Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Randi Angkasa


__ADS_3

"Halo, Randi ada apa?" tanya seorang pria tinggi besar, tampan dan terlihat sukses.


Pria itu sedang duduk di suatu cafe di Hotel HT di kota Jakarta dan saat ini sedang bersama seorang wanita muda yang kita kenal bernama Peggy yaitu salah satu penghuni kost milik pak Yohan.


"Papih dimana sih...sudah mau berangkat belum ke Luar negeri nya?" tanya Randi Angkasa yang merupakan anak laki-lakinya bapak Hendrico Angkasa seorang pengusaha terkenal di kota Bandung.


"Papih masih di Jakarta, nanti senin baru ke berangkat ke luar negerinya. Ada apa sih?" tanya sang papih.


"Oh...ya sudah Randi ke Jakarta sebentar lagi yah, kelupaan ada yang harus di tanda tangan sama papih, pernyataan kesepakatan dari kampus," Randi menjelaskan kepada papihnya .


"Kebiasaan kamu tuh, kemarin papih masih di rumah kamu tidak bilang apapun, sekarang papih sudah di luar kota baru ribut. Bagaimana kalau papih sudah di luar negeri nanti, kamu kejar juga kesana," Hendrico merasa kesal kepada anaknya.


"Ya maaf loh pih, suwer Randi lupa kemarin karena sibuk urusan kuliah pih," kata Randi lagi.


"Nanti saja tunggu mamih pulang, biar mamih saja tanda tangan kan bisa," Hendrico kembali berkata dengan nada tinggi.


" Wah papih, engga bisa pih, kan kita tinggal di Bandung, pernyataan harus dikumpulkan besok senin karena Randi tercatat tinggal di Kota yang sama dengan kampus. Kalau mahasiswa yang luar kota pernyataannya di kirim pakai pos ke kotanya masing-masing itu bisa ditunggu sampai akhir bulan nanti'.


"Kalau tunggu mamih engga mungkin pih, kan mamih baru minggu depan pulang dari Singapura," Randi berusaha menjelaskan kembali memohon pengertian papihnya.


"Ya sudah, kamu jam berapa nyusul ke sini? sama siapa nanti kesininya?" Tanya Hendrico.


"Ya sekarang on the way pih, sama pak Darman".


" Ya sudah papih tunggu, awas kalau kejadian lagi begini. Bikin repot saja, bilang Darman hati-hati," Papihnya menegaskan.


Tak lama Randi bersama pak Darman sopir papihnya melaju masuk jalan tol menuju kota Jakarta, setelah sebelumnya menjemput dulu sahabatnya Randi yaitu Nico.


Randi dan Nico bersahabat sejak kelas 1 SMA, setelah lulus mereka kebetulan membaca di papan pengumuman sekolah bahwa di universitas BR yang cukup terkenal di Bandung membuka jurusan baru yaitu Matematika Terapan.


Kedua anak itu sangat tertarik, karena selain keduanya senang bidang Eksak, mereka juga berpikir kalau jurusan baru pasti tidak akan terlalu ribet urusan dan ke depannya mereka akan menjadi paling senior di jurusan itu.


Maka setelah lulus SMA mereka tidak berpikir lagi ke kampus lain, langsung ke Universitas BR dan setelah mengikuti ujian seleksi ternyata keduanya lulus.


Saat mengikuti ujian mereka cukup takjub, peserta ujian saat itu cukup banyak ada sekitar 500 an orang, dan ternyata yang di terima hanya 30 orang saja.


Jadi walaupun jurusan itu baru, ternyata mereka mengutamakan kualitas.


Hari menjelang sore ketika mereka tiba di kota Jakarta, dan sekarang mereka menuju Hotel HT.


Perut sudah mulai terasa lapar, tapi Randi dan Nico berpikiran siapa tahu nanti di traktir papih di resto Hotel.


Mereka turun di lobby hotel, kemudian Randi menelpon papihnya,


" Pih dimana? aku di lobby nih".


"Ya nanti papih kesitu, tunggulah disitu," kata papihnya.


Randi dan Nico menunggu sekitar 15 menit, sambil menunggu mereka melihat-lihat tamu hotel dan juga beberapa karyawan hotel.


Wah banyak wanita yang cantik-cantik membuat kedua anak muda ini saling senggol setiap melihat wanita cantik melewati tempat mereka duduk.


Tak lama Papihnya Randi tampak keluar dari lift namun hanya menggunakan kaos Polo dan celana jeans, membuat Randi bertanya-tanya dalam hatinya.


Katanya meeting sama klien besar kok santai amat pakaiannya, mungkin hari minggu.


Seingatnya beberapa waktu lalu Randi pernah menemani papihnya di hari minggu juga untuk bertemu klien sekedar ngobrol santai, tapi papih sangat rapih waktu itu berkemeja batik.


"Mana yang musti di tanda tangan?" tanya Hendrico.

__ADS_1


Lalu Randi menyerahkan 2 lembaran kertas berisi pernyataan dari pihak kampusnya yang berisikan kesepakatan antara mahasiswa, orang tua dan pengajar untuk menjaga stabilitas dan kondisi kampus serta pernyataan bebas narkoba dan minuman keras lainnya.


Apabila ada mahasiswa sampai terkena kasus narkoba atau sejenisnya maka ada sanksi dikeluarkan dari Universitas dan pihak keluarga sepakat untuk tidak melakukan tuntutan apapun terhadap universitas atas hal tersebut.


Setelah membaca, kemudian Hendrico bermaksud menandatangani namun dia agak terkejut saat membaca nama Dekan atau ketua jurusannya yaitu Tri Retno Handayani.


Deg...sekilas terlintas, apakah itu orang yang sama atau hanya nama yang sama.


Namun Hendrico tak ambil pusing, segera menandatangi berkas itu lalu bermaksud kembali ke kamar hotelnya.


"Pih makasih yah... eh...Pih lapar nih belum makan," kata Randi mencoba manja kepada papihnya.


Namun Hendrico malah berkata," Sudah makan di luar saja, pakai uang mu dulu nanti papih transfer gantiin".


"Yah papih sih, kirain boleh makan enak di hotel".


" Ah sudah lah, lain kali lagi. Sudah sana cepatan pulang, papih sibuk".


Randi dan Nico berpamitan kepada Hendrico.


Namanya anak muda, bukannya cepat pulang tapi mereka berdua malah berjalan-jalan dulu mengelilingi hotel itu.


Ingin tahu dan menikmati nuansa kemewahan hotel juga lumayan bisa melirik wanita-wanita cantik.


Randi lalu putar otak, dia bertanya ke front office kamar nomor berapa atas nama bapak Hendrico Angkasa.


Pihak front office hotel menanyakan keperluannya, dan Randi menyebutkan bahwa dia anak pak Hendrico yang baru menyusul dari luar kota.


Kemudian diberitahukan oleh penjaga front office nomor 578.


Setelah mengucapkan terima kasih, Randi kemudian mengajak Nico ke Resto di hotel itu.


Tak lupa pak Darman juga di teleponnya disuruh naik ke hotel, tapi katanya malu jadi dia sudah makan di warung depan hotel saja pakai uang yang memang selalu tersedia di box mobil.


Ya sudah Randi dan Nico memesan makanan yang enak yang harganya jelas bukan harga kantong mahasiswa.


Mereka menikmati makanan yang sudah mereka pesan, dan terlihat begitu senang hati kedua pria muda ini.


Setelah makan selesai, mereka berencana kembali ke mobil untuk pulang ke kota Bandung lagi.


Saat berjalan hendak keluar menuju lobby, keduanya terkejut dari lift tampak keluar sang Papih menggandeng wanita muda yang cantik dengan mesranya.


Dan tampaknya Papih dan wanita itu akan menuju resto tersebut.


Melihat itu segera Randi dan Nico berlari kecil menuju pilar tembok yang ada di ruangan besar itu.


Mereka mengintip Papihnya dan wanita itu, dan terlihat bagaimana papihnya begitu mesra dengan wanita itu bahkan sesekali Papih merangkul dan mencium rambut wanita itu.


Hancur dan pedih hati Randi, dia tidak percaya akan apa yang ada dihadapan matanya.


Nico berusaha menenangkan Randi,


" Bro, tenang bro kita kan belum tahu siapa cewek itu".


Mereka berdua duduk di bawah pilar tembok itu, kebetulan ada sofa yang agak tersembunyi posisinya.


Randi minta tolong Nico untuk mengambil foto Papihnya dengan wanita itu.


Sungguh Nico pun merasa ikut kesal, dan juga merasa bagaimana entah tidak karuan perasaannya.

__ADS_1


Karena dia juga sangat kenal dengan sosok Hendrico Angkasa, ayah sahabatnya yang juga dia sempat kagumi.


Karena selain gagah, tampan, dan pengusaha sukses dimatanya sosok Hendrico sangat menyayangi keluarga.


Bahkan setahu Nico saat ini mamihnya Randi yaitu Tante Stella sedang ke Singapura menemani ibunya Hendrico yang berobat di sana.


Dan setahu Nico yang didapat dari Randi bahwa oom Hendrico akan ke Swiss sekitar beberapa minggu ke depan untuk urusan bisnis di sana.


Dia mengambil foto secara diam-diam sambil gemetar kedua tangannya.


Tak kuasa melihat sosok pria yang dia kenal dan merupakan ayah sahabatnya sedang bermesraan wanita muda dihadapannya.


"Ran, ayo balik bro. Kita semakin lama disini semakin sakit bro," kata Nico kepada sahabatnya.


"Gue pengen tahu bro, dia sekamar engga sama pela**r itu, gue kayak pernah lihat tuh cewek. Kalo engga salah waktu si Rico ngajak gue ke suatu acara kantor, itu cewek ada di sana, kalo engga salah katanya sekretaris perusahaan rekanan si bang**t Hendrico".


"Ah..sttt bro jangan gitu, dia bapak elu gitu-gitu juga," Nico berusaha tetap menenangkan sahabatnya walau dia juga ikut kesal dan kecewa.


Dia paham dan merasakan bagaimana perasaan Randi saat ini, pasti sangat hancur sekali.


Tak lama terlihat Hendrico dan wanita itu meninggalkan resto dan naik ke lift lagi.


Mungkin mereka kembali ke kamarnya.


Randi dan Nico kemudian minta tolong salah satu karyawan hotel untuk naik ke lantai 5, karena kalau bukan tamu menginap di hotel tidak bisa naik lift ke lantai atas harus ditemani oleh salah satu karyawan hotel.


Ketika tiba di lantai 5, mereka juga minta tolong diantar ke kamar 578, setelah tepat di depan kamar tersebut karyawan hotel diminta tolong lagi untuk memijit bel kamar.


"Room Service!!!".


Kemudian pintu dibuka oleh Hendrico, seketika Randi mendorongnya menerobos masuk.


Dan di dalam tampak wanita tadi pakaiannya sudah terbuka dan sedang ditutupi selimut.


Randi lantas mendorong Papihnya ke tembok dan ketika hendak memukul tangannya dipegang oleh Nico dan karyawan hotel tadi.


Kemudian Randi menunjuk papihnya sambil menarik leher kaosnya dan berkata," Fix..elu sialan !!! bang**t !!! baj***ngan!!! ..gue nyesel punya bapak kayak elu!!!"


Setelah menghempaskan papihnya, diapun meninggalkan kamar itu menuju lift untuk turun lobby.


Dan Nico pun segera berlari mengejar sahabatnya.


Sesampainya di lobby mereka segera bergegas ke tempat parkir mobil dan minta Pak Darman segera jalan pulang.


Sepanjang jalan Randi hanya diam saja, berkecamuk hati dan pikirannya, sedih, benci, kecewa semuanya bercampur aduk.


Bagaimana hancurnya hati mamih kalau mengetahui semuanya.


Sementara di kamar 578 di hotel HT, Peggy segera mengenakan bajunya lalu menghambur memeluk Hendrico.


Hendrico berdiri dan menutup pintu, setelah itu duduk di tepi kasur.


"Tadi anakmu yah sayang, mengapa bisa kemari bukannya tadi sudah pulang?" tanya Peggy.


"Entahlah, cuma tadi memang saat kita makan, pihak hotel juga memberitahu bahwa sebelum kita datang ada dua pesanan juga menggunakan namaku," Hendrico menerangkan.


"Aku yakin itu anakku, tapi aku kira setelah makan mereka langsung pulang. Ternyata seperti ini," lanjut Hendrico.


"Lalu kita bagaimana sayang? batal dong kita ke swissnya," tanya Peggy seraya tampak memelas.

__ADS_1


" Engga lah, tetap kesana dong, aku kan memang ada urusan pekerjaan di sana. Sudah jangan dipikirkan, masalah tadi urusan aku," kata Hendrico sambil memeluk Peggy.


__ADS_2