membuka pintu mobil.
Davin memberanikan diri menarik ujung pashmina Abel yang terjuntai. "Abel besok malam kita makan diluar ya, udah bilang kok sama Papa kamu...."
Abel menganguk mengiyakan sambil tersenyum dan segera keluar dari mobil. Dia menunggu hingga mobil Davin pergi dan masuk ke dalam rumah untuk segera beristirahat.
******
Pagi berganti sore, merasa segar setelah bangun tidur. Dia bersiap akan pergi ke panti asuhan menepati janjinya dengan Nolan. Mengenakan kaos putih dan celana kulot hitam terlihat santai, ditambah sedikit merias wajahnya dengan natural.
"Masuk!" teriak Abel.
Bi Mina muncul dibelakang Abel. "Ada tamu Nak Abel."
"Siapa Bi." Tanya Abel.
"Bibi nggak nanya, dia bilang teman Abel" Balas Bi Mina.
Abel pun penasaran, karena semenjak kuliah diluar kota dia jarang punya teman dikota B. Dia melangkah menuruni beriringan dengan Bi Mina. Nampak seseorang di ruang tamu yang dia kenal.
Kenapa dia tiba-tiba ke rumah aku. Batin Abel.
"Hai." Sapa Abel kini ikut duduk di sofa.
"Sorry nggak kasih kabar dulu...." Balas Nolan.
"Kamu nggak percaya sama aku, kamu mau jemput aku ke panti." Seru Abel pada Nolan.
"Hah, kamu jangan kepedean ya, siapa yang mau jemput kamu, memang kaki kamu nggak di fungsikan," balas Nolan dengan nada kaku seperti biasa.
"Terus...." Dengus Abel kesal, bisa tidak dia lembut sedikit saja kayak kemaren.
"Aku mau ambil gesper yang aku pinjamin ke kamu waktu itu." Balas Nolan.
__ADS_1
Oh My God dia mau nemuin aku cuma mau nagih gesper, apa selain jutek, si songong juga pelit. Untung aja aku simpan dengan baik tuh gesper. Begitu yang ada di pikiran Abel.
Dengan cepat Abel beranjak menaiki tangga ke kamarnya mengambil ikat pinggang milik Nolan.
Beberapa menit dia kembali dan menyerahkan pada Nolan Paper bag yang berisi ikat pinggang.
"Terima kasih ya." Kata Abel.
"Gesper pemberian Abangku, tidak pantas jika diberikan pada orang." Tungkas Nolan. Abel hanya tersenyum.
Maaf! nggak nanya. Batin Abel.
Kini Abel mengantar Nolan kedepan pintu rumahnya.
"Kamu mau ke panti ya, bareng aja Ama aku, biar cepat sampai aku juga mau kesana." Tanya Nolan.
Abel melihat di depan pagar rumahnya, tidak ada kendaraan roda empat yang terparkir. Abel jadi binggung kenapa dengan PeDe nya si songong ngajak bareng.
"Kamu naik apa kesini...." Tanya Abel.
Nolan menunjuk motor trail disisi mobil hitamnya.
"Kenapa, kamu pasti nggak mau ya naik Motor, aku sudah duga, ya udah aku duluan awas jalan macet sore begini, kasian anak-anak nungguin." Balas Nolan melangkah meninggalkan Abel.
Siapa juga yang mau naik motor sama Dia, tapi apa salahnya, kali ini boleh lah aku naik motor sama si songong biar cepat sampai. Anggap saja di tukang ojek. Pikiran Abel.
"Nolan tunggu! aku ikut." Balas Abel.
Nolan tersenyum dibalik helmnya merasa senang. Abel kembali kedalam rumah, berpamitan pada Bi Mina satu-satunya orang yang ada di rumah. Tak lama berselang, dia sudah keluar membawa helm ditangannya.
"Sudah...." Kata Abel yang sekarang naik di atas motor sambil menjauhkan posisi duduknya.
Nolan pun menyalakan mesin, mulai bergerak perlahan meninggalkan rumah Abel. Abel mengosok - gosok hidungya. Memastikan kalau indera penciumannya masih berfungsi dengan normal. Entah kenapa aroma tubuh Lelaki didepannya ini mirip sekali dengan aroma parfum lekaki yang selalu membuat jantungnya berdebar.
Ya Allah, Apa secinta itu aku sama bang Davin sampai wangi parfumnya saja terbayang di tubuh cowok songong ini. Abel
.
.
.
.
.
NEXT.....
Maaf Zen, hari-hari ini sering telat Up, Thor ada kesibukan di dunia nyata.
Terima kasih udah sabar dan setia nunggu up dari author 😍🙏 🙏🙏
__ADS_1
Beri Thor semangat Pencet LIKE, KOMENT yang punya Poin bisa bagi VOTE. Lop U ❤️