
Hari demi hari pun berganti, tak terasa besok adalah hari yang paling ditunggu-tunggu bagi setiap Mahasiswa semester akhir. Acara wisuda Universitas B diselenggarakan besok pagi di salah satu gedung pertemuan kota. Sebelumnya dua minggu yang lalu Riri sudah menghadiri acara yudisium kelulusan di salah satu hotel bintang lima dikota B.
Malam ini Riri menyiapkan baju kebaya yang akan dikenakannya esok pagi, Riri tampak samangat dan tak sabar menunggu waktu pagi karena hari esok adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu Mahasiswa manapun meskipun dia akan menghadiri senat terbuka esok dengan perut yang besar yang tinggal menunggu hari akan melahirkan.
Rasa bahagia Riri berbanding terbalik dengan suaminya, Ervan merasa sangat kuatir mengingat kandungan istrinya yang menurut perkiraan dokter tinggal menghitung hari, perut Riri yang semakin besar apalagi hari-hari ini Riri sudah merasakan sedikit gejala-gejala kontraksi. Ervan hanya takut Riri mengalami kontraksi selama acara wisuda, mengingat acara wisuda yang mungkin berlangsung lama hingga sore hari. Berulangkali Ervan membujuk agar Riri tidak mengikuti wisuda ditahun ini. berulangkali pula Riri memohon pada suaminya agar untuk kali ini saja dia tidak menuruti keinginan suaminya itu.
Bagi Riri acara wisuda tahun ini sangat berarti selain untuk saat terakhir melepaskan segala gundah gulana selama perkuliahan dan puncak dari kerja kerasnya selama ini di kampus, wisuda ini juga akan membuat bangga kedua orang tuanya bahwa dirinya sudah bisa memenuhi keinginan mereka. Berbeda jika dia akan menunda wisudanya di tahun depan pasti akan nampak asing dan tak bersemangat. Dengan terpaksa suaminya mengizinkan dengan catatan jika terasa sesuatu dirinya mau tidak mau harus pergi meninggalkan acara wisuda.
Riri segera menyusul suaminya di atas ranjang usai merapikan perlengkapannya besok.
"Mas Riri nggak bisa tidur, nggak sabar mau cepat wisuda..." Ujar Riri merasa senang kini di sisi suaminya.
Ervan meraih tubuh istrinya dan memeluknya dari belakang, mendekapnya dalam pelukan di dadanya. "Cepat tidur Sayang besok biar nggak terlalu capek, ini udah Mas angetin biar cepat tidur." Kata Ervan sambil menyusupkan tangan ke baju istrinya.
Ya hangat Mas tapi tanganmu bisa nggak diam aja nggak usah mainin p*****ku. Riri.
"Masss, geli katanya tadi mau tidur...." Kata Riri menurunkan tangan suaminya, tapi dengan cepat tangan suaminya kembali ke posisi semula.
"Mas ikuti arahan dokter sayang, rajin di pijat dan ditarik biar cepat timbul supaya adek bayinya enak kalau mau minum ASI..." Gumam Ervan memejamkan matanya sambil gerakan jemarinya terus bergerak.
"Aaah Masss, alasan aja..." Kata Riri menahan geli karena ulah suaminya.
"Cepat tidur sebelum sesuatu terbangun..." Ancam Ervan. Dengan cepat Riri menarik selimut menutupi tubuhnya, menahan geli dan tak mengeluarkan suara lagi sebelum suaminya meminta jatah dan dia tidak bisa bangun pagi untuk acara esok hari.
******
Usia sholat subuh, Riri dirias oleh MUA dikamarnya yang sudah datang sejak tadi sebelum adzan Subuh berkumandang. Ervan nampak sudah bersiap dan tinggal memakai baju batik yang senada dengan bawahan kebaya yang dipakai Riri.
__ADS_1
Setelah satu setengah jam mendapatkan riasan sudah lengkap dengan kebaya, Riri turun kebawah menemui suami dan anaknya yang sudah besiap sejak tadi menunggunya.
"Cantik banget istriku ini..." Puji Ervan melihat istrinya, mencium pipinya.
Riri memakai jilbab dan kebaya warna mustard dengan bawahan kain batik yang senada dengan baju suaminya dibuat sedikit longgar mengingat perut Riri yang membuncit diusia kehamilan 9 bulan.
"Ayo jalan Pa, nanti telat Lo..." Seru Abel pada kedua orangtuanya yang masih beromantis ria.
Kedua tersadar dan langsung saja ketiganya bergegas menaiki mobil menuju ke gedung acara wisuda tapi sebelum ke gedung, mereka menjemput orang tua Riri terlebih dahulu.
****
Suasana Sabtu pagi di halaman parkir gedung megah ini sudah mulai dipenuhi ribuan manusia yang sebagian sudah lengkap dengan toganya.
Riri bersiap memakai toga dibantu oleh Bu Sinta. Kini kelima orang ini akan memasuki gedung acara karena sebentar lagi acara pembukaan wisuda akan di buka.
Memasuki gedung yang sudah ramai dengan ribuan orang, Riri berpamitan pada keluarganya untuk menuju kursinya bergabung dengan wisudawan yang lain.
"Ya Mas, pasti..." Riri hendak melangkah ke kursi depan wisudanya
"Sayang...." Ervan menghentikan langkah Riri, mencium kening Riri singkat. Riri sebenarnya merasa malu melihat tingkah suaminya menciumnya didepan umum. "Jangan terlalu lelah..." Ujar Ervan memperingatkan lagi merasa tidak tenang.
"Ya Mas Ervan suamiku Sayang..." balas Riri gemas merasa suaminya terlalu kuatir berlebihan.
Kini dia melangkah meninggalkan keluarganya yang duduk di barisan belakang yang dibatasin pagar hiasan untuk kursi pendamping dan kursi wisudawan. Betapa senangnya Riri bertemu teman-teman seangkatannya yang sebagian lulus juga termasuk Rika sahabatnya yang entah duduk disebelah tak berdampingan karena mereka duduk sesuai nomor kursi.
Acara wisuda dimulai dengan pembukaan dari MC yang membacakan susunan acara. Disusul acara selanjutnya menyanyikan lagu kebangsaan, lagu padamu negeri hymne universitas B dan sambutan dari walikota, pejabat pemerintahan, rektor dan masih banyak lagi dari berbagai instansi.
__ADS_1
Hingga tibalah saat yang paling ditunggu pembukaannya wisuda dan penyematan gelar dari sembilan fakultas yang dimulai dari fakultas hukum dan berakhir fakultas K3.
Nama demi nama dipanggil, Riri sudah tidak sabar dan deg-deg kan menunggu namanya dipanggil, hingga panitia mengarahkan untuk berdiri yang artinya sebentar lagi namanya akan dipanggil.
"Rinjani Analita Sarjana Pendidikan..." Mendengar nama dan gelar barunya Riri merasa sangat senang. Dia melangkah menuju menaiki podium menerima piagam kelulusan dari dekannya disusul pemindahan tali toga dari rektornya. Dia berjalan turun nampak dibarisan kursi dosen, Adrian bersama istrinya mengacungkan jempol pada Riri. Riri membalas dengan senyuman.
Riri tidak menyangka akan wisuda dengan kondisi sekarang dengan perutnya yang membuncit, tapi dia sangat bahagia bisa menghadiri wisuda sebelum melahirkan dan lepas bebannya untuk menjadi sarjana sesuai dengan harapan dan impian orang tuanya.
Penyematan gelar pada wisudawan berakhir. Tibalah saatnya pengumuman lulusan terbaik tiap fakultas. Satu persatu lulusan diumumkan tiap fakultas, hingga tiba fakultas keguruan.
"Lulusan terbaik fakultas keguruan dan ilmu pendidikan diraih oleh mahasiswa dari prodi matematika Rinjani Analita Sarjana Pendidikan dengan indeks prestasi kumulatif 3,91 dengan masa pendidikan tiga tahun sepuluh bulan, harap menaiki podium menerima piagam cumlaude...." Kata MC yang membuat Riri tercengang dan tak percaya hendak berdiri.
Temannya disamping kiri kanan memeluk Riri memberi selamat, Dia pun bergegas berjalan sambil tercengang kegirangan menuju podium dengan diiringi tepukan tangan teman fakultasnya. Riri menerima piagam yang langsung diserahkan dewan rektor.
Ervan yang duduk dikursi pendamping tak sabar ingin memeluk istrinya yang mendapat predikat cumlaude tahun ini pasti merasa bahagia.
.
.
.
.
. Next.....
**Zen Lanjutannya Insya Alloh secepatnya, author potong biar nggak kepanjangannya bacanya.😁😁😁...
__ADS_1
terima kasih udah sabar nunggu up dari author...
jangan lupa tinggalin like koment Vote biar kenceng up nya**.....