
Tiga minggu berlalu, Ervan sudah mendapat undangan resmi akad nikah Adrian dan Tiara seminggu yang lalu, acara akad nikahnya dilaksanakan di pulau Dewata. Acara akad nikah memang sengaja di laksnanakan private karena hanya mengundang tamu tertentu.
Riri yang sejak seminggu yang lalu hingga hari ini masih gagal membujuk suaminya untuk ikut menemani ke pulau Dewata.
Sore ini di hari Sabtu, seperti biasa Riri mengikuti kelas yoga ibu hamil dengan instruktur perempuan pilihan ibu mertuanya yang datang ke rumah tiga minggu sekali menjelang persalinan. Kini usia kehamilan Riri sudah hampir depalan bulan. Dia mengikuti arahan dari instrukturnya dalam setiap gerakan.
Ervan dan Abel berdiri di depan pintu belakang ikut melihat Riri yang mengikuti yoga di taman mini belakang rumahnya. Ketiganya kini semakin tidak sabar saja menunggu kehadiran anggota baru keluarga meraka.
Hampir satu jam mengikuti kegiatan yoga kehamilan, kegiatan pun diakhiri. Usai mengantar instruktur ke luar rumah, Riri menuju ruang TV menyusul Abel dan Ervan, Riri tersenyum pada anaknya tapi tidak dengan suaminya.
"Minum susunya dulu Sayang," Ervan menyodorkan segelas susu kepada istrinya.
"Terima kasih Mas..." Riri dengan muka datar.
"Senyumnya mana...." Kata Ervan, Riri memaksa senyumnya. "Udah dong sayang, kenapa masih ngambek terus, ini semua demi kebaikan kamu sama anak kita..."
"Ya, selamat happy ya disana tanpa istri...!" Kata Riri menekan nada suaranya menyindir.
"Loh, Mama nggak ikut Papa ke pulau Dewata," Kata Abel terkejut, yang semakin membuat Riri jadi kesal.
"Ya Sayang Papa nggak mau ajak, Mama mau ke atas dulu ya, mau cek barang Papa yang mau dibawa besok..."
"Ya, Ma...." Jawab Abel.
Riri meninggalkan Ervan dan Abel di ruangan TV menuju kamarnya, dia membuka tas suaminya dengan kesal, dia memeriksa kembali barang bawaan suaminya nanti untuk ke Pulau Dewata.
Lengan Kokoh memeluknya dari belakang mengelus perutnya, mencium pundak Riri dengan lembut.
"Masih ngambek, masa dari pagi dipandang suaminya cemberut terus..." Bisik Ervan ditelinga istrinya.
"Nggak.." Jawabnya singkat.
Ervan membalikkan badan Riri, "Sayang, kita naik pesawat komersil, bukan jet pribadi, kalau nanti ada apa-apa diperjalanan gimana..." Ervan berusaha lagi sabar menyakinkan Riri yang seperti anak kecil.
"InsyaAllah nggak apa-apa Mas, kata dokter kemarin bisa aja melakukan perjalanan udara sebelum Minggu depan..." Bantah Riri.
"Kalau mereka sudah kembali kita bisa main ke apartemennya, lagipula Mas juga dengar kalau keluarga Adrian juga mengadain resepsi juga dikota kita.."
"Tetep aja nggak seseru kalau liat akad nikahnya..." Balas Riri manja dengan usaha terakhirnya, kini mengalungkan tangan ke leher suaminya.
"Packing baju Mas udah siap, Mas mau mandi dulu ya...." Kata Ervan tidak menggubris sama sekali omongan Riri. Riri berdecak kesal, kali ini memang dia harus membiarkan suaminya pergi sendiri.
Ervan berhenti sebelum masuk ke kamar mandi. "Sayang packing baju kamu juga, satukan aja di tas Mas, bawa seperlunya aja kita satu hari aja disana..."
__ADS_1
Riri bengong mendengar ucapan suaminya, seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
"Mas..Riri ikut Mas kesana." Tanya Riri.
"Ya..mau nggak, Mas udah belikan tiket sama surat dokter."
Riri langsung berlari memeluk senang suaminya, dia sangat kegirangan. "Makasih Mas, Riri cinta banget sama Mas muaach muaach...." terus menciumi pipi suaminya.
"Kalau ada maunya aja, Mas mandi dulu..."
Riri menahan tubuh suaminya. "Mandi bareng...." kata Riri manja merasa ingin memberi imbalan suaminya.
Ervan mencium bibir Riri lembut karena gemas melihat sikap istrinya, dia yang selalu senang dengan sikap agresif istrinya bergerak cepat masuk ke kamar mandi.
Ervan memang sengaja mengoda istrinya untuk tidak mengajaknya ke luar kota, sebelumnya dia memastikan ke dokter keluarganya tentang keadaan Riri, tidak ada masalah jika harus bepergian dengam tranportasi udara sebelum kehamilan masuk depalan bulan. Ia sengaja terus menggoda tidak memberi tahu istrinya dan akan mengabarkan sore sebelum bepergian.
******
Pagi ini di hari Minggu Riri dan Ervan sudah di Bandara menunggu ke berangkatan ke pulau Dewata. Abel sengaja tidak ikut bersama mereka karena pesta pernikahan Adrian dan Tiara di peruntungan orang dewasa untuk usia delapan belas tahun ke atas.
Menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam dari Kota B menggunakan pesawat terbang mereka tiba di pulau Dewata. Langsung melanjutkan perjalanan ke resort tempat acara pernikahan.
Riri yang pertama kali ke pulau Dewata terkesima di sepanjang perjalanan dengan keindahan pulau yang menjadi daya tarik wisatawan asing ini.
Ervan menceritakan pada Riri, keinginan Tiara dari dulu memang ingin menikah di pulau asal ibu nya itu.
Sebelum sampai kamar, beberapa orang menegur Ervan, sebentar Ervan bertegur sapa dengan teman dan juga rekan kerjanya yang ikut menghadiri pernikahan bos nya.
Dikamar resort
"Sayang kamu istirahat dulu biar enggak jangan terlalu capek, acaranya masih sore nanti, Mas mau ketemu Adrian sama teman yang lain..." Kata Ervan pada Riri.
"Ya Mas, Riri mau istirahat sekaligus nikmati pemandangan indah banget ini..." Kata Riri dari jendela mengagumi segelintir panorama dipulau Dewata.
Setelah meminta ijin Ervan bergegas menuju kamar Adrian beberapa langkah dari kamarnya, kamar Adrian masih terpisah dengan kamar Tiara.
"Akhirnya Bro....." Ervan memeluk Adrian yang muncul di balik pintu.
"Alhamdulillah Bro..." Jawab Adrian terlihat gugup tidak seceria biasanya.
"Santai Bro, tenang...." hibur Ervan. kini keduanya duduk di sofa.
"Pengalaman pertama Bro, tegang, binggung.."
__ADS_1
"Wajar, aku juga begitu dulu meskipun udah dua kali...." Kata Ervan, yang memang waktu itu Adrian tidak hadir di akad nikahnya karena masih berada di kota Y.
"Masalahnya Bro, nama Bapaknya Tiara susah sama ribet, aku salah terus...."
"Hahahaha, masa sih hapalin dong kalau perlu tulis...." Tanya Ervan penasaran.
"Ini lagi belajar dari tadi, Ba-rah-ratte chums Collins...." Jawab Adrian mengeja nama ayah Tiara.
Ervan melonggo. "Aku baru tahu ini nama bapaknya Tiara..."
"Tadi aja aku salah sebut....kalau nggak kebalik ke tuker, aku jadi pusing..."
"Hahaha, tenang aja bro itu namanya gugup menjelang pernikahannya."
Adrian memegang dadanya. "Mungkin, mudahan aku nggak salah sebut Barahratte jadi bakar sate bisa malu," celetuk Adrian.
"Hahaha, Bro kalau akad sampai salah tiga kali, kamu nggak bisa nerusin harus ditunda seminggu baru mulai lagi...." goda Ervan menakuti sahabatnya.
"Masa sih Van, ngarang aja kamu...." Balas Adrian.
"Banyak berdoa Bro, biar dilancarkan semua, untung aja nama mertuaku nggak ribet...."
Adrian melihat jam di dinding menunjukkan pukul 12.00 waktu setempat beberapa jam lagi acara akan dimulai, Ervan dan Adrian menonggak ke jendela kamar yang berhadapan dengan venue pernikahan sudah selesai di dekorasi.
"Keren Bro venue nya..." Ujar Ervan, "Balik dulu Bro, santai dulu sama istri, jangan sampai salah sebut bakarsate bro hahaha..." ledek Ervan.
"Ngolok aja terus, Sana enyah.....!!!" Balas Adrian.
.
.
.
.
.
.
NEXT......
Sampai sini dulu ya Zen, persiapan akad nikah dulu 😁😁😁😁
__ADS_1
Terima kasih udah sabar nunggu up dari author
jangan Lupa dukung author like koment Vote juga ya 🙏🙏😍😍