
⚠️ Warning 🔞, part untuk 21 ke atas ya😘
Raffa
Saya tidak bisa mengungkapkan dengan apapun betapa bahagianya malam ini. Malam ini saya pastikan bisa memiliki Aline seutuhnya. Lengkaplah tugas saya sebagai seorang suami.
Setelah beberapa kali melakukan pendakian pertama kali di tempat yang namanya pengunungan ganda, LPsesuai dengan edukasi dari Papi mertua, saya melanjutkan kebawah memberi kecupan di setiap permukaan kulit indah yang di dititipkan Sang Pencipta pada istri saya.
Ya ampun! Suara aneh yang keluar dari mulut Aline membuat saya semakin terpacu untuk ke tahap selanjutnya.
Biarlah saya menikmati dulu wajah mengemas Aline ketika sedang ketakutan. Saya tak ingin buru-buru melepaskan hasrat saya yang sudah di ujung. Kembali saya mengecup setiap inci wajah Aline dengan lembut. Sebahagia ini kah rasanya akan menunaikan tugas sebagai suami istri. Dada saya terus berdebar kencang beriringan hasrat yang sudah tak terbendung.
Saya menarik selimut sepinggang menutupi tubuh polos kami. "Lin bisa sekarang?" tanya saya lagi memastikan.
Aline hanya mengangguk sambil terus memejamkan mata. Tak lupa membaca doa, saya ambil ancang-ancang untuk si Thor yang sudah tak sabar akan menerobos menjelajah hutan dan masuk ke dalan jurang.
"Mas, rasanya sakit nggak?" tanya Aline lagi.
"Rasanya nano-nano sayang, sebentar lagi kita juga tahu."
Saya mulai menguasai diri Aline, saya raih tangannya, meletakannya di pundak. Saya mulai perlahan memaksa diri ini untuk Aline.
Susah,
sempit,
sunyi.
Kenapa tidak semudah di film yang pernah khilaf saya lihat lewat VPN. Peluh udah menetes pun belum terlihat tanda-tanda berhasil menerobos petahanan istri saya.
Saya sedikit keraskan ritme. Berhasil!
__ADS_1
"Raf, sakit!" Aline meronta memukuli punggung saya.
"Memang seperti itu sayang, kamu tahan ya. Baru juga ujungnya sayang." Saya kecup bibirnya agar ia lebih tenang.
Perlahan tapi pasti, sesuatu sudah tertancap dengan sempurna dan dalam tanpa diukur sedalam apa sebelumnya. Punggung saya pun langsung mendapat tancapan kuku dari Aline. Tapi rasa perih di punggung itu tidak sebanding dengan rasa luar biasa yang saya dapatkan.
"Raf, sakit banget Raf. Stop!" Keluh Aline dengan airmata yang sudah membasahi pipinya.
"Nggak bisa sayang, yang sudah masuk nggak boleh keluar lagi. Pamali." Saya berusaha menghibur Aline meskipun tidak tega melihat wajahnya yang mengeryit menahan sakit.
"Raf, rasanya kayak diiris, perih Raf!" teriaknya lagi.
"Tahan ya sayang, janji sakitnya akan sebentar saja." Akhirnya Aline bisa tenang dan mengangguk pasrah.
Setelah melewati drama colok dan celup, kami berdua saling mere-mas tangan, menguatkan, mengagumi, merintih bersama. Penyatuan yang diwarnai kehebohan suara Aline yang bisa membuat merinding para jomblo. Kami berdua mulai menemukan irama permainan meskipun masih amatir dan tak memakai banyak gaya. Saya begitu tenggelam dalam surga dunia yang begitu luar biasa ini. Sampai gelombang itu datang mengulung kami berdua dalam sebuah kenikmatan yang mencapai pada puncaknya.
Saya ambruk di samping Aline dengan peluh yang membanjiri dahi hingga ke dada. Saya mengatur nafas yang masih terengah-engah, begitu pula dengan Aline.
"Ha ... ha ... ha," kami berdua tertawa mengingat kembali apa yang baru saja terjadi. Aline yang merona malu bergerak menyembunyikan wajahnya di dada saya. Saya dekap erat tubuh istri saya tak ingin rasanya melepaskan.
"Begini ya Sayang rasanya. Luar biasa! Terima kasih Sayang." Saya menghujani kepala Aline dengan kecupan.
"Perih Raf," rengeknya manja.
"Maaf ya, saya kekencangan ya sampe kamu keluar darah, perlu saya kasih Betadine nggak biar nggak infeksi."
"Apa sih Mas!"
Saya langsung mendapat hadiah timpukan bantal di muka. Setelah itu melihat wajah Aline melipat manja mengemaskan.
"Bercanda Sayang," Masih juga dia cemberut.
__ADS_1
"Kita ulang sekali lagi gimana? Pakai gaya yang beda."
"Istirahat dulu Mas! Capek!" bantahnya keras-keras.
Saya terkekeh, tangan ini mengeratkan pelukan pada Alien.
"Raf," panggilnya lembut dalam dekapan saya.
"Apa."
"Aku Cinta kamu, sangat." Ucap Aline yang membuat jantung saya kembali tak baik saja.
"Saya juga sayang kamu Lin," balas saya kembali mendaratkan ciuman di kening. "Kita istirahat, kamu pasti lelah."
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Auh, auh moon map Ei buat pikiran kalian traveloka merinding-merinding gimana gitu.....
__ADS_1