
"NO! apa yang kau lakukan pada kakakmu!" Rahang Davin mengeras melihat sesuatu di depan matanya. Adiknya terlihat begitu memaksa mencium tangan istrinya sedangkan Abel terlihat meringis ketakutan melihat apa yang dilakukan adiknya.
Nolan dan Abel menoleh ke sumber suara keras yang menyebutkan nama keduanya.
Nolan masih belum melepas tangan Abel meskipun mendengar suara Davin. Davin berjalan cepat mendekati keduanya.
“Bang Davin, tangan Abel teriris. Aku hanya berusaha membantunya mengurangi darah yang keluar.” Nolan berusaha menjelaskan apa yang terjadi. Ia menunjukkan tangan Abel yang masih di peganginya.
“Iya Nolan benar,” bela Abel. Entah kenapa Abel merasa ada sedikit raut seram di wajah suaminya meskipun segar dengan tatanan rambut basahnya.
Davin langsung meraih tangan Abel yang dipegang Nolan. Hanya mengambil tangan tanpa tisu, jari telunjuk Abel mengeluarkan darah lagi.
“Bang tutuplah dengan tisu.” Nolan kembali panic dan meraih tangan Abel lagi menutupnya dengan tisu.
“Terima kasih No, biar Abang yang mengurusi istri Abang.”
Davin sedikit kesal dengan tingkah adiknya yang begitu mencolok pada Abel. Davin jadi ragu sekarang, rasa panic adiknya bukan seperti adik ipar yang sewajarnya. Sedangkan Abel hanya diam, tak berani berkata apa-apa melihat wajah suaminya yang mendadak kaku.
“Tuan maaf P3Knya,” kata pelayan menyerahkan kotak pada Nolan.
“Bang, balut luka Abel dulu.” Nolan menyerahkan kotak P3K pada Davin. Davin menerima kotak dari Nolan, ia mengandeng Abel ke sofa dekat dapur.
“Bang Davin. Abel hanya teriris tidak apa-apa,” kata Abel melihat suaminya yang telaten membersihkan lukanya dengan Alkohol.
“Sayang, Abang kan sudah bilang jangan masak!” kata Davin terdengar kesal. Ia ingin marah tapi binggung, marah dengan siapa. Adiknya atau Abel? ini hanya ketidaksengajaan.
“Auhhh…!” pekik Abel lagi ketika suaminya mulai menempelkan kassa yang di beri antiseptic.
Nolan tiba-tiba datang menghampiri keduanya. “Bang balutlah dengan baik, sepertinya teririsnya dalam.”
“No! selesaikan saja urusanmu, ada Abang yang mengurusi Abel.” Davin berbicara dengan nada sedikit keras. Sebenarnya ia masih kesal meskipun niat Nolan baik.
“Ya Bang,” jawab Nolan berbalik kembali ke dapur.
Sejenak Nolan menyadari nada bicara kakaknya yang berubah. Nolan mulai berpikir apakah ia terlalu berlebihan mencemaskan Abel. Ia menjadi merasa bersalah sekarang memancing kecurigaan Kakaknya. Nolan berharap semuanya akan kembali seperti semula. Davin tak berpikir dirinya masih menyimpan perasaan pada Abel.
Setelah kejadian itu, tangan Abel sudah terbalut dengan plester. Abel dan Davin kembali ke kamar dengan mie instan yang disambung memasak oleh pelayan. Davin menjadi lebih diam. Abel menjadi serba salah melihat sikap suaminya. Davin tidak lagi mengoda Abel seperti sebelum dirinya pergi ke dapur. Kedua hanya duduk di sofa, Davin menuggu Abel dan mengamati istrinya yang menyuap mie sedikit demi sedikit.
Aroma mie instan pedas yang megusik hidungnya tak lagi membuatnya bernafsu, perutnya mendadak kenyang dan mienya mendadak terasa hambar. Abel tidak menikmati mienya kali ini, ia hanya mengunyah dan menelan agar mie yang sudah dibuat tidak mubazir.
“Bang Davin mau, tapi ini pedas,” kata Abel menyodorkan sendok di hadapan suaminya. Dia mencoba memecah kebisuan.
“Makanlah Sayang, Abang tunggu. Setelah ini kita tidur.” Balas Davin.
Abel tambah curiga, kenapa suaminya mendadak mengajak untuk tidur. Bukannya tadi dia sudah beri peringatan akan meneruskan season kedua. Abel senang saja bisa istirahat lebih lama malam ini, tapi pikirannya apakah bisa tenang melihat suaminya.
__ADS_1
“Udah ....” Davin melihat mangkok mie Abel kosong. “Ayo kita tidur Sayang, besok ada yang ingin Abang bicarakan sama kamu,” sambung Davin lagi sambil mengulurkan tangan.
Abel meyambut uluran tangan suaminya. Keduanya menuju ranjang. Abel jadi merasa semakin aneh suaminya tak bernafsu lagi padanya. Apa karena dirinya berganti baju dengan piyama panjang atau karena kejadian Nolan yang meyesap jarinya.
Pikiran Abel mulai dipenuhi tanda tanya sekarang. Davin menarik tangan Abel agar melingkarkan ke tubuhnya. Ia juga menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Dengan erat Abel memeluk suaminya dengan kepalanya yang menyadar di lengan suaminya.
Davin mengusap kepala Abel, sesekali mencium keningnya. Terdengar suara nafas Abel yang mulai berat, hal itu menandakan Abel sudah di alam mimpi. Davin memang memejamkan mata sekarang, tapi pikirannya masih menari-nari mencari ketenangan diri. Apa yang dia pikirkan tentang adiknya tak sesuai dengan kenyataan yang ada.
Apa kau masih menyimpan rasa itu pada kakak iparmu sendiri No. Apa kau masih belum bisa melupakan Abel yang sekarang sudah menjadi istri kakakmu. Bagaimana dengan wajah bahagia yang selalu kau tunjukan padaku, apakah itu hanya kepalsuan untuk menutupi semuanya.
Davin mencoba memejamkan matanya, ia sudah memutuskan langkah apa yang diambilnya. Ia mengambil keputusan tanpa pikir panjang lagi sekarang.
********
Keesokan paginya. Ini hari Sabtu seluruh penghuni rumah tidak ada yang melakukan aktifitas ke kantor.
Abel sudah rapi dengan pakaian santai, ia masih menunggu di tepi ranjang, hal apa yang akan dibicarakan suaminya. Davin keluar dari kamar mandi dan berpakaian lengkap. Abel berinisiatif memeluk dari belakang yang suaminya yang menyisir rambut.
"Bang Davin mau ngomong apa?" tanya Abel.
Davin berbalik, ia mengandeng tangan Abel menuju sofa. Davin membelai rambut Abel yang belum tertutup kerudung.
"Apa tanganmu sudah baik-baik saja," tanya Davin.
"Sayang, rencananya perusahaan akan membuat lagi kantor pusat di ibukota. Segala keperluan dari luar negeri akan di kontrol dari sana." Davin membuka cerita.
"So....," lanjut Abel. Dia masih jadi pendengar yang baik.
"Dari hasil keputusan rapat kemarin, dewan yakin memilih Abang untuk memimpin disana. Sampai menemukan pengganti yang tepat untuk posisi penting itu. Bang Davin minta waktu untuk menerima keputusan dewan."
"Berapa lama?" tanya Abel.
"Tergantung kebutuhan, bisa tiga, lima atau sepuluh tahun," balas Davin.
"Sayang. Abang sudah menikah sekarang. Tidak mungkin Abang harus bolak-balik dari ibukota ke kota ini," terang Davin.
"Maksud Bang Davin?" Abel masih bertanya.
"Kita akan pindah ke ibukota dan menetap disana. Sebentar lagi Amar akan datang membawa contoh real estate. Kamu yang akan pilih sayang, kita akan tinggal di apartemen atau di perumahan dengan sistem keamanan tinggi."
"Bang Davin, kita akan pindah? Kenapa mendadak sekali," tanya Abel lagi. Davin mencium pipi Abel agar meredakan keterkejutan istirnya.
"Tidak mendadak Sayang. Bang Davin memang sudah merencanakan ini dan akan membicarakan hari ini denganmu dan keluarga kita."
"Kapan rencananya Bang, bagaimana dengan magang Abel, bagaimana dengan Papa? Papa tidak bisa jauh dari Abel."
__ADS_1
"Sayang soal Magang. Abang sudah menghubungi Jessi untuk mempercepat waktu magang hingga kamu bisa langsung ajukan skripsi. kamu tidak perlu kuatir. Soal Papa kamu, pasti Papa mengerti kalau sekarang kamu adalah seorang istri, tanggung jawab suaminya. Istri akan selalu mengikuti dan mendukung langkah suaminya bukan."
"Ya Bang Davin, Abel akan selalu mengikuti kemana Bang Davin pergi," jawab Abel.
"Terima kasih sayang, mungkin berat ya buat kamu pindah dari kota ini dan berpisah dengan keluarga besar kamu. Tapi ibukota ke kota ini hanya butuh dua jam sayang apalagi kalau pakai jetpri pasti lebih cepat, kalau kamu kangen kita bisa berkunjung setiap bulan atau setiap pekan juga tidak masalah." Davin berusaha meyakinkan Abel. Abel tersenyum mendengar ucapan suaminya.
Kenapa mendadak Bang Davin ingin pergi dari kota ini. Apa ini ada hubungan dengan Nolan. Sudah! jangan berpikir yang aneh-aneh. Mungkin begitulah peraturan perusahaan. Abel.
"Sayang, pakai kerudung kamu. Kita turun sarapan dan beri tahu yang lain tentang kepindahan kita." Davin bangkit dari sofa.
Abel meraih kerudungnya dan mengandeng lengan suaminya melangkah keluar kamar.
Luka di jari tanganmu tentu saja abang bisa melihatnya Sayang. Tapi luka dalam hati adikku apakah Abang bisa tahu. Kita harus menjauh untuk beberapa waktu. Davin.
.
.
.
.
.
.
.
.
NEXT..........
_____________________________________________
Thor : satu capther lagi menuju Ending. Ending seperti apa ya yang udah Thor siapi.
Happy Ending😍😍😍
Sad Ending😭😭😭
atau
Twist Ending 😲😲😲........
Beri semangat author pencet LIKE tombol jempol ketik KOMENT sesuka hati kalian yang punya POIN bisa bagi VOTE seikhlas kalian. love U ❤️ selalu
__ADS_1