Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP12-S2// Perkebunan 2


__ADS_3

Menempuh perjalanan beberapa jam dari kota T, mobil memasuki jalanan dengan pemandangan di kiri dan kanan jalan pokok sawit besar.


Abel sepeti memasuki dunia yang bebeda disepanjang matanya memandang, satu jalan setapak hanya ada berjejeran warna hijau pohon-pohon kelapa sawit tanpa ada pemandangan yang lain. Memang sangat sunyi tenang dan teduh tapi bagaimana rasanya harus tinggal disini untuk waktu yang lama tanpa ada hiburan Mall dan yang lainnya.


Abel memang terlahir dari keturunan keluarga pengusaha yang sama-sama bergerak di bidang kelapa sawit, tapi baru ini untuk pertama kali dia melihat secara langsung perkebun kelapa sawit, dia seperti berada disisi dunia yang lain. Selama ini yang dia dan keluarga besar Wijaya hanya bersenang-senang dengan menikmati hasilnya saja, tanpa tahu bagaimana pekerja yang berjuang mengais rejeki berkerja diperkebunan ini.


Rasanya ibanya pada Angga semakin memuncak, di umurnya yang bisa dibilang masih muda 28 tahun harus terdampar di perkebunan kelapa sawit jauh dari keluarga, kota, saudara, hiburan apalagi wanita. Tekadnya menjodohkan dengan sahabatnya Rena semakin kuat.


Kini mobil berhenti di area seperti perumahan di dalam perkebunan yang lengkap dengan kantor dan masjid kecil sebagai fasilitas ibadah. Abel dan Angga turun dari mobil disambut beberapa orang perkerja perkebunan disana. Semua orang bengong melihat siapa wanita cantik yang datang bersama Angga. Mereka terperangah melihat wanita cantik yang ada dihadapan mereka.


“Iler tuh mau jatuh,” seru Angga menepuk salah satu karyawan laki-laki yang tak berkedip melihat Abel.


“Maaf Pak,” Katanya mengelap mulutnya menunduk malu.


“Maklumin ya Bu bos, begini kita kalau diperkebunan, nggak bisa lihat yang terang dikit.” Seru Angga. Abel hanya tertawa kecil melihat tingkah orang itu.


Angga memperkenalkan pada staff perkebunan dan para asisten kebun (Asisten afdeling biasa sebutannya) yang menyambutnya di kantor. Usai acara berkenalan, Angga mengajak Abel berkeliling melihat kantor diperkebunan, Mess karyawan dan selanjutnya akan menuju ke perkebunan di afdeling 1. Angga menyuruh Abel menggunakan perlengkapan safety seperti helm, sepatu boat, masker dan kacamata agar kulit mulusnya tidak terkena paparan sinar matahari.


Kini keduanya berjalan menuju pekebunan ditemani beberap staff diperkebunan untuk memberi penjelasan pada Abel. Selama diperjalanan menyusuri perkebunan Abel terus mengandeng tangan Angga karena belum terbiasa berjalan dengan boat di jalanan lumpur.


Pantes aja tante Mira nggak mau ikut ke kebun, dasar tante manja mau enaknya aja. Gerutu abel.


“Gimana nih rasanya menginjak perkebunan.” Seru Angga.


“Lengket Paman, tapi seru asik.” Jawab Abel tersenyum, yang tidak sesuai dengan ekpentasi Angga ternyata Abel bukan lagi anak orang kaya yang manja.


“Bu, ini di blok 12 di afdeling 1 yang baru saja di panen tandan buahnya dan di punguti brondolannya,” Kata salah pekerja kebun. Abel hanya menunduk mengiyakan.


“Perusahaan kita punya 3 afdeling yang tiap afdelingnya dibagi menjadi 15 sampai 20 blok. Setiap bloknya kita beri satu mandor perkebunan dengan 20 buruh perkebunan.” Terang Angga pada Abel.


Abel hanya mengangguk mendengar penjelasan Angga, sebenarnya dia tidak terlalu mengerti.Tapi Abel percaya sepenuhnya tentang perkebunan pada Angga. Mereka melanjutkan lagi berkeliling melihat pokok sawit yang akan berbuah.


Abel meminta berhenti sejenak untuk beristirahat karena merasa lelah berjalan di jalan lumpur memang perlu tenaga ektra. Angga memberikan Pada Abel botol air mineral, dengan cepat Abel meneguk air untuk melegakan tenggorokannya yang kering. Dia membayangkan bagaimana rasanya buruh perkebunan yang harus memanen satu orang untuk dua hektar lahan menurut penjelasan asisten kebun. Sedangkan dia saja baru berjalan beberapa meter kakinya udah terasa seperti diciumi semut, kaku dan kram. Tapi Abel lega karena menurut laporan Angga semua buruh di bayar dengan layak untuk keringat mereka sesuai dengan keadaan pasar.


Melihat kondisi Abel yang sangat kelelahan, Angga memutuskan kembali ke kantor diarea perkebunan untuk beristirahat dan makan siang. Beberapa menit berjalan mereka tiba dikantor, Abel langsung menuju ruangan Angga dan berselonjoran di sofa kantor mengistirahatkan istrinya.


“Ayo makan,” kata Angga tiba-tiba masuk, Ia menyodorkan satu piring nasi padang pada Abel.


Abel sangat kegirangan karena kebetulan cacing perutnya sedang berdemo.


“Paman, kalau lagi jenuh biasanya ngapain disini.” Tanya Abel sambil menyuap nasi kemulutnya.

__ADS_1


“Paling nonton film, main game, baca Quran, mau apalagi..." Jawab Angga.


"Paman nggak kepikiran pengen nikah gitu," Tanya Abel.


"Ya pengen dong Abelia, siapa yang nggak mau nikah, tapi kalau disini susah cari istri cari monyet, hewan buas dan teman-temannya banyak." Gurau Angga.


Abel tertawa. "Paman, kapan paman akan pulang ke kota B?" Tanya Abel setelah menyelesaikan makan siangnya.


"Kalau menurut planning bulan depan, tapi tergantung lagi situasi di sini yang menjadi tanggung jawab Paman." Seru Angga.


Lagi-lagi Abel merasa terharu dengan dedikasi Angga pada perusahaan. Apa kabar Tante Mira yang dengan nyaman di kota duduk di meja empuk dan ruangan ber-AC jadi tidak adil, tapi itulah pekerjaan Mereka sudah berkerja pada porsinya masing-masing. Tante Miranda ahli dalam manajemen agribisnis, sedangkan Paman Angga berbakat di bidang agronomi. Its okelah, begitu kiranya yang ada dipikiran Abel.


"Paman, mau nggak Abel kenalin teman Abel, dia cantiknya standar sih, tapi anaknya baik, lucu, Sholehah, agak mata duitan sih tapi dia rajin nanti orang tua." Cerita Abel.


Angga hanya tertawa kecil. "Abel, kamu yakin banget teman kamu mau sama paman Angga yang akan di ajak tinggal di perkebunan gini."


"Paman, siapa yang nggak mau sama paman Angga, udah ganteng, baik, pinter, rajin, ulet, Sholeh, tidak sombong, rajin menabung." Oceh Abel. Angga hanya tertawa melihat tingkah Abel.


"Ya udah terserah kamu, sekarang bersiap sebentar lagi harus balik ke kota sebelum gelap." Ujar Angga.


Abel hanya berharap misinya kali ini berhasil. Kini dia bersiap lagi kembali ke kota sebelum malam. Angga juga tetap mendampingi Abel hingga tiba di rumah Amanda.


Abel memeriksa pesan yang masuk dan beberapa panggilan tak terjawab. Abel membaca pesan singkat yang menarik perhatiannya.


Nolan : Assalamu'alaikum aku Nolan, aku dapat nomor kamu dari Bu tari, tolong ya besok sore kamu ajar anak-anak. terimakasih


Abel hanya tersenyum kecil, bukan hanya bicara, pesan pun juga sangat singkat dan padat. Abel membaca lagi pesan dari Mama Papa nya tercinta. Di lanjutkan ratusan pesan dari orang yang dia rindukan.


Davin : Lagi Dimana cantik, kenapa nggak ada berita dari Pagi.


Isi salah satu pesan Davin dari ratusan pesan yang menanyakan maksud yang sama tapi tulisan berbeda. Abel tersenyum senang kali ini.


Baru juga sehari nggak aku nggak kasih kabar, bang Davin udah kebingungan gitu kayak aku mau pergi jauh dari dia aja. Batin Abel.


Tepat malam hari usai kumandang azan Isya, Abel tiba di rumah Miranda yang berlokasi di samping perusahaan. Dia segera masuk merasa sangat lelah ingin mandi dan langsung tidur sebelum besok pagi kembali ke kota B.


******


Beberapa jam lagi Abel akan berangkat ke bandara untuk kembali kota B. Dia mengemasi barang-barangnya kedalam Tas. Ponselnya berbunyi disela kesibukannya berkemas. Nampak di layar ponsel Abel, Davin memanggil panggilan video.


Abel langsung mengangkat teleponnya karena dia sudah rapi dengan jilbabnya.

__ADS_1


Davin : Kapan pulang, udah nggak sabar ketemu, tiba-tiba kangen aja sama kamu....


"Hari ini Abel pulang bang Davin."


Davin : Abang jemput di bandara ya nanti, nanti Abang ijin sama papa kamu...


"Bang Davin nggak kerja, nanti Abel ngerepotin."


Davin : Nggak, Abang jemput ya


"Ya Bang." Balas Abel mengiyakan.


Davin : Ya udah kalau gitu assalamu'alaikum.


"Wa'alaikumusalam." Balas Abel tersenyum menutup telepon, bertepatan dengan Miranda yang masuk kedalam kamar.


"Abel, tadi kamu video call sama Davin kan, Davin Adiguna." Tanya Miranda dengan nada aneh.


Abel heran kenapa Tantenya bisa kenal. "Ya, Tante kenal bang Davin."


"Tentu saja, perusahaan kita berkerja sama dengan perusahaan Adiguna. tapi Masalahnya bukan itu, kamu harus jauh-jauh dari Davin." Ucap Miranda menghardik Abel.


"Masalahnya apa Tante, kenapa Tante sewot. ich..." Balas Abel kesal pada Tantenya, sekaligus juga penasaran.


"Davin Adiguna, Dirut muda yang suka mempermainkan wanita seperti kamu ini, setelah di tidurin kamu akan di tinggal seperti sampah, itu bukan rahasia lagi di kalangan pengusaha." Jelas Miranda.


Deg. Tubuh Abel rasanya terbujur lemas mendengar kata menyakitkan yang keluar dari mulut Miranda.


.


.


.


.


. Next.......


sorry telat up, Terima kasih udah sabar nunggu Up dari Author.🙏🙏


Beri Thor semangat pencet LIKE, KOMMENT, yang punya poin bisa bagi VOTE. Loph ❤️ U

__ADS_1


__ADS_2