
Suara adzan Subuh berkumandang, Ervan membuka matanya dan segera bangkit dari tidurnya. Melirik ke arah samping masih di dapati istrinya yang tertidur pulas usai semalam menjalani ujian skripsi.
Ervan mengerakkan tubuh istrinya yang masih juga belum terbangun. Terpaksa Ervan menggunakan cara ampuh untuk membangunkan istrinya, Ervan menggelelitiki pinggang Riri dan menghujani dengan ciuman dipipi bertubi-tubi.
"Mas, udah cukup!!" Kata Riri merasa geli terpaksa bangun meskipun matanya masih mengantuk. Ervan menghentikan aksinya melihat istri bangun dengan cemberut.
"Ayo Sayang kita ke Masjid, hari ini ada kajian ustadz sekalian Mas mau minta pendapat Nama untuk anak kita..."
"Ya Mas, Astaghfirullah, Riri udah lama banget nggak nge-charger diri datang ke kajian karena terlalu sibuk sama skripsi dan kehamilan." Balas Riri.
"Ya udah, sekarang ayo siap-siap kita ke masjid...." seru ervan menarik manja tubuh istrinya.
*****
Usai menjalankan sholat Subuh berjamaah di Masjid, ustadz Anan berdiri memberikan kajian tentang keutamaan anak yang Sholeh.
".......…................... Anak yang sholeh sebagai aset bagi kedua orangtuanya karena doanya menolong kedua orangtuanya ketika kelak sudah meninggalkan dunia. Hadist riwayat Muslim, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda, apabila manusia mati, terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan keduanya orang tuanya. Jadi saudaraku beruntunglah kita jika anak-anak kita menjadi anak yang Sholeh dan Sholihah sehingga amalanya yang dilakukan di dunia ikut mengalir bersama orang tuanya ketika kelak di akhirat....."
"Seperti apa anak yang Sholeh saudara ku...anak yang Sholeh adalah anak yang menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangannya, berbakti kepada orang tuanya dan faqih serta berakhlakul Karimah. Bersabarlah saudaraku, tawakal, didiklah anak-anak kita menjadi anak yang faqih agamanya serta baik akhlaknya......"
"Demikianlah saudaraku, sedikit nasehat dari saya, semoga kita semua selalu menjadi orang-orang yang bertakwa kepada Allah. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh ..." tutup ustadz Hanan.
Seluruh jamaah di dalam masjid mulai bubar meninggalkan tempat duduknya masing-masing.
Sementara di tempat khusus akhwat, Riri berkemas mengemas perlengkapan sholatnya.
"Abel..." Riri melihat Abel tertidur.
"Abel bangun!!!" Riri membangunkan Abel yang duduk sambil matanya terpejam.
"Amin ustadz...." Kata Abel mengigau, spontan membelalakan matanya. "Udah selesai Ma.." Tanya nya lagi.
"Ya ampun Abel... tadi kamu ketiduran, denger nggak tadi apa yang di sampaikan ustadz?" Kata Riri memijat keningnya, yang tidak memperhatikan Abel yang tertidur.
"Mmmm...denger kok Ma sebagian, Abel baru aja tertidur. Kebiasaan kalau nggak sekolah, selesai sholat subuh tidur..." Sambil memasang muka manis berharap mamanya memaklumi.
"Ya ampun cantik tadi tema-nya anak Sholeh, bagus untuk memotivasi anak remaja kayak kamu...."
"Ya Ma, tadi Abel denger kok tapi dikit...., ngomong- ngomong Papa mana Ma, kita nggak pulang....Abel lapar..."
"Papa mau ketemu sama Ustadz sebentar...kita tunggu sini aja."
Abel merebahkan kepalanya di pangkuan Riri. "Dek, kakak ikut tidur di paha Mama, nunggu Papa." Kata Abel mengelus perut Riri.
Riri menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah Abel. Beberapa menit Ervan memanggil Riri mengajaknya pulang. Riri membangunkan Abel dipangkuan. Ketiganya berjalan kaki menikmati pagi yang masih sejuk menuju ke rumah.
Sesampai di rumah mereka langsung menuju meja makan untuk sarapan pagi yang sudah disediakan oleh Bi Mina. Usai mengisi perut ketiga anggota keluarga ini bersantai di sofa depan TV.
"Oh ya sayang, besok kita ke rumah Mama, Mama mau kasih hadiah kelulusan..."
"Ya Mas, Tadi gimana Mas, udah tanya Ustadz nama yang baik untuk anak kita...." Ucap Riri.
"Udah sayang, kata Ustadz terserah kita aja, asalkan namanya bersumber syariat dan dasar Islam."
__ADS_1
"Gimana pendapat Ustadz dengan nama yang Mas pilih......"
"Kata Ustadz, bagus Sayang."
"Siapa nama adek Pa...." Seru Abel penasaran mendekati Papanya.
"Nanti kalau sudah oke, Papa kasih tahu.."Jawab Ervan.
"Yah... Papa, Abel bisa nggak ikut kasih nama buat Adek pakai nama yang kebarat-baratan biar keren..." Ujar abel semangat.
"Sayang... nama itu doa, jadi kalau bisa pilih nama yang mempunyai arti yang baik bukan kerennya. Cukup Mama aja yang nggak tahu arti nama sendiri....."
Ervan tersenyum mengingat cerita Riri tentang Adrian yang menanyakan arti namanya.
"Ya Mama cantik....." Balas Abel lagi.
Ketiganya kini menikmatinya waktu weekend bersantai dirumah.
******
Malam ini Ervan dan Riri sudah bersiap untuk makan malam di salah satu resto seafood bersama Adrian dan Tiara sebagai tanda terima kasih.
"Pa, Udah siap..." Kata Abel muncul di kamar Ervan.
"Ayo berangkat......" Kata Ervan pada semuanya.
Ketiganya sudah masuk ke dalam mobil, Ervan melajukan kendaraannya menyusuri jalan yang ramai di malam Minggu ini.
"Mas, berhenti sebentar di kios buah depan ya, alpukat Riri habis..."
"Ma, kenapa nggak besok aja kita beli di supermarket..." Tanya Abel dari kursi belakang.
"Nggak apa -apa Sayang, dengan beli dagangan mereka sekalian kita bisa bantu sedikit rejeki untuk pedagang buah kecil. Kalau di supermarket yang punya udah kaya...."
"Ya Mama cantik...." Jawab Abel.
Ervan berhenti ditempat yang di tunjukkan Riri. setelah beberapa menit Riri sudah kembali dengan plastik berisi alpukat. Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di tempat tujuan.
Ketiganya bergegas masuk ke resto seafood, di sambut pelayanan resto yang megantarkan ke meja yang sudah dipesan berada diluar ruangan dengan view menghadap ke laut.
Sepuluh menit berlalu orang yang ditunggu nampak dari pintu datang bersamaan dengan pelayanan yang membawa sebagian makanan yang sudah dipesan, pelayanan mulai menghidangkan di atas meja.
"Sorry, telat tadi jalanan padat...." Kata Adrian.
"Tiara mana Bro..." Kata Ervan.
"Pergi ke toilet..." Jawab Adrian.
"Om Adrian, sini sama Abel..." Abel antusias melihat Adrian.
Adrian melangkah mendekat dan duduk di samping Abel.
"Kamu kok jadi gede gini sih, nggak lucu lagi tahu..." Kata Adrian mencubit pipi Abel.
__ADS_1
"Yeh om, tapi cantik kan...." Balas Abel.
Tak lama berselang Tiara muncul dan melangkah ke arah meja.
"Riri selamat ya, kemarin sukses ujian skripsinya." Kata Tiara sambil menyerahkan kotak kecil yang di ambil dari tas nya.
"Terima kasih Kak, kenapa repot-repot bawa hadiah...." balas Riri.
"Ini reward buat ibu hamil pejuang skripsi..." Kata Tiara mengelus perut Riri.
"Van, dia gerak - gerak loh. Lucu banget ya Ri...." Kata Tiara marasa melihat gerakan di perut buncit Riri. Riri dan Ervan tersenyum melihat wajah senang Tiara.
"Makanya cepat nyusul...." Balas Ervan. Tiara hanya tersenyum sambil asik mengelus lagi perut Riri.
"Tante nggak habis kebentur tembok toilet kan..." Kata Abel yang heran melihat keakraban Tiara dengan ibunya serta perubahan sikapnya.
"Nggak...Tante baik-baik aja.'' Balas Tiara yang bingung dengan pertanyaan Abel.
"Abel, Tante Tiara nggak kebentur di tembok tapi kebentur di hati Om.." celetuk Adrian.
"Cieh...cieh Om Adrian genit..." Balas Abel.
"Udah, kita makan dulu nanti keburu dingin." Ujar Ervan.
Kini semuanya menikmati hidangan laut yang tersaji dimeja sambil bercanda tawa dengan suasana santai dan di ruang terbuka yang dinaungi bintang-bintang terang serta desiran ombak yang sesekali terdengar.
Abel mendekatkan wajah ke Adrian ingin berbisik. "Om, beneran om pacaran sama Tante Tiara, dia itu serem, galak lagi, Om nggak takut...."
"Takut sih..." Balas Adrian.
"Tuh kan bener dugaan Abel..." kata Abel merasa menang.
"Maksud Om, takut nggak bisa ngebahagiakan dia..."
"Hahaha, Om gombal banget..." Kata Abel berbicara keras, sehingga semua mata yang dimeja tertuju pada Adrian dan Abel.
"Sorry, ayo kita lanjutkan makan." Kata Adrian.
.
.
.
.
.
NEXT.........
Zen sampai sini dulu ya kelanjutannya ntar lagi .......
Terima kasih udah sabar nunggu Up dari author.
__ADS_1
JANGAN lupa tinggalkan like koment vote biar semangat Up nya...🙏🙏🙏🙏🙏