
Ervan merasa sangat lelah malam ini, Usai menempuh perjalanan darat cukup lama hingga enam jam dari luar kota mengantikan atasannya Tiara yang ke cuti ke ibukota. Ia segera bergegas turun dari mobil ketika kendaraan sudah berhenti didepan rumahnya.
Nampak rumahnya gelap dari setiap sudut mengingat sekarang waktu menunjukkan pukul 01.00. Sebelum menuju kamarnya, Ervan tidak lupa ke kamar Abel terlebih dulu.
Dilihat anak gadisnya membuat lelahnya perlahan pudar, Ervan segera menutupi tubuh anaknya dengan selimut yang berhamburan agar tidak terlalu dingin terpapar suhu dingin AC. Mengelus kepala anaknya yang semakin beranjak remaja, meninggalkan ciuman di kening, Ia langsung bergerak lagi menuju kamarnya.
Empat hari tidak bertemu rasanya rindunya terobati ketika melihat istrinya sudah tertidur lelap, Ia merasa tubuh istrinya makin gemuk dan berisi sehingga membuat gemas. Meletakan Tas dan membuka sepatu, Ia langsung naik ke atas tempat tidur mengelus perut istrinya yang sekarang buncit membulat sesekali mencium perutnya, Ia membelai wajah istrinya pelan, terlihat sangat manis ketika tertidur. Ervan mulai mengecup bibir istrinya pelan agar tidak membangunkan ketenangan tidurnya.
"Mas, kamu tetep ganteng walau dalam mimpi..." Kata Riri sambil matanya membuka sebentar terus terpejam lagi. Ervan yang terlentang memiringkan lagi tubuhnya menghadap istrinya.
"Ini asli Sayang ...." Kata Ervan yang membuat Riri langsung membuka matanya dan bangkit dari tidurnya.
"Kok sudah pulang, bukannya Mas pulang besok siang..."
"Kemarin ditelepon, siapa yang merengek terus suruh pulang cepat, ya udah Mas balik lagi...." Goda Ervan berpura berdiri, Riri menahan tangan suaminya. "Jangan....memang helikopter perusahaan operasi kalau malam."
"Nggak ada sayang, demi kamu, sebelum senja Mas naik speedboat untuk nyebrang terus lanjut pakai jalan darat..."
"Mas manis banget, maafin Riri, adek bayi juga kangen sama Papanya...."
"Ya sayang...." Ervan mencium lagi bibir istrinya sambil mengelus perutnya.
"Mas udah makan, Riri masakin dulu...."
"Kamu nggak usah capek masak sayang, biar Bi Mina aja yang masak...."
"Jangan Mas, kasian Bi Mina biar istirahat, dia kan sudah kerja seharian, Riri masak simpel aja kok Mie goreng..." Kata Riri meyakinkan suaminya, dia turun dari tempat tidur.
"Ya udah, Mas ganti baju dulu nanti nyusul ke bawah."
Riri keluar kamar menuruni tangga, mulai menyalakan lampu menuju dapur mengumpulkan bahan makanan untuk dimasak.
Tak lama berselang, Ervan yang sudah berpakaian santai terlihat menuruni tangga, Ervan tidak tega melihat istrinya memotong sesuatu sambil sedikit lemas sesekali menundukkan wajah seperti mengantuk. Ervan merampas pisau Riri.
"Mas aja yang masak sayang, kamu kasih arahan aja, sekarang duduk, kamu harus banyak istirahat gak lama lagi kamu melahirkan..."
Riri ingin menolak karena kasihan melihat suaminya yang mungkin lelah usai pulang dari luar kota harus memasak, tapi suaminya terus memaksa mengantikan Riri, terpaksa Riri menuruti suaminya duduk cantik di kursi pantry dekat dapur dan melihat suaminya yang sibuk di dapur.
Ini kesempatan, kapan lagi lihat suami masak. Riri
"Mas nanti punya Riri banyakin sayurnya, terus telurnya dua, jangan lupa tambahkan sosisnya yang banyak.." Ocehan Riri pada suaminya.
"Ya Nyonya ada tambahan lagi..." Kata Ervan mengoda Riri.
__ADS_1
Riri tertawa. "Nanti minumannya jus mangga ya, malam ini Riri nggak mau minum susu.."
"Siap nyonya, itu saja..." Balas Ervan.
"Kalau bisa cepat sedikit, adek bayi nggak sabar coba mie goreng buatan Papanya..." Ujar Riri lagi.
Ervan memberi kode jempol pada istrinya, memaklumi sifat manja ibu hamil.
Setelah beberapa menit, Ervan sudah menyelesaikan mie goreng sesuai arahan istrinya. Riri mencium aroma lezat mie goreng buatan suaminya. Dia mulai mengambil suapan demi suapan ternyata mie goreng buatan suaminya, lumayam enak menurut Riri.
"Enak Mas...." Kata Riri makan dengan lahap.
"Selama hamil semua makanan kamu bilang enak sayang, lihat sekarang kamu jadi tambah bulat gitu..."
Tiba-tiba Riri berhenti makan dan mengerutkan wajahnya melipat tangannya diatas meja, merasa tersinggung karena memang bobot tubuhnya naik dengan dratis selama hamil.
"Jadi Mas nggak suka Riri gemuk, nanti kalau Riri gemuk, Mas mau cari lagi cewek yang badannya langsing kayak lidi..."
Ervan menghembuskan nafasnya kasar, dia lupa kalau selama hamil Riri memang sangat sensitif dan mudah tersinggung dengan hal-hal kecil.
"Sayang, kamu ngomong apa sih, maksud Mas, Mas gemes liat badan kamu yang semakin berisi, Mas jadi tambah cinta sama kamu, Mas senang kamu banyak makan biar anak kita sehat dan ganteng seperti Papanya ..."
"Mas PD...." Riri mulai melunak.
Suasana menjadi kembali hangat, keduanya makan dengan santai menikmati waktu berduaan dini hari ini.
"Oh ya sayang, Adrian sama Tiara mau nikah tiga minggu lagi sebelum Tiara ke Prancis...."
"Serius Mas!!! secepat itu Pak Adrian bujuk Kak Tiara yang seperti batu. Hebat..." Kata Riri sambil membelalakan matanya.
"Ya sayang, Mas juga salut sama Adrian..."
"Kemarin dia kirim surat cutinya melapor ke kantor, jadi mungkin Mas semakin sering ke luar kota kalau Tiara Cuti...." sambung Ervan lagi.
"Memangnya berapa lama Kak Tiara cuti Mas..."
"Belum tahu pasti kata asisten semingguan sayang...."
"Riri nggak sabar Mas, lihat mereka nikah, mereka pasangan unik..."
"Mas dengar mereka nggak nikah disini, mereka nikahnya di pulau Dewata kalau nggak di ibukota tempat orang tuanya tapi Mas belum tahu pasti, Tiara sama Adrian susah dihubungi sekarang...."
"Mas Riri ikut ya kemanapun mereka nikah...."
__ADS_1
"Kalau mereka memang nikah di luar kota yang pakai pesawat, Mas nggak ijinin kamu pergi sayang, ibu hamil tua nggak baik pakai tranportasi udara...."
"Mas, please Riri ikut ya sekali aja....Riri bisa jaga diri..."
"Kalau naik pesawat nggak boleh..!!!" Hardik Ervan.
Riri langsung cemberut kali ini tidak berhasil membujuk suaminya, dia berpikir akan mencari cara lagi nanti agar suaminya mengijinkannya pergi.
"Pak Adrian itu dosen kesayangan Riri Mas, pengen deh lihat hari bahagianya dia..."
"Apa... kamu bilang sayang sama calon suami Orang didepan suami kamu!!" Kata Ervan dengan nada keras.
Kenapa Mas Ervan jadi marah, pemilihan kata aku nggak tepat ini, harusnya kan aku yang marah nggak di ajak pernikahan. Riri
"Maksud Riri bukan begitu Mas, Pak Adrian dosen kesayangan semua mahasiswa terutama fakultas keguruan, termasuk Riri...." Kata Riri memegang tangan suaminya.
"Habiskan jusnya, habis ini kita olahraga...." Kata Ervan tanpa ekspresi
Pasti deh kalau lagi cemburu minta jatah, siap-siap merintih sampai subuh ini. Riri 😭
Selesai meminum jusnya, tanpa memberi kode Ervan langsung mengangkat tubuh istrinya dengan gaya bridal.
"Mas, Riri jalan aja, sekarang Riri berat Mas, nanti Mas capek..." Kata Riri meronta.
"Kalau Mas lagi kesal, badan kamu ringan kayak kerupuk..." Ervan terus melangkah akan menaiki tangga.
Riri terpaksa berhenti bicara supaya tidak menambah kesalahan lagi, dia membenamkam wajahnya manja ke dada suaminya sambil tangannya mengelus pipi suaminya yang mulai kasar di tumbuhi rambut halus. Malam panjang pun berlanjut untuk pasangan ini.
.
.
.
.
.
.
Next.......
Terimakasih sudah mengikuti sampai bab ini, mohon dimaafkan kalau author amatir ini masih banyak kekurangan dan typo bertebaran....😁😁🤗🤗🤗😍😍
__ADS_1
Jangan lupa LIKE thor senang banget, KOMENT yg selalu ditunggu, VoTe bikin bahagia semangat up...