Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP72-S2// Kebiasaan Baru


__ADS_3

Pagi ini adalah pagi pertama Abel akan melakukan aktifitas seperti biasa. Tapi yang berbeda sekarang statusnya, ia bukan lagi wanita single yang bisa tidur lagi ketika selesai sholat subuh. Sekarang ia harus mengurus keperluan suaminya. Sebenarnya Abel sangat ingin seperti istri pada umumnya, memasak sarapan pagi untuk suaminya, membuatkan kopi seperti Mama Riri. Tapi baru berencana untuk ke dapur saja suaminya sudah mencegah.


Sekarang Abel bersiap sendiri berpakaian untuk masuk magang setelah libur beberapa waktu untuk berbulan madu. Ya, barang-barang Abel sudah berpindah dan tersusun rapi di lemari suaminya. Abel merias diri terlebih dulu sambil menunggu suaminya yang belum keluar dari kamar mandi.


Tak lama suara langkah kaki menghampirinya dan mengejutkan Abel dengan kecupan di kepalanya. Abel langsung bangun dari kursi di meja rias. Dia melihat suaminya yang masih mengenakan handuk yang melilit di pinggang.


“Curang ya tadi mandi duluan,” ujar Davin sambil melingkarkan tangannya di pinggang Abel.


“Abel takut telat, kalau mandi sama Bang Davin pasti bisa berjam-jam,” balas Abel. Davin terkekeh sambil mengecup pipi istrinya.


”Ya udah, siapkan baju kerja Abang. Hari ini Abang ada rapat di perusahaan lain,” titah Davin yang merasa tidak perlu melakukannya sendiri sekarang.


Abel langsung mengangguk menuju lemari. Abel sempat binggung baju kerja seperti apa yang dimaksud suaminya. Abel mengikuti fellingnya saja mengambil celana hitam dengan setelan jas dan kemeja biru senada dengan kemeja yang dia kenakan. Abel menyerahkan pada suaminya yang duduk di tepi ranjang.


Meskipun tidak terlalu suka perpaduan warna baju pilihan istrinya, Davin tetap memakai pilihan istrinya.


“Kancingkan Sayang, pakaikan dasi sekalian,” perintah Davin lagi.


Abel hanya menurut saja perintah suaminya, itu juga sudah menjadi kewajibannya melayani suaminya. Rasanya baru kemarin dia dipakaikan seragam sekolah oleh papanya. Sekarang dia sedang mengancing kemeja kerja suaminya, waktu benar-benar cepat berlalu.


“Beres…,” ucap Abel usai merapikan dasi milik suaminya.


“Terima kasih istri cantikku, Abang seneng sekarang setiap pagi istriku yang menyiapkan keperluan Abang bukan Amar lagi,” ungkap Davin yang membuat Abel malah tertawa.


Tapi apa semua suami seperti Bang Davin sampai harus minta dikancingkan baju segala. Apa Bang Davin hanya ingin bermanja-manja dengan istrinya. Batin Abel dalam hati.


“Itu sudah menjadi tugas Abel. Abel akan melakukan tugas ini dengan penuh cinta,” balas Abel dengan manja. Davin menarik lebih dekat pinggang istrinya dan memberikan hadiah kecupan di bibir istrinya.


“Sayang. Setelah kuliah nanti, apa rencana kamu?” tanya Davin yang mulai mengendurkan pelukannya, berganti menatap Abel.


“Sebelum tahu dapat warisan dari Mama yang begitu besar, Abel ingin kerja sebagai geolog di perusahaan tempat papa kerja, tapi sepertinya batal. Untuk apa Abel kerja kalau penghasilan Abel dari perkebunan sudah lebih dari cukup dan lagi sekarang suami Abel juga Bos. Sepertinya Abel lebih memiih fokus mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak kita nanti.”


“Hebat kamu sayang, Abang sangat setuju kalau itu keinginan kamu sendiri tanpa Abang harus minta.” Davin merasa lega karena ia juga tidak ingin istrinya terlalu mementingkan karir.


“Ya, udah turun sekarang yuk! Abel takut telat di hari pertama magang.” Abel menyambar Tas selempangnya.


“Oh ya, ini buat kamu!” Davin menyerahkan dua kartu untuk Abel. Abel menerima dan memandangi kartu berwarna hitam dan emas itu.


“Sayang, meskipun Abang tahu berapa banyak penghasilan kamu tiap bulan dari Wilson Palm. Abang tetep harus kasih kamu nafkah. Itu satu kartu kredit dan satunya lagi debit Abang. Mulai sekarang kamu yang pegang keuangan Abang.”


“Makasih Bang Davin. Abel akan gunakan dengan baik,” balas Abel.


“Sayang, pakailah untuk membeli semua keperluan kamu, jangan ragu pakai sesuka hati kamu,” ucap Davin. Abel mengangguk tersemyum dan menyimpan kartunya dalam dompetnya.


“Maaf Sayang, Abang tidak bisa mengantarmu ke kantor ada rapat pagi, kamu pergi saja dengan Nolan kalian satu kantor ‘kan.”


Abel membulatkan mata, tadi malam dia sedang berdebat dengan Nolan. Apa dia harus pergi dengannya pagi ini? Bersama terus hingga sore. Jika menolak Bang Davin pasti berpikir yang bukan-bukan.


“Tapi Bang, apa tidak lebih baik Abel bawa mobil sendiri saja.”

__ADS_1


“Jangan! pulang dari kantor nanti Abang jemput.” Davin langsung membantah keinginan istrinya. Akhirnya Abel mengalah mengikuti keinginan suaminya.


Keduanya kini segera turun ke bawah untuk sarapan. Keluarganya sudah berkumpul untuk sarapan. Davin menarik kursi untuk Abel.


Abel melihat menu makanan sarapan yang berbeda dengan sarapan keluaraganya.


Menu di meja makan hanya roti lapis ala sandwich dan beberapa roti oles. Bagi Abel ini adalah menu camilan bukan sarapaan. Dia bukan orang yang akan kenyang hanya memakan roti, dia terbiasa makan nasi setiap waktu makan. Tubuhnya memang kecil dan tak bisa gemuk meskipun porsi makannya banyak, bahkan dia bisa doubel porsi jika lauknya enak. Kadang Abel berpikir apa ususnya lebih besar dari yang lain.


“Sayang oleskan untuk Abang selai kacang,” ucap Davin membangunkan lamunan Abel.


“Ya ….” Abel dengan sigap menuruti perintah suamianya. Ia menaruh di piring usai menyelesaiakan tugasnya.


Ih ... suamiku manja banget. Apa gini ya Rasanya jadi istri.


Acara sarapan yang tenang, Abel terpaksa mengikuti cara makan keluarga barunya. Meskipun dia yakin cacing perutnya pasti akan meronta sebelum makan siang.


“No, pakailah mobil dan pergi ke tempat magang bersama Abel,” ucap Davin disela waktu makan.


“Males Bang, kadang jam segini jalanan padat.” Balas Nolan sambil mengigit menu sarapannya.


“Ayolah No, aku tidak bisa mengantar Abel karena berlawan arah dan buru-buru akan rapat. Aku lebih tenang jika dia pergi bersamamu daripada dengan supir.”


Ya ampun Bang Davin lebih baik aku pergi dengan sopir daripada harus pergi dengan di sangar. Gerutu Abel dalam hati.


"Ya udah kalau gitu," balas Nolan pasrah.


Di teras rumah keluarga Adiguna


Tin ... tin... tin....


Mobil warna hitam berhenti di depan Abel setelah kepergian suaminya.


"Masuk!" titah sang sopir yang tak lain adalah adik iparnya.


Abel dengan cepat membuka pintu mobil dan duduk kursi dekat kemudi. Mobil kini perlahan meninggalkan rumah keluarga Adiguna. Tidak ada yang bersuara dalam mobil selama roda mobil bergerak. Abel juga jadi serba salah ingin bicara apa? semenjak kejadian tadi malam dia yang mengomeli Nolan.


Abel yang cerewet pasti sangat gatal tak bicara dengan Nolan.


"Maaf soal tadi malam." Abel berusaha membuka suara.


"Aku udah lupa!" balas Nolan singkat.


"Aku hanya nggak mau ada kesalahpahaman dengan Bang Davin," ucap Abel.


Mendadak Nolan menepikan mobilnya dan berhenti. Abel dengan kaget mulai berpikir negatif kepada Nolan.


"No, kau mau apa? kenapa kita berhenti!" protes Abel kesal.


Tanpa ada jawaban, Nolan malah membuka seat belt.

__ADS_1


"No, aku yakin kamu nggak akan nurunin atau ninggalin aku di jalan hanya karena membahas masalah semalam kan?" Abel masih panik. Betapa malunya dia kalau harus diseret keluar mobil.


Nolan tak menjawab malah melenggang keluar dari mobil. Abel hanya mengamati kemana dia pergi. Abel frustasi merasa bersalah karena harusnya dia diam dan tidak usah membahas masalah yang menyinggung perasaan Nolan.


Abel menunduk merasa bersalah lagi, kenapa selain sangar sekarang Nolan jadi gampang tersinggung.


"Makan!" Suara seseorang yang kembali setelah beberapa menit hilang.


Abel mendongak merasa senang. Dia mendapati bungkuskan sterofom yang terlihat seperti makanan di depan dashboard mobil.


"No ...," kata Abel merasa malu udah berpikir buruk lagi.


"Aku tahu kamu nggak bisa kenyang cuma makan roti, aku belikan kamu nasi ayam lengkap sama sambel super pedes kesukaan kamu!" Balas Nolan.


Abel jadi terharu, ini yang dia suka dari Nolan meskipun dia sangar tapi dia perhatian. Bahkan hal ke kecil ini saja Nolan bisa tahu. Karena selama magang dan sebelum menikah mereka memang sering menghabiskan waktu bersama dan tidak ada sifat jaga image. Dari situ mungkin Nolan tahu kebiasaan Abel.


"Makan! masih ada waktu setengah jam sebelum kita sampai!" kata Nolan lagi dengan keras membangun Abel yang bengong.


"Ya, ya ...," balas Abel.


Mobil mulai kembali ke jalan aspal, Abel juga mulai menyuap makanannya selama perjalanan.


.


.


.


.


.


.


.


Next....


______________________________________________


Thor : Hola mungkin beberapa part lagi IUP season 2 akan tamat ya 🤧🤧🤧, sori tulisan ampas ini masih banyak kekurangan.


Zen : Lah kenapa tamat Thor gua suka yang panjang dan lama😍


Thor : 😳😳😳sumveh gagal fokus Zen


Zen : Maksudnya cerita nya Thor, pasti pikiran elu minta di sapu nih alis ngeres


Thor : 🏃🏿‍♀️🏃🏿‍♀️🏃🏿‍♀️🏃🏿‍♀️

__ADS_1


Terima kasih untuk dukungan reader sampai part ini yang udah like, koment, vote. Sungguh Author nyasar ini terhura🤗🤗🤗


Beri semangat author pencet LIKE tombol jempol ketik KOMENT yang punya POIN bisa VOTE seikhlas kalian. love U ❤️


__ADS_2