Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP54-S2// Belajar Mengaji


__ADS_3

Davin melihat kearah Abel, ia melempar senyum padanya sekilas tapi tidak dengan Abel, Abel nampak tertunduk malu. Davin tidak menyangka Abel akan memberi kesempatan lagi untuk Bersama. Itu berarti selangkah lagi ia akan bisa mndapatkan Abel seutuhnya, hanya miliknya dan Bersama cintanya. Tidak ada ungkapan apapun yang cocok untuk kebahagian ini. Ia hanya bisa bersyukur pada Allah Sang Pencipta yang memberinya lagi kebahagaian setelah apa yang terjadi.


“Davin….” Tegur Angga yang melihat Davin tersenyum sendiri seolah tak memperhatikan syarat yang diberikan Angga.


Davin kembali tersadar dari lamunannya, kini ia mengalihkan pandangannya. “Ya Pak Angga, maaf.”


“Sudah puas ngelihat Abel,” sindir Angga. Davin hanya mengangguk malu.


“Apapun akan aku lakukan Pak Angga demi bisa kembali Bersama Abel, dan mengembalikan kepercayaannya,” seru Davin sambil matanya yang tak bisa jika tak melihat wajah cantik pujaannya yang terbalut kerudung pashmina pink.


Abel mendongakkan wajah kali ini, hingga kedua matanya kini saling bertemu dengan mata Davin. Debaran jantung Abel kini mulai berdetak kencang lagi seperti selesai lari marathon. Rasa ini sama seperti ia pertama kali jatuh cinta dan sekarang terulang kembali. Ternyata benar kata Om Adrian cinta itu bisa membutakan segalanya. Abel perlahan-lahan mulai melupakan rasa sakitnya yang berganti dengan bunga kebahagian.


“Hmmmmmm….” Dehem Angga sambil mengelengkan kepala. Suara itu yang membangunkan tatapan mata keduanya jika terlalu didiamkan akan mendatangkan rayuan setan, untungnya masih ada Angga yang jadi orang ketiga.


“Maaf Pak Angga….” Seru Davin lagi merasa malu.


“Davin, Abel sumber maksiat itu bermula dari mata. Dari mata turun ke hati. Tangan dan kaki bisa dan juga anggota badan lainnya untuk berbuat maksiat. Pandangan haram itu adalah panah Iblis. Tolong tahanlah pandangan mata kalian. Lezatnya ibadah itu bisa dirasakan nanti setelah kalian halal dan bisa menjaga mata.” Lagi-lagi Angga mengeluarkan ceramahnya. Medengar ada kata iblis Abel dan Davin langsung berhenti saling memandang.


“Maaf Paman….” Seru Abel merasa malu , entah kenapa dia selalu khilaf ketika dekat Davin.


“Jadi Davin, Abel akan menerima kamu lagi dengan syarat kamu harus sesegera mungkin melamar Abel pada Mas Ervan, tapi sebelum menikah dengan Abel, kamu belajar mendalamai ilmu agama, kita sama -sama belajar jadi calon suami yang sholeh untuk menuntun keluarga kita masuk kedalam surga.” Seru Angga.


“Insha Allah Pak Angga saya siap,” seru Davin bersemangat. Teryata syarat yang diberikan Abel tidak terlalu sulit, yang sulit hanya menyakinkan Ervan karena pasti tidak mudah mendapatkan kepercayaannya lagi.


“Satu lagi, hapalkan tiga surat Al-Quran sebagai hadiah cinta kamu pada Abel, pertama Ar-Rahman, al-waqiah dan terakhir Al-Mulk atau surat lain yang lebih Panjang dari itu juga bisa. Mudah kan?” seru Angga lagi.


Abel binggung, perasaan Abel hanya nyuruh hapalin surat yang pertama kenapa paman Angga menambahkan surat yang kedua dan ketiga. Tapi ya sudahlah kalau itu lebih baik.


Davin menjadi terdiam sekarang, mudah bagi Angga tidak baginya. Kenapa Abel tidak minta hadiah mobil sport keluaran terbaru, berlian atau promo perusahahannya. Ya, ia memang tidak terlalu pandai mengaji bisa dibilang parahlah. Sejak adiknya mengalami ganguan psikis sejak SMP waktu nya hanya ia pergunakan untuk menemaninya karena hanya ia yang bisa membuatnya tenang. Selebihnya ia pergunakan waktunya untuk training menjadi penerus perusahan besar adiguna group. Ia tidak punya waktu untuk belajar mengaji, yang ia tanamkan didirinya hanya jangan meninggalkan sholat 5 waktu. Tapi demi Abel ia akan berusaha , mudahan jalannya dimudahkan.


“Ya Paman, Abel, Insha Allah saya siap,” jawab Davin lagi. Angga nampak puas dengan jawaban Davin.


Davin teringat Nolan yang fasih membaca Al-Quran dan bahkan hafal beberapa surat karena sering mengikuti lomba Bersama anak-anak yatim. Ia akan meminta bantuan adiknya saja biar tidak terlalu memalukan jika belajar bersama orang lain. Itu juga akan memhangatkan kembali hubungannya dengan Nolan yang sempat merenggang.


“Davin, mungkin besok pagi aku dan Abel akan kembali ke kota B, kau bisa langsung menemui Mas Ervan. Tunjukkan keseriusanmu mendapatkan Abel, dapatkan lagi kepercayaannya.”


“Ya, Pak Angga, saya akan membuktikan kalau saya sangat mencintai Abel, saya nggak akan pernah melepas ataupun menyakiti Abel lagi,” ujar Davin.


Abel tersenyum dan pasti merasa Bahagia sekarang, dia hanya berharap jalannya ingin di halalkan seseorang yang dicintainya dimudahkan dan tidak ada halangan lagi.

__ADS_1


*****


Suara kumandang sholat subuh sayu-satu terdengar memenuhi gendang telinganya. Abel dengan sedikit malas mencoba membuka matanya untuk menunaikan kewajiban.


Menempuh perjalanan jauh semalam memang membuatnya lelah.


Pagi ini juga dia harus bersiap hendak menuju kota B untuk pulang. Abel hampir tidak percaya beberapa hari di kota T ini di luar ekpetasinya.Tadimya dia ingin menghindari seseorang sekarang dia malah terjebak kembali Bersama.


“Abel, Davin sudah didepan.” Seru Miranda yang memasuki kamar Abel. Abel mengambil tas selempangnya dan pelayan rumah Miranda membawakan kopernya.


Abel memang akan pulang ke kota B Bersama Davin, tadinya Abel ingin pulang mengunakan persawat komersil kecil seprti biasa. Tapi Davin mengajak Abel pulang bersama menggunakan jet pribadi milik keluaraga Adiguna. Abel sudah berada di ruang tamu, Davin dengan cekatan membantu pelayan membawa koper milik Abel.


“Sudah siap,” Angga muncul dari balik pintu ruang tamu.


Ya, Angga akan ikut satu pesawat dengan mereka sesuai kesepakatan, karena Angga tahu mereka berdua kasmaran lagi, tidak mungkin Angga membiarkan keduanya berdua dalam satu pesawat.


Davin dan Abel berpamitan pada Miranda dan ketiganya kini bergegas masuk ke mobil menuju bandara.


Dalam pesawat tidak ada obrolan yang serius, justru Angga yang lebih banyak bicara, tepatnya memberi ceramah Agama. Posisi duduk mereka berhadapan Abel duduk di sebelah Angga sedangkan Davin duduk sendiri didepanya sesekali mencuri memandang Abel tidak sabar, kapan abel bersanding bersamanya. Menempuh perjalanan satu jam, pesawat mendarat dengan cantik di landasan.


Di ruang kedatangan bandara ketiga orang ini harus berpisah untuk menuju ke rumah meraka masing-masing.


“Abel Sayang,” ujar Davin. Hati Abel kembali berdesir mendengar kata ’sayang’ lagi dari Davin. Abel mendongak memperhatikan.


“Abel tunggu bang Davin, jangan kecewakan Abel lagi,” Abel tersenyum kali ini ia bahagia seolah melupakan apa yang terjadi.


“Tidak akan….” Balas Davin.


Davin menoleh kearah Angga, “Pak Angga, jangan lupa kirim jadwal kajian yang akan kita datangin, Insha Allah saya pasti datang.” Angga mengangguk mengiyakan.


Abel dan Angga masuk mobil terlebih dahulu untuk pulang, Davin menyusul masuk mobil jemputannya setelah memastikan mobil yang di tumpangi Abel sudah jauh.


****


Sampai di rumah megah keluarga Adiguna, Davin dengan semangat berlari menuju lantai atas tanpa memperdulikan sapaan dari para pelayan. Ia langsung masuk kamar Nolan yang tidak terkunci.


Pemilik kamar terlihat masih tertidur meringkuk dibawah selimutnya. Ya, ini memang weekend mungkin dia akan menghabiskan waktu untuk istirahat.


Davin melemparkan bantal ke arah Nolan.

__ADS_1


"Pemarah! Bangun!" teriak Davin.


Nolan yang merasa terganggu, membuka matanya malas mencari sumber suara yang sangat dikenalnya. Ia terkejut Davin ada di kamarnya, Nolan langsung membalas melempar guling ke arah Davin.


"Kenapa Bang Davin nggak bilang pulang hari ini!" seru Nolan kesal.


"Nolan!" teriak Davin langsung memeluk keras Nolan hingga tubuhnya akan roboh.


"Heh! cerita dulu Bang!" Nolan sudah menduga apa yang terjadi melihat wajah bahagia Kakaknya.


"Dia No! Abelia ku! dia menerima ku lagi! dia mau kembali pada Abangmu ini! makasih No." Davin berteriak sambil memeluk erat lagi Nolan.


Nolan tersenyum ikut senang melihat kebahagian Kakaknya, meskipun sisi yang lain ada kerapuhan di dalam hatinya. Buru-buru Nolan menepis sisi rapuhnya tak ingin merusak kebahagiaan ini setelah beberapa waktu lalu hubungannya dengan Davin memburuk. Kedua saudara yang mulai akrab ini melepaskan pelukan masing-masing.


"Jangan pernah sakiti dia lagi dengan alasan apapun. Awas aja Bang kalau terjadi lagi!"


"Ya! Pemarah." Balas Davin.


"Davin!" Seseorang memanggil penuh emosi dari balik pintu kamar Nolan yang masih terbuka.


Seketika kedua saudara yang bercanda akrab berhenti dan menoleh ke sumber suara. Pak Hendrawan mendekat kearah keduanya.


"Davin dari mana saja kau! setelah memutuskan dengan Kayla, apa kau juga lupa tanggung jawabmu dikantor!" Kata Pak Hendrawan penuh emosi.


.


.


.


.


.


.


.


Next..........

__ADS_1


Nanti Thor lanjut ya! jari Thor ijin mau me time. yang masih punya pertanyaan, uneg-uneg ketik di kolom komentar ya!


Beri semangat author mu pencet LIKE yang ada gambar jempol ketik KOMENT yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas kalian. yang ada waktu balik ke beranda kasih Rate 5 ya. sorry Thor banyak maunya nih, makasih Loph U ❤️ selalu


__ADS_2