Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Season 3 - Tidak Tepat


__ADS_3

Raffa


"RAFFAAA!" teriak Aline yang hampir memecah gendang telinga saya.


"Lin! Bisa nggak sih kamu biasa aja!" seru saya mengusap telinga.


"Nggak bisa Raf! Perjanjian ini banyak menguntungkan kamu!" ucap Aline keliatan kesal, dan saya puas.


"Kamu sudah saya kasih waktu berminggu-minggu untuk memikirkan baik-baik syarat perjanjian. Siapa yang nyuruh kamu cuma buat satu syarat. Sekarang sudah terlambat mau merevisi!" balas saya.


"Nggak bisa Raf! Ini nggak adil!" sentaknya lagi.


"Adil! Tetap nggak bisa di revisi sampai enam bulan ke depan!"


"Raffa! kenapa kamu curang!" keluh Aline mengepalkan tangan ke arah saya.


"Sekarang kamu terima atau tidak sama sekali, saya yang akan bilang pada keluarga kita kamu yang membatalkan sepihak pernikahan kita! Dan kamu harus bayar denda."


"Nggak bisa gitu dong Raf," lagi - lagi Aline menampakk wajah memelasnya.


Tidak mempan kali ini meskipun seimut apapun wajah kamu.


"Tanda tangan atau tidak sama sekali!" saya menyodorkan bolpoin pada wanita yang akan jadi istri saya itu.


"Ya!" jawabnya kesal langsung menyahut bolpoin yang ada di tangan saya.


"Tanda tangan yang benar, harus kena materai!"


"Ya Raf! Nyebelin deh!" seru Aline kesal.


Ia menandatangani beberapa berkas yang ada di map merah.


"Pastikan tanda tangan kamu sama dengan di KTP."


Aline mengorek isi tasnya. "Nah Raf! Sama! Puas!" sentaknya sambil memperlihatkan KTPnya.


"Sini saya periksa!" saya meraih KTP ditangan Aline.


"Ini kenapa di KTP ada titiknya, kenapa di surat perjanjian nggak ada!" saya menunjukkan pada Aline tanda tangannya.


Aline langsung mengambil memberi titik di atas bubuhan tanda tangannya.


"Sudah! Ada lagi!" tanyanya menunjuk kertas dengan nada kesal.


Saya memeriksa kembali surat perjanjian itu.


"Oke, semua beres! Kita sekarang ke butik untuk fitting baju." Saya mulai menyalahkan mesin mobil menuju butik.


Tak ada yang bisa sesenang saya sekarang melihat ekspresi Aline. Ya, saya banyak merubah pasal Perjanjian Pranikah yang semula berisi tentang keinginan saya untuk segera mengakhiri pernikahan tak kurang dari enam bulan.


Setelah semalam menimbang, mengingat dan memutuskan. Saya akhirnya mengambil keputusan untuk menjalankan penikahan sebagaimana mestinya. Salah satu tujuan menikah adalah ibadah, apa salahnya mencoba menerima apa yang tidak pernah kita inginkan, dan menjadikannya sesuatu yang kita inginkan. Menikah itu bukan hanya janji di hadapan manusia, janji kita langsung ke pada Sang Pencipta. Apakah bisa hal sebesar itu di permainankan? Selain itu, pernikahan ini menjadi harapan kedua keluarga kami.

__ADS_1


Aline harus mengikuti cara hidup dan aturan main saya, tinggal kita lihat saja nanti enam bulan ke depan. Kalau dia masih bertahan dengan saya berarti kita memang jodoh, tapi sebaliknya jika ia tidak bisa bertahan itu artinya kita memang tidak di takdirkan berjodoh.


...----------------...


"Nggak Lin, bahu kamu terlalu terbuka, aku nggak mau istighfar terus kalo lihat kamu," ucap saya melihat Aline yang memakai gaun pengantin dengan sedikit terbuka di bagian bahu.


"Ya ampun Raf, ini udah gaun ketiga loh!" ucap Aline yang kelihatan kesal. "Baru juga coba gaun untuk akad nikah, belum nyoba gaun buat Pengantin!"


"Gaun yang lengannya lebih panjang," seru saya.


Aline menyentakkan kaki di lantai seperti anak kecil. Saya memberi instruksi agar dia masuk untuk menganti baju yang lain. Aline pun menurut dan masuk ke dalam ruang ganti lagi bersama-sama dua Mbak- mbak karyawan butik.


Tak lama Aline berada lagi di hadapan saya dengan gaaun yang lain. Sebenarnya dia terlihat cantik memakai gaun apapun. Tapi saya lebih suka Aline memakai gaun yang lebih tertutup. Seperti sekarang, dia memakai gaun lengan panjang berwarna biru putih, wajah Aline nampak paling bercahaya dengan balutan kain berkilau itu.


"Gimana Raf?" tanya Aline sambil berputar dan sesekali bergaya seperti model yang akan di lempar, maksud saya di potret.


"Ya, ini lumayan!" jawab saya bohong, jangan sampai Aline geer sob, itu nggak bagus untuk tingkat kepedean dia.


Tapi sumpah Aline cantik banget, boleh nggak sih dipercepat nikahnya. Eh ... kenapa saya jadi kena pelet si Nyai Ratu mulut ember.


"Tunggu Raf, aku punya kejutan," ucap Aline.


Tak lama mbak - mbak karyawan butik memakaikan kain penutup di kepala Aline. Aline dipakaikan kain membelit di kepalanya.


"Tara!" Aline berbalik ke arah saya.


Masya Allah, apa saya melihat bidadari, saya masih di bumi kan bukan di surga. Ini terlalu lebay ....


"Raf, Raf," Alien mengerakkan tangannya di depan saya. Saya tersentak kaget.


"Gimana aku cantik kan, nanti acara akad nikah, aku mau pakai hijab Raf." lagi-lagi Aline berpose aneh yang membuat saya jadi ilfil.


Tidak apalah untuk sementara waktu luarnya Aisyah dalamnya Ashelole. Perubahan seseorang butuh proses. Betul nggak?


"Ya udah Lin, pilih itu aja kamu can - tik," akhirnya terucap juga meskipun sedikit terbata. Tak apalah sesekali memuji dia.


"Makasih Raf," ucap Aline tersenyum malu malu mual.


Akhirnya kita memilih gaun terakhir yang di kenakan Aline. Kita pun melanjutkan perjalanan pulang menyusuri malam gemerlap cahaya lampu jingga. Mengingat hari yang sudah semakin malam jalanan mulai sedikit lenggang di bandingkan sore tadi.


"Raff, mampir dulu di minimarket depan pertigaan," tunjuk Aline.


"Mau ngapain?"


"Mau bungkusin martabak manis buat papi sekalian juga mbak Tini. Mereka berdua suka."


"Oke!" Perhatian juga Aline dengan pembantunya.


Mobil saya berhenti di depan mini market yang di maksud Aline. Alien langsung turun menuju teras minimarket yang terdata gerobak martabak yang cukup banyak orang mengantri.


Merasa sedikit jenuh sendirian di dalam mobil, saya pergi ke minimarket membeli minuman untuk saya dan Aline.

__ADS_1


Memilih minuman yang paling tepat untuk malam ini adalah kopi, saya mengambil dua botol kopi kemasan dengan rasa capuccino.


"Mas Raffa," suara seseorang yang sangat saya kenal.


Saya menoleh kearah sumber suara wanita yang memanggil saya. Suara lembutnya yang selalu membuat hati saya adem. Berbeda dengan Aline yang selalu membuat telinga saya hampir tuli.


Ternyata dia memang wanita yang sudah saya duga.


"Sa, kamu disini juga?" tanya saya balik.


"Ya Mas, lagi belanja kebutuhan," jawabnya menunjuk kemasan sabun.


"Kamu sendirian?"


"Ya Mas. Ngomong-ngomong Mas Raffa jauh banget mampirnya ke minimarket ini, Mas habis pulang jalan ya?" tanya Alisa dengan gaya lemah lembutya.


"Ya, sa. Hanya kebetulan lewat?" Kenapa saya bisa lupa kalau pertigaan ini dekat dengan Kos Alisa.


"Mas Raffa sendirian?" Pertanyaan Alisa yang membuat saya jadi mati kutu. Berbohong dosa, tidak berbohong takut menimbulkan masalah.


"Raf! Aku kira kamu di mobil, ternyata kamu disini, Bayarin minuman aku!" Belum sempat menjawab Aline menampakkan diri seperti dedemit yang datang di saat yang tidak tepat.


Alisa berbalik melihat ke arah Aline yang berada di belakangnya. "A- line," ucapnya terbata melihat Aline.


Sedetik selanjutanya Alisa bergantian melihat ke arah saya. Aduh! Kenapa jadi kacau seperti ini!


"Hai, kamu Alisa kan," sapa Aline melambaikan tangan dengan santainya.


"Mas Raffa, Mas dan Aline ...." Alisa tidak melanjutkan kalimatnya, dan pergi meninggalkan kami berdua tanpa membawa troli belanjaannya.


"Sa, tunggu Sa!" saya setengah berteriak memanggil Alisa yang terburu-buru pergi dengan panik.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ....


Hayo! Ada yang mulai panas nggak!


Zen : Kompor kami Ei panas 😳

__ADS_1


__ADS_2