Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
BAB 69 Nasib Jomblo


__ADS_3

Pagi ini berjalan seperti biasa di kediaman Ervan. Riri mengantar anak dan suaminya ke teras untuk memulai aktivitas masing-masing.


"Mas, nanti sore pulang cepat ya, antar Riri ke kampus." Kata Riri sembari mencium punggung tangan suaminya.


"Ya sayang..." Kata Ervan mencium kening Riri ditambah mencium perutnya.


Riri melambai tangan hingga mobil suaminya perlahan mejauh tak nampak lagi dari pandangannya.


Riri menyiapkan bahan skripsinya untuk mendapat bimbingan dari dosen pembimbing, sesekali di pelajari lagi untuk persiapan sidang pertama. Ditengah waktu luangnya dirumah, Riri menyempatkan diri membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an berharap kelak anak yang dikandungnya menjadi anak yang Sholeh dan Sholehah yang familiar dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang diperdengarkan.


****


sore hari 17.00


Ervan sudah pulang berkerja lebih awal. Riri menyambut kedatangan suaminya, melangkah bersama menuju kamar.


"Mas, tunggu." Riri mencegah suaminya yang akan masuk kamar mandi.


Riri menghampiri suaminya, memeluk suaminya sambil mengendus-endus di dada suaminya yang tidak tertutupi pakaian.


"Sayang, kamu kenapa sih?" Kata Ervan yang geli melihat tingkah aneh istrinya.


"Nggak tahu kenapa, Riri senang banget aroma tubuh Mas yang baru pulang kerja gini." Kata Riri yang masih melakukan hal konyolnya.


"Sayang, jorok ah, Mas berkeringat belum mandi, lagi pula suamimu ini nggak terus-terusan duduk manis diruangan berAc, kadang juga harus survei ke lapangan," ucap Ervan.


"Sebentar aja, lima menit lagi ini anak kita yang mau." Riri memeluk erat tubuh suaminya sambil menikmati aroma tubuh suaminya yang membuatnya merasa lega menuntaskan hasrat yang muncul tiba-tiba.


"Ya Sayang, semenjak hamil semakin hari keinginan kamu semakin aneh sayang, temanin Mas mandi sekalian."


"Nggak ah, Riri udah mandi sebelum Mas pulang kerja, biar nyambut suami pulang, wajah Riri ini menyenangkan Mas ketika dipandang."


Ervan mengalah mengikuti keinginan isterinya.


Setelah beberapa menit bersiap kini mereka menuruni tangga menuju halaman mengambil mobil dan berlalu menuju kampus.


"Sayang, boleh tanya?" Kata Ervan memecahkan kebisuan di perjalanan.


"Nanya apa Mas?" Balas Riri.


"Sejak kapan sih kamu jatuh cinta Mas yang seorang duda anak satu ini," kata Ervan.


Riri menggelengkan kepalanya."Riri malu Mas."


"Kenapa Malu, kita kan suami istri nggak perlu ada yang ditutup-tutupi."


"Sejak Riri melihat Mas dan Bu Tiara berbuat maksiat didepan Riri..." Jawab Riri.


"Maksiat???Mas berbuat maksiat apa yang membuat kamu jatuh cinta Ri, masa kamu mencintai Mas karena kemaksiatan, kan nggak keren Sayang." Balas Ervan binggung sambil mengaruk kepala yang tidak gatal.


"Bukan begitu Mas, waktu itu Riri cemburu lihat Mas ciuman di bawah tangga rumah kita sama Bu Tiara, disitu Riri berpikir apakah mulai cinta sama Mas,"


"...yang kedua ketika Mas dirumah sakit, lagi-lagi Riri sesak melihat Mas berbuat maksiat lagi sama Bu Tiara peluk-pelukan, disitu Riri sadar kalau sudah jatuh cinta sama Mas." sambung Riri lagi.


Ervan mengingat masa itu. "Maaf ya sayang, perbuatan Mas dulu buruk, Mas masih jauh dari kata suami yang Sholeh, setelah mengenal kamu Mas bertekad mau berubah dan selalu berdoa supaya mendapatkan kamu jadi istri Mas."


"Ya Mas, setiap orang pasti punya kesalahan di masa lalu," ujar Riri.

__ADS_1


"Makasih ya sayang udah hadir dalam hidup Mas, Mas akan selalu berusaha dan belajar jadi imam yang baik supaya kelak bisa nuntun keluarga kita masuk ke dalam surga."


"Amin..." Sahut Riri.


Tanpa terasa terlalu menyenangkan mengobrol, mereka sudah berada didepan gerbang kampus, Ervan memakirkan mobilnya didepan gedung fakultas. Ervan ikut turun bersama Riri menuju gedung fakultas, Riri menuju ruangan dosen sedangkan Ervan menunggu di bangku depan administrator.


Riri kembali dari ruangan dosen dengan wajah kecewa. Dia tertunduk lemas di samping suaminya.


"Kenapa sayang." tanya Ervan.


"Pak Adrian nggak ada, padahal Riri berharap ini terakhir revisi supaya Riri bisa sidang pertama dalam waktu dekat."


"Sekarang telpon Adrian, tanya dimana?" Ujar Ervan.


Riri meraih ponsel didalam tas, menghubungi Adrian. Nampak sautan dari dalam telpon.


"Bapak dimana? apa bisa ketemu sekarang."


Adrian : Ri, saya lagi di apartemen, mungkin lusa baru bisa ke kampus.


"Nggak bisa sekarang ya Pak, sebentar aja tinggal menunggu persetujuan dari bapak."


Adrian : gimana ya Ri, saya lagi ada keperluan sama teman.


Wajah Riri nampak murung lagi, Ervan meraih ponsel Riri karena iba melihat ekspresi istrinya.


"Adrian, kamu dimana sebenarnya, kita datangi kamu ke apartemen sekarang ya."


Adrian : Bro, aku lagi ada keperluan.


Adrian : Ya udah bro, aku lagi di apartemen orang, kita ketemu aja di kafe B*ndy.


Ervan menutup teleponnya dan mengirim pesan akan segera menuju kesana. Riri pun senang berhasil bertemu Adrian.


****


Hari menjelang malam usai melaksanakan sholat Magrib di perjalanan, Riri dan Ervan tiba di kafe yang berada diseberang apartemen PM. Mereka memesan makanan sambil menunggu Adrian.


"Mas, Pak Adrian dari apartemen PM." Kata Riri yang menyadari di daerah sini hanya ada apartemen milik perusahaan tempat suaminya berkerja.


"Ya sayang, sepertinya Adrian dari sana." Kata Ervan yang mulai menerka Adrian menemui siapa.


Tak lama berselang Adrian muncul dari balik pintu kafe. Melihat Riri dan Ervan langsung menghampiri tempat duduk mereka.


"Sorry nunggu, kalian maksa banget mau ketemu," kata Adrian.


"Dari apartemen depan, ketemu siapa Bro," ujar Ervan.


"Aku antar Tiara pulang dari rumah sakit." Balas Adrian terpaksa mengakui.


"Alhamdulillah Bu Tiara udah pulang." sahut Riri.


"Semakin dekat nih kayaknya." Kata Ervan merasa senang Adrian mulai mendekati Tiara.


"Cieh Bapak," goda Riri.


"Udah sini, mana revisi skripsinya, aku periksa biar cepat selesai urusan kita." Adrian mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Riri menyerahkan tumpukan kertas pada Adrian. Adrian mulai membaca lembaran demi lembaran.


Pelayanan datang mengantar pesanan makanan.


"Kita makan dulu ya." Kata Ervan menyela Adrian yang serius membaca. Adrian hanya mengangguk.


Riri dan Ervan menikmati aneka olahan seafood di depannya.


"Mas, mau kayaknya enak," Riri menunjuk potongan udang tepung dipiring Ervan.


"Buka mulut..." Ervan menyuapi istrinya, Riri membuka mulutnya menerima suapan suaminya, meskipun Riri malu karena ada orang lain di meja mereka. Ervan terus saja menyuapi Riri, sesekali karena gemas dia mecubit pipi istrinya dan menciumnya singkat.


"Van, kayaknya aku mau pindah meja di pojokan sambil meratapi nasib." Sela Adrian yang membuyarkan keseruan Riri dan Ervan.


"Kenapa Pak?" tanya Riri terkejut.


"Di depan kalian ini manusia loh, enak banget kalian suap-suapan." celetuk Adrian.


"Sorry bro, istri lagi hamil harus di manja." Balas Ervan, Riri tersenyum merasa malu karena teguran Adrian.


"Ya bro kita ngerti, tapi mata jomblo ku yang pedes liat pemandangan tadi seolah-olah meronta kapan raga ini akan seperti itu." Celetuk Adrian.


Riri tertawa kecil. "Maka nya Pak cepat cari gandengan, masak kalah sama truk ada gandengannya."


"Ya Ri, ini juga mau buat perubahan, masih ingat nggak bro rumus perubahan." Kata Adrian bertanya pada Ervan.


"Ya ingetlah bro engginer, usaha di bagi gaya," jawab Ervan.


"Itu lah Ri mau bikin perubahan, perbanyak usaha nggak usah kebanyakan gaya." Balas Adrian.


"Semangat Pak, kejar terus jangan kasih kendor." Ujar Riri terus tertawa melihat nasib dosennya.


"Ini Ri sudah bagus, Minggu depan kamu sudah sidang pertama saya sudah tanda tangan." Adrian menyerahkan soft copy skripsi Riri.


"Alhamdulillah, makasih Pak." Balas Riri senang kegirangan. Ervan memeluk Riri merasa senang.


"lanjutkan nanti aja kisanak, kasihanilah orang didepan kalian ini....." Kata Adrian menghentikan Ervan yang akan mencium pipi Riri.


Ervan dan Riri tertawa melihat ekspresi Adrian. Mereka menghabiskan waktu di cafe. Setelah Makanan di meja mulai kosong, Adrian pamit pulang begitu pula Riri dan Ervan ikut menyusul meninggalkan kafe.


.


.


.


.


.


. Next..........


**Zen yang jomblo jangan ngenes😁😁😁😁


Zen selamat menjalani ibadah puasa. terima kasih udah sabar nunggu up dari author.


jangan lupa tinggalin LIKE bikin seneng, KOMENT yang ditunggu VOTE bikin author bahagiaaaaaaπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™**

__ADS_1


__ADS_2