Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP29-S2// Emosi


__ADS_3

Davin hanya menatap hampa keramaian jalan dari jendela mobil, pikiran benar-benar kacau sekarang. Wajah Abel selalu terngiang-ngiang di kepalanya. Ia meremas kotak bludru biru dan memukulkan pelan di kepalanya.


Kenapa takdirku seperti ini Ya Allah, hidupku seolah dipermainkan oleh takdir. Sekarang aku harus bagaimana, mampukah aku melihat duka adikku lagi setelah sekian lama dia bangkit dari hidup dalam ketakutan dan rasa bersalah.


Drrrrttttt. Dering ponsel membangunkan lamunannya, ia menatap layar ponsel dan saat ini tidak ingin bicara dengan seseorang yang menelpon. Ia pun menaruh ponsel di sampingnya. Ponsel masih terus bergetar hingga dua kali.


"Pak, ada yang menelpon anda." Kata Amar melirik dari balik spion dikursi kemudi.


"Ya aku tahu, kau menyetir saja," perintah Davin.


"Baik Pak," jawab Amar.


Getaran ketiga ponsel pun berhenti berbunyi berganti dengan suara pesan yang masuk.


Abel : Sibuk ya Pak Dirutku, nanti telepon balik Abel kalau ada waktu. Love You titik.


Davin mijat keningnya usai membaca pesan dari Abel. Bagaimana bisa dia meninggalkan Abel? apakah dirinya akan kuat? Abel adalah wanita pertama yang membuat hatinya bergetar merasakan bagaimana caranya mencintai dan indahnya dicintai dengan tulus. Kenapa aku harus bertemu denganmu kalau kau adalah wanita yang dicintai adikku. Kenapa aku tidak tahu lebih awal agar rasa perih yang aku rasakan ini tidak sesakit ini. Davin menendang jok mobil meluapkan kekesalannya.


Sekarang ia ingin sekali bertemu Abel membelai wajah manisnya, mencium kedua tangannya karena ia takut tidak akan bisa melakukannya lagi.


"Amar, seandainya aku bisa meminum alkohol aku ingin meminum sampai mabuk hingga melupakan semuanya sementara." Ujar Davin prustasi ingin kumpulan isi kepalanya terluapkan sejenak.


"Pak, anda sendiri yang bilang alkohol haram, lagi pula pasti adik anda marah jika tahu, seperti waktu bapak mabuk karena dijebak anak pejabat genit itu." Kata Amar berusaha menghibur mengingatkan momen Lucu.


Davin hanya tersenyum sekilas menghargai usaha Amar, tapi itu tidak merubah apapun isi kepala masih mengganjal sangat berat. Hingga beberapa menit mobilnya sudah masuk ke halaman rumahnya yang megah.


Tanpa memperdulikan keberadaan orang tuanya di ruang keluarga. Davin terus saja melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.


Sesampai di kamar Davin langsung membanting cincin yang dalam kotak itu. Senyuman Abel masih mengisi relung kepalanya, tapi ia harus mengambil keputusan ini meskipun itu sangat sulit. Ia tidak bisa lagi harus melihat adiknya terluka.


Jangan Davin, rela kan dia, biarkan kali ini adikmu bahagia. Abel, maaf sayang maaf, ini keputusan yang tepat meskipun aku tidak tahu, aku akan kuat apa nggak. Gerutu Davin mengutuk dirinya.


*******


Matahari pagi menyeruak ke permukaan bumi. Abel seperti biasa bersiap untuk magang hari ini. Ia menyiapkan bekal makan siang untuk kekasihnya meskipun Davin tidak meminta seperti biasanya.


Ada yang beda hari ini, sejak semalam dia tidak mendengar sama sekali kabar tentang Davin. Ditelepon berkali-kali pun tak ada jawaban, apalagi pesan yang sudah dia kirim puluhan kali. Tapi sebaiknya dia sarapan dulu dan berpikir positif mungkin Davin masih sibuk dengan urusan pekerjaannya.


Keluarga Ervan kini duduk di meja makan menikmati sarapan dipiring masing-masing.


"Sayang, kemarin Miranda bilang sama Papa, ada perpanjangan kontrak pengadaan alat untuk pembukaan lahan baru dan akomodasi panen." Seru Ervan disela sarapan.


"Lantas...." Jawab Abel.


"Kamu suruh tanda tangan kesepakatan kontrak yang harus diperbaharui empat tahun sekali, mau lanjut atau ganti pengada alat." Timpal Ervan.

__ADS_1


"Selama ini kita kerja sama siapa Pa."


"Yang Papa tahu delapan tahun terakhir sama unit-unit milik Adiguna, tapi kata Miranda ada perusahaan yang menawarkan harga lebih murah dari Adiguna, mungkin nanti beberapa hari kamu akan dihubungi lagi untuk rapat di Wijaya Palm Hiil sama Opah."


"Abel ngikut aja lah Pa, Abel kan nggak ngerti," keluh Abel.


"Makan dulu, nanti telat. Ngomong masalah bisnisnya di lanjut nanti 'kan bisa Mas." Ujar Riri. Seketika semua kembali fokus pada piring masing-masing.


"Abel duluan," Abel bangkit usai menenguk segelas air, mencium punggung tangan Mama dan Papanya, berlanjut menciumi kepala adik-adiknya.


"Abel bawa bekal." Seru Ervan heran melihat rantang yang ditenteng Abel.


"Bukan Mas, itu buat Davin, dia tiap subuh masak buat Davin." Seru Riri.


"Davin belum jadi suami udah manja banget sama Abel, Mas aja bapaknya belum pernah dimasakan sama dia." Gerutu Ervan.


Riri tertawa. "Mas sampai segitunya sih, biasa lagi kasmaran, mudahan mereka segera halal." Sahut Riri.


"Pa, ayo berangkat." Sela Raffa usai menyelesaikan sarapannya.


"Ray, juja mau secolah." Seru Ray.


"Ayo, anak-anak." Seru Ervan bangkit dari kursi.


*****


Ditempat yang berbeda keluarga Hendrawan Adiguna juga menikmati sarapan, mereka masih menunggu anak pertama mereka turun untuk bergabung sarapan bersama.


"No, kamu jaga kesehatan baik-baik, kamu belum sembuh total." Seru Bu Mitha pada Nolan yang bersiap magang kembali.


"Ya Ma," Jawab Nolan.


"No, jangan bikin repot orang tua lagi karena ulah kamu yang aneh-aneh di tempat magang." Tungkas Pak Hendrawan.


"Ya Pa," Balas Nolan melengos acuh.


Tak lama Davin turun sudah rapi dengan jasnya. Ia langsung mengambil piring tanpa bicara satu patah katapun. Semua memandang aneh ke arah Davin yang terlihat berbeda.


"Bang Davin sakit." Tanya Nolan.


"Nggak, setelah sarapan ada yang mau aku sampaikan." Seru Davin sambil menyuap sendok ke mulutnya.


Seluruh keluarga pun menghabiskan sarapan, seluruh mata menatap ke arah Davin seolah menagih apa yang akan di bicarakan.


"Pa, Ma, aku sudah mengambil keputusan, Davin akan menerima perjodohan dengan Kayla demi kemajuan bisnis keluarga kita. Yang papa katakan benar untuk apa cinta jika tidak bisa memberikan kita keuntungan." Ujar Davin mencoba tegas dengan keputusannya yang penuh kepalsuan.

__ADS_1


Pak Hendrawan tersontak kaget, "Kau memang putra Hendrawan Vin, kita tinggal tunggu keputusan Kayla, Papa sangat yakin Kayla tidak akan menolak putraku yang tampan."


"Bang Davin! apa maksud Bang Davin!" Bentak Nolan langsung berdiri menunjuk kakaknya.


"No, tenanglah, bukan kah kau juga mendengar tadi, Abang tidak akan mengulangi lagi." Ujar Davin bangkit dari kursi pergi dengan langkah cepat keluar rumah.


Nolan dengan langkah cepat pula mengejar Davin, menarik pundak kakaknya kasar hingga berpaling kearahnya.


"Bang Davin! kau sendiri yang menolak perjodohan dengan Kayla dengan alasan apapun, tapi kenapa jadi seperti ini!" Bentak Nolan.


"No, tolong, aku sudah memikirkannya."


"Bang Davin, apa yang kau lakukan! kau dan Abel saling mencintai!" Bentak Nolan kali ini menarik kemeja kakaknya penuh emosional.


"No, Berapa kali harus aku bilang," kata Davin dengan tegas menutupi dukanya menepiskan kedua tangan Nolan.


"Bang Davin, apa kau akan meninggalkan Abel," gertak Nolan dengan rahang keras menahan emosinya.


"Tentu, aku hanya meninggalkan No, seperti yang sudah-sudah, aku tidak pernah meniduri ataupun menyentuhnya." Ucap Davin tenang menutupi dukanya.


"Apa yang kau lakukan Bang! kau akan menyakitinya!" hardik Nolan mencengkeram lagi kemeja Davin lebih emosional tanpa memperdulikan rasa sakit dibahunya. Tangannya mengepal bersiap meninju.


"Nolan! cukup!" Teriak Pak Hendrawan keluar dari rumah.


Nolan dengan cepat melepaskan tangannya dengan kesal dan pergi menaiki motornya. Begitu pula Davin usai merapikan jasnya, ia memilih masuk kedalam mobil tanpa berbicara dengan Papanya.


.


.


.


.


Next.......


Sabar ya Zen ini cerita udah sesuai kerangka kok .....


Zen : Jahara banget elu Thor 😭😭, Abel mana Abel sini peyuk


Thor :🤧🤧 Mo'on Maap 🏃🏿‍♀️🏃🏿‍♀️🏃🏿‍♀️🏃🏿‍♀️


Terima kasih udah sabar nunggu up dari author 🙏🙏


Beri semangat author pencet LIKE ketik KOMENT yang punya poin bagi VOTE seikhlas Kalian. Loph u ❤️

__ADS_1


__ADS_2