Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP65-S2// Memeluknya


__ADS_3

Abel sedikit ragu dengan permintaan Nolan, suaminya saja belum sempat peluk memeluk denganya. Tapi tidak ada yang salahnya, hanya memeluk saja sebagai saudara. Setelah bergulat dengan batinya, Abel langsung berhambur memeluk Nolan. Ya dia anggap saja Nolan adalah Raffa atau Raydan, Abel yakin sudah sedikit melupakan perasaannya.


Nolan POV


Aku mendekap tubuh Abel sejenak, ya hanya memeluknya saja membuatku menenangkan segala kegelisahan selama acara akad nikah tadi. Aku sadar kita mahram yang bahaya, tapi aku ingin sebentar saja memeluknya. Aku berharap Abel tidak merasakan dadaku yang berdebar, tentu karena jantungku yang terpompa lebih cepat. Jika ada yang bertanya padaku apakah aku bahagia hari ini? Tentu aku akan menjawab aku bahagia, dua orang yang yang ku sayangi dan saling mencintai bisa bersama dalam ikatan suci pernikahan.


Tidak bisa ku pungkiri perasaan cinta yang baru pertama kali ku rasakan ini tak bisa hilang begitu saja. Harusnya ini cinta yang salah dan harus segera di akhiri. Tapi bagaimana aku mengakhirinya, aku sendiri juga belum tahu caranya. Setiap ada rasa sakit, aku mengingat wajah bahagia keduanya seketika rasa itu pudar.


“Abel, apa kau tidak keberatan? aku minta waktu denganmu seperti ini,” tanya Nolan.


“Tentu tidak No, kau adikku sekarang dan aku kakakmu. Kau tidak bisa lagi sekarang bersikap songong dan berbicara kasar padaku,” canda Abel sambil cekikikan di dadaku dengan posisi menahan tangan di wajahnya.


“Ya, nyonya Adiguna…,” balasku.


Abel semakin tertawa, “Sejak kapan kau jadi lucu No.” Aku semakin mengeratkan tanganku di lehernya dalam dekapanku.


Setidaknya sekarang impianku terwujud, aku bisa mendekapnya dan sedekat ini denganya meskipun sebagai kakak baruku. Abel mulai mengerak-gerakkan badannya, sepertinya dia mulai tidak nyaman terlalu lama memelukku. Aku dengan cepat membangunkannya dalam dekapanku.


“Abel, kau bahagia sekarang?” tanyaku pada Abel yang sekarang berada dihadapanku.


“No, aku tidak bisa membayangkan sebahagia apa aku sekarang,” ujar Abel.


Lagi-lagi senyum yang aku lihat di wajahnya memudarkan rasa sakit di hatiku. Bagiku ini cukup, sungguh lebih dari cukup.


“Abel, tolong beri aku keponakan-ponakan yang lucu,” kataku pada Abel.


“No, kau juga harus beri aku adik ipar yang cantik, sholehah dan baik.”


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Abel tanpa bisa menjawabnya, bagaimana bisa aku memberi adik ipar. Sedangkan aku sendiri ragu apakah bisa mencintai wanita lain lagi setelah ini. Aku yakin Kakakku laki-laki yang pantas bersama Abel, aku percaya dia bisa membahagiakan dan menjaga Abel. Seperti yang dia lakukan padaku dan keluarga.


“Abel sepertinya kita harus kembali dan bergabung dengan yang lain.”


“Oke No,” balas Abel.


Kita berjalan beriringan. Bang Davin cinta pertama Abel yang hampir terpisah karena aku. Memang sulit, tidak ada yang salah dengan semua ini. Yang salah hanya aku mencintai Abel, kenapa tidak Kakakku yang lebih dulu bertemu dengannya. Dengan begitu aku tidak perlu suka padanya. Begitulah takdir, kita tidak akan tahu dengan siapa kita berjodoh dan bagaimana cara kita dipertemukan dan disatukan.


“Si*l, dimana kau taruh matamu!” kataku karena seorang wanita yang ceroboh menumpahkan minuman di bajuku.


“Bang No! maaf, maaf beneran nggak sengaja.” Kata wanita itu panik mengambil tisu dan akan mengelap bajuku..


Aku mengambil tisu dari tangannya, “Jangan sentuh aku, pergilah aku bisa melakukan sendiri.”


“Nesya?” Abel nampak mengenali wanita itu dan mereka mengobrol.

__ADS_1


Tapi aku sungguh tak peduli. Aku memilih pergi meninggalkan mereka untuk membersihkan bajuku.


Nolan POV end


Keluarga Adiguna dan keluarga wijaya menempati meja khusus untuk menikmati makan siang keluarga di hutan pinus. Semuanya nampak menikmati makan bersama keluarga besar ini.


“Ini pertama kalinya untuk keluarga kami, membuat pesta sederhana seperti ini atas permintaan menantu kami. Maaf jika kalian kurang berkenan,” kata Pak Hendrawan disela waktu makan.


“Pak Hendra justru ini unik, sesekali kita harus seperti ini menikmati alam, tidak melulu pesta mewah di gedung atau di hotel,” ujar Ervin.


“Menurut aku bukan pesta yang terpenting, tapi kesakralan pernikahan dan kedekatan keluarga kita.” Pendapat Davin sambil melihat kearah Abel yang berada disampingnya.


“Saya setuju dengan Davin, Pak Hendra cucuku menyukai kesederhanaan meskipun dia pemilik perusahaan besar sekarang,” kata Pak Toni.


“Apa maksud Pak Toni, perusahaan besar apa dimiliki menantuku. Bukankan dia seorang geolog saja," kata Pak Hendrawan dengan nada menyindir.


“Pak Hendra bagaimana kau bisa tidak tahu kalau keponakanku pemilik perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaamu,” ujar Ervin.


Pak Hendra nampak kebinggungan seolah hanya terlihat bodoh, “Sungguh aku tak tahu, Davin!” Pak Hendra megarahkan mata kearah Davin.


Davin rasanya ingin menahan tawa melihat ekpresi kaget Papanya. “Pa, Abelia istriku pemilik Wilson Palm.”


“Davin memang suka bercanda, dia tidak seperti adiknya,” Pak Hendrawan mencoba mengelak.


Pak Hendrawan langsung membulatkan matanya, ia seperti ingin membuat tembok penghadang rasa malunya. Ia meraih gelas air putih dan segera meminumnya. Sekarang rasanya tubuhnya lemas, ia berharap penyakit jantungnya tidak kumat karena terlalu kaget.


“Pa, papa baik-baik saja …,” ujar Nolan panik melihat papanya dengan wajah pucat.


Pak Hendrawan menggeleng pada Nolan. Ia merasa sangat malu dan bersalah sudah terlalu meremehkan keluraga Ervan. Ervan yang justru punya gadis yang memiliki saham kepemilikan WPH. Pak Hendrawan memilih diam saja setelah ini karena tak kuat menahan rasa malu.


“Sudah Pa, kalian ini para pengusaha selalu saja berbicara masalah bisnis. Ayo! Kita lanjutkan makan bersama kita di hari bahagia putriku,” sela Ervan.


Suasana kembali tenang menikmati makananya, hanya ada gurauan singkat menyindir pengantin baru untuk meramaikan meja jamuan makan antara dua keluarga ini.


Hari menjelang sore, pesta pernikahan pun berakhir dan ditutup dengan melemparkan bunga yang ditangkap Kayla. Kayla meloncat kegirangan seolah dia yang akan menyusul selanjutnya.


Semua tamu mulai pergi meninggalkan acara setelah berpamitan pada pengantin. Sebelum pergi, Davin dan Abel berpamitan pada orang tua dan mertuanya.


“Davin jaga Abel baik-baik, jangan sampai kau meyakitinya lagi. Tanggung jawabku atas Abel beralih ke kamu,” pertuah Ervan.


“Ya Mas, eh Pa. Papa tenang Aku nggak aka pernah sedikitpun yakiti Abel, aku akan jaga istriku dengan baik.” Balas Davin mencium punggung tangan Ervan.


“Kakak baik-baik ya,inget kakak sekarang seorang istri, layani suami kakak dengan baik. Patuhi dan taat perintahnya selama itu tidak maksiat.” Nasehat Riri memeluk Abel seolah masih berat melepas Abel.

__ADS_1


“Ya, Ma…,” balas Abel sambil mencium punggung tangan Ervan dan Riri. Abel mencium lalu memeluk bersamaan kedua adiknya seolah belum percaya akan akan pindah dari rumah keluarganya mengikuti suaminya.


"Kakak, Ray ikut kakak," pinta Raydan yang selalu manja dengan Abel.


"Ray, Kakak mau pergi sama Om dulu, besok Kakak ajak Ray ya beli mobil-mobilan. Sekarang Ray sama Mama aja ya," ucap Abel menenangkan adiknya yang nekat minta ikut satu mobil.


"Tapi Ray mau ikut sama Kakak!" Ray terus merengek. Mama Riri langsung menghandle masalah Ray.


Berlanjut Abel berpamitan pada mertuanya. “Hati-hati Nak,” Abel terkejut mendengar kata halus mertuanya sangat berbeda 180 derajat. Beebeda sekali dibandingkan ketika tadi mereka sedang sungkemam.


Abel dan Davin masuk ke dalam mobil setelah melewati drama Ray yang nekat ingin ikut. Keduanya melambaikan tangan ke arah keluarga keduanya. Mobil perlahan bergerak meninggalkan lokasi pernikahan.


Dikursi penumpang belakang, Davin menarik tubuh Abel agar mendekat padanya. Ia melingkarkan tangan diperut Abel istrinya. Sambil menempelkan kepalanya ke kepala Abel. Abel malu sekarang, dia bisa sedekat ini dengan Davin yang sekarang menjadi suaminya, aroma parfum ini yang selalu membuatnya tergiang-giang kini begitu dekat dengannya.


"Sayang lanjutan yang tadi...." Bisik Davin di telinga Abel.


"Bang Davin, kita nggak berdua, sabarlah sedikit," jawab Abel menunjuk ke arah asisten Davin yang menjadi sopir.


"Amar kita menepi sebentar!" perintah Davin.


Abel langsung membulatkan mata mendengar perintah suaminya pada sopir.


"Baik Pak." Dengan cepat Amar menepikan mobilnya mencari tempat berhenti yang pas.


"Sekarang kau keluarlah. Jangan masuk atau menganggu sebelum aku menyuruhmu," perintah Davin lagi.


Amar menunduk menurut. Ia keluar dari mobil dan mengerti maksud Bosnya. Dari luar mobil Amar mendadak jadi merindukan istrinya dirumah ketika melihat kemesraan Bos-nya.


.


.


.


.


.


.


NEXT.......


Thor : Thor jadi ragu up berikutnya 🙈🙈🙈 mudahan lolos review ya.

__ADS_1


Beri semangat author pencet LIKE tombol jempol ketik KOMENT sesuka hati kalian yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas kalian. loph U ❤️


__ADS_2