Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP60-S2// Ke Pemakaman


__ADS_3

"Jika kau tidak bisa jadi milikku, maka orang lain juga tidak Sayang." Tasya mendekatkan wajahnya ke wajah Davin ingin mencium.


"Tasya kau memang Gila! aku hanya mencintai satu wanita Abelia"


"Berhenti mengumpat Sayang, kita akan bersama di neraka." Tasya mengarahkan pistol ke wajah Davin.


Davin hanya memejamkan mata pasrah, kalaupun bergerak ia akan tertembak. Berteriak pun tidak ada yang akan mendengar dari luar. Lubang sniper nampak didepan matanya.


“Tidak Tastya! Jangan!”


suara Adzan subuh dari alarm membangunkan semua mimpinya.


“Astagfirullahaladzim….” Davin masih mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal karena mimpi anehnya. Apa ini namanya ujian menjelang pernikahan. Kenapa tiba-tiba dia memimpikan Tasya bukan memimpikan Abel saja, sungguh menyebalkan.


Apa ini peringatan ia harus menyelesaikan urusan dengan teman kencannya yang belum terselesaikan agar tidak menganggu saat pernikahannya. Ia meraih ponsel di atas nakas memberi tahu Amar asistennya agar mengirim permintaan maaf atas namanya pada nomor setiap wanita yang pernah bersamanya.


Wajah resahnya kembali ceria melihat pesan dari Abel yang memperingatkan untuk sholat subuh dan mengingatkan hari ini mengajak ke makam ibunya di kota S sebelum menikah. Senyum langsung mengembang di bibirnya, Davin rasanya masih tidak percaya sebentar lagi akan ada Abel di sisinya. Dia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri berlanjut menunaikan kewajibannya.


******

__ADS_1


Pagi ini sesuai janjinya pada calon istrinya, Davin bersama asistennya melajukan kendaraan menembus pagi yang padat ke rumah Abel di citral*nd


“Amar, bagaimana perintahku tadi, apa kau sudah lakukan? Pastikan tidak ada ganguan dari manapun di hari pernikahanku,” titah Davin.


“Semua beres Pak!” balas Amar.


“Amar, bagaimana dengan Tasya. Kau tahu sendiri kan dia gila dan maniak, semalem aku bermimpi buruk tentang dia, pastikan juga dia tidak akan menganggu pernikahanku,”


“Tidak akan Pak, Anda tidak perlu kuatir, Tasya mejalani masa hukuman rehabilitasi narkoba sekarang.” Amar menyoba membuat bosnya tenang berdasarkan fakta yang dia temui.


Tanpa terasa mengobrol membahas wanita di masa lalu, mobilnya kini sudah tiba dirumah wanita masa depannya. Abel nampak sudah siap menunggu didepan pagar dengan balutan dress berwarna hitam. Abel selalu tampak cantik di mata Davin meskipun Abel memakai apapun.


Begitulah dengan Davin, kalau bukan karena berjanji pada guru spiritualnya Angga. Davin sudah gemas ingin mencubit pipi Abel dan menciumi tangannnya. Kalau berada berdua dengan Abel begini di kursi belakang, rasanya menyesal dia meminta waktu menikahi Abel dua minggu, harusnya dia bilang dua hari saja.


“Bang Davin, makasih udah temanin Abel ke makam Mama.” Abel membuka keheningan.


“Ya, Sayang. Setelah kita menikah nanti, kemana kamu pergi Bang Davin akan temanin kamu,” balas Davin. Abel melempar Davin bantal kecil yang ada di mobilnya merasa digombali.


Kini keduanya mengobrol santai mengisi keheningan hingga tiba dibandara.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan di udara selama satu jam, kini ketiganya sudah berada di kota S. Melanjutkan beberapa menit ke mengunakan mobil yang disiapkan Davin. Sekarang mereka tiba lokasi pemakaman keluarga wilson Mama Abel.


Abel berjalan menuju pusara sang Mama, di ikuti Davin dan Amar yang mengekor di belakangnya. Setelah tiba di makam, Abel meletakkan bucket bunga yang sempat ia beli di atas gundukan yang ditumbuhi rumput rapi. Abel mengusap nisan sang Ibu yang bertuliskan.


Amanda Wilson


Tanpa bisa dibendung airmata keluar dari ujung mata Abel. Ia merasa lama sekali tidak berkunjung ke makam sang Mama. Tidak menyangka ibunya sudah 12 tahun meninggalkannya.


“Ma, terima kasih udah melahirkan Abel ke dunia ini. Abel sangat Sayang Mama meskipun dunia kita berbeda. Abel selalu mendoakan kebaikan untuk Mama di setiap doa Abel. Abel sangat merindukan Mama hanya doa yang bisa Abel beri untuk Mama.” Abel masih terisak merinduka sosok ibu yang melahirkannya. Melihat bulir airmata yang keluar dari mata Abel.


Davin menjadi ikut sakit, hal itu membuatnya memberanikan diri berjongkok untuk merangkul pundak calon istrinya untuk memberi kekuatan.


Abel menoleh kearah Davin dan kembali melihat nisan sang ibu. “Ma, ini bang Davin dia calon suami Abel. Dia laki-laki pilihan Abel yang nantinya akan mengantikan tanggung jawab Papa untuk menjaga Abel. Dia laki-laki yang Abel cinta dan mencintai Abel Ma. Sebentar lagi anakmu ini akan menikah Ma, Abel sedih mama tidak bisa melihat Abel menikah nanti, tapi Mama selalu di hati Abel selamanya.” Airmata masih membanjiri pipi Abel.


“Sudah Sayang, kamu jangan sedih lagi ya, seandainya mama kamu ada pasti dia nggak mau lihat sedih begini.” Davin berusaha menghibur calon istrinya. Abel mengangguk dan menghapus air matanya dengan tisu.


Abel mendoakan mendiang ibunya kemudian bangkit dibantu Davin. Dia harus segera pulang meskipun langkahnya masih berat untuk melangkah pulang.


******

__ADS_1


Siang hari setelah menempuh perjalan darat dan udara dari kota S, Davin dan Abel sudah tiba di Kota B. Mereka langsung menuju butik pilihan Bu Niah untuk melakukan fitting Baju pengantin.


__ADS_2