
Nolan segera ke lantai atas menuju ruangannya ketika tiba di bengkel. Ruangan yang tak cukup besar dan dipenuhi hasil jepretan kameranya. Seperti sudah lama sekali ia tidak kesini, selama sakit ia hanya mendapat laporan bengkel dari karyawan bengkel yang ia percayakan. Ia fokus pada lemari foto Abel yang tercetak, Ia sedikit heran kenapa kuncinya masih menempel disini. Mungkin waktu itu ia lupa mengunci setelah membukanya.
Bergegas ia menuju komputer mengeluarkan kamera segera mengabungkan dengan komputer untuk pemindahan data. Semua hasil foto rahasia memang Nolan simpan di komputer bengkelnya.
"Bang Nolan, kenapa nggak bilang mau kesini." kata salah satu karyawan pemegang bengkel yang dipercaya Nolan, melihat bosnya di dalam ruangan.
"Aku hanya mampir, bagaimana bengkel selama aku disini, aman." Balas Nolan.
"Aman Bang Nolan, semuanya terkendali. Oh ya Bang, waktu Abang masih sakit kemarin, kakak Abang ada datang kesini."
Nolan sedikit terkejut. "Kakakku pernah kesini, kapan? apa dia masuk ke ruanganku."
"Udah lama Bang, waktu Abang masih sakit, Saya lihat dia datang terus dilangsung naik kesini."
Nolan mulai terpikir yang bukan - bukan, apakah yang bang Davin lakukan di ruanganku, apa dia tahu isi lemari cetakan foto Abel yang terbuka.
Tidak! dia tidak akan mencurigaiku kalau hanya melihat foto. Lantas kenapa dia tidak bilang padaku kalau datang ke bengkel.
"Pak Jon, kapan tepatnya Bang Davin kesini." Nolan masih berpikir perasaan mulai panik.
"Kurang inget Bang, tepatnya." Sahut karyawannya.
Nolan merebahkan tubuhnya ke sandaran kursi dengan wajah menghadap Langit ruangan, ia melihat kamera CCTV dalam ruangannya. Mungkin dengan itu, ia bisa melihat apa yang dilakukan Davin dalam ruangannya.
"Pak Jon, siapa yang menyimpan rekaman CCTV selama aku tidak ada?" tanya Nolan.
"Vety Bang No, administrasi kita...."
"Pak Jon, tolong bilang ke Vety aku minta rekaman CCTV selama aku nggak ada."
"Ya Bang No besok...." Balas Pak Jon.
Mendadak Nolan merasa ada sesuatu yang mengganjal. Apa yang kira-kira dilakukan Bang Davin di ruangannya. Apa mungkin dia melihat isi dalam komputer atau hanya dia melihat foto cetak Abel. Apa ini ada hubungannya dengan keputusan mendadaknya yang menerima Kayla padahal sebelumnya dia hampir bertengkar dengan Papa karena bersihkeras hanya ingin bersama Abel. Begitulah sekiranya yang ada dalam pikiran Nolan.
Nolan mencoba bersikap tenang sekarang, besok setelah melihat CCTV dia akan tahu apa yang dilakukan kakaknya itu dalam ruangannya. Dia pun membuka layar komputer memindahkan foto ke file dalam komputer.
******
__ADS_1
Sementara di tempat yang berbeda, di sore hari. Kayla minta ditemani oleh Davin melihat cincin pertunangan yang telah dipesan keluarga Adiguna. Karena Paksaan keluarga Kayla dan keluarganya Davin mengiyakan ajakan Kayla. Mobil mereka tiba didepan toko perhiasan terkenal di kota B.
Sopir Davin membukakan pintu untuk Davin dan Kayla. Keduanya kini keluar memasuki tokoh dan di sambut karyawan toko yang mengenal tamunya yang datang. Kayla dan Davin dipersilahkan duduk si sofa dan beberapa karyawan toko menjejerkan cincin bertahtakan berlian sesuai pesanan keluarga Adiguna.
"Ini Mas Mba sesuai pesanan ibu Mitha silakan dipilih." Karyawan toko memperlihatkan beberapa macam cincin berlian senilai harga mobil itu. Kayla dengan senang memilih cincin berlian itu.
"Kak yang ini bagus nggak, kayaknya aku suka yang ini." Kayla menunjukkan jari tangannya yang memakai Cincin.
"Terserah kamu Kay, itu juga bagus," jawab Davin asal, ia malah teringat cincin yang akan diberikan pada Abel. Semuanya menjadi sirna dengan sangat cepat.
Kayla memilih cincin yang ditunjukkan pada Davin, dia memberikan pada karyawan toko yang menemani agar melekatkannya ke dalam kotak.
Mata Kayla tertuju pada seorang pasangan laki-laki dan perempuan yang sangat dikenalnya. Kayla tertawa kegirangan melihat dua orang muncul di toko perhiasan yang sama. Keduanya masuk ke dalam dan mulai mencari-cari cincin. Berbeda dengan Kayla yang nampak senang, Davin justru kesal siapa laki-laki yang selalu Bersama wanita yang tak lain adalah Abel.
Kayla melambaikan tangan agar Abel mendekat ke arahnya. Lagi-lagi nasib baik tak berpihak pada Abel, kenapa dia harus bertemu Kyala dan Davin di satu toko perhiasan.
Angga memeluk Pundak Abel menguatkan melihat siapa yang memanggilnya. Dengan berat hati, Abel bepura semangat mendekat ke arah Kayla. Abel ke toko perhiasan dengan Angga karena ia ingin memberi hadiah pernikahan Angga dan Rena dengan cincin berlian sebagai cincin kawinnya. Abel dengan terpaksa duduk dengan Kayla dan Davin dalam lingkaran satu sofa. Sedangkan Davin merasa kesal dengan Angga sekaligus menjadi salh tingkah harus sedekat ini dengan Abel.
“Abel kamu disini juga, beli perhiasan.” Kayla memasang wajah bahagia serasa ingin pamer kemesraan dengan Davin.
“Kamu udah kenal calon tunangan aku, dia rekan bisnis kamu kan.” Tangan Kayla kini reflex bergelayut di lengan Davin.
Davin sebenarnya tidak nyaman dengan sikap Kayla. Tapi apa yang bisa dia lakukan tidak mungkin di menolak dengan kasar calon tunangannya di depan abel dan karyawan toko.
“Ya Kay, tentu saja kita saling mengenal,” jawab Abel tersenyum berpura bersikap normal.
“Abel menurut kamu, bagus nggak cincin tunangan aku, ini yang paling bagus dan mahal pilihan ibu Kak Davin.” Kayla menunjukkan cincin dalam kotak pada Abel.
“Bagus Kay,” Abel memperhatikan kotak yang diberikan padanya.
Sebentar lagi Kayla dan Bang Davin benar-benar akan bertunangan dan Meraka akan segera menikah. Aku pasti tidak akan hadir Pertunangan mereka. Abel.
“Sebagus dan semahal apapun cincin berlian, lebih indah lagi jika hati kita diikat dengan cinta, kesetiaan, kepercayaan dan juga kejujuran. Itulah tali pengikat yang paling kuat dan bercahaya mengalahkan apapun.” Kata Abel.
Kayla tersenyum mendengar ucapan manis Abel. Sedangkan Davin merasa sakit dan merasa dirinya begitu kejam pada Abel. Terlebih Abel tidak menceritakan pada Kayla perihal hubungannya dengan Abel.
"Kay, sebaiknya kita pulang, sepertinya Abel juga ingin melanjutkan mencari cincin." Ujar Davin merasa tak nyaman ingin segera menjauh dari Abel.
__ADS_1
"Oke Abel, Paman Angga silahkan lanjutkan mencari cincin, aku dan Kak Davin akan pulang." Kayla mulai bangkit.
Angga dan Riri membalas sapaan tangan Kayla. Kini Davin dan Kayla berjalan menjauhi Abel dan Angga.
"Siapa laki-laki yang bersama Abel itu, Kau tahu," tanya Davin.
"itu paman Angga, adiknya Mama Riri." Balas Kayla. Davin lega mendengar jawaban Kayla.
Kayla dan Davin terlihat keluar toko perhiasan dan akan pergi. Sementara di sisi yang lain, Abel berusaha tetap tegar meskipun sedikit menganggu pikirannya bertemu Kayla dan Davin. Abel dan Angga pun tidak berlama-lama larut dalam kegalauan. Kini keduanya mencari cincin yang dibelikan Abel sebagai hadiah sampai menemukan yang cocok dan sesuai dengan keinginan.
*******
Keesokan harinya, Usai dari tempat Magang. Nolan langsung bergegas ke bengkelnya untuk melihat rekaman CCTV. Beberapa menit ia sudah ada di bengkelnya.
"Bang No, ini rekaman selama bang Nolan nggak datang." Kata Vety administrasinya yang menyimpan rekaman CCTV menyerahkan file pada Nolan melihat kedatangannya.
"Makasih, kau boleh pulang," titah Nolan. Wanita itu mengangguk dan pergi dari depan Nolan
Tak peduli menjelang senja, Nolan langsung menuju ke ruangannya ingin melihat apa yang sebenarnya dilakukan Kakaknya.
.
.
.
.
.
.
Next......
terima kasih udah sabar nunggu up dari author 🙏🙏
beri semangat author pencet LIKE ketik KOMENT yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas kalian. selau Loph U.
__ADS_1