Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
BAB 68 Jangan Pergi


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah sakit, penghuni rumah Ervan beristirahat masuk kedalam kamar masing-masing.


Riri sudah diatas ranjang sembari membaca kembali revisi skripsinya yang akan diberikan pada Adrian. Handle pintu terbuka nampak Ervan masuk membawa segelas susu ditangannya.


"Minum dulu, kalau bukan Mas yang buat pasti lupa." Ujar Ervan.


Riri meraih gelas meminum habis susu buatan suaminya. "Kalau Mas yang buat rasanya beda, adek bayi lebih suka bikinan Papanya." Riri meletakkan gelas kosong diatas nakas.


"Mas, boleh nanya nggak," Tanya Riri.


"Nanya apa." Ervan meraih tubuh Riri dalam pelukannya.


"Dulu waktu Mas pacaran sama Bu Tiara dia juga galak gitu nggak sama Mas." Tanya Riri.


Bukan menjawab Ervan malah meraih dagu istrinya mengecup bibirnya berkali-kali.


"Mas jawab dulu." Riri meronta menghentikan suaminya.


"Pertanyaan kamu aneh sayang, ya kadang galak kadang nggak, tergantung moodnya dia, Tadi Tiara bilang sama Mas, dia mulai suka sama Adrian." Jawab Ervan.


"Bener Mas!" Riri senang, membayangkan khayalannya Tiara yang kaku bersatu dengan Adrian yang humoris.


"Ya udah, tidur sekarang! besok kita kerumah Mama." Ervan mematikan lampu kamar.


Riri menaruh kertas-kertasnya diatas nakas, kemudian menyusul suaminya yang sudah terbaring.


******


Menempuh perjalanan 50 menit pagi ini dari rumahnya, Ervan dan keluarganya sudah sampai di kediaman Wijaya yang terletak di Utara kota.


"Assalamu'alaikum," Kata Ervan masuk kedalam rumah masa kecilnya.


"Yang ditunggu datang," Kata Pak Toni yang duduk di ruang keluarga.


Ervan dan Riri menyalami Pak Toni dan Bu Niah yang berada di ruang keluarga. Sedangkan Abel sudah pasti menghilangkan kekamar Kayla.


Kini semuanya bercengkrama bersantai di ruang keluarga.


"Oh ya Ma, Ervan mau kasih tahu Mama sama Papa kalau akan ada anggota baru keluarga kita." Kata Ervan.


"Maksudnya apa Van." Tanya Bu Niah.


"Riri Hamil Ma, sekarang udah jalan dua bulan." Jawab Ervan.


"Bener, Alhamdulillah, Mama senang banget, hebat kamu Van." Kata Bu Niah.


Riri tersenyum senang melihat kedua mertuanya merasa bahagia mendengar kabar kehamilannya.


Bu Niah mengajak Riri ke halaman belakang rumahnya yang sangat luas, di sekelilingnya banyak tanaman yang membuat teduh dan menenangkan tubuh, kini keduanya duduk di dekat kolam renang. Bu Niah memberikan tips seputar kehamilan dan banyaknya contoh makanan herbal yang Bu Niah beritahu pada Riri.

__ADS_1


Sambil mendengarkan omongan mertuanya tentang masalah kehamilan, mata Riri tertuju pada pohon mangga yang bergelantungan buah yang masih terlihat hijau.


"Ma, Riri pengen Mangga itu ada yang bisa ngambil nggak ya." Tanya Riri menyela Bu Niah menunjuk buah dari pohon mangga yang tinggi.


"Bisa dong Ri, apapun yang kamu mau, Mama turuti, tunggu sebentar Mama panggil tukang kebunnya dulu." Bu Niah beranjak dari duduk nampak memanggil beberapa orang untuk mengambil mangga yang diinginkan Riri.


Beberapa menit kemudian, Bu Niah sudah datang dengan ART wanita membawa nampan berisi mangga muda dan bumbu rujak gula merah.


"Ma, terima kasih ya, Riri jadi ngerepotin Mama." Ujar Riri melihat isi nampan didepannya.


"Ayo makan, biar cucu Mama nggak ngiler." Ucap Bu Niah tertawa.


Riri yang sejak tadi menelan salivanya mengambil potongan mangga. Meski rasanya sangat masam Riri tetap dengan semangat memakan suapan demi suapan.


Ervan mendatangi istrinya dan melihat Riri yang dengan lahap memakan Mangga Muda.


"Kayaknya enak sayang." Katanya duduk di samping istrinya. Riri mengangguk, Ervan yang penasaran mencoba potongan mangga muda Riri.


Ervan mengerutkan muka. " Ya ampun sayang, ini asem banget kamu lahap banget makanya."


"Namanya juga orang hamil suka yang asem-asem." Kata Riri.


Bu Niah dan Riri tertawa melihat ekspresi Ervan.


Terlalu semangat mengobrol tanpa terasa hari semakin siang. Setelah melaksanakan sholat Dzuhur, Ervan dan Riri memutuskan berisitirahat siang dikamar.


"Tolong jangan pergi, jangan tinggalkan aku...."


Riri juga terbangun sejak suaminya mengigau dan berteriak.


"Mas, kenapa, Mas nggak apa-apa." Riri yang panik mengelus punggung suaminya yang terlihat cemas.


Ervan menoleh ke arah Riri. "Riri." Ervan langsung merebahkan tubuhnya di pelukan istrinya.


"Riri, kamu jangan pernah pergi ninggalin aku, aku akan nggak sanggup harus kehilangan kamu."


"Mas, Riri nggak akan kemana-mana, Riri akan terus bersama Mas." Riri mengelus kepala suaminya yang berkeringat.


"Mas mimpi buruk ya, Mas tenang, sekarang Mas minta perlindungan pada Allah." Sambung Riri.


Ervan bangkit dari pelukan istrinya. "Audzubillahiminasyaitonirojim."


"Allohumma inni a'zubika min Amalis syaithoni wa sayyi Atil ahlam. Amiin." (HR. Bukhari) Ervan mengusap wajahnya.


Riri menyodorkan segelas air kepada Ervan. Ervan mulai bisa tersenyum meminum air ditangannya. "Makasih Sayang,".


"Sayang, tadi aku melihat Amanda lagi dalam mimpi setelah sekian lama." Ujar Ervan.


"Mas, mungkin Mas merindukan Amanda, setelah kita menikah, Mas belum pernah sama sekali pergi ke makam Amanda." Tanya Riri.

__ADS_1


"Makam Amanda tidak dikota ini sayang, Makam Amanda di kota S di pemakaman keluarganya."


"Kita doakan saja ya Mas, mudahan dia tenang disana dan amal ibadahnya di terima sisi Allah." Balas Riri. Ervan mengangguk.


"Sayang, Mas bisa cerita sesuatu." Tanya Ervan. Riri mengganggukkan kepalanya menandakan setuju.


"Malam itu sebelum kecelakaan, Mas sudah menyuruh Amanda untuk tidak pergi karena Abel merengek ingin bersamanya, tapi Mas dan Abel gagal mencegah Amanda, dia bersikeras pergi ke konfresnsi hanya demi mendapatkan kesepakatan bisnis. Satu jam setelah dia pergi, polisi menelpon mobilnya di hantam truk, sopirnya meninggal ditempat, Amanda dilarikan ke rumah sakit." Ervan mulai meneteskan air mata.


"Hari itu juga setelah kecelakaan Amanda pergi meninggalkan kita semua satu hari sebelum ulang tahun Abel." Ervan mengeluarkan air matanya lagi.


Riri pun dengan refleks mengeluarkan air matanya juga melihat kesedihan suaminya. Riri memegangi pipi suaminya dengan kedua tangannya, menghapus air mata suaminya.


"Semenjak saat itu Abel selalu meminta ibu sebagai kado ulang tahunnya, tahun ini Mas memenuhi janji Mas sama Abel, memberikan ibu dan istri yang luar biasa seperti kamu sayang." Kata Ervan sekarang mencium kening istrinya.


"Insya Allah Mas." Jawab Riri kini Riri tersenyum.


Suasana mulai tenang. "Kamu tahu nggak Sayang, setelah setahun kepergian Amanda, ada leader perusahaan baru yang selesai menjalani shcool dari Perancis, dia sangat keras dan kaku, hampir semua orang tidak menyukainya tapi Mas malah tertarik terus mendekatinya karena Mas melihat Amanda hidup dalam diri Tiara. Sikap dinginnya, amarahnya semuanya sangat mirip dengan sikap Amanda." Cerita Ervan.


Bukannya merasa cemburu, Riri malah antusias mendengar cerita suaminya. "Jadi Mas menyukai Bu Tiara karena mirip dengan Amanda."


"Ya sayang, tapi ternyata Tiara lebih ambisius dan mengerikan dari Amanda, tapi mas sekarang sangat bersyukur lewat perantara gadis cantikku, Mas punya istri Solehah sepertimu." Balas Ervan kini meraih tubuh istrinya dan memeluknya dan menciumi kepala Riri.


"Ya Mas, Riri juga senang banget bisa hidup sama Mas." Ujar Riri.


"Maaf ya sayang, Mas ngelarang kamu untuk meraih cita-cita kamu jadi guru, Mas nggak mau lagi punya istri yang sibuk mengurusi dunianya dan lalai memikirkan keluarganya." Kata Ervan, Riri bangkit dari pelukan suaminya.


"Mas salah, cita-cita Riri buka hanya itu tapi menikmati jadi istri dan ibu untuk keluarganya. Riri akan jadi guru pertama untuk Abel dan adik-adiknya nanti, Riri ingin menanamkan norma-norma kepribadian yang baik dan menjunjung tinggi nilai-nilai islam dalam kehidupan anak-anak kita nanti." Balas Riri tersenyum manis pada suaminya.


"Makasih ya sayang, adek baik - baik ya di perut mama, jangan bikin repot Mama ya." Kata Ervan berbicara pada perut Riri dan menciumi perut Riri yang belum terlihat buncit.


Kini keduanya kembali ceria setelah bercerita panjang lebar tentang Amanda. Malam harinya keluarga Ervan meninggalkan rumah keluarga Wijaya.


.


.


.


.


.


.


. Next.........


**Zen kita baper-baperan dulu..


assalamu'alaikum Zen marhaban ya Ramadhan, selamat menjalankan ibadah puasa ya🙏🙏🙏🙏,

__ADS_1


terima kasih sudah sabar menunggu up dari author, semoga remahan tulisan author ini bisa menghibur yang menjalankan puasa ditengah pandemi covid 19, #tetapdirumahaja. (banyak omong nih author 😁😁😁)


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMENT, VOTE biar semangat UP lagi.🙏🙏🙏**🙏


__ADS_2